LOGINTubuhku mendadak membeku di tempat, terpaku menatap sepasang netra Axel yang masih menggelap oleh sisa gairah.
Untaian kalimat pendek yang baru saja meluncur dari bibir Axel tentang statusku sebagai istrinya—seolah mengonfirmasi bahwa kami memang berhak melakukan hubungan intim malam ini.Namun begitu kesadaranku kembali, kepanikan mendadak menyerangku.Tanpa berpikir panjang, aku langsung melayangkan tendangan ke tubuh jangkungnya hingga ia sedikit menjauh.Inez tersenyum miring, hingga kedua bahunya terangkat sinis. "Lo itu cewek paling munafik yang pernah gue kenal, Kayla. Berpura-pura polos dan lugu... tapi diam-diam menikam dari belakang."Aku mengukir senyum tipis nan dingin sembari melipat kedua tangan di atas dada. "Gue paham kok gimana perasaan lo sekarang." Aku sengaja menjeda kalimatku sejenak, lalu sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya. "Lo pasti sakit hati banget, kan? Karena pada kenyataannya... cewek yang jadi istri sah Axel dan yang lo cari-cari selama ini... itu gue."Mata Inez seketika membelalak lebar dengan raut amarah pekat yang menguasai wajah cantiknya. Aku dapat melihat dengan jelas kedua tangannya yang tengah mengepal erat hingga memutih di sisi tubuhnya."Lo belum menang, Kayla! Dan gue udah pernah bilang sama lo... Axel cuma boleh jadi milik gue!" tegasnya dengan gigi berkeretak.Aku tertawa singkat, menatapnya remeh dengan sebelah mata. "Inez... Inez. Lo kelihata
"Apaan sih lo!" Aku refleks mendorong dada tegap Axel dengan gemas. Namun, bukannya melepas, pria itu justru menyeringai tipis sembari makin mempererat rengkuhan lengannya di tubuhku.Tak lama kemudian, langkah kaki Inez terdengar mendekati kami sembari membawa selembar handuk kering yang masih terlipat."Kalian berdua kalau nempel begini udah mirip kue lapis aja ya," sindirnya sinis, meski pada akhirnya disusul oleh senyum ramah yang tampak sangat dipaksakan."Nih, pakai handuk gue aja, Xel. Gue belum pakai kok," ucapnya sembari menyodorkan handuk itu tepat ke hadapan Axel.Dengan gestur dingin dan minim ekspresi, Axel menerima handuk itu dari tangan Inez. Namun bukannya dipakai sendiri, ia justru langsung menyelimutkan kain tebal itu ke sekujur tubuhku."Handuk ini jauh lebih besar dan tebal. Mending lo balik ke tenda sekarang, terus ganti baju basah lo," potong Axel tegas padaku.Aku tak langsung menjawab. Tubuhku membeku mena
"Kayla!" panggil suara Hani memecah kebisingan dari tengah kerumunan anggota. Aku yang sempat mematung saling melempar tatapan tajam nan dingin dengan Inez—seketika terperanjat kaget. Tanpa membuang waktu untuk menyapa Inez, aku mendengus pelan lalu bergegas membelah kerumunan menghampiri Hani. "Kayla... lo pasti kedinginan banget deh!" ucap Hani dengan nada penuh kecemasan sembari sibuk merapikan helai rambutku yang basah kuyup. Aku meremas kedua tanganku di depan dada, menggigil kecil membiarkan rasa dingin menembus kulit. "Nggak apa-apa kok. Kameranya aman, kan?" "Aman... tenang aja." Hani sibuk meremas ujung bajuku, berusaha memeras air hujan yang terperangkap di kain pakaianku. "Aduh... gimana ya, handuk cadangan kita ada di dalam tenda lagi..." "Udah... tenang aja. Gue beneran nggak apa-apa kok." Namun secara mendadak, sebuah handuk tebal dan kering terselimut lembut di atas pundakku tanp
"Mmmhh..." seruku tersengal di dalam pagutan liar Axel. Aku memberontak kecil, berusaha sekuat tenaga mendorong dada tegapnya dengan harapan ia mau menghentikan aksi gilanya ini. Aku tidak habis pikir kenapa ia seolah sengaja ingin memamerkan hubungan rahasia kami di depan mata Inez. Bukankah selama ini dia yang paling gigih menjaga agar tidak ada mahasiswa lain yang mengetahui status pernikahan kami? Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hati, aku lega jika Inez mengetahui kenyataan ini. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot lagi bersandiwara menjadi sepupunya di depan wanita gatal itu. Namun, mengingat reputasi dan rumor yang beredar belakangan ini—tentang betapa histerisnya para fans Axel saat Inez dikabarkan ditolak—jujur ada rasa cemas yang menyelusup. Inez punya pengaruh yang lumayan besar untuk mengompori massa fans Axel di kampus. Dan hal itu jelas bisa menjadi ancaman berbahaya bagi ketenangan hubun
"Nggak apa-apa kok, Kak," sahutku bergegas bangkit berdiri untuk menegakkan badan. Dalam jarak sekitar lima meter di hadapanku, sorot mata Axel kian menajam tajam membakar. Tubuhnya mematung kaku dengan jemari yang mengepal erat hingga meremas bibit mangrove di genggamannya. Aku menatapnya dengan raut penuh penyesalan dan serba salah, berharap ia tidak tersulut amarah akibat bencana kecil yang baru saja terjadi secara tak sengaja ini. Axel akhirnya membuang muka dariku secara mendadak, lalu melangkah kembali memegang komando. "Maaf ya atas insiden kecil tadi. Semoga... kalian semua nggak terdistraksi sama adegan romantis tadi ya..." sindirnya diiringi senyum miring yang menyebalkan. "Huuuu..." seru sorakan riuh dari puluhan anggota disusul gelak tawa menggema. Sialan! Dia malah terang-terangan menyerangku di depan umum! Padahal kan tadi murni ketidaksengajaan! "Mari kita lanjutkan penanaman!" A
"Ssshh... Nez! Udah, stop!" tegar Rayan keras sembari membalikkan paksa pundak Inez. "Tolong jangan bikin kacau dan merusak acara gue! Masalah pribadi kalian... silakan kalian selesaikan di tempat lain. Jangan di area perkemahan Mapala!" Mendapat teguran tegas langsung dari sang ketua pelaksana, raut wajah Inez dalam sekejap memucat pasi. Aku menundukkan kepala sembari menahan senyum puas yang hampir meledak di bibir. Rasakan lo! Bikin malu diri sendiri kan! Siapa suruh bikin gaduh di sini, lagian lo juga nggak diundang. "Rayan... gue kan alumni Mapala juga..." sangkal Inez dengan suara bergetar. "Lo tega banget ngusir gue di depan umum..." Rayan mengembuskan napas panjang, tampak sangat tidak sabar menghadapi tingkah kekanak-kanakan Inez. "Gue tahu. Justru karena lo itu alumni senior, seenggaknya lo bisa jaga sikap dan wibawa. Gue nggak enak sama anggota junior kalau kalian ribut begini." Ine







