LOGINTubuh Elyse masih terengah, napasnya berat, tidak lagi karena rasa sakit, melainkan sensasi kenikmatan yang kini membakar setiap inci tubuhnya. Dyall tidak sedikitpun mengendurkan rangkulan, lengannya mengunci pinggang Elyse erat, seolah takut perempuan itu lepas dari pelukannya.
Punggung Dyall penuh jejak merah cakaran yang basah, garis-garis memanjang hingga ke bahu. Setiap goresan adalah hasil dari jemari Elyse yang kehilangan kendali, mencakar dan meremas ketika gelombang nikmat menerjang tanpa ampun.
Dyall membenamkan wajahnya ke leher Elyse, kulitnya hangat oleh keringat. Ia menggigit lembut bahu, lalu semakin kuat, membuat Elyse mendesah, raungan rendah berganti menjadi erangan liar yang memenuhi kamar sempit itu.
“Aku… Dyall…” suara Elyse parau, tangannya kembali mencengkeram punggu
Orang spesial itu terus berputar di kepala Elyse, seperti bayangan yang menolak menghilang bahkan ketika mata terpejam. Nama itu, atau ketiadaannya cukup mengganggu lebih dari yang ingin ia akui. Selama beratus tahun kekaisaran berdiri, satu hal tak pernah berubah: keluarga Levric selalu menjadi pilar kedua setelah keluarga kekaisaran. Tidak tertulis, namun mutlak. Diakui, ditaati, dan diwariskan dari generasi ke generasi.Ia tahu sejarah itu terlalu baik.Biasanya, ratu akan dipilih dari keluarga Levric. Dan jika tidak, maka wanita yang terpilih akan dipilihkan, diberi dukungan, dijaga, dan dibentuk oleh keluarga Levric. Seperti Ivanka. Seperti yang sedang dipersiapkan dengan telaten dan penuh perhitungan. Bahkan pemilihan kandidat ratu yang tampak adil itu, pada akhirnya selalu bermuara ke satu nama besar yang sama.
Ia mendekat kembali ke meja, jaraknya kini cukup dekat. “Itu bukan perilaku orang awam. Itu bukan naluri keberuntungan.”Elyse mengangguk pelan, seperti sedang mencerna pelajaran penting. “Jadi Anda mencurigai bahwa lady itu memiliki informasi lebih dulu?”“Bukan mencurigai,” Nyonya Levric membetulkan. “Aku yakin.”Senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang menikmati teka-teki.“Dan aku ingin tahu,” lanjutnya, “apakah ia hanya pion yang cerdas… atau tangan yang menggerakkan papan.”Elyse menunduk sedikit, jemarinya menyentuh tepi dokumen dengan ringan. “Jika ia cukup berani melakukan itu,” katan
“Pihak yang benar?”Kata itu terus berputar di kepala Elyse.Ia duduk di hadapan Jester selama makan siang, mendengar suaranya mengalir tentang persiapan pernikahan, tentang wilayah kekuasaan Levric, tentang bagaimana seorang duchess seharusnya bersikap. Namun semua itu seperti suara dari balik dinding tebal. Masuk, lalu memudar tanpa benar-benar menetap.Tangannya bergerak otomatis, menyentuh peralatan makan, menyuap tanpa rasa. Sesekali ia menjawab pendek, sopan, secukupnya. Senyum kecil di bibirnya terjaga rapi, seperti topeng yang sudah ia kenakan terlalu lama untuk terasa berat.Berdiri di sisiku. Di pihak yang benar.Dan hampir bersamaan, suara lain menyela ingatannya, lebih rendah, lebih dekat.
Ia menatap ayah dan ibunya bergantian. “Dan aku, karena terlalu dekat dengannya harus diluruskan. Atau disingkirkan.”Ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang berat.Count perlahan duduk di sofa, seolah kakinya tak lagi sanggup menopang tubuhnya. Countess menutup mulutnya dengan tangan, matanya memerah, bukan karena menangis melainkan karena rasa bersalah yang akhirnya menemukan bentuk.“Kami pikir…” suara Countess pecah, “kami pikir dengan menunduk, dengan patuh, kita akan aman.”Elyse menggeleng pelan. “Dalam permainan seperti ini, yang patuh bukan yang diselamatkan.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah: “Yang patuh hanya disimpan&he
Elyse bahkan tak pernah membayangkan, dirinya kini justru rela membungkuk di atas meja kerja sang kaisar, bukan untuk menolak atau protes, melainkan benar-benar melayani nafsu suaminya sendiri. Tubuhnya didorong paksa hingga dadanya menempel di permukaan kayu dingin, sementara tangan Dyall yang besar menahan pinggangnya erat, membuat Elyse tak punya tempat lari, hanya bisa menerima setiap hentakan liar yang mengguncang tubuhnya habis-habisan dari belakang.Setiap dorongan terasa semakin dalam, liar, dan tanpa ampun, hingga suara Elyse tercekik antara erangan tertahan dan isakan gairah yang memalukan.Dyall menarik rambut Elyse pelan, memaksanya sedikit menengadah. Sekali hentakkan, Dyall mengangkat pinggul Elyse, lalu mendudukkannya tepat di atas meja kaki Elyse terentang lebar, tubuh setengah polos, napas memburu dan wajah merah padam menahan ledakan rasa malu dan nikmat yang bergulung-gulung.Wajah Dyall mendekat, sorot matanya penuh kuasa dan amarah yang mena
Elyse berhenti sepenuhnya kali ini.Bukan karena takut, melainkan karena satu kalimat Jester telah menyingkap sesuatu yang terlalu besar untuk dilewati begitu saja. Ia menoleh perlahan, menatapnya lurus tanpa emosi berlebihan, tanpa getar di suara.“Jadi…” ucap Elyse hati-hati, “kalian akan menekan Kaisar hanya karena beliau memiliki seorang wanita yang disembunyikan?”Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun bobotnya membuat udara di antara mereka mengeras.Jester tidak tampak tersinggung. Ia justru menghela napas pelan, seolah Elyse baru saja mengucapkan sesuatu yang kekanak-kanakan.“Itu bukan urusanmu,” jawabnya dingin. “Kau tidak perlu memahami semuanya.”







