로그인"Axel?!" Jantungku nyaris copot saat melihat Axel tiba-tiba berdiri di ambang pintu. "Ada apa, Kay?" tanya Hani di balik video dengan kening berkerut."Sorry ya kita lanjutkan ntar aja." Aku buru-buru memutus panggilan video dengan Hani secara sepihak, mengabaikan wajah sahabatku yang telanjur ikut panik di ujung sana."Xel lo kok balik lagi? Bukannya tadi lagi beli roti?" cicitku, menelan ludah dengan susah payah saat melihat dada bidang Axel naik-turun menahan emosi.Pandanganku tertuju pada kantong kertas belanjaan yang tadinya ia bawa tergeletak mengenaskan di dekat pintu."Jadi... Lo seperti ini gara-gara gue?" ulang Axel dengan suara bergetar berat. Guratan penyesalan dan rasa bersalah mencuat jelas di wajahnya yang pucat. "Lo stres mikirin kondisi gue... Lo tersiksa karena nemenin gue yang tak kunjung sembuh sampai ketuban Llo pecah dini."Axel menjeda kalimatnya, menunjuk dirinya sendiri dengan penuh emosi. "Semua itu gara-gara gue?!""B-bukan gitu, Xel! Lo jangan salah paha
"Apa kau tidak mau membantu fashion show pertama Kayla?" tanya Mr. Sam pada Axel, mencoba meyakinkan sekali lagi dengan nada penuh selidik. "Mungkin... hal ini akan menjadi momen tak terlupakan untuk istrimu."Axel menatapku sekilas dengan wajah datar tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, namun tatapannya menyiratkan keyakinan penuh bahwa aku tidak mungkin berharap hal yang sama seperti yang diinginkan Mr. Sam.Dengan dagu terangkat tipis, Axel menyangkal dengan suara tenang. "Kayla adalah designer yang hebat. Tanpa perlu aku yang memakai hasil desainnya, karyanya pasti akan sangat terkenal."Pria itu mungkin mengira ucapannya barusan adalah bentuk pujian atau pembelaan tulus untukku. Namun di telingaku, kalimat itu justru terdengar seperti tamparan keras yang telak mengonfirmasi dugaanku. Dadaku mendadak sesak seketika, dihantam rasa perih yang menjalar hingga ke ujung tenggorokan. Dia benar-benar nggak paham... atau memang nggak mau peduli? batinku me
Dadaku mendadak sesak, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas kuat jantungku. Mataku membelalak lebar menatap punggung Mr. Sam dan wajah Axel yang kini tampak membeku. Batin badanku bergemuruh hebat, menciptakan skenario-skenario liar yang membuat bulu kudukku meremang ngeri. Tuhan... jangan bilang atasan buleku ini belok? Kenapa dia menatap Axel dengan sorot dahaga seperti itu?!Wajah Axel yang semula ramah kini mendadak pucat pasi. Ia mundur selangkah lagi, terlihat menelan ludah dengan susah payah sementara sisa rasa sakit di kakinya nyaris membuatnya kehilangan keseimbangan."M-maksud Anda apa?" tanya Axel terbata, suaranya tercekat di tenggorokan dengan kening yang langsung dipenuhi keringat dingin.Atmosfer di dalam kamar rawatku ini seketika berubah drastis menjadi begitu dingin dan menyesakkan. Udara seolah tersedot habis. Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, bersiap meledakkan protes jika pria bule di hadapanku ini berani berbuat kurang ajar pada suamiku.Mr. Sam s
Bunga mawar dan lili beraroma harum mendadak merebak, memenuhi udara ruang perawatan. Pria misterius itu perlahan menurunkan buket bunga raksasa bernuansa pastel yang sebelumnya menutupi wajahnya. "Selamat menjadi ibu, Kayla..." ucapnya lembut bersama dengan ulas senyum menawan yang familier.Dadaku sempat mencelos kaget, tapi sedetik kemudian tawa lega lolos begitu saja dari bibirku. Wajah gurat tegas dan mata tajam khas bule di hadapanku ini ternyata bukanlah orang asing."Mr. Sam?" seruku sumringah, memiringkan kepala tak percaya. "Dari mana Anda tahu aku sudah melahirkan?"Mr. Sam terkekeh pelan, meletakkan buket bunga super besar itu di atas meja samping ranjang sebelum kembali menatapku hangat. "Kamu tidak bisa dihubungi sejak kemarin, aku jadi khawatir. Aku sengaja mencari tahu tentang keberadaanmu. Itu tidak sulit.""Maaf, Mr. Sam... ponselku mati dan segalanya terjadi begitu mendadak," balasku merasa bersalah, usai menata posisi Sira yang kini sudah selesai menyusu.Pria yan
"Ah... benar juga." Axel menatap wajah Sira dan berbicara dengannya seolah bayi mungil itu sudah bisa mengerti bahasanya."Sira... ternyata wajah kita benar-benar mirip ya..." gumam Axel dengan tawa renyah yang lolos dari bibirnya. Ia kembali menatap lekat-lekat bayangan dirinya dan Sira di layar ponselku, seolah tak percaya sosok mungil di lengannya adalah darah dagingnya sendiri.Aku ikut terkekeh mendengar tingkah lucunya itu, meski tiap hela napas masih memicu rasa nyeri samar di perut bawahku. "Kan, apa gue bilang.""Tapi tenang aja, sifat cantiknya tetap turun dari lo," kelakar Axel manis.Matanya yang hangat berganti menatapku intens. "Gue masih nggak nyangka, Kayla... kita akhirnya benar-benar udah jadi orang tua sekarang. Sira... adalah bukti cinta kita.""Gue juga, Xel. Rasanya baru kemarin kita terus berantem, tapi sekarang... sudah ada Sira di antara kita," bisikku pelan, merasakan kehangatan merayap memenuhi setiap celah di dada. Ruang perawatan yang semula terasa dingi
"Kalau begitu, tolong berikan bayinya pada saya, Dok," pinta Axel lirih. Sorot matanya yang tertuju pada boks bayi memancarkan keraguan tebal yang terlihat berkelahi sengit dengan kerinduannya yang mendalam."Apa Anda yakin, Pak?" tanya sang dokter, memastikan.Tanpa meragu lagi, Axel melepaskan tongkat di ketiak kanannya hingga terhempas ke lantai. Ia kemudian mengangguk mantap, lalu mengulurkan kedua tangannya dengan gemetar. Aku melirik ke bawah, terlihat kaki kanannya tengah menegang kaku, berjuang keras menahan tumpuan berat badannya sendiri.Sementara aku yang masih terkulai lemas di ranjang hanya bisa menatap setiap milimeter pergerakan itu dengan napas tertahan. Jantungku berpacu cepat, dihantam kepanikan luar biasa.Tuhan... tolong beri suamiku kekuatan. Jangan biarkan kakinya tumbang sekarang...Seketika, saat tubuh mungil berbalut kain merah muda itu berpindah ke dalam dekapan lengan Axel, kepucatan di wajah suamiku itu mendadak luntur.Ketakutannya seolah menguap begitu







