Share

13. Mulled wine

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-06 15:00:40

“Ma-malam pertama?” Elyse hampir berbisik, suaranya terdengar canggung, seolah kata itu sendiri terlalu besar untuk mulutnya. Baru beberapa jam lalu ia bersumpah sebagai istri Kaisar… dan kini kenyataan mengejarnya.

“Tentu.”

Jawaban Dyall tenang, seolah semuanya sudah berjalan dalam rencana yang sangat ia pahami. Ia melangkah menuju meja kecil dekat jendela, dan hanya saat itulah Elyse menyadari,  dua gelas kristal, botol anggur merah, dan cahaya lilin yang temaram sudah tertata di sana. Seolah tempat itu memang dipersiapkan untuk momen ini.

“Mau minum?” tanyanya sambil menuang wine dengan gerakan ahli, tanpa terburu-buru.

Elyse mengangguk. Ia mendekat, mengambil gelas dari tangan pria i

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   113. Papan permainan

    Elyse berhenti sepenuhnya kali ini.Bukan karena takut, melainkan karena satu kalimat Jester telah menyingkap sesuatu yang terlalu besar untuk dilewati begitu saja. Ia menoleh perlahan, menatapnya lurus tanpa emosi berlebihan, tanpa getar di suara.“Jadi…” ucap Elyse hati-hati, “kalian akan menekan Kaisar hanya karena beliau memiliki seorang wanita yang disembunyikan?”Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bobotnya membuat udara di antara mereka mengeras.Jester tidak tampak tersinggung. Ia justru menghela napas pelan, seolah Elyse baru saja mengucapkan sesuatu yang kekanak-kanakan.“Itu bukan urusanmu,” jawabnya dingin. “Kau tidak perlu memahami semuanya.”

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   112. Siapa pemilik kekaisaran ini

    Kata melepaskan jatuh berat di ruangan itu.Dyall menghela napas perlahan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh dagu Elyse dengan lembut gerakan kecil yang jarang ia tunjukkan di hadapan siapa pun.“Kau terlalu baik,” katanya rendah. “Dan dunia tidak pernah ramah pada orang seperti itu.”Elyse tersenyum kecil. “Mungkin,” jawabnya. “Tapi setidaknya… aku akan hidup tanpa menyesali pilihanku sendiri.”Dyall menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menurunkan tangannya. “Baik,” katanya akhirnya. “Pergilah.”Ia menoleh sedikit, suaranya berubah kembali menjadi suara Kaisar. “Namun ingat satu hal,” lanjutnya dingin. “Jika mereka

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   111. Kesempatan terakhir

    Elyse tersenyum.Bukan senyum manis yang biasa ia gunakan di hadapan bangsawan, melainkan senyum kecil yang hanya muncul ketika ia tahu posisinya aman. Ia melangkah mendekat, begitu dekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak ada. Ujung jarinya terangkat, lalu menunjuk ringan ke arah perut Dyall, tepat di balik pakaian resminya.“Kalau begitu,” ucapnya pelan, nada suaranya nyaris seperti bisikan,“apakah Anda akan membuat mereka membayar semuanya… dengan benar, Yang Mulia?”Dyall menatapnya lurus.“Tentu saja.”Jawaban itu singkat. Tegas. Tanpa keraguan sedikit pun.Elyse tersenyum lebih lebar dan melangkah setengah langkah lagi.“Kalau beg

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   110. Salah sasaran

    Kata-kata itu jatuh berat di aula.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Pengawal-pengawal itu saling berpandangan, jelas menimbang batas kewenangan mereka. Ini bukan pembangkangan, ini celah hukum yang sah.Elyse menatap ayahnya.Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, ia melihat punggung yang benar-benar berdiri di depannya bukan untuk melindungi nama keluarga, bukan demi kepentingan politik, melainkan demi dirinya.Ia tidak menolak dan Ia juga tidak tersenyum.Ia hanya berkata pelan, “Kalau begitu… kita pergi bersama.”Pengawal itu akhirnya mengangguk kaku. “Baik,” ucapnya. “Namun Count Leclair akan ikut sebagai wali. Segala konsek

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   109. Seorang wali

    Keadaan berubah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun.Sejak pagi, kabar interogasi menyebar seperti racun yang meresap perlahan namun pasti. Satu per satu nama mulai dipanggil. Pelayan berbisik di lorong-lorong, bangsawan menutup pintu lebih rapat dari biasanya, dan bahkan mereka yang merasa tidak bersalah pun mulai ketakutan, karena dalam situasi seperti ini, kebenaran bukan lagi pelindung.Yang dipanggil bukan hanya mereka yang hadir di pesta itu. Melainkan siapa pun yang diduga tahu.Mansion Leclair ikut terbungkus ketegangan yang pekat. Setiap langkah kaki terdengar terlalu keras. Setiap ketukan pintu membuat jantung berdegup lebih cepat.Elyse menyadarinya. Namun ia tidak berkomentar apa pun.Ia mengamati, seperti sese

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   108. Transaksi

    Elyse baru saja menyuapkan makanan ke mulutnya ketika pintu ruang makan kembali terbuka.Ia tidak menoleh.Langkah kaki yang masuk bukan langkah pelayan. Terlalu berat. Terlalu ragu. Ia bisa merasakannya bahkan tanpa melihat. Beberapa detik kemudian, kursi-kursi di seberangnya ditarik dan diduduki.Count Leclair, Countess Leclair dan Ector.Mereka duduk berhadapan dengannya, membentuk satu garis yang rapi seperti sidang kecil yang terlambat disadari Elyse telah lama dimulai. Namun Elyse tetap makan dengan tenang. Punggungnya lurus, gerakannya rapi, seolah ia benar-benar hanya sedang menikmati sarapan pagi.Keheningan berlangsung cukup lama hingga Count akhirnya angkat bicara.“Apa kau bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status