LOGIN"Lain kali, panggil aku saja kalau mau mengambil sesuatu yang tinggi," bisik Reynard tepat di depan wajah Vivian.Dia tidak langsung melepaskan Vivian. Reynard justru menunduk dan mencuri sebuah ciuman singkat di bibir Vivian sebelum kembali ke masakannya."Rey!" protes Vivian sambil memegang bibirnya yang masih terasa hangat."Anggap saja itu bayaran awal karena aku sudah memasak," sahut Reynard enteng.Sepuluh menit kemudian, dua piring steak dengan telur mata sapi yang sempurna dan tumis sayuran sudah tersaji di atas meja marmer. Reynard juga menuangkan dua gelas jus jeruk segar."Silakan dinikmati, Nyonya Aryasatya," ucap Reynard sambil menarikkan kursi untuk Vivian.Vivian memotong dagingnya. Begitu masuk ke mulut, daging itu seolah lumer. Bumbunya meresap sempurna, jauh lebih enak daripada steak di restoran mahal yang pernah dia kunjungi bersama Adrian dulu."Ini enak sekali, Rey! Kamu tidak bercanda soal sekolah di Italia itu ya?" puji Vivian tulus.Reynard tersenyum puas. Dia
Reynard membalikkan tubuhnya. Dia tidak langsung memakai baju, melainkan berjalan kembali ke arah ranjang. Dia menatap Vivian yang masih bersembunyi di balik selimut sutra berwarna perak itu."Kenapa menatapku begitu? Belum puas?" tanya Reynard dengan seringai nakal.Vivian membuang muka, wajahnya memerah. "Siapa juga yang menatapmu. Aku cuma sedang berpikir, ternyata kamu punya banyak sekali rahasia."Reynard terkekeh. Dia menarik ujung selimut Vivian, memaksa wanita itu menatapnya "Semua rahasia itu sekarang milikmu, Vi. Termasuk gedung ini dan pria yang ada di depanmu sekarang."Reynard mengulurkan tangan, membantu Vivian bangun. Vivian bangkit, jubah mandi sutranya tersampir longgar di bahu, memperlihatkan leher putihnya yang jenjang."Ayo, aku tunjukkan istanamu yang baru. Kamu belum sempat melihat semuanya semalam karena... yah, kita sedang sibuk," ucap Reynard enteng.Vivian mencubit lengan Reynard. "Jangan dibahas terus!"Reynard hanya tertawa. Dia menggandeng tangan Vivian, m
Mobil melaju menuju jantung kota Jakarta, berhenti tepat di depan sebuah gedung pencakar langit yang sangat megah dengan logo "Aryasatya Group" di puncaknya. Lift khusus CEO membawa mereka langsung menuju lantai 50.Begitu pintu lift terbuka, Vivian terpana. Penthouse itu sangat luas dengan konsep open space. Dindingnya didominasi oleh kaca besar yang memperlihatkan pemandangan lampu-lampu Jakarta yang luar biasa indah dari ketinggian. Interiornya sangat modern, dengan perpaduan warna hitam, emas, dan kayu gelap."Ini... luar biasa, Rey," bisik Vivian.Reynard melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sofa kulit yang besar. Dia berjalan mendekati Vivian, lalu memeluknya dari belakang. Tangannya yang hangat meraba perut Vivian, sementara napasnya terasa panas di leher wanita itu."Di sini, tidak ada yang akan mengganggu kita. Tidak ada pelayan, tidak ada suara bising. Hanya ada aku dan kamu," ucap Reynard parau.Dia membalikkan tubuh Vivian agar menghadapnya. Dalam cahaya lampu ruangan y
"Ibu ini sudah tidak tahu sampai kapan paru-paru ini bisa bertahan. Satu-satunya keinginan Ibu adalah melihat kalian sah menikah dan Ibu bisa menggendong cucu. Ibu ingin ada suara tawa bayi di rumah ini sebelum Ibu menutup mata."Vivian merasa wajahnya panas. Dia hanya bisa menunduk malu, sementara Reynard justru menyeringai lebar."Ibu tenang saja. Rey akan 'bekerja' lebih keras lagi dari biasanya. Begitu semua urusan di kota beres, Rey akan langsung kasih kabar baik buat Ibu," goda Reynard yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggangnya dari Vivian."Ibu tunggu ya. Jangan lama-lama," pesan Sumi.Setelah berpamitan, Reynard dan Vivian masuk ke dalam mobil Rolls Royce yang sudah menunggu di depan teras. Perjalanan kembali ke pusat kota memakan waktu cukup lama karena hari sudah mulai gelap dan hujan turun rintik-rintik.Di dalam mobil, suasana terasa sangat intim. Cahaya lampu jalanan yang berkelebat masuk lewat jendela kaca mobil menerangi wajah Vivian yang tampak melamun. Reynar
