LOGINRuangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.
Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang sarat dipenuhi pertimbangan, kecurigaan, dan keputusan yang tak mungkin ditarik kembali. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, sementara di balik dinding-dinding tebal gedung pesta itu, dunia luar tetap riuh, tak menyadari bahwa keseimbangan kekuasaan kekaisaran sedang digeser perlahan.
Adrien Leuchten menyilangkan kaki, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Tatapannya menembus Elyse, seolah ingin menguliti setiap lapisan keberanian yang ia tampilkan.
“Kenapa kau begitu yakin?” tanyanya akhirnya. “Satu kesalahan saja, dan kau tidak hanya kehilangan posisi kau kehilangan hidupmu.”
Elyse tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pela
Ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.Bukan keheningan kosong, melainkan sunyi yang sarat dipenuhi pertimbangan, kecurigaan, dan keputusan yang tak mungkin ditarik kembali. Cahaya lampu kristal memantul lembut di lantai marmer, sementara di balik dinding-dinding tebal gedung pesta itu, dunia luar tetap riuh, tak menyadari bahwa keseimbangan kekuasaan kekaisaran sedang digeser perlahan.Adrien Leuchten menyilangkan kaki, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi dengan ritme pelan. Tatapannya menembus Elyse, seolah ingin menguliti setiap lapisan keberanian yang ia tampilkan.“Kenapa kau begitu yakin?” tanyanya akhirnya. “Satu kesalahan saja, dan kau tidak hanya kehilangan posisi kau kehilangan hidupmu.”Elyse tidak langsung menjawab. Ia menghela napas pela
Elyse melangkah setengah langkah ke depan, lalu membungkuk dengan anggun, sebuah hormat yang sempurna, tidak berlebihan namun cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ketiga kepala keluarga itu.“Salam saya,” ucapnya tenang. “Merupakan kehormatan bisa bertemu dengan Anda semua.”Oscar Noctair terkekeh pelan, lalu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping kursinya. Dengan nada santai namun jelas disengaja, ia berkata,“Dialah yang dengan percaya diri mengatakan demikian. Bahwa dia akan menjadi ratu.”Ucapan itu jatuh begitu saja, ringan namun maknanya berat.Adrien Leuchten menaikkan alisnya, lalu menoleh ke arah Calvin Valkrest. “Berani juga kau,” katanya dengan senyum
Elyse terdiam.Tidak ada keterkejutan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa dikhianati seperti yang seharusnya ia rasakan. Hanya… kepastian dan sungguh, mereka terlalu mudah ditebak.Jika ia masih Elyse yang dulu, mungkin hatinya akan hancur mendengar pengakuan itu. Mungkin ia akan merasa takut, terjebak, tak berdaya. Namun sekarang yang ia rasakan justru sebaliknya. Di balik wajah tenangnya, ada sesuatu yang perlahan mengeras.Jika ini permainan mereka, maka mereka telah lupa satu hal, mereka sedang berhadapan dengan seseorang yang berdiri di sisi Dyall. Dan itu membuat mereka jauh lebih rapuh daripada yang mereka kira.Elyse pulang lebih cepat dari yang ia perkirakan.Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, suasana hangat langs
Suara desahan tertahan terdengar di berbagai sudut aula.Beberapa orang dari faksi lama tampak terkejut, sebagian lainnya jelas tidak senang. Namun tak satu pun berani menyela. Kalimat itu terlalu mutlak. Terlalu jelas.Elyse merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.Menikah dan pewaris.Ia tahu keputusan itu bukan sekadar jawaban atas pemberontakan. Itu adalah peringatan. Ancaman halus. Sekaligus penegasan bahwa Dyall tidak akan lagi membiarkan siapa pun menggiring langkahnya, baik ke medan perang maupun ke arah politik yang mereka inginkan.Dyall menutup pertemuan itu tanpa menunggu persetujuan.“Rapat selesai,” katanya singkat.
Pertanyaan itu membuat Leon terdiam. Ia membuka mulut seolah ingin menjawab, lalu menutupnya kembali. Pada akhirnya, ia hanya menunduk kecil, sebuah sikap pasrah yang sudah menjadi jawabannya sendiri.“Baiklah,” katanya akhirnya. “Tapi mohon tetap di dekat saya.”Leon membawa Elyse menyusuri lorong samping yang jarang dilewati orang. Mereka berhenti di balik sekat pilar tinggi, cukup jauh dari pusat aula namun masih memungkinkan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tanpa terlihat. Tempat itu aman, terlindung bayangan, tersembunyi dari pandangan para bangsawan yang tengah sibuk dengan kecemasan mereka sendiri.Elyse menahan napas.Di tengah aula, Dyall berdiri diam. Tegak, dingin, dan tak terbaca seperti biasa. Namun Elyse tahu, di balik sikap tenangnya itu, pikirannya sedang bekerja tanpa henti.Suara-suara mulai saling bertindihan.“Perbatasan utara diserang pemberontak!”“Jumlah mereka belum pasti, namun gerakannya terorganisir.”“Jika ini dibiarkan, mereka akan semakin berani!”
Tuan Levric segera menggeleng, seolah kata-kata Dyall barusan terlalu berbahaya untuk dibiarkan menggantung.“Tidak mungkin,” katanya cepat, nadanya ditekan agar terdengar meyakinkan. “Satu-satunya yang bisa menjadi pewaris tahta adalah keturunan Rysvard. Dan hanya Anda seorang yang tersisa, Yang Mulia.”Beberapa bangsawan mengangguk pelan, seakan pernyataan itu adalah kebenaran mutlak yang tak perlu dipertanyakan.Dyall terdiam sejenak.Lalu ia bangkit.Gerakannya tenang, namun saat ia berdiri tegak, aura di aula itu berubah seketika. Kursi tahta di belakangnya seolah kehilangan maknanya karena bahkan tanpa duduk di sana pun, Dyall tetap tampak sebagai pusat kekuasaan.“Jika memang hanya aku,” ucapnya datar namun menggema di seluruh ruangan, “mengapa ada begitu banyak syarat yang harus kupenuhi… hanya agar faksi lama bersedia berdiri di pihakku?”Kata-kata itu jatuh satu per satu, tajam dan terukur.Bukan hanya Tuan Levric yang tertegun.Seluruh aula membeku.Tak ada yang berani menj







