تسجيل الدخولTinju Adrian mendarat keras di rahang Ferdi. Suara hantamannya terdengar jelas, disusul tubuh Ferdi yang tersungkur di atas rumput basah.Rusdi tetap menundukkan kepala. Dia membuat bahunya gemetar seolah-olah sedang ketakutan setengah mati. Padahal, di balik rambutnya yang berantakan, matanya menatap tajam ke arah Adrian yang sedang kalap."Bajingan! Kamu mau merampokku, Fer?!" Adrian berteriak, wajahnya merah padam. Dia malah mondar-mandir di taman dengan napas memburu, seperti singa yang siap menerkam."Yan, ini jebakan! Kuli ini... dia pasti yang sengaja menaruhnya di tasku!" Ferdi menunjuk Rusdi dengan jari gemetar, mencoba membela diri.Rusdi langsung menjatuhkan diri dan berlutut di tanah."Ampun, Tuan! Saya tidak berani masuk ke rumah utama!" suara Rusdi dibuat serak dan gemetar. "Tadi sore Tuan Ferdi mengancam akan membunuh saya kalau saya tidak mau mengaku. Saya cuma tukang kebun, Tuan..."Adrian mendengus muak. Dia menarik kerah baju Ferdi dan menyeret sahabatnya itu tanpa
Rusdi mendarat di rumput basah tanpa suara. Dia segera berlindung di balik semak sebelum lampu taman menyala. Sambil berjongkok, dia mengatur napasnya. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin yang memuncak.Dia menyentuh leher belakangnya yang perih. Abu rokok Adrian meninggalkan luka bakar kecil di sana. Rusdi menatap balkon lantai dua yang tertutup rapat dengan tatapan tajam."Sebentar lagi, bajingan. Hanya tinggal beberapa hari lagi," bisiknya.Rusdi melangkah pelan menuju dapur belakang. Dia melihat Hana sedang melamun di depan kompor dengan wajah sembap. Rusdi sengaja mengeraskan langkah kakinya agar Hana sadar."Mas Rusdi?" Hana terkejut. "Mas dari mana saja?"Rusdi berpura-pura lesu. Dia memegangi lehernya dengan raut kesakitan. "Saya tidak bisa tidur, Hana. Leher saya sakit sekali."Hana terbelalak melihat luka bakar di leher Rusdi. "Ya Tuhan! Ini perbuatan Tuan Adrian lagi?"Rusdi menunduk dalam. "Bukan hanya dia, Hana. Tuan Ferdi juga tadi mengancam saya. Dia menuduh sa
Suara napas berat dan langkah kaki yang tidak seimbang terdengar jelas dari lorong. Rusdi menegang di balik pilar marmer. Pintu kamar berderit terbuka."Kamar ini panas sekali. Kenapa AC dimatikan?" Suara Adrian terdengar serak dan mabuk."AC menyala, Mas," balas Vivian dari arah kasur. Suaranya bergetar pelan, tapi Rusdi yang mendengar dari luar tahu persis wanita itu sedang berusaha keras menutupi kepanikannya. "Mungkin karena kamu habis minum banyak bersama klien tadi.""Udara di sini sumpek. Aku butuh angin."Langkah sepatu kulit Adrian terdengar mendekat ke arah pintu kaca balkon. Rusdi membelalakkan mata. Dia tidak punya waktu lagi untuk berpikir panjang. Tempat persembunyiannya di balik bayangan pilar ini akan langsung tersapu cahaya lampu kamar begitu pintu kaca itu dibuka lebar.Rusdi mengambil keputusan nekat dalam hitungan detik. Dia melangkah cepat tanpa suara ke tepi balkon. Tangannya yang besar dan kapalan memegang besi pembatas, lalu dia melompati pagar itu dengan satu
"Tuan Adrian di mana sekarang?" tanya Rusdi memastikan."Dia tidur di bawah. Dia mabuk berat," jawab Vivian memegang lengan kekar Rusdi. "Ada apa, Rus? Wajahmu sangat marah.""Ferdi menekan saya di taman tadi," kata Rusdi pelan. Dia berusaha keras tidak menatap belahan dada Vivian yang sangat menonjol. "Dia menyuruh saya membawa surat tanah itu besok malam jam delapan di taman belakang."Mata Vivian membulat. Payudaranya bergoyang pelan saat dia tersentak kaget."Gila. Jadi Ferdi mau mencuri proyek Adrian dari belakang," gumam Vivian ketakutan. "Lalu kalau kamu tidak datang bawa surat itu besok, apa yang terjadi, Rus?""Dia bukan cuma mengancam keselamatan saya, tapi juga kamu, Vi," ucap Rusdi mengusap bahu halus Vivian."Mengancamku? Apa maksudnya?""Ferdi bilang akan mengarang cerita ke Adrian. Dia mau menuduh saya punya niat kotor padamu. Ferdi sengaja mau Adrian marah dan menyiksa badanmu. Setelah itu, Ferdi mau mengambilmu untuk dirinya sendiri."Air mata Vivian langsung menetes
