تسجيل الدخول"Ma... Mama kenapa malah bilang lagi sama aku, sih..." bisikku sangat pelan, nyaris tak bersuara.Mama menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu menunduk balas berbisik dengan raut penuh rasa bersalah. "Mama keceplosan, Sayang. Maafkan Mama..."Aku meremas ujung sprei rumah sakit seraya memutar otak, mencari cara paling masuk akal untuk mengelabui ketajaman intuisi Axel.Aku perlahan merebahkan tubuh lebih rendah agar pendar latar belakang ruang perawatan rumah sakit yang dipenuhi peralatan medis tidak tertangkap kamera ponsel, sebelum akhirnya mengambil alih ponsel itu dari genggaman Mama."Hai, Sayang..." sapaku pada Axel di layar ponsel diiringi senyum lebar yang dipaksakan."Hai... Lo lagi ngapain aja? Gue telepon bolak-balik dari tadi kenapa nggak diangkat?""G-gue..." Kalimatku terhenti sejenak, bola mataku melirik cemas ke kiri dan kanan. "Gue sibuk, Xel. Tadi gue lagi fokus nyelesain sketsa desain. Lagipula... bukankah di Amerika tadi udah larut. Lo harusnya udah istirahat
"J-jadi... kami harus bagaimana, Dok?!" tanya Mama panik dengan raut kecemasan yang membayang jelas.Sementara itu, aku hanya sanggup membisu seraya meremas kain selimut rumah sakit yang kaku. Tidak... bayiku harus selamat! Apa yang harus kukatakan pada Axel jika sampai terjadi hal buruk pada janin ini?Mental dan emosi Axel yang baru stabil bisa-bisa kembali terganggu dan membanting proses pemulihannya di Amerika. Selama ini, semangat utamanya untuk berjuang menjalani fisioterapi berat adalah calon buah hati kami. Jika ia mendengar kehamilanku dalam bahaya, bukan tidak mungkin Axel akan nekat pulang dalam kondisi fisik yang justru makin memburuk."Untuk sementara waktu, saya menyarankan pasien untuk menjalani bedrest total. Selama beberapa hari ke depan Ibu Kayla harus dirawat intensif di rumah sakit, setelah kondisinya stabil baru diperbolehkan dilanjutkan bedrest di rumah," jelas sang dokter menenangkan."Baik, Dok!" sahut Mama lemas.Tepat saat dokter dan perawat melangkah k
"Lintang! Kamu—" Aku berusaha keras bangkit dari lantai granit yang dingin, tetapi rasa nyeri hebat yang melilit di perut bawahku memaksa tubuhku kembali terkulai tak berdaya.Bersama dengan itu, belasan karyawan yang berada di area kerja berbondong-bondong menghampiriku seraya melayangkan seruan protes tajam dan sinis pada Lintang."Lintang! Kenapa kamu tega melakukan itu?!""Astaga, Lintang jahat sekali!""Teganya mendorong wanita hamil yang juga saudaranya sendiri!"Lintang terdorong mundur beberapa langkah. Ia melambaikan kedua tangannya dengan raut wajah panik yang pucat pasi. "A-aku nggak sengaja! Aku sama sekali nggak berniat mendorongnya!"Seorang karyawan wanita bergegas berlutut dan menyangga tubuhku dari belakang. "Cepat panggil ambulans dan laporkan ke Pak Arga!"Mendengar instruksi itu, beberapa karyawan langsung membubarkan diri. Salah seorang berlari menuju meja kerjanya untuk menghubungi rumah sakit, sementara yang lain bergegas menuju ruang kerja direksi.Tak
"Tenang saja, Kak! Serahkan saja keselamatan Kayla padaku," celoteh Hani seraya merangkul pundakku, lalu mengusap pelan permukaan perutku. "Aku pasti akan menjaga calon keponakan dengan baik!"Axel tersenyum lega dengan kelopak mata yang berkaca-kaca menahan haru. Ia kemudian beralih menatap Pakde Arga yang berdiri tegak di sampingku. "Papa... tolong jaga dan awasi Kayla di kantor, ya? Jangan sampai dia diganggu oleh Lintang atau Bude Salma."Pakde Arga mengulas senyum lebar seraya mengangguk mantap. "Kamu tenang saja, Axel. Papa pasti akan menjaga istri dan calon anakmu dengan sebaik-baiknya. Fokuslah pada proses pengobatan dan kesembuhanmu di sana, ya?"Ia kemudian beralih menatap Beni yang bersiaga di belakang kursi roda Axel. "Beni, jika ada kendala apa pun di sana, segera hubungi saya.""Baik, Pak..." sahut Beni patuh sebelum akhirnya mendorong pelan kursi roda Axel memasuki koridor keberangkatan internasional.Sebulan kemudian..."Hai, Sayang. Lo sudah sampai di kantor?" t
"Kayla... ingat! Lo lagi hamil muda," bisiknya seraya menahan dadaku dengan raut panik dan khawatir.Sambil menyunggingkan seringai menggoda, aku menepis lembut tangan Axel yang menahan tubuhku. "Gue bakal melakukannya dengan pelan dan hati-hati, Xel..."Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku langsung meregangkan tubuh, memosisikan diri dengan mantap di atas tubuhnya yang bersandar kaku di kepala ranjang.Sambil menatap lurus manik matanya yang menggelap disapu gelora hasrat bercampur tegang, aku perlahan menundukkan tubuhku. Aku melesakkan sendiri keperkasaannya yang memanas masuk menembus liang kewanitaanku yang sudah terlanjur panas dan basah."Nggghhh! Aahhh...!"Jeritan pasrahku dan erangan berat Axel meledak bersamaan memecah keheningan kamar. Dinding kewanitaanku mencengkeram kepemilikannya teramat ketat, menghadirkan sensasi penyatuan yang padat, penuh, dan memabukkan.Axel menahan napas, otot dadanya naik-turun drastis saat ia merasakan sensasi pekat yang membakar indr
"Kayla!" teriak Axel panik seraya menarik pergelangan tanganku hingga posisi wajah kami berhadapan sangat dekat dengan dentum jantung yang bertabuh tak karuan. "Lo... nggak usah aneh-aneh ya!""Kenapa?" tanyaku dengan satu alis terangkat, disertai gurat seringai nakal yang menggoda.Axel bergeser memalingkan pandangan dengan raut wajah memerah padam menyerupai buah ceri matang. "G-gue malu..."Aku menangkup kedua pipinya, memaksa manik matanya untuk kembali mengunci pandanganku. "Kenapa harus merasa malu, hm?" cecarku sengaja makin memprovokasinya.Kelopak mata Axel bergetar cepat, menatapku pasrah dengan rona merah yang masih menjalar di sekujur wajahnya. "Bagaimana kalau... burung gue nggak bisa terbang dan hinggap di sarang lo lagi?"Deg! Aku terperanjat sejenak dengan mata membulat, sebelum akhirnya spontan terkekeh geli hingga kepalaku mendongak. "Axel... Axel... Kenapa lo tiba-tiba jadi polos gini, sih? Gemesin banget!" godaku sambil mencubit pipinya manja.Axel menggaru







