로그인"Ssstt..." bisik Axel sembari mendaratkan telunjuknya tepat di bilah bibirku yang gemetar. "Bukankah... ini terasa sangat mendebarkan?"
Aku spontan memukul bahu kekarnya yang basah oleh keringat. "Gila lo, ya! Kita bisa ketahuan Pak De, Axel! Belum lagi karyawan-karyawan lo... Mereka bakal menggosipi kita sampai habis!" bisikku dengan dada kembang kempis menahan napas.Namun, Axel justru menyeringai tipis, memasang tatapan menggodanya yang khas. "Gue suka momen ini, Kayla..."Ih... Dasar cowok mesum labil!" rutukku pada layar ponsel, seolah-olah benda gepeng itu adalah wajah Axel yang berdiri tepat di hadapanku. "Lo pikir cuma lo aja yang bisa bikin gue cemburu, hah?!"Tanpa niat membalas pesan cemburunya, aku langsung menyelipkan ponsel itu masuk ke dalam tas."Ayo, Kay... Obatnya sudah dapat semua," ajak Mama seraya melangkah cepat menghampiriku."Iya, Ma..."Kami segera melangkah keluar dari area rumah sakit setelah sebelumnya memesan taksi daring melalui ponsel."Jadi kapan kamu berencana berangkat ke Amerika?" tanya Mama saat kami sudah duduk santai di dalam taksi."Lusa, Ma. Ini Kayla lagi pesan tiket pesawatnya," balasku seraya sibuk menggeser layar aplikasi pemesanan tiket di ponsel."Tapi kondisi tubuh kamu sudah benar-benar kuat untuk perjalanan jauh, kan?" tanya Mama dengan raut wajah terpancar cemas."Sudah kuat, kok. Mama nggak usah khawatir berlebihan." Aku menurunkan ponsel, lalu berbalik menatap Mama lurus. "Ma... Tolong jangan boc
Aku mengakhiri panggilan dengan Beni secara sepihak, lalu membanting ponselku ke atas kasur dengan penuh kekesalan."Dasar tikus got sialan! Berani-beraninya lo cuekin telepon gue cuma gara-gara sibuk sama cewek lain!" gerutuku dengan napas memburu dan dada naik-turun.Kedua tanganku mengepal erat di atas seprai karena rasa geram yang menguasai diri. "Lihat saja nanti pembalasan gue!"Beberapa hari kemudian, setelah kondisi tubuhku dinyatakan jauh lebih stabil, aku kembali mengunjungi rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rutin kandungan didampingi oleh Mama."Wah... puji Tuhan, perkembangan janinnya sangat sehat dan aktif bergerak," jelas sang dokter seraya menggerakkan transduser USG di area perut bagian bawahku."Apa... cucu saya sudah dinyatakan benar-benar sehat dan kuat, Dok?" tanya Mama cemas sambil mengamati layar monitor LCD di hadapan kami.Dokter wanita itu tersenyum ramah seraya mengklik gambar kepala bayi untuk mengukur lingkar kepalanya. "Tentu saja. Bayinya sud
Suara Mama di luar terdengar hening sejenak. Mungkinkah... Mama akhirnya luluh oleh jurus tangisan drama Lintang?Tak berselang lama, pintu kamarku terdorong terbuka. Mama masuk terburu-buru dengan raut wajah panik yang heboh."Kayla... Di luar ada Lintang. Dia menangis terisak-isak memohon agar diberikan maaf olehmu," bisiknya dengan napas tersengal-sengal.Aku mencebikkan bibir seraya memalingkan wajah sejenak. "Mama akhirnya luluh juga, nih, sama Lintang?"Mama menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan wajah frustrasi. "Ya... bagaimana, dong? Dia sampai berlutut sambil bersimpuh dan menangis minta dipertemukan sama kamu."Aku mengembuskan napas kasar, lalu kembali menggoreskan pensil ke atas buku sketsa dengan santai. "Kayak nggak tahu drama Lintang aja, Ma."Wajah Mama seketika berubah terkejut. Ia mencondongkan tubuhnya seraya memicingkan mata curiga. "Jadi... maksudmu Lintang tidak benar-benar menyesali perbuatannya?" bisiknya.Aku menggeleng pelan.Mama kembali menegak
