เข้าสู่ระบบAku spontan melipat kedua telapak tangan di depan dada sambil membungkuk, memberikan gestur hormat yang canggung. "Maafkan saya, Pak. Tadi saya hanya terbawa suasana. Saya sama sekali tidak bermaksud mengatai Bapak..."
Namun, Axel sama sekali tidak merespon permohonan maafku. Ia justru dengan santainya mendudukkan diri di tepi meja kerjanya sambil membenamkan kedua tangan di saku celana. Tatapan matanya memicing tajam, menatapku penuh selidik dari atas kepala hingga ujung kaki.<"Tapi... tidak bisakah dia ikut bersamaku. Aku tidak bisa pergi sendiri," pintaku pada sang resepsionis.Resepsionis itu terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan menelpon Mr. Sam terlebih dahulu."Sang resepsionis meraih gagang telepon di meja, lalu menempelkannya ke telinga."Maaf Mister. Nona Kayla... datang bersama seseorang. Apa dia boleh ikut masuk?"Hening sejenak. Entah apa yang dikatakan Mr. Sam dari balik sambungan telepon itu."Baik Mister. Saya akan meminta mereka masuk."Ia meletakkan kembali gagang telepon itu ke tempatnya sebelum beralih menatapku."Silakan masuk saja, Nona..." pintanya ramah.Aku dan Beni saling melempar pandang dan mengangguk pelan, lalu mengekor mengikuti instruksi resepsionis menyusuri lorong menuju ruangan Mr. Sam."Ben... kenapa stafnya sedikit sekali, ya..." bisikku pada Beni seraya menyapu pandangan mengamati sekitar.Di sepanjang lorong yang kami lewati, jumlah pekerja bisa dihitung dengan jari
"Lo harus pergi sama Beni. Jangan pernah lepas dari dia," pintanya dengan raut wajah sangat serius.Aku terdiam sesaat untuk menimbang. "Boleh..."Axel menghela napas panjang, terbersit kecemasan yang mendalam di raut wajah tampannya. "Gue sudah minta seseorang buat selidiki agency itu. Tapi hasilnya belum keluar. Jadi... lo hati-hati ya.""Siap Pak Bos!" sahutku penuh semangat sambil mengangkat telapak tangan di pelipis sebagai tanda hormat.Axel terkekeh kecil, lalu mencubit pipiku gemas. "Hati-hati ya. Jaga diri lo dan bayi kita. Jangan sampai kalian kenapa-kenapa.""Gue kan cuma mau ke agency, Axel...""Lo belum tahu keadaan di kota ini, Kayla," potongnya cepat. Kecemasan di wajahnya terasa begitu nyata. "Lo ingat nggak, kenapa dulu Tante Sarah bersikeras ngelarang lo jadi designer?"Aku mengangguk pelan sambil mengingat kembali nasihat mama dulu. "Karena Mama dulu pernah ditipu dan terluntang-lantung di negeri orang.""Itu juga yang gue takutkan sama lo," timpal Axel cepat sambil
"Lo nggak suka ya..." tanyaku lirih.Aku sempat berpikiran buruk bahwa Axel tetap ingin memenjarakan diriku dalam kungkungannya—tidak menyukai jika aku bisa sukses mandiri tanpa bantuannya. Namun, prasangkaku itu sepenuhnya salah. Axel tiba-tiba menyunggingkan senyum manis yang seketika membuat jantungku berdegup kencang."Gue nggak mungkin mengikat sayap lo kalau lo memang ingin terbang jauh, Kayla," bisiknya lirih. Ia menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga dengan tatapan intens dan hangat. "Kalau lo mau, gue akan dukung sepenuhnya. Tapi... berhati-hatilah. Jangan mudah percaya sama orang asing."Aku mengangguk mantap sambil tersenyum lebar. "Jadi... gue boleh menerima tawaran Sam?"Axel tak langsung menjawab, ia terlihat menimbang jawabannya sebelum mengusap pipiku lembut. "Untuk sementara janga dulu, ya. Lo kan masih baru di kota Liberty. Ini terlalu mendadak. Gue takut itu justru menipuan."Tubuhku seketika lemas mendengar jawabannya. Tetapi, aku hanya bisa menunduk pasrah
