Share

Bab 53

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-09-20 22:31:16

Sosok yang melangkah tegap keluar dari belokan lorong itu tidak lain adalah Bimo. Mengenakan setelan jas hitam elegan dengan pin emas berlogo perusahaa yang tersemat di dada kerahnya, Bimo berjalan penuh aura kepemimpinan yang dingin.

Wajahnya yang biasa tenang kini terlipat keras, memancarkan amarah yang amat pekat. Sebagai kepala pengawal pribadi keluarga presiden komisaris sekaligus orang kepercayaan tingkat atas di holding pusat, kehadiran Bimo di gedung ini membawa bobot ancaman yang san
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 57

    ​Andre melangkah masuk bersama Dita dan Susi. Sebagai seorang manajer cabang, Andre ditempatkan di area meja tengah. Namun, baru saja mereka bertiga hendak menarik kursi, mata Susi yang tajam dan selalu liar memandang sekeliling mendadak membeku.​"Loh... Dita, coba kamu lihat ke depan!" bisik Susi setengah histeris, menyenggol lengan anaknya kasar. "Itu si gembel Dilan, kan?! Kenapa dia bisa duduk di sana?!"​Dita dan Andre refleks mengalihkan pandangan ke arah meja paling depan, meja khusus jajaran direksi utama dan jajaran pimpinan tertinggi perusahaan pusat. Di sana, Dilan duduk tegap dengan sangat tenang. Dia tampak berbincang santai dengan beberapa direktur senior yang membungkuk sopan padanya. ​Dita melotot sempurna, matanya seolah ingin melompat keluar. Rasa panas dan tidak terima seketika membakar dadanya. "Iya Bu, benar! Itu Dilan! Kok dia bisa duduk di meja paling depan bersama para petinggi perusahaan?! Mas Andre saja yang manajer cuma duduk di meja tengah!" kejut Dita t

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 56

    Di lain tempat, Andre masih berdiri membeku dengan peluh dingin yang membasahi dahi serta lehernya, usai mendapat teguran keras dari Bimo. Tubuhnya gemetar hebat, menyadari betapa tipisnya batas antara kariernya yang hancur dan keselamatan posisinya saat ini.​Dita dan Susi yang berdiri di samping Andre saling berpandangan dengan raut wajah penuh kebingungan. Mereka sama sekali tidak paham mengapa pria bernama Bimo itu sanggup membuat seorang manajer sekelas Kevin bertekuk lutut dan ketakutan setengah mati.​Dengan gaya angkuh yang masih tersisa, Susi melangkah mendekati Andre seraya mengibaskan tangannya santai.​"Nak Andre, kamu kok kelihatan takut sekali sih sama pria tadi?" tanya Susi dengan suara melengkingnya yang menyebalkan. "Memangnya pria bernama Bimo itu siapa, sih? Paling cuma kepala satpam atau pengawas gedung ini, kan? Kenapa kamu sampai tunduk begitu di depannya?"​Dita ikut menyahut dengan nada manja seraya memegangi lengan Kevin. "Iya, Mas. Lagipula kenapa pria itu

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 55

    Dua cangkir susu hangat yang masih mengeluarkan asap tipis serta beberapa tangkup roti tawar beroles selai cokelat kini tersaji di atas meja makan. Tiara dan Ela duduk berhadapan. Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar denting halus sendok yang bergesekan dengan cangkir porselen.​Tiara yang masih merasa canggung luar biasa akibat insiden gigitan serangga konyol tadi, berusaha keras mengalihkan jalan pikiran Ela. Ia melayangkan tatapan matanya ke sekeliling ruangan, mencari topik pembicaraan apa saja agar perhatian Ela tidak tertuju lagi pada lehernya.​"Oh ya, Mbak Ela… gimana keadaan kamu?” tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.“Sudah lebih baik Non,” jawab Ela sambil.memakan rotinya.“Syukurlah. Sepertinya besok kita perlu belanja bahan makanan lagi ya?" tanya Tiara terburu-buru, memasang raut wajah seolah-olah topik itu sangat penting. "Stok buah dan sayuran di kulkas sepertinya sudah mulai berkurang sedikit. Kalau kamu ada waktu, nanti..”​Drrrttt… drrrttt….​Belum sempat

