LOGIN"Kayla... tunggu dulu!" teriak Hani kencang sembari berlari terengah-engah di belakangku.
Aku sama sekali tidak berniat menghiraukan panggilannya. Kakiku terus melangkah lebar membelah koridor, didorong oleh rasa amarah yang masih memuncak hingga ke ubun-ubun. Tanpa duga, Hani mendadak berlari memutar dan langsung menghadang langkahku tepat di depan. Ia berdiri dengan napas yang tersengal-sengal. "Kay... lo marah sama gue?" Aku menatap wajah polosnAku menggeleng pelan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi. "Bagaimana pun keadaan lo, lo tetap Axel yang gue kenal. Bagi gue... lo akan selalu sempurna..."Aku menjatuhkan diri di atas dada Axel, mendekap tubuhnya erat-erat dengan derai air mata yang tak sanggup kubendung.Hingga beberapa menit berlalu dalam keheningan yang pilu, suara engsel pintu yang dibuka perlahan terdengar. Aku segera menegakkan badan, menatap ke arah pintu seraya menyeka sisa air mata di wajah."Kayla..." panggil Pakde Arga yang baru saja melangkah masuk bersama seorang pria berjas rapi.Aku bergegas berdiri, memberi ruang bagi pak de dan pria tersebut untuk mendekati brankar. "Pakde..." sapaku lirih."Ini dokter psikolog yang Pakde hubungi. Biarkan dokter menangani dan mengajak Axel berbincang dulu, ya..." pinta Pakde Arga lembut.Aku mengangguk patuh, lalu mengekor Pakde Arga keluar dari ruangan setelah sempat menatap nanar ke arah Axel.Aku dan Pakde Arga terduduk di bangku tunggu kayu y
Sang dokter membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. "Tadi kami melakukan pemeriksaan pascaoperasi dan meminta pasien untuk mencoba mengangkat kaki kanannya. Tapi... dia sama sekali tidak bisa menggerakkannya..."Mataku seketika membelalak sempurna, napasku terasa tercekat di tenggorokan. "Sama sekali... tidak bisa?"Sang dokter menggeleng pelan dengan raut wajah sarat simpati dan penyesalan. "Pasien sepertinya langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan respons saraf kakinya, lalu panik dan tidak sanggup menerima kenyataan pahit itu..."Tubuhku terdorong mundur satu langkah, dadaku bergemuruh hebat diliputi ketakutan mendalam. "Jadi... jaringan sarafnya benar-benar ikut mengalami cedera permanen, Dok?" tanyaku lirih dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.Sang dokter mengangguk pasrah. "Jika kondisinya sudah sejauh ini, pasien hanya bisa bergantung sepenuhnya pada proses fisioterapi intensif. Jika respons tubuhnya bagus... kemungkinan bes
Aku mendengus kasar, berbalik, dan berniat segera pergi dari tempat itu. Namun, sang manajer bergegas mengejar dan menghadang langkahku."Mbak Kayla, tunggu!" Ia berdiri tepat di hadapanku dengan napas tersengal-sengal. "Apakah... Apakah Mbak mencurigai seseorang di balik aksi Gio?"Aku terdiam sesaat, mengatur napas seraya merangkai cara penyampaian yang paling tepat. "Ya," sahutku singkat nan tajam."Siapa?"Aku meremas sisi celanaku, memberanikan diri untuk mengutarakannya secara terbuka. "Coba selidiki Miko.""Miko? Asisten dosen di Kampus Mayapada itu?" tanyanya dengan kening berkerut dalam.Aku mengangguk mantap. "Cari tahu apa hubungan dia dengan Gio. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Permisi..."Aku langsung menerobos melewatinya begitu saja, melangkah kembali menuju kamar perawatan Axel dengan amarah yang masih mengendap di dada. Namun, begitu melangkah masuk ke ruangan, Pakde Arga sudah terduduk di sisi brankar Axel."Kayla? Dari mana saja kamu, Nak?" tanyanya deng
Aku terperanjat dan langsung bangkit berdiri dari bangku taman. "Eh, Bu... Sudah selesai pembicaraannya?"Sang manajer tim basket Mayapada mengulas senyum ramah. "Sudah. Boleh saya duduk menemani kamu sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."Aku mengangguk canggung seraya mengarahkan telapak tanganku ke area kosong di sampingku. "Oh, iya, tentu... Silakan duduk, Bu."Tepat saat sang manajer mendudukkan dirinya di bangku kayu itu, aku bergegas mematikan panggilan telepon dengan Hani secara sepihak, lalu kembali duduk di sampingnya."Mengenai insiden kecelakaan yang menimpa Axel..." ucapnya memulai pembicaraan dengan intonasi penuh simpati.Aku bungkam, menantikan arah pembicaraannya dengan dada berdebar."Kami dari segenap jajaran manajemen tim memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami berjanji akan menjamin seluruh biaya pengobatan dan perawatan Axel hingga dia benar-benar pulih kembali."Ternyata hanya kompensasi itu yang ingin dia sampaikan? Aku yang mulai kehilan
Begitu aku menerobos masuk dengan napas memburu, seorang wanita berpenampilan berkelas dengan usia kisaran tiga puluh tahunan terperanjat kaget, menatap heran ke arah pintu.Si-siapa wanita ini? batinku panik. Aku mendadak menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal, diliputi rasa malu luar biasa karena sudah mendobrak pintu dengan cara yang sangat kasar.Sebelumnya, aku menduga wanita yang datang menjenguk adalah Inez atau Lintang. Tapi... kenapa yang berada di dalam justru sosok asing berparas anggun ini?"Kayla? Ada apa?" tanya Axel dengan kening berkerut heran menatap tingkahku.Aku bungkam membatu, mati-matian menahan canggung dan malu atas aksi konyolku sendiri. Tak lama kemudian, Beni mengekor masuk dan berdiri kaku di sampingku."Beliau... adalah manajer tim basket Mayapada, Mbak..." bisik Beni dengan raut wajah penuh penyesalan.Aku spontan menyikut bahunya gemas. "Kenapa nggak bilang dari tadi?!" bisikku dengan gigi bergemeletuk menahan geram."Ya... Mbak Kayla k
Pakde Arga merapikan selimut Axel seraya mengulas senyum lebar yang menenangkan. "Axel... jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Kamu percaya saja pada instruksi dokter, ya...""Tapi, Pa...""Axel... benar kata Pakde," potongku cepat demi menyapu bersih kegelisahan di benaknya. Aku mengikis jarak, menggenggam erat jemarinya yang dingin untuk menyuntikkan kekuatan. "Lo nggak usah mikirin hal yang aneh-aneh dulu. Pokoknya... ke mana pun lo harus pergi berobat, gue akan selalu setia ada di samping lo."Axel akhirnya mengulas senyum tipis, perlahan guratan cemas di wajahnya mulai meluntur."Kayla... Pakde mau bicara sebentar di kantin. Sekalian kamu makan malam dulu, ya," ajak Pakde Arga.Aku menoleh menatap Axel sejenak, terasa begitu berat untuk melangkah meninggalkannya walau hanya sebentar."Gue nggak apa-apa. Lo istirahat dan makan dulu aja," rewel Axel lirih menenteramkan hatiku."Beni sebentar lagi juga sampai di sini. Jadi... kamu tidak perlu cemas meninggalkan Axel se