"Axel... tolong. Pikirin kesehatan lo di sana..." pintaku dengan mata berkaca-kaca menahan leleh bening yang hampir jatuh. "Di sini banyak orang yang menjaga gue. Sementara lo di sana hanya sama Beni...""Meski lo dikelilingi banyak orang yang menjaga, tapi kenyataannya nggak ada satu orang pun yang becus melindungi lo dari kejahatan Lintang!" potong Axel dengan intonasi tajam dan menusuk.Mendengar kalimat Axel, mataku seketika membelalak lebar. "D-dari mana lo tahu?!""Karena nggak ada satu orang pun di kantor yang berani menyentuh lo selain Lintang dan mamanya," ucapnya dengan suara dingin yang membekukan udara.Sedetik kemudian, raut wajah Axel di balik layar ponsel berubah menjadi redup dan sendu—sarat akan rasa keputusasaan serta penderitaan batin atas keterbatasan fisiknya. "Beritahu gue... bagaimana kondisi calon bayi kita yang sebenarnya?" tanyanya lirih.Aku tidak langsung sanggup menjawab. Jemariku meremas kuat kain selimut rumah sakit yang kaku, mengumpulkan sisa keb
"Dia dokter di rumah sakit ini, Axel..." jelasku merasa sangat canggung dan tak enak hati.Tommy hanya menghela napas panjang, bersikap tak acuh dengan reaksi panik dan emosional Axel. Dengan santai dan profesional, ia memasang manset tensimeter di lenganku seraya menekan titik denyut nadi untuk memeriksa tekanan darahku."Eh! Lo jangan coba-coba mengambil kesempatan buat menyentuh istri gue, ya!" teriak Axel di seberang sana dengan nada murka dan kecemburuan yang membara.Tommy seketika terperanjat, matanya membelalak menatap wajah Axel di balik layar ponsel. "Istri?!""Ya! Kayla istri gue!"Astaga! Aku benar-benar tidak sanggup membendung keposesifan Axel!Tommy beralih menatapku dengan kening berkerut dalam. "Kayla... suami kamu... Axel?!"Aku seketika menyunggingkan senyum garing seraya memasang raut polos. "Iya, Kak... Aku dan Axel sudah resmi menikah."Tommy menegakkan tubuhnya seraya mengembuskan napas panjang. Tatapannya kembali mengunci sosok Axel di layar ponsel."Ja
"Maaf... siapa ya, Dok? Saya... sama sekali tidak ingat," ucapku jujur setelah sempat memutar otak selama beberapa saat.Sang dokter muda itu tersenyum tipis, lalu mengamati lembaran rekam medis di tangannya. "Kayla Maharani?" Ia kembali mendongak menatapku dengan binar mata ramah. "Benar, ingatanku tidak salah. Kamu... adalah Kayla, sepupu Axel, kan?"Aku mengangkat kedua alis seraya berhitung dalam hati. Dari mana dokter ini tahu kalau aku sepupu Axel?"I-iya..." sahutku ragu.Pria berjas putih itu tersenyum makin lebar seraya menarik kursi dan duduk di samping brankarku. "Ternyata beneran kamu! Aku Tommy, teman kuliah Axel dulu di kampus."Aku masih bungkam, mengernyitkan dahi karena benar-benar samar dan tidak bisa mengingat sosok pria di hadapanku ini."Waktu kamu masih SMA dulu, kita pernah beberapa kali bertemu di rumah Axel. Aku juga pernah ikut mengantar Axel menjemputmu di sekolah," jelasnya mencoba memancing ingatanku."Tommy..." Aku berusaha melempar ingatanku jauh







