LOGINGuys... Sorry ya ngilang. Othor sedang opname. ini juga masih diinfus. kalau enakan akan tetep update buat kalian. kalau aku ngilang lagi, berarti sedang down lagi. sabar ya...
"Lo menghina karya gue?!" desis Lintang dengan tubuh menegang menahan murka.Axel menggidikkan kedua bahunya secara santai, memberikan tatapan sedingin es. "Pada kenyataannya, karya lo emang nggak sesuai dengan brief dan permintaan klien. Gue nggak mau merugikan perusahaan hanya demi menuruti ego lo."Tanpa menyanggah kalimat tajam Axel lagi, Lintang menyambar kembali berkas itu dengan kasar, lalu berbalik melangkah keluar dari ruangan dan membanting pintu setinggi-tingginya.BRAK!Tubuhku sampai terperanjat di pangkuan Axel karena kaget, jantungku berdegup kencang bertalu-talu."Lintang... Lintang..." gumam Axel seraya menggeleng-geleng heran."Lo sudah membuat dia marah besar, Xel," ucapku padanya yang terlihat begitu frustrasi. "Memangnya karya dia seburuk itu? Bukannya Lintang itu lulusan akademi busana luar negeri?"Axel menghembuskan napas berat. "Menjadi lulusan luar negeri bukan jaminan karya yang dihasilkan akan otomatis bagus dan sesuai pasar."Axel membentangkan beberapa le
Aku berusaha keras melepaskan ciumannya dengan sisa tenaga yang kumiliki. "Gila lo ya! Tadi ngatain gue mesum, tapi lo sendiri yang nyosor terus!" hardikku dengan napas tersengal-sengal.Axel tersenyum tipis, memandangku dengan pendar mata yang teramat menggoda. "Habisnya lo menggemaskan banget kalau lagi nggak percaya begitu.""Ye... lagian beneran kan, lo diam-diam ketemu Inez di belakang gue?" tantangku dengan nada arogan yang dibuat-buat. "Lagipula seisi kantor ini sudah tahu dan menganggap kalian pasangan kekasih!"Axel menggaruk belakang kepalanya dengan raut wajah yang frustrasi. "Sudah gue bilang itu cuma salah paham saja, Sayang...""Cih!" Aku menyilangkan kedua tangan di dada seraya membuang muka."Lo masih cemburu saja sama Inez, hm?" rayunya lembut seraya mengarahkan kembali wajahku padanya.Aku tetap memaksa memalingkan wajah seraya mencebikkan bibir."Kalau lagi ngambek begini, lo makin menggemaskan tahu nggak!" rayunya seraya meneliti setiap inci parasku, membuatku haru
"Bukannya... lo tadi juga yang cuekin gue?" sahutku sedikit merengek. "Heran. Kenapa sih hari ini lo bete terus?"Axel tersenyum tipis seraya menyibak juntain rambutku ke belakang punggung. "Lo tahu kan kenapa gue bete?"Pertanyaan ini sepertinya jebakan, deh. Tapi kalau aku tidak menjawab, yang ada dia akan makin merasa bete."Emmm... Karena gagal bercinta?" sahutku ragu.Tak kusangka, Axel justru terkekeh rendah seraya membuang muka. "Dasar otak mesum!" cetusnya seraya menjitak pelan keningku."Aw!" Aku meraba keningku dengan bibir mengerucut kesal.Kenapa sekarang jadi aku yang mesum, sih?! Padahal sejak tadi kan dia yang selalu mengajak bermesraan di sembarang tempat!"Kalau bukan karena itu, terus karena apa?!"Axel mengeratkan dekapannya di perutku seraya menumpukan dagunya di atas pundakku."Gue memang kesal karena kita gagal bercinta. Tapi yang bikin gue paling kesal adalah pengkhianatan sekretaris gue dan juga kejutan konyol itu."Aku menolehkan sedikit wajahku, menatap garis
"Lo tanya gue siapa?!" desis Lintang makin menjadi-jadi. "Heh... Perusahaan ini itu milik keluarga gue dan Axel! Kami punya saham besar di sini! Sedangkan lo!"Ia menunjuk dadaku keras-keras hingga tubuhku terdorong ke belakang dan cangkir dalam genggamanku berguncang hebat. "Lo cuma benalu yang menempel dalam hidup Axel demi harta!"Aku yang sudah mendidih masih berusaha menahan diri seraya mempererat genggaman pada cangkir panas itu agar isinya tidak menyiram diriku sendiri.Namun, Lintang justru makin arogan. Ia terus menuding dadaku dengan dorongan-dorongan kasar."Lo yang siapa?! Harusnya... lo tahu diri dan nggak memberikan pengaruh buruk pada Axel!"Cangkir di genggamanku kian tak terkendali dan isinya mulai meluap akibat dorongan agresif Lintang. Karena batas kesabaranku sudah habis, sekalian saja aku menjatuhkan cangkir itu dan sengaja mengarahkan tumpahan teh panasnya tepat ke kemeja putih mewahnya.PYAR!Semua karyawan yang berada di lantai itu sontak berdiri dari kursi ke
"Mmmhhh!" seruku tertahan di tengah serbuan lumatan bibirnya yang memabukkan.Aku berusaha keras mendorong dada bidang Axel agar ia menghentikan ciuman gilanya, tetapi usahaku sia-sia. Sebaliknya, Axel justru semakin buas melumat bibirku dengan ciuman yang mendesak nan panas, seolah melampiaskan rasa frustrasinya atas kegagalan bercinta kami tadi pagi.Sementara itu, mataku membelalak panik menatap indikator angka di atas pintu lift. Angka indikator itu meluncur turun hingga berganti menjadi angka lima.Ting!Pintu lift terbuka lebar. Namun, Axel yang sudah dirasuki gairah masih saja terus melancarkan ciumannya tanpa rasa panik sedikit pun.Di luar sana, dua orang staf wanita berdiri memergoki kami. Mereka tampak sangat terkejut, malu, dan buru-buru memalingkan wajah."M-maaf, Pak..." cicit salah satu dari mereka.Karena tidak berhasil mendorong tubuh besarnya, aku terpaksa menginjak ujung kaki Axel dengan sepatu selopku sekuat tenaga!"Ah!" pekik Axel spontan melepaskan ciumannya. "L
"Lo! Atas dasar apa lo berani mengatur jadwal gue?!" hardik Axel seraya menunjuk Lintang dengan rahang mengeras kaku.Semua pegawai yang berdiri di belakang Lintang seketika panik dan mulai saling berbisik ketakutan. Wajah Lintang yang semula dipenuhi senyum percaya diri kini berubah pucat pasi."Xel, lo kenapa, sih?! Gue sengaja datang jauh-jauh dari luar negeri buat kasih lo kejutan ini!" bela Lintang tanpa sedikit pun merasa bersalah."Bullshit! Sok tahu banget lo!" hardik Axel dengan paras merah padam diliputi amarah membara.Ia membalikkan badan dengan pergerakan kaku yang menegang. "Beni!" teriaknya seraya berkacak pinggang.Tak lama, sekretaris Axel berlari-lari kecil menghampirinya dengan napas tersengal-sengal. "I-iya, Pak," sahutnya seraya berdiri membungkukkan badan."Jelaskan! Apa maksud dari ini semua?!"Beni melirik takut-takut ke arah ruang meeting yang kini kacau. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya diminta mengikuti perintah Bu Lintang.""Kamu itu sekretaris siapa?!" hardi