Axel seketika terkekeh hingga kepalanya terjelang ke belakang.Aku yang mulai panik memukul lengan Axel karena kesal. "Lo jangan bercanda, Axel!"Axel menatapku dengan sisa tawa yang coba ia tahan sekuat tenaga."Gue serius!" sahutnya dengan raut wajah yang tidak main-main. Ia mencondongkan sedikit wajahnya ke arahku, lalu berbisik. "Lo jujur aja. Tadi udah diapain sama dia?"Aku spontan menelan ludah untuk membasahi tenggorokanku yang mendadak terasa kering. Dadaku bergemuruh hebat saat mengingat kembali perlakuan Cathy yang sejak tadi pagi kusebut aneh. Aku pikir, wanita itu bertanya tentang hubungan intim karena menyukai Axel. Tapi ternyata justru sebaliknya?Aku menggidikkan kedua bahu karena disergap rasa geli bercampur jijik. "Gue nggak mau Cathy ada di rumah, Axel!" Aku berbalik menatap matanya lurus-lurus. "Lo harus ganti terapis. Gue jijik sama dia!""Emang dia nyentuh Lo?" tanya Axel dengan raut wajah mendadak tegang.Aku menggeser tubuh, menyandarkan punggung di bangku tama
Axel tersenyum tipis sambil mengacak rambutku lembut. "Lo masih tanya itu foto gue atau bukan?"Aku hanya menggidikkan kedua bahu sambil mencebikkan bibir."Apa... tidak berhubungan badan selama tiga bulan membuat lo lupa ciri-ciri fisik gue?" godanya sambil menahan senyum.Tanpa sadar, pandanganku meneliti bagian dada Axel seolah-olah mampu menembus mantel serta kaos yang dikenakannya.Benar juga, aku sudah lama tidak berhubungan badan dengan suamiku. Akan tetapi, tidak seharusnya aku melupakan setiap inci dari bentuk tubuhnya.Tapi, bukan itu masalahnya sekrang. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin membuka seluruh bajunya dan menjilati bagian dadanya yang bidang seperti es krim.Ah! Pikiran jorok apa ini?Aku menggigit bibir bawahku, perlahan meraba dada Axel dengan gerakan ragu. "Axel... sepertinya gue benar-benar lupa setiap tanda di tubuh lo. Haruskah sekarang kita cepat-cepat pulang?"Aku dan Axel sempat membeku sejenak sebelum akhirnya sama-sama pecah dalam tawa."Lo kan lag
"Kenapa? Lo nggak percaya kalau Axel bisa melakukan itu?" sindir Inez dengan senyum penuh kemenangan.Dalam foto tersebut, terlihat jelas Axel tengah berada di atas ranjang tanpa busana bersama seorang wanita berparas cantik.Namun, hal yang justru membuat hatiku diliputi keraguan adalah ekspresi Axel yang tampak begitu tenang. Lelaki itu justru menatap Inez dengan seulas senyum miring yang tertahan.Aku rasa, aku memang tidak seharusnya percaya pada Inez. Kalau dalam foto ini benar-benar Axel, dia pasti akan sangat panik dan memberiku banyak penjelasan."Lo mau fitnah gue dengan cara apa lagi?" tanya Axel pada Inez dengan nada santai tanpa beban.Inez seketika terlihat gugup; postur tubuhnya mulai menegang gelisah. "Fitnah?" tanyanya dengan seringai yang dipaksakan. "Sejak lo masuk kuliah, tidak terhitung seberapa banyak wanita yang dekat sama lo, Axel. Lo masih nggak mau mengakui hal ini?"Benar juga. Itu bukan sekadar gosip. Wanita mana yang tidak mengejar-ngejar Axel. Tapi, Axel s







