LOGIN"Lantas... Apa lo akan berhenti berobat di rumah sakit?" tanyaku dengan emosi yang mulai mereda.Axel tersenyum tipis sambil membelai lembut rambutku. "Nggak dong, Sayang. Gue akan menjalani pengobatan dua-duanya. Hanya saja... Nggak perlu ada terapis yang datang ke rumah.""Kenapa?"Axel mendekatkan wajahnya ke dekat telingaku, lalu berbisik. "Apa... lo mau bertemu dengan Cathy setiap hari?""Ihh..." Aku menggidikkan kedua bahu sambil meringis jijik. "Nggak mau lah!""Makanya gue hentikan. Jadi... gue cuma perlu datang ke rumah sakit untuk kontrol dan tetap melakukan terapi akupunktur dengan Xīn Shényī."Aku mengalihkan pandangan dengan bibir mengerucut. Sama saja. Aku lepas dari Cathy tapi Axel malah semakin dekat dengan Xīn Yí. Kalau Axel datang ke klinik itu setiap hari, bukan tidak mungkin mereka akan semakin dekat. Aku sudah mencium bau-bau pelakor pada diri gadis Tiongkok itu."Memangnya Tuan Xīn sehebat itu? Lo yakin bisa sembuh dengan terapinya?" tanyaku meyakinkan diri."Buk
Aku baru saja hendak menghampirinya sebelum akhirnya Beni datang terburu-buru membantu Axel berdiri. "Pak.... Bapak tidak apa-apa?" Axel tak menjawab. Pandangannya terkunci penuh padaku, masih dengan raut wajah memelas yang mengemis untuk dikasihani. Aku yang terlanjur disergap kesal akhirnya mendengus keras, lalu berbalik melangkah menuju kamar. "Cepat ambilkan aku tongkat!" Suara Axel terdengar tegas di belakang. Aku tak menghiraukannya dan terus berjalan cepat masuk ke dalam kamar. Aku menghempaskan tubuh di tepi ranjang, mendaratkan diri seraya melipat kedua tangan di dada dengan tatapan mata menajam lurus ke arah pintu. Tak berselang lama, Axel datang menyusul dengan bantuan tongkat, dijaga ketat di sisinya oleh Beni. "Kayla... Lo marah?" tanyanya dengan nada santai tanpa dosa. Sialan! Aku sudah seperti ini dan dia masih bertanya aku marah atau tidak?! "Menurut Lo?!" bentakku sinis membakar. "Sepertinya sih, marah..." sahutnya sambil menyunggingkan seringai garing. Ia m
"Pak Axel sudah kembali, Mbak..." jelas Beni dengan senyum garing."Sudah tahu!" bentakku kasar, lalu pergi menyusul Axel dengan langkah lebar berbalut kesal.Begitu melangkah masuk ke dalam villa, aku menyaksikan secara langsung wanita Tiongkok itu membantu Axel duduk di sofa dengan sangat hati-hati."Xiǎoxīn nǐ de jiǎo! Dāngxīn…" ucapnya dengan nada sangat lembut.Axel membalasnya dengan senyum sumringah yang begitu ramah. "Shì de. Xièxie…"Wanita Tiongkok itu berlutut di lantai sambil memegang lutut Axel yang cedera, mengurutnya pelan-pelan. "Jìxù chángshì bù zuò lúnyǐ zǒulù. Rúguǒ xūyào, kěyǐ jièzhù guǎizhàng.""Shì de..." sahut Axel dengan senyum ramah.Aku hanya bisa berdiri mematung di hadapan mereka, mengawasi gerak-gerik yang dilakukan wanita itu seraya memicingkan mata dan mengerutkan kening—berpikir keras.Dasar bodoh! Kenapa aku tidak pernah mau belajar bahasa Mandarin? Kalau begini caranya, aku merasa seperti sedang diledekin oleh dua manusia ini!Jemari lentik wanita itu
"Pak Axel sama wanita Tiongkok itu, Mbak?" tanya Beni yang ikut berdiri kaku di sampingku.Aku tidak menjawab dan tetap menatap tajam ke arah Axel. Lelaki itu dan sang wanita asing tampak saling merangkul dengan santai tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah."Saya bilang juga apa... Pak Axel pasti kembali, kan?" ucap Beni diikuti kekehan bahagia. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil menatap Axel dengan wajah berbinar lega.Sementara aku yang emosinya kian mendidih mendadak mengalihkan pandangan ke arah Beni dengan tatapan tajam nan menusuk.Dasar sekretaris sialan! Sama saja dengan bosnya. Apa laki-laki memang suka sekali mengambil kesempatan?Beni yang ikut menoleh padaku dengan sisa kekehannya mendadak bungkam seketika. Muka gembiranya menguap, berganti pias dipenuhi rasa bersalah."Mmm... kita tidak perlu ke kantor polisi lagi kan, Mbak?" Ia menurunkan kedua tangannya dengan salah tingkah sambil melepaskan tawa garing."Siapa yang akan kita laporkan?! Bos kamu yang
"Coba putar lagi," pintaku dengan gelisah.Beni kembali mengklik layar monitor, menampilkan rekaman Axel yang tengah menggerakkan kursi rodanya menuju pintu sebelum akhirnya membukanya.Dalam tangkapan CCTV itu, kedua tamu yang datang terlihat begitu ramah. Axel bahkan sempat mengajak mereka duduk dan bercengkerama cukup lama di ruang tamu."Ben... apa suaranya nggak bisa diperjelas?" tanyaku gemas. Obrolan mereka sama sekali tidak bisa kami dengar."Nggak bisa, Mbak. Mungkin karena CCTV-nya cukup jauh," sahut Beni sambil meneliti layar monitor.Aku berdecak kesal, memicingkan mata untuk meneliti monitor itu. "Apa kamu mengerti apa yang mereka bicarakan?"Beni terlihat berpikir sejenak. "Nggak jelas sih, Mbak. Sepertinya mereka menggunakan bahasa Mandarin."Dari perawakan kedua orang itu, mereka memang terlihat berasal dari kebangsaan Tiongkok. Dan Axel kebetulan juga fasih berbahasa Mandarin selain bahasa Inggris yang biasa kami gunakan di kota ini."Apa kira-kira yang mereka bicarak
Aku tersenyum tipis sambil menundukkan wajah. Yah... Axel memang mempunyai postur tubuh yang sempurna untuk mengenakan busana desainku. Tetapi... entah kapan dia bisa menggunakan kaki kanannya secara normal lagi.Sampai detik ini, perkembangan kakinya tidak terlalu signifikan. Dan justru kenyataan itulah yang kembali menderaku dengan rasa bersalah yang teramat dalam."Jangan khawatir, bos saya akan segera pulih," timpal Beni seraya berjabat tangan dengan Sam.Kami saling berpandangan seolah menyalurkan kekuatan satu sama lain. "Mbak Kayla tenang saja. Pak Axel punya fisik yang bagus. Dia pasti bisa menjadi model design Mbak Kayla."Mendengar ucapan tulus itu, dadaku mendadak gemuruh terharu hingga tanpa terasa air mata meleleh di pipi."Beni... Kamu sengaja menghiburku?" godaku seraya menyeka air mata dengan punggung tangan.Beni hanya menatapku sambil terkekeh kecil."Baiklah... Aku tunggu kabar baiknya, Kayla. Dan aku juga ikut berdoa, semoga suamimu lekas pulih," sambung Mr. Sam se







