MasukKalimat itu membuat udara pagi terasa semakin sunyi.Jester tetap diam.Namun kali ini diamnya bukan karena dingin atau penolakan, melainkan karena kata-kata itu menyentuh sesuatu yang bahkan sejak tadi belum sempat ia hadapi.Memaafkan Ivanka.Jester menghela napas panjang. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya dari makam lalu menoleh ke samping dan tatapannya jatuh pada Azalea.Wanita itu berdiri di sisinya dengan tenang, wajahnya lembut, matanya memandang Jester dengan pengertian yang dalam.Tanpa berkata apa-apa, Jester mengulurkan tangan dan merengkuh Azalea ke dalam pelukannya.Pelukan itu erat.
Pagi itu langit tampak kelabu.Awan tipis menggantung rendah di atas tanah pemakaman keluarga Bristov, membuat suasana terasa lebih dingin dan muram daripada biasanya. Embun masih menempel di ujung rerumputan, sementara tanah yang baru digali mengeluarkan aroma lembap yang khas, menegaskan bahwa hari ini benar-benar menjadi akhir bagi seseorang.Pemakaman Ivanka diadakan dengan sederhana.Tidak ada kemegahan seorang bangsawan. Tidak ada barisan panjang kereta keluarga terpandang. Tidak ada pula kerumunan besar yang datang membawa bunga dan belasungkawa.Ivanka bukan lagi bangsawan.Statusnya telah lama hilang bersama kehancuran keluarganya, dan kematiannya pun hanya menarik segelintir orang mereka yang mengenalnya, mereka yang pernah terliba
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air yang tenang sunyi, namun gelombangnya terasa menyebar ke seluruh halaman.Albert mengangkat wajah sedikit, keterkejutan samar terlihat di matanya. Bukan karena ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi karena mendengar Jester sendiri mengucapkannya membuat semuanya terasa jauh lebih nyata.Ia segera kembali menunduk.“Baik, Yang Mulia.” Namun sebelum Albert berbalik, Jester kembali berbicara. “Tidak perlu menyembunyikan apa pun.”Suaranya datar, namun kelelahan yang dalam terdengar jelas.“Katakan apa adanya. Dia melompat setelah perdebatan kami.”Albert terdiam sesaat, lalu mengangguk lebih dalam.
Suasana kastil yang tadi sunyi mendadak berubah kacau.Langkah kaki berlari dari segala arah, suara perintah para pengawal bercampur dengan kepanikan para pelayan yang mendengar teriakan Jester dari atas menara.Sementara di puncak sana, Jester masih berdiri membeku di dekat jendela.Dadanya naik turun.Napasnya terasa tercekat.Untuk sesaat, bayangan Ivanka kecil gadis yang dulu menggenggam tangannya di taman kastil, gadis yang dulu tertawa sambil memanggil namanya bercampur dengan sosok wanita yang baru saja menjatuhkan dirinya ke dalam kegelapan.Semuanya berbaur menjadi satu.Masa lalu dan kenyataan malam ini.
Jester membeku.Untuk sepersekian detik, bahkan udara di menara itu terasa berhenti bergerak.Ivanka menatapnya lurus, air matanya masih jatuh, namun kini ada kegilaan yang jelas di balik matanya.“Aku bisa menjadi istrimu,” lanjutnya, suaranya bergetar oleh obsesi yang selama ini ia sembunyikan. “Aku bisa kembali ke tempat yang seharusnya menjadi milikku.”Keheningan yang mengikuti terasa begitu berat.Jester memandang wanita di hadapannya seolah sedang melihat orang asing.Bukan Ivanka yang dulu pernah ia lindungi.Bukan gadis yang dulu menangis di balik punggungnya.
Langkah Jester bergema berat di sepanjang tangga batu menara paviliun. Satu demi satu anak tangga ia naiki tanpa ragu, sementara angin malam yang masuk dari jendela-jendela sempit membawa hawa dingin yang menusuk. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sunyi suasana di sekitarnya, seolah seluruh kastil menahan napas menunggu apa yang akan terjadi di puncak sana.Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya.Tidak ada lagi penundaan.Yang tersisa hanya satu hal jawaban.Jawaban atas semua kebohongan, semua kekacauan, dan luka yang baru saja hampir merenggut nyawa Azalea.Saat ia akhirnya mencapai lantai paling atas, langkahnya melambat. Cahaya bulan yang jatuh dari jendela besar di ujung menara membentuk siluet seorang wanita yang berdiri membelakan
Elyse mendengarkan tanpa menyela. Di dalam hatinya tidak ada gejolak, tidak ada kegamangan hanya kejelasan yang tenang. Perasaan yang dulu membuat dadanya sesak kini telah berpindah tempat, tumbuh di sisi lain hidupnya.“Ada jarak yang tidak selalu bisa dijembatani hanya dengan sering bertemu,” uca
Elyse melangkah setengah langkah ke depan, lalu membungkuk dengan anggun, sebuah hormat yang sempurna, tidak berlebihan namun cukup dalam untuk menunjukkan rasa hormatnya pada ketiga kepala keluarga itu.“Salam saya
“Apa saja yang dikatakan Viona pada Anda?”Nada suaranya tenang, namun justru ketenangan itu yang membuat udara di sekitar mereka terasa menegang. Viona, yang berdiri sedikit di belakang Viscount Katris, ref
Suasana di dalam rumah kaca itu berubah perlahan, nyaris tanpa suara, namun dampaknya terasa jelas. Udara yang semula sejuk dan ringan kini terasa menekan, seolah setiap tarikan napas membawa beban yang tak terlihat. Cahaya matahari yang menembus kaca justru membu