Vivian terdiam. Bayangan tentang setiap sudut rumah besar milik Adrian langsung melintas di pikirannya. Kamar utama yang sering terasa dingin dan mencekam, ruang makan tempat Adrian sering menghinanya, hingga lobi tempat dia harus menunduk di depan mertuanya yang sombong."Aku ingin pindah, Rey," jawab Vivian cepat. Suaranya terdengar sangat tegas tanpa ada keraguan sedikit pun. "Aku tidak ingin menginjakkan kaki di sana lagi jika bukan untuk mengambil barang-barang pribadiku. Rumah itu penuh dengan kenangan buruk. Aku tidak ingin memulai hidup baruku denganmu di tempat yang pernah menjadi penjara bagiku."Reynard mengangguk perlahan. Dia sudah menduga jawaban itu. Baginya, rumah itu juga tidak lebih dari sekadar tempat penyamaran yang melelahkan. Dia tidak ingin istrinya nanti merasa terbayang-bayang oleh bayangan pria brengsek seperti Adrian."Lalu, bagaimana dengan orang-orang di sana?" tanya Vivian tiba-tiba. Wajahnya tampak sedikit khawatir. "Hana, Bi Inah, Pak Ujang, dan para p
Suasana di ruangan itu menjadi sangat hening. Vivian merasa wajahnya panas bukan main. Bayangan memiliki anak dengan Reynard tiba-tiba melintas di pikirannya.Reynard berdeham. "Ibu, soal cucu itu... kami akan usahakan secepatnya setelah menikah nanti.""Janji?""Iya, Rey janji. Tapi sekarang Ibu harus makan dulu," kata Reynard sambil berdiri.Di meja makan, mereka makan dengan sangat lahap. Reynard berkali-kali menambah sayur lodeh buatan koki rumah yang bumbunya dipandu langsung oleh Sumi.Selesai makan, Sumi harus kembali ke kamar untuk istirahat siang. Reynard mengantarnya sampai ke tempat tidur dan memastikan oksigen cadangan tersedia."Rey, jangan lama-lama. Ibu serius soal cucu itu," bisik Sumi saat Reynard hendak keluar kamar.Reynard hanya tersenyum dan mengangguk.Dia kembali ke ruang tengah dan menemukan Vivian sedang berdiri di balkon, menatap kebun bunga. Reynard berjalan mendekat tanpa suara, lalu memeluk Vivian dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di leher Vivian, m
"Soal yang semalam itu ...." Hana menggigit bibir bawahnya, wajahnya makin merah padam. "Hana mau bilang makasih lagi. Tadi pagi Hana belum sempet bilang bener-bener karena takut.""Makasih buat apa?" tanya Rusdi pura-pura tidak tahu, padahal hatinya sudah berdebar."Makasih udah bikin Hana ngerasa
Keringat dingin bercampur nafsu membanjiri tubuh Rusdi. Mulutnya masih sibuk memompa puting Adisty yang keras, tapi tangannya yang besar dan kasar mulai kehilangan kendali. Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia lupa kalau wanita yang sedang dia jamah ini adalah adik majikannya yang gala
Adisty tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang membuat nyali Rusdi menciut tapi di saat yang sama membakar sisa-sisa gairahnya. Gadis itu menyandarkan punggungnya dengan santai di bangku gazebo, seolah noda lengket di leher dan dadanya bukanlah aib, melainkan tanda kepemilikan yang harus diur
Vivian sudah tidak sanggup berpikir jernih lagi. Kenikmatan yang diberikan Rusdi terlalu menguasai dirinya. Ia menggeleng lemah, tapi pinggulnya justru mendorong mundur menyambut setiap tusukan.“Ahh… Rus… punya kamu… ahhh… lebih enak… lebih keras…!” erang Vivian, suara pecah penuh kenikmatan.Rusd