LOGIN"Emmm... iya. Miko ngajak gue balikan," sahutku sambil menatapnya manja, menyunggingkan senyuman menggoda yang memancing emosi Axel.
Axel sempat terperanjat. Tatapan matanya seketika menggelap sebelum akhirnya ia menyambar bibirku dengan ciuman yang kasar dan penuh gairah yang menuntut."Lo mau nguji kesabaran gue?" tanyanya dengan napas memburu tepat di depan bibirku.Aku menggigit bibir bawahku tipis, menatapnya penuh kilat erotis yang belum pernah kutunjukkan seb"Malam ini..." sahut Hani mengambil alih percakapan dengan raut wajah yang sengaja dibuat sengsara secara berlebihan. Ia menunjuk Kak Rayan, lalu berpura-pura terisak seraya merebahkan kepalanya di bahuku. "Dia jahat banget, Kay! Tega-teganya dia cuma menjadikan gue pacar semalam, tapi setelah itu langsung ditinggal terbang ke luar negeri..."Aku mengusap lembut rambutnya seraya mencibir geli, lalu menoleh ke arah Kak Rayan dengan kekehan ringan. "Teganya Kamu, Kak... Kasihan kan Hani dibuat menangis begini.""Itu sebabnya aku tidak mau terburu-buru menyatakan cinta padanya kemarin," jelas Kak Rayan seraya menahan tawa. "Tapi... dia justru nekat mendatangi tempat kosku dan menuntut penjelasan soal alasanku meminjamkan jaket padamu kemarin."Mendengar penjelasan itu, aku mendadak kaget. Aku spontan menegakkan paksa kepala Hani dan menatapnya dengan mata membulat sempurna. "Lo benar-benar nekat melakukan itu, Han?!"Hani menyeringai garing seraya tersipu malu. "Iya... habisnya gue
Aku dan Axel terperanjat kaget, spontan menoleh secara bersamaan ke arah ambang pintu."Oh, sorry! Gue ngganggu ritual kemesraan kalian, ya?" seru Kak Rayan tampak serba salah dan tersenyum canggung.Aku refleks bergegas turun dari pangkuan Axel, berdiri kaku seperti anak kecil yang tertangkap basah berbuat jahat. "Kak... eh, nggak, kok!"Axel justru tersenyum lebar. Raut wajahnya terlihat sangat santai mendapati kehadiran sahabatnya yang tiba-tiba menginterupsi kemesraan kami—sangat kontras dengan sikapnya kemarin yang meledak-ledak diselimuti kecemburuan."Bro... masuklah," pinta Axel ramah.Tepat sebelum Kak Rayan melangkahkan kakinya masuk, sosok Hani tiba-tiba menyusul dari balik punggungnya. Perempuan itu langsung menggandeng lengan Kak Rayan dengan mesra."Kayla!!" teriak Hani histeris dengan wajah berseri-seri penuh bahagia.Wah... ada angin apa ini? Aku mengamati raut wajah mereka berdua yang tampak berbinar terang. Sungguh berbeda 180 derajat dari ketegangan yang terj
"Astaga, Axel... ternyata ini benar-benar surat penahanan mereka!" Aku berseru histeris, tidak dapat menyembunyikan luapan kebahagiaan di hadapan suamiku. "Xel... akhirnya perjuangan dan usaha gue nggak sia-sia!"Axel mengulas senyum lebar yang lega seraya menggenggam erat kedua tanganku dengan telapak tangan yang agak berkeringat."Saya mewakili manajemen memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat lalai menjaga keselamatan Axel," ucap sang manajer dengan intonasi sarat penyesalan. "Sebagai bentuk tanggung jawab penuh, izinkan klub membiayai seluruh proses pengobatan dan fisioterapi Axel hingga pulih total, serta merujuknya ke rumah sakit spesialis terbaik di luar negeri."Aku dan Axel saling bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya suara suamiku memecah keheningan."Kayla... gue sangat ingin sembuh. Gue mau... saat anak kita lahir nanti, gue sudah bisa berdiri tegak, menggendongnya, dan membawanya berlari bermain bersama.""Lo pasti bisa melewati semua ini dan pulih kembali
"Kalian tidak tahu kalau pasien sedang hamil?" tanya sang dokter yang ikut terkejut mendapati respons mereka.Mama dan Axel sama-sama menggeleng kaku sebelum akhirnya serentak menoleh menatapku."Kamu hamil, Kayla?!" tanya Mama menuntut kejelasan dengan nada suara meninggi kaget."Kay... kok lo nggak ngasi tahu gue?!" tambah Axel tak kalah panik.Aku spontan menggeleng pelan dengan raut polos. "Kayla juga nggak tahu sama sekali, Ma... Kayla nggak merasakan gejala apa-apa."Sang dokter tersenyum lebar seraya membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. "Usia kehamilannya sudah menginjak enam minggu. Sangat wajar jika kamu tidak menyadarinya saat terlambat datang bulan."Apa iya, ya? Belakangan ini aku memang sama sekali tidak mengingat siklus menstruasiku karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan syok menghadapi musibah Axel. Pantas saja perutku sering merasa mual dan tak nyaman belakangan ini. Kukira itu cuma penyakit asam lambung biasa."Setelah cairan infus ini
"Xel, gue sama Kak Rayan bergerak bersama itu murni demi lo!" Aku berusaha menyentuh pundaknya untuk mengikis rasa curiganya.Namun, dengan gerakan cepat Axel menepis tanganku kasar. "Demi gue?! Apa yang sudah kalian lakukan bersama di belakang gue?!""Gue..."Kalimatku terjeda, berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak membeberkan aksi nekatku membalas dendam pada Miko di kampus. Dokter psikolog sudah mewanti-wanti agar aku berhati-hati dalam bertutur kata. Jika Axel sampai tahu bahwa lumpuhnya kaki kanan yang ia alami adalah buah dari dendam Miko padaku, rasa bersalah dan amarahnya pasti akan makin meledak tak terkendali."Xel... yang pasti, gue nggak pernah melakukan hal buruk apa pun di belakang lo. Percayalah... gue cuma mencintai lo."Axel mengulas senyum tipis yang getir seraya membuang muka. Aku menyaksikan sendiri genangan air mata yang membasahi pelupuk matanya."Lo bertahan mencintai gue cuma karena kasihan, kan?" bisiknya dengan suara bergetar pilu.Aku mengg
Aku segera menghampiri Axel dan berlutut di depan kursi rodanya. "Iya, Xel... Tadi kami dari kampus, dan Kak Rayan bilang mau menjenguk untuk melihat kondisi lo.""Bagaimana keadaan lo sekarang, Xel?" tanya Kak Rayan hangat dan ramah dari belakangku.Namun, di luar dugaan, Axel justru menyambut sapaan itu dengan tatapan mata yang amat dingin dan menusuk. "Lo datang dan bertanya seperti itu cuma untuk memastikan kalau gue benar-benar sudah cacat, kan?!"Dahiku seketika mengernyit dalam, spontan berbalik menatap Kak Rayan yang terpaku kaget."Xel... kok omongan lo melenceng begitu, sih?" bisikku heran.Axel mengabaikan bisikanku. Dengan gerakan kasar, jemarinya menarik paksa jaket kulit Kak Rayan dari pundakku, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai menuju arah Kak Rayan."Xel!" teriakku kaget, spontan menoleh ke arah Kak Rayan dengan panik.Sorot mata Axel kini tertuju tajam pada pundakku yang terekspos akibat robekan kemeja. "Ada apa dengan baju lo?""Tadi ada insiden kecil