Matahari siang terasa sangat panas menyengat kulit. Rusdi berdiri di taman belakang dengan memegang gunting rumput besar. Keringat mengalir deras membasahi dada bidangnya. Kemeja usangnya sudah robek ditarik kasar oleh Adrian tadi siang.Adrian hampir saja membunuhnya di tempat. Beruntung ada Ferdi yang mengalihkan perhatian dengan cerita soal pencuri bayaran. Tapi Rusdi tahu Ferdi punya niat busuk.Langkah sepatu kulit terdengar mendekat di atas rumput. Rusdi langsung menundukkan kepalanya. Dia pura pura sibuk memotong daun semak belukar."Kerja yang bagus, Kuli," tegur Ferdi dari arah belakang.Rusdi membalikkan badan dengan cepat. Dia sengaja membuat postur bahunya sedikit membungkuk. Wajahnya dibuat terlihat sangat bingung dan ketakutan.Ferdi berdiri santai di depannya. Pria itu memakai kacamata hitam gelap dan sedang mengisap sebatang rokok."Maaf, Tuan Ferdi," kata Rusdi dengan suara bergetar. Dia memegang topi kusamnya di depan perut. "Saya harus cepat selesaikan pekerjaan ini
"Sebelum azan subuh, Tuan. Saya menyapu taman belakang, potong rumput dekat pagar tinggi, lalu potong bunga mawar supaya Nyonya tidak marah lihat taman jelek."Ferdi tiba tiba melangkah maju mendekat. Dia menatap Rusdi dengan senyum curiga yang sangat menyebalkan."Tadi pagi aku lihat dia potong bunga mawar waktu kita sedang ngopi di pinggir kolam, Yan. Posisinya sangat dekat dari meja kita. Dia pasti dengar semua omongan rahasia kita soal surat tanah dan proyek besar itu," kata Ferdi sengaja memanas manasi keadaan.Mata Adrian langsung melotot lebar ke arah Rusdi. Urat di dahinya menonjol keluar."Kamu dengar pembicaraan rahasia kami tadi pagi di kolam renang?!" bentak Adrian beringas.Rusdi sengaja membuat bahunya sedikit menegang ke belakang. Matanya dibuat memelas menatap Adrian seperti orang biasa yang panik."Saya cuma dengar Tuan sebut kata tanah dan uang. Saya orang bodoh, Tuan. Saya tidak paham urusan proyek miliaran orang kaya. Saya cuma fokus potong daun karena takut dipeca
Rusdi mulai menggerakkan jari-jarinya yang tebal dan kaku di atas pundak Adisty. Dia berusaha selembut mungkin, takut tenaga kulinya menyakiti kulit majikannya yang sehalus sutra itu. Namun, setiap sentuhan justru menjadi siksaan tersendiri baginya. Kulit bahu Adisty terasa begitu hangat dan kenyal
Waktu berjalan begitu lambat bagi Rusdi. Matanya seolah dikunci paksa untuk terus menatap keindahan tubuh majikannya yang terhampar di depan mata. Keringat dingin semakin deras membasahi punggungnya. Setan di kepala Rusdi mulai berbisik semakin kencang mengalahkan akal sehatnya yang sudah tipis. "C
"Heh! Apa-apaan kamu ini! Lepaskan!" pekik Adisty saat merasakan remasan kasar di dadanya. Matanya melotot galak, berusaha mengintimidasi Rusdi. "Berani-beraninya tangan kotormu menyentuh aset berhargaku! Lancang sekali kamu!" Namun anehnya, meski mulutnya memaki-maki kasar, tubuh Adisty sama sekal
Suasana di kamar mewah itu perlahan menjadi tenang. Rusdi baru saja selesai membersihkan sisa noda di tubuh Adisty. Tangannya bergerak sangat hati-hati dan pelan dengan kain lembut, berusaha tidak menekan terlalu keras pada kulit halus itu. Mata Rusdi tak henti-hentinya menatap dada majikannya yang







