Share

13. Mulled wine

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-06 15:00:40

“Ma-malam pertama?” Elyse hampir berbisik, suaranya terdengar canggung, seolah kata itu sendiri terlalu besar untuk mulutnya. Baru beberapa jam lalu ia bersumpah sebagai istri Kaisar… dan kini kenyataan mengejarnya.

“Tentu.”

Jawaban Dyall tenang, seolah semuanya sudah berjalan dalam rencana yang sangat i
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   362. Berdiri berdampingan

    Istana terasa berbeda setelah darah tumpah di alun-alun.Lorong-lorong marmer yang biasanya dipenuhi suara langkah para pelayan kini sunyi, hanya gema sepatu Dyall dan Elyse yang terdengar pelan saat mereka berjalan berdampingan menuju ruang dalam. Tirai-tirai tinggi bergoyang perlahan tertiup angin senja, membawa masuk cahaya jingga yang pucat, seolah matahari sendiri enggan menyinari hari yang baru saja menyelesaikan hukuman.Elyse tidak berkata apa-apa sejak mereka meninggalkan balkon eksekusi.Jubah kerajaannya masih terpasang rapi, mahkota kecil di kepalanya masih berkilau, namun bahunya tampak lebih berat dari biasanya. Ia berjalan dengan punggung tegak seperti ratu yang harus dilihat dunia namun di dalam dadanya, langkah-langkah itu terasa seperti menyeret beban yang tak kasatmata.Dyall memperhatikannya dari samping.Ia mengenal perempuan itu terlalu lama untuk tidak menyadari perbedaan kecil: cara Elyse menggenggam ujung jubahnya lebih erat, cara matanya tidak lagi menatap lu

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   361. Masa lalu tidak ditutup damai

    Suara itu tidak keras.Namun di tengah keheningan lapangan eksekusi, suara Duke Levric terdengar jelas, menembus udara yang berat dan dipenuhi bau besi serta debu.“Aku memilih kekuasaan… dan kehilangan segalanya.”Kata-kata itu jatuh seperti batu ke dalam dada mereka yang mendengarnya.Jester berdiri kaku.Untuk sesaat, ia merasa kakinya kehilangan kekuatan. Lelaki yang pernah ia anggap sebagai guru, sebagai figur yang hampir menyerupai ayah, kini berlutut di hadapan altar penggal bukan sebagai bangsawan agung, melainkan sebagai seorang pria tua yang kalah oleh ambisinya sendiri.Di sampingnya, Seraphina menutup mulut dengan kedua tangan. Matanya melebar, lalu bergetar. Ia tidak menangis, seolah air mata itu bahkan tidak sanggup keluar menghadapi kenyataan yang terlalu kejam untuk diterima.Levric menghela napas panjang.Tarikan napas itu terdengar seperti napas terakhir dari sebuah masa lalu.Matanya masih tertuju pada Jester dan Seraphina, seakan seluruh dunia telah lenyap, dan yan

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   360. Maaf pertama dan terakhir

    Hari itu, seluruh kekaisaran seakan menahan napas.Tanah lapang di luar ibu kota kembali dibuka setelah lebih dari dua puluh tahun tertutup debu dan rumput liar. Di sanalah, pada masa lalu, hukuman penggal sering dijalankan tempat di mana keadilan dan ketakutan pernah berdiri berdampingan. Bertahun-tahun lamanya, tempat itu dibiarkan sunyi, seolah dunia ingin melupakan darah yang pernah meresap ke tanahnya.Namun pagi itu, altar penggal kembali berdiri.Kayunya baru, tetapi bentuknya sama seperti dulu. Tinggi, kaku, dan tanpa belas kasihan.Tiang bendera berkibar di sekeliling lapangan. Pasukan berdiri berbaris rapi dengan tombak terangkat, membentuk lingkaran besar yang memisahkan rakyat dari panggung eksekusi. Di balik barisan itu, manusia berkumpul seperti lautan bangsawan dengan jubah panjang, rakyat dengan pakaian sederhana, semuanya menyatu dalam satu ketegangan yang sama: menunggu akhir dari Duke Levric dan Riaven.Bisik-bisik mengalir seperti angin.“Hari ini mereka mati…”“Pe

