Share

BAB 159 TERBONGKAR

last update publish date: 2026-08-28 06:00:55

Aku spontan melipat kedua telapak tangan di depan dada sambil membungkuk, memberikan gestur hormat yang canggung. "Maafkan saya, Pak. Tadi saya hanya terbawa suasana. Saya sama sekali tidak bermaksud mengatai Bapak..."

Namun, Axel sama sekali tidak merespon permohonan maafku. Ia justru dengan santainya mendudukkan diri di tepi meja kerjanya sambil membenamkan kedua tangan di saku celana. Tatapan matanya memicing tajam, menatapku penuh selidik dari atas kepala hingga ujung kaki.

<
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Mrs.B
wakaka axel ngaku paling bodoh sedunia
goodnovel comment avatar
Geru Huji
akhirnya ketahuan juga si kayla
goodnovel comment avatar
Rjkim
Kayla ketahuan, siap2 Kau dapat hukuman dr axel, aseeeekkkk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 164 TAK TAHAN

    "Kamu itu sudah dewasa, Axel! Bisa-bisanya kamu memperlakukan Kayla seperti ini di kantor?!" bentak Pak De Arga seraya menunjuk wajah putranya dengan gulungan berkas di tangan.Namun, bukannya merasa bersalah atau menggeletar ketakutan, Axel justru menoleh padaku sambil menyunggingkan seringai tipis. "Aku cuma kasih sedikit hukuman buat Kayla, Pa. Lagian... siapa suruh dia membohongi kita berdua selama satu bulan penuh?"Pak De Arga kembali memukul lengan kekar Axel dengan gulungan kertas itu. Puk! "Tetap saja kamu tidak boleh melakukan hal tak senonoh seperti itu di area kantor!""Aku... cuma sudah nggak tahan karena harus puasa sebulan," sahutnya santai dengan cengiran nakal yang memprovokasi.Rahang Pak De Arga terlihat mengeras. Ia menatap Axel dengan alis menyatu tajam, lalu melirikku seraya menggeleng-gelengkan kepala diiringi helaan napas berat."Cih! Papa heran sekali sama kalian berdua. Sebentar bertengkar bagai kucing dan anjing

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 163 DASAR ANAK NAKAL!

    "Axel... kamu di dalam?!" suara teriakan Pak De Arga kembali menggelegar dari balik pintu tebal.Ceklek! Ceklek!"Xel... bokap lo..." bisikku panik setengah mati sambil menepuk-nepuk pundaknya yang masih basah oleh peluh.Dengan cekatan, Axel menurunkanku dari gendongannya. Ia meraih kain panjang yang terlipat rapi di atas sofa—selimut tebal yang biasa ia gunakan untuk tidur siang di kantor.Ia membungkus tubuh polosku rapat-rapat dari dada hingga kaki dengan selimut itu. Setelah memastikan aku aman, Axel berlari kilat ke kamar mandi dalam ruangan dan keluar beberapa detik kemudian hanya dengan selembar handuk yang melilit pinggangnya.Brak!Suara pintu dijebol paksa mendadak membelah keheningan ruangan."Axel?!" teriak Pak De Arga dengan mata membelalak sempurna. Mata tuanya bergantian menatapku dan Axel yang tampak acak-acakan luar biasa. "Kalian..."Aku dan Axel seketika membeku bagaikan patung. Sementara itu

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 162 PANASNYA RUANGAN DIREKTUR

    "Ssstt..." bisik Axel sembari mendaratkan telunjuknya tepat di bilah bibirku yang gemetar. "Bukankah... ini terasa sangat mendebarkan?"Aku spontan memukul bahu kekarnya yang basah oleh keringat. "Gila lo, ya! Kita bisa ketahuan Pak De, Axel! Belum lagi karyawan-karyawan lo... Mereka bakal menggosipi kita sampai habis!" bisikku dengan dada kembang kempis menahan napas.Namun, Axel justru menyeringai tipis, memasang tatapan menggodanya yang khas. "Gue suka momen ini, Kayla... Ayo kita lanjutkan lagi.""Xel! Lo gila—"Kalimatku terputus saat Axel mendadak menghentakkan pinggulnya ke depan secara beringas. Hantaman keras itu spontan merenggut pasokan udara di dadaku, memaksa sebuah desahan nikmat lolos tanpa sanggup kutahan."Aaahhh... Ooohhh... Axel..." Aku buru-buru membekap mulutku sendiri demi membungkam erangan yang nyaris mengudara nyaring.Sensasi liar bercinta di dalam ruang kerja pribadi—tempat di mana para karyawan luar bi