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 54

    Sementara itu, di dalam apartemen yang tenang dan sejuk, aroma harum roti yang sedang dipanggang samar-samar menyeruak ke udara. Suasana pagi yang damai melingkupi sudut dapur bernuansa modern tersebut.​Ela sedang berada di dapur. Meski tubuhnya masih masa pemulihan, Dengan cekatan, wanita itu menuangkan air hangat ke dalam dua cangkir, lalu melarutkan bubuk susu hingga aroma manis yang menenangkan menguar tebal. Di sampingnya, beberapa lembar roti tawar sudah tertata rapi di atas piring, siap untuk diolesi selai.​Tidak lama kemudian, pintu kamar utama terbuka perlahan. Tiara melangkah keluar dengan rambut panjangnya yang masih basah usai keramas, terbungkus handuk kecil berwarna krem. Wajah polosnya tampak begitu segar dan merona alami, meski pancaran matanya menyiratkan sedikit rasa lelah yang amat manis.​”Loh Mbk Ela, ngapain memasak? Kan masih sakit..." seru Tiara seraya mendekati Ela ​"Nggak apa apa Non Tiara," balas Ela ramah, memutar badannya sembari menyunggingkan senyum

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 53

    Sosok yang melangkah tegap keluar dari belokan lorong itu tidak lain adalah Bimo. Mengenakan setelan jas hitam elegan dengan pin emas berlogo perusahaa yang tersemat di dada kerahnya, Bimo berjalan penuh aura kepemimpinan yang dingin. Wajahnya yang biasa tenang kini terlipat keras, memancarkan amarah yang amat pekat. Sebagai kepala pengawal pribadi keluarga presiden komisaris sekaligus orang kepercayaan tingkat atas di holding pusat, kehadiran Bimo di gedung ini membawa bobot ancaman yang sangat nyata.​Begitu sosok Bimo terlihat jelas di bawah temaram lampu lorong, kedua petugas keamanan yang tadinya hendak menyentuh Dilan seketika membeku. Wajah mereka mendadak pucat pasi, seluruh keberanian mereka menguap tanpa sisa. Mereka mengenali wajah Bimo dengan sangat baik, sosok pria inilah yang memiliki wewenang penuh atas seluruh sistem keamanan dan operasional internal di gedung-gedung milik keluarga besar Dilan.​Tanpa membuang waktu satu detik pun, kedua satpam itu langsung menarik k

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 52

    Dua petugas keamanan berbadan tegap itu melangkah maju dengan raut wajah yang amat keras dan tegas. Mendengar laporan dari Andre, ditambah dengan desakan dari Dita dan Susi yang tampil begitu percaya diri, para petugas keamanan tersebut sama sekali tidak meragukan kebenaran tuduhan itu. Lagipula, Dilan datang seorang diri di lorong sepi ini tanpa mengenakan tanda pengenal khusus tamu VIP yang biasa dikalungkan oleh jajaran petinggi perusahaan.​Salah satu satpam yang bertubuh paling besar melangkah mendesak mendekati Dilan, memasang wajah mengancam seraya merenggangkan jemarinya.​"Maaf, Pak. Karena Anda tidak memiliki tanda pengenal resmi dan tidak terdaftar sebagai tamu VIP, harap ikut kami keluar dari area gedung ini sekarang juga secara baik-baik sebelum kami menggunakan cara kasar!" tegas satpam itu seraya mengulurkan tangannya yang kekar, bersiap memegang lengan Dilan untuk mengawalnya keluar dengan paksa.​Dita menyilangkan kedua tangannya di dada, tersenyum puas membayangkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status