LOGIN"Lo?! Ngapain lo ke sini?!" hardikku refleks pada Axel.
Aku sudah bersiap-siap untuk bangkit berdiri demi menjauhinya, sebelum jemari tangannya dengan cepat dan sigap merengkuh pinggangku."Lo... marah ya?" bisiknya tepat di samping telingaku.Jujur saja, di dalam hati terkecilku aku sebenarnya sangat senang dan tersanjung melihat Axel menyusul sampai ke lokasi kemah ini.Tapi rasa gengsiku membumbung tinggi—aku masih kesal karena merasa dibodohi dan dike"Kay... Lo nggak apa-apa?!" tanya Hani panik seraya memeriksa kondisiku.Aku segera menyembunyikan wajah di balik bahu Hani, lalu mengedipkan sebelah mata padanya seraya menyunggingkan senyum tipis.Seketika mulut Hani membulat sempurna diiringi matanya yang membelalak kaget. "Ohh..." bisiknya paham.Aku bergegas kembali bersandiwara, memasang raut wajah terintimidasi dan syok. "Tolong gue, Han... Gue malu banget. Miko mau melecehkan gue di kampus..." rengekku seraya berpura-pura terisak pelan."Dasar asdos biadab! Dia memang nggak pantas jadi panutan di kampus ini!" teriak Hani nyaring, menunjuk Miko yang baru saja berhenti dihajar oleh Kak Rayan.Kak Rayan yang melihat kondisiku yang berantakan, langsung menyeret Miko secara paksa keluar dari koridor gedung fakultas."Lepaskan aku!" teriak Miko seraya meronta-ronta dengan napas tersengal-sengal.Kak Rayan tidak memedulikan rintihannya. Dengan cengkeraman tangannya yang kuat, ia terus menyeret Miko di hadapan para mahasiswa ya
Aku menyeringai, membalas tatapannya dengan angkuh. Sementara jemariku di dalam saku celana diam-diam menekan tombol volume ponsel, mengaktifkan fitur cepat aplikasi rekam suara yang sudah kusiapkan sejak awal."Kamu puas sekarang? Apa kamu sudah merasa menjadi pemenang?" tanyaku dengan nada datar dan tatapan dingin nan menusuk.Miko tersenyum miring. Ia mendorong bingkai kacamatanya naik seraya melangkah lebih dekat. "Tentu saja belum. Sampai detik ini aku masih melihatmu berdiri begitu angkuh di hadapanku, Kayla..."Ia menceda kalimatnya sejenak, menatapku dengan kilat mata penuh obsesi. "Haruskah... aku membuat kedua kaki Axel lumpuh total agar dia bisa berlutut dan memohon ampun di kaki aku?"Aku menyeringai dingin. "Tak kusangka, seorang asisten dosen yang dihormati di kampus ini ternyata berotak psikopat," sindirku tajam tanpa gentar."Kamu yang memaksa aku menjadi monster seperti ini, Kayla!" sanggahnya dengan mata menyala-nyala penuh amarah. "Axel sudah merebut kamu dari
Aku menggeleng pelan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi. "Bagaimana pun keadaan lo, lo tetap Axel yang gue kenal. Bagi gue... lo akan selalu sempurna..."Aku menjatuhkan diri di atas dada Axel, mendekap tubuhnya erat-erat dengan derai air mata yang tak sanggup kubendung.Hingga beberapa menit berlalu dalam keheningan yang pilu, suara engsel pintu yang dibuka perlahan terdengar. Aku segera menegakkan badan, menatap ke arah pintu seraya menyeka sisa air mata di wajah."Kayla..." panggil Pakde Arga yang baru saja melangkah masuk bersama seorang pria berjas rapi.Aku bergegas berdiri, memberi ruang bagi pak de dan pria tersebut untuk mendekati brankar. "Pakde..." sapaku lirih."Ini dokter psikolog yang Pakde hubungi. Biarkan dokter menangani dan mengajak Axel berbincang dulu, ya..." pinta Pakde Arga lembut.Aku mengangguk patuh, lalu mengekor Pakde Arga keluar dari ruangan setelah sempat menatap nanar ke arah Axel.Aku dan Pakde Arga terduduk di bangku tunggu kayu y
Sang dokter membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. "Tadi kami melakukan pemeriksaan pascaoperasi dan meminta pasien untuk mencoba mengangkat kaki kanannya. Tapi... dia sama sekali tidak bisa menggerakkannya..."Mataku seketika membelalak sempurna, napasku terasa tercekat di tenggorokan. "Sama sekali... tidak bisa?"Sang dokter menggeleng pelan dengan raut wajah sarat simpati dan penyesalan. "Pasien sepertinya langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan respons saraf kakinya, lalu panik dan tidak sanggup menerima kenyataan pahit itu..."Tubuhku terdorong mundur satu langkah, dadaku bergemuruh hebat diliputi ketakutan mendalam. "Jadi... jaringan sarafnya benar-benar ikut mengalami cedera permanen, Dok?" tanyaku lirih dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.Sang dokter mengangguk pasrah. "Jika kondisinya sudah sejauh ini, pasien hanya bisa bergantung sepenuhnya pada proses fisioterapi intensif. Jika respons tubuhnya bagus... kemungkinan bes
Aku mendengus kasar, berbalik, dan berniat segera pergi dari tempat itu. Namun, sang manajer bergegas mengejar dan menghadang langkahku."Mbak Kayla, tunggu!" Ia berdiri tepat di hadapanku dengan napas tersengal-sengal. "Apakah... Apakah Mbak mencurigai seseorang di balik aksi Gio?"Aku terdiam sesaat, mengatur napas seraya merangkai cara penyampaian yang paling tepat. "Ya," sahutku singkat nan tajam."Siapa?"Aku meremas sisi celanaku, memberanikan diri untuk mengutarakannya secara terbuka. "Coba selidiki Miko.""Miko? Asisten dosen di Kampus Mayapada itu?" tanyanya dengan kening berkerut dalam.Aku mengangguk mantap. "Cari tahu apa hubungan dia dengan Gio. Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Permisi..."Aku langsung menerobos melewatinya begitu saja, melangkah kembali menuju kamar perawatan Axel dengan amarah yang masih mengendap di dada. Namun, begitu melangkah masuk ke ruangan, Pakde Arga sudah terduduk di sisi brankar Axel."Kayla? Dari mana saja kamu, Nak?" tanyanya deng
Aku terperanjat dan langsung bangkit berdiri dari bangku taman. "Eh, Bu... Sudah selesai pembicaraannya?"Sang manajer tim basket Mayapada mengulas senyum ramah. "Sudah. Boleh saya duduk menemani kamu sebentar? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan."Aku mengangguk canggung seraya mengarahkan telapak tanganku ke area kosong di sampingku. "Oh, iya, tentu... Silakan duduk, Bu."Tepat saat sang manajer mendudukkan dirinya di bangku kayu itu, aku bergegas mematikan panggilan telepon dengan Hani secara sepihak, lalu kembali duduk di sampingnya."Mengenai insiden kecelakaan yang menimpa Axel..." ucapnya memulai pembicaraan dengan intonasi penuh simpati.Aku bungkam, menantikan arah pembicaraannya dengan dada berdebar."Kami dari segenap jajaran manajemen tim memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami berjanji akan menjamin seluruh biaya pengobatan dan perawatan Axel hingga dia benar-benar pulih kembali."Ternyata hanya kompensasi itu yang ingin dia sampaikan? Aku yang mulai kehilan