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 161 TERLALU DALAM

    "Mmmhh..." desah Axel serak, meremas tubuhku dengan gelora gairah yang meluap-luap.Dengan gerakan kilat, ia berusaha melucuti sisa kancing seragam kerjaku sambil terus melumat bibirku tanpa celah sedikit pun."Axel... ini di kantor..." bisikku di sela napas yang memburu sesaat setelah berhasil melepaskan pagutan bibirnya.Aku mencoba menahan dada bidangnya, mencegah tangannya yang kian beringas merobek kemejaku."Gue tahu..." sahutnya dengan suara berat dan terengah-engah. Tanpa ampun, ia menarik paksa kemejaku hingga kancing-kancingnya copot dan kain itu meluncur jatuh ke lantai. "Tapi saat ini... gue sama sekali nggak peduli!"Axel kembali menyergap tubuhku, menarikku rapat-rapat lalu membenamkan wajahnya di leherku. Ia menghisap kulit leherku dengan kuat hingga meninggalkan sensasi perih yang menggelitik. Tangan kekarnya yang berurat bergerak liar meremas payudaraku di balik kain dalam, sementara tangan satunya meraup dan me

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 160 ANCAMAN TERORGANISIR

    Aku buru-buru meraba leher dan saku dengan panik, berniat mencari masker untuk kembali menutupi wajahku yang telanjur terekspos tanpa pelindung."Masker lo udah nggak bakal mempan buat ngecoh gue," ucapnya dingin dengan nada yang sukses membuat darahku berdesir ngeri.Tanganku yang hendak memasang masker seketika membeku di udara. Benda kain itu meluncur lepas dari jemariku, jatuh ke lantai seolah ikut menandai akhir dari sandiwara bodoh yang kini mustahil diselamatkan."Axel... gue cuma...""Cuma mau mempermainkan gue?" potongnya tajam, menatapku dengan sorot mata setajam elang. "Nggak sengaja, atau memang dari awal terpaksa untuk menipu gue?"Pijakan kakiku mendadak melemas bagaikan jelly. Sekujur tubuhku bergetar hebat di luar kendali. "G-gue... emang terpaksa..."Axel menyeringai sinis. Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah cepat ke arah pintu untuk menguncinya rapat-rapat.Astaga... apa yang akan dia lakuk

  • Nyebelin, sih! Tapi Aku Ketagihan   BAB 159 TERBONGKAR

    Aku spontan melipat kedua telapak tangan di depan dada sambil membungkuk, memberikan gestur hormat yang canggung. "Maafkan saya, Pak. Tadi saya hanya terbawa suasana. Saya sama sekali tidak bermaksud mengatai Bapak..."Namun, Axel sama sekali tidak merespon permohonan maafku. Ia justru dengan santainya mendudukkan diri di tepi meja kerjanya sambil membenamkan kedua tangan di saku celana. Tatapan matanya memicing tajam, menatapku penuh selidik dari atas kepala hingga ujung kaki.Aku perlahan menegakkan tubuh, lalu meliriknya hati-hati. "Pak... Bapak nggak akan memecat saya, kan?"Axel hanya tersenyum miring tanpa menyumbangkan sepatah kata pun.Waduh, gawat nih! Kalau aku dipecat, kira-kira bakal kena denda penalti juga nggak ya? Atau justru ini kesempatan bagus buat resign tanpa perlu bayar denda?"Lanjutkan saja pekerjaanmu," ucapnya dingin, lalu beranjak melangkah keluar dari ruangan begitu saja.Aku spontan menegakkan tubuh se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status