ANMELDEN'Sialan! Miko berani mengancamku?' batinku kesal.
Mataku seketika membulat sempurna mendengar ancaman dingin itu. Jemariku meremas erat kain celana yang kukenakan, diiringi dada yang bergemuruh hebat menahan luapan amarah yang membakar.Miko benar-benar sudah mulai bertindak di luar akal sehat dan logika. Sepertinya pria itu menyimpan dendam kesumat yang sangat mendalam karena merasa dikhianati olehku.Saat ini, dia sudah nekat dan sanggup melancarkan aksi picik apa"Ehem!" goda Hani sembari menahan senyum, membuat aku dan Axel seketika dibuat salah tingkah. "Sekarang Kayla tinggal di rumah aku, Kak," lanjut Hani sembari melangkah berdiri tegak di sampingku. "Owh..." Axel mengusap belakang tengkuknya sembari mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Wajahnya terlihat amat serba salah. "Kalau mau... lo bisa tinggal di apartemen. Gue... udah pindah ke rumah Papa, kok." Oh... jadi dia udah nggak tinggal di apartemen lagi? Syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir jika dia harus tidur sendirian di sana. Axel kan punya fobia kegelapan sejak ia terkunci di gudang sewaktu kecil. "Cieee... kayaknya ada yang ngajak rujuk, nih!" goda Hani lagi sembari menyenggol lenganku dengan sikutnya. Aku bergegas mencubit pinggang Hani gemas sembari berbisik tertahan. "Bisa diam nggak, sih?!" "Aduh! Apaan sih..." protes Hani sembari mengusap pinggangnya yang menjadi
"Apa yang lo lakukan, Inez?! Lo mau membunuh Kayla?!" teriak Rayan berang sembari tangannya dengan sigap menyangga tubuhku dari belakang. Aku yang masih membeku hanya bisa menoleh pada Rayan dengan detak jantung bertabuh kencang akibat rasa panik yang luar biasa. Tak berselang lama, derap langkah kaki yang berlari tergesa menaiki anak tangga terdengar riuh. Miko dan Axel tiba-tiba muncul dengan napas tersengal-sengal. Pandangan mata mereka seketika membelalak lebar begitu menangkap posisiku. Aku bergegas menegakkan tubuh, merasa salah tingkah karena situasi ini mendadak mengumpulkan dua cowok yang pernah hadir dalam kisah cintaku di satu tempat yang sama. "Kamu nggak apa-apa, Kay?" tanya Rayan dengan raut wajah amat khawatir. Aku hanya menggeleng pelan tanpa suara, melirik canggung ke arah Axel dan Miko yang masih menatapku tajam. Detik berikutnya, Miko mendadak melangkah menaiki tangga mengham
Sialan! Inez ingin aku hamil anak Miko? Benar-benar bejat. Tak kusangka penampilannya yang berkelas sungguh sangat bertolak belakang dengan hatinya yang busuk. "Kamu sendiri gimana? Kamu berhasil tidur sama Axel?" tanya Miko balik. Mataku langsung membulat sempurna mendengar pertanyaan itu. Sungguh brengsek! Jadi mereka berdua berencana menghancurkan aku dan Axel secara bersamaan? Inez membuang muka dengan raut wajah masam. "Mana bisa! Dia mabuk berat! Padahal dia udah sempat cium gue, tapi malah pingsan." Ternyata, kesaksian Axel sepenuhnya benar. Dia tidak mengarang cerita tentang kejadian mabuknya kala itu. "Hahaha..." Miko terbahak sembari membetulkan posisi kacamatanya. "Sama aja. Kamu juga sama-sama payah!" "Ya kalau gue wajar! Mana bisa gue meniduri Axel kalau punya dia aja nggak tegak!" Inez menunjuk dada Miko tegas dengan wajah penuh amarah. "Sedangkan lo! Lo punya banyak kesempatan b
Hani melirikku sinis. "Iri sih nggak juga..." sahutnya sembari membuang muka. Lagian mereka menikah juga cuma gara-gara dijodohkan. Axel nggak benar-benar tertarik kok sama Kayla. Buktinya sekarang mereka pisah."Aku spontan menepuk keras paha Hani. "Lo?! Tega banget sih sama gue...""Ah!" pekik Hani sembari meringis mengusap pahanya. "Ye... kok sewot sih? Gue kan ngomong apa adanya!""Hani... Jangan begitu sama teman kamu..." timpal Papa Hani sembari mengarahkan remote ke TV.Mama Hani hanya tertawa kecil sembari memandangi kami berdua. "Iya, kasihan Kayla. Tadi pas baru datang aja raut wajahnya udah lesu banget. Dia pasti patah hati berat.""Ya... siapa suruh meninggalkan si tampan Axel?" Hani memiringkan tubuhnya ke arahku. "Kalau lo meninggalkan dia, yang ada Inez bakal semakin leluasa merebut Axel."Mungkin perkataan Hani ada benarnya. Tapi jika memang Axel akhirnya jatuh ke pelukan Inez, dia sungguh bukan pria yang pantas u
"Sebagai apa?" tanyaku antusias sembari mencondongkan kepala mendekatinya.Hani tak langsung menjawab. Ia menyeringai misterius dengan raut wajah mencurigakan, sebelum akhirnya ikut mencondongkan tubuhnya ke arahku."Cleaning service..." bisiknya dengan senyum mengembang lebar.Aku langsung menarik badanku menjauh, menatap Hani dengan raut wajah sewot. "Lo jangan bercanda ya, Hani! Masa cleaning service sih! Lagipula sama aja kayak jadi kasir di kafe. Kalau tugasnya di mall, gue juga pasti bakal ketemu sama mahasiswa Mayapada!""Ye... Yang bilang di mall siapa?! Gue kan bilang kantor!" Hani mengangkat satu telunjuknya di udara seolah menegaskan tiap suku kata. "Kan-to-ran!"Aku melirik Hani kesal sembari menggaruk kepala yang tak gatal. "Iya sih, kantoran. Tapi masa iya cleaning service...""Trus lo berharap jadi akuntan?! Kuliah aja baru semester tiga!" bentaknya dengan mata melotot lebar."Lagian... lo itu jangan menye
"Iiiihh... Mama nggak usah kepo, deh! Ceritanya panjang!" sangkal Hani cepat sembari menarik tanganku masuk melewati ibunya. "Pokoknya Kayla menginap di rumah kita untuk sementara waktu!""Heh!" teriak sang Mama sembari memicingkan mata heran.Aku membungkukkan sedikit tubuhku untuk memberi hormat canggung. "Maaf, Tante... permisi..."Mama Hani hanya mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi, lalu menutup pintu rumah dengan santai.Sesampainya di dalam kamar Hani, aku langsung menginterupsi sahabatku yang kelewat ceplas-ceplos itu. "Hani... lo kok berani banget sih sama nyokap lo? Gue kan jadi nggak enak hati...""Berani apaan? Nyokap gue itu aslinya asik kali... Gayanya aja yang sok judes!" ucapnya santai sembari meletakkan koper besarku di sudut ruangan.Aku menggaruk kepala yang tak gatal sembari berpikir keras. Masa sih gayanya aja yang sok judes? Kalau benar begitu, ini sangat berbanding terbalik dengan Mama Sarah. Mam