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   359. Memilih disisi ibu

    Alun-alun itu telah kembali sunyi.Debu masih melayang tipis di udara, sisa dari ribuan langkah kaki yang beberapa saat lalu memenuhi tempat itu dengan sorak dan teriakan. Tiang-tiang bendera berdiri tegak, kainnya berkibar pelan diterpa angin sore, seolah belum menyadari bahwa hari penghakiman telah berakhir.Jester belum bergerak dari tempatnya berdiri.Ia seperti patung yang tertinggal di tengah ruang kosong, sementara dunia perlahan melanjutkan hidupnya tanpa menunggunya.Di tempat itulah Ivanka terakhir berdiri. Di tempat itulah rantai besi berbunyi saat tubuh perempuan itu ditarik pergi.Jester menatap tanah yang kini kosong, matanya tidak benar-benar melihat apa pun. Yang ada hanyalah bayangan masa lalu yang muncul satu per satu, tanpa ia undang.Ia melihat Ivanka kecil, berlari di taman istana dengan rambut terurai dan tawa yang terlalu keras untuk seorang putri bangsawan. Ia mendengar suaranya memanggil namanya dengan nada ceroboh, tanpa jarak, tanpa takut pada gelar atau dar

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   358. Lebih baik menjadi tawanan

    Dyall terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengikuti arah pandang Elyse.Dari balkon istana, alun-alun tampak seperti lautan manusia yang terus bergelombang oleh sorak dan bisikan. Di tengah kerumunan itu, barisan tawanan kembali bergerak. Pengawal menarik rantai besi yang terikat di tangan Ivanka, dan suara logam yang bergesekan dengan batu terdengar nyaring, menembus hiruk-pikuk rakyat yang bersorak kemenangan.Ivanka berjalan dengan kepala tegak.Tidak ada perlawanan, tidak ada air mata dan tidak ada jeritan.Ia tidak menoleh ke arah ayahnya yang dipaksa berjalan beberapa langkah di belakangnya. Ia tidak memandang rakyat yang dulu pernah ia rayu dengan senyum dan kebanggaan dan ia tidak mengangkat wajahnya ke balkon tempat Elyse berdiri sebagai ratu.Seolah dunia itu telah selesai baginya.Elyse memperhatikan punggung perempuan itu hingga sosoknya perlahan menghilang di balik gerbang besar istana. Tangannya yang terlipat di depan dada tanpa sadar mengencang. Ada sesuatu yang menekan

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   357. Tidak cukup kuat untuk dihentikan

    Seorang pengawal mengencangkan genggaman pada rantai besi yang melilit pergelangan tangan Ivanka. Bunyi besi bergesekan terdengar nyaring di antara sorak rakyat yang belum juga reda.“Perintah Kaisar adalah membawa mereka semua ke tempat hukuman.”Suaranya tegas, namun matanya sempat melirik ke arah Jester, seolah menyadari bahwa pria yang berdiri di depannya bukan orang sembarangan.“Aku tahu,” jawab Jester pelan. “Tapi satu menit saja. Aku bertanggung jawab.”Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras, namun cukup untuk membuat beberapa pasang mata menoleh. Bisik-bisik mulai menjalar di antara kerumunan rakyat.“Itu Jester…”“Duke Bristov…”“Dia bersama para jenderal menyelamatkan Ratu…”Nama itu bukan nama kecil. Ia adalah saksi hidup runtuhnya kekaisaran lama dan lahirnya yang baru.Pengawal itu ragu. Tangannya mengencang di rantai Ivanka, seolah takut kehilangan kendali atas tahanan itu. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.Ia

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status