로그인Aku terus berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari ciuman paksa Axel, meskipun usahaku sama sekali tidak membuahkan hasil.
Entah karena dia hanya ingin memamerkan hak kepemilikannya di hadapan pria-pria itu, atau justru berniat memberiku peringatan keras karena sudah berani mengabaikannya di depan orang lain.Yang pasti, tingkah sok kuasanya ini benar-benar sangat menyebalkan!Ting!Suara denting pintu lift yang terbuka lebar seketika menyelamatkan posiAstaga... baru juga masuk ruangan, kelakuannya sudah arogan setengah mati!"Maaf, Pak... Apa bukan Bapak yang datang terlalu awal?" sahutku dengan nada penuh sindiran."Apa?!" Axel membelalakkan matanya lebar-lebar."Begini saja. Sebaiknya... Bapak silakan keluar dulu dari ruangan ini, biarkan saya membersihkan semuanya sampai beres. Oke?" potongku sembari memberi gestur mempersilakannya keluar dengan gerakan tangan yang dibuat ramah.Namun ia justru menegakkan tubuh, menatapku kaku dengan rahang mengeras. "Kamu mengusirku?!" desisnya tajam, lalu terdiam sejenak. "Tunggu! Kamu... wanita yang di dalam lift tadi, kan?"Oh, sialan! Dia mulai mengenali postur tubuhku!"B-betul, Pak..." sahutku cepat sembari membungkukkan badan, memaksa diri bersikap sesopan mungkin."Pantas saja kamu terlambat! Datangmu saja bersamaan dengan atasan. Harusnya kamu tiba lebih awal dibanding kami!"Dasar tikus got! Bisanya cuma bertind
"Maksud Papa siapa?" timpal Axel dari belakang, membuat aku dan Pakde Arga spontan menoleh bersamaan."Tentu saja mantan istri kamu, Kayla," sahut Pakde Arga tenang.Aku seketika tersedak ludahku sendiri. "Uhuk-uhuk!"Pakde Arga sempat menatapku penuh selidik sebelum akhirnya protes keras dari Axel terdengar."Papa jangan sembarangan bicara! Aku dan Kayla itu belum resmi bercerai. Dan... Papa menyamakan Kayla dengan cleaning service ini?!" Axel menjeda kalimatnya dengan intonasi sarkastik yang kental.Aku menoleh ke belakang, mendapati pria itu tengah menatapku dengan pandangan meremehkan."Tentu saja cewek ini nggak ada mirip-miripnya dengan Kayla!"Sialan! Apa dia sedang merendahkan pekerjaanku sekarang?! Mentang-mentang aku mengenakan seragam cleaning service, dia menganggapku manusia kelas bawah?!Rasanya aku ingin sekali menginjak sepatu kulitnya yang mengilap itu sekarang juga!"Kamu ini
"Betul. Pak Axel baru saja menjabat sebagai direktur. Beliau adalah putra Pak Arga, komisaris utama perusahaan," jelas staf HRD ramah.Aku membeku selama beberapa detik, seolah aliran darahku berhenti mengalir. Ini sungguh tidak masuk akal. Tidak mungkin aku harus bekerja di perusahaan Pakde Arga, sementara aku sedang bersikeras menunjukkan bahwa aku bisa hidup mandiri!Dan... aku bertugas di area ruangan Axel?! Oh Tuhan... ujian apa lagi ini?! Mana mungkin aku menjadi tukang pembersih di ruangan pria yang sedang kuhindari?!Jika Axel tahu aku adalah petugas kebersihan di ruangannya, entah tindakan konyol atau arogan apa lagi yang akan ia lakukan padaku!"Mbak... Mbak Kayla baik-baik saja?" suara staf HRD membuyarkan lamunanku.Aku menjatuhkan berkas dokumen itu ke pangkuan, lalu mengangkat wajah dengan tatapan lemas. "Mbak... ini nggak salah penempatan perusahaan, kan?""Sama sekali tidak, Mbak. PT. Buana Jaya memang sudah lama
"A-aku... ngekos di sini, Kak," sahutku canggung, sedikit salah tingkah karena tak pernah membayangkan akan bertemu senior kampus di tempat kos yang sama. "Kamu ngekos?" tanya Kak Rayan dengan raut tak percaya. "Bukannya... rumah kamu nggak jauh dari kawasan ini?" Aku menggaruk kepala yang tak gatal, berpikir cepat mencari alasan yang masuk akal. "I-iya, sih. Aku... aku cuma ingin belajar mandiri aja. Nah... iya, itu alasannya." Aku tertawa garing berusaha menutupi raut cemas di wajahku. Kak Rayan hanya mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Kak Rayan sendiri... ngapain di sini?" tanyaku balik, berharap dugaanku salah. Aku sungguh tak pernah membayangkan akan bertetangga dengan senior kampus yang gencar mengedekatiku belakangan ini. "Aku... udah hampir empat tahun," sahutnya sembari menunjuk pintu kamar di belakangnya. "Ngekos di sini." Oh tidak! Ternyata benar... dia bakal j
"Sepuluh ribu dolar?!" tanyaku dengan mata membelalak lebar karena terkejut. Gila! Kalau aku sampai kena denda penalti sebesar itu, pakai uang dari mana aku membayarnya?! Bukannya untung, yang ada malah buntung! Aku bergegas bangkit dari kursi, melangkah mendekati staf HRD tersebut. "Mbak... apa saya bisa membatalkan kontrak kerjanya?" tanyaku sembari berusaha mengambil kembali berkas dokumen dalam dekapannya. Namun staf itu hanya tersenyum tenang dan ramah sembari mengibaskan tangannya pelan. "Maaf, Mbak. Tidak bisa... datanya sudah terinput secara otomatis ke sistem." Aku tetap bersikeras merebut file itu kembali. "Tapi Mbak... ini kan baru hitungan menit!" "Kalau Mbak Kayla mendadak membatalkan begini, Mbak bisa membuat Pak Heru kecewa, loh." Mendengar nama Papa Hani disebut, gerakanku seketika terhenti. Aku membeku selama beberapa detik. "T-tapi, Mbak..." "Buka
Aku sengaja mengulas senyum lebar seolah menyambut hangat uluran tangannya. Tepat saat tubuh Miko hampir menjangkauku, aku langsung mengayunkan kaki menendang telak perutnya, disusul satu pukulan keras tepat di wajahnya saat ia menunduk menahan nyeri.Bukh!Tubuh Miko oleng dan limbung ke belakang. Namun hanya dalam hitungan detik, ia berusaha menegakkan kembali tubuhnya sembari menatapku dengan mata membelalak penuh tanya."Kayla...?""Itu ganjaran... karena kamu sudah bertindak bejat menjebakku di hotel!" Aku melangkah mendekatinya dengan tubuh menegang tegang, lalu kembali melayangkan bogem mentah ke wajahnya.Bukh!"Itu hukuman... karena kamu sudah berani merendahkanku dan menginjak-injak harga diriku sebagai wanita!"Miko meringis sembari berusaha berdiri tegak. Namun belum sempat tubuhnya seimbang, aku melayangkan satu tendangan kuat lagi ke arah perutnya hingga ia tersungkur ke lantai."Dan itu... adalah







