Share

Bab 67

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-09-27 13:33:53

Melihat noda darah segar yang makin meluas dan merembes basah di perban putih lengan Ela, Dilan sama sekali tidak ingin mengambil risiko. Tanpa membuang waktu lebih lama untuk berdebat, Dilan langsung mengambil tindakan tegas. Pria itu memutuskan untuk membawa Ela kembali ke rumah sakit malam itu juga agar lukanya bisa segera mendapatkan penanganan medis yang steril dari dokter.

​"Tuan, tidak perlu sampai ke rumah sakit... Ini sungguh tidak apa-apa, cuma terbuka sedikit jahitannya," tolak Ela h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 94

    Hari yang ditunggu-tunggu Alena pun akhirnya tiba. Sejak sore, suasana di rumah megah keluarga Dirgantara tampak lebih sibuk dari biasanya. Kedatangan beberapa relasi bisnis penting Tuan Hendra membuat para pekerja bergerak cepat menyiapkan segala hal di ruang makan utama.​Sebelum acara dimulai, Alena melancarkan strategi pertamanya. Ia meminta kedua orang tuanya datang lebih awal untuk menyampaikan permohonan maaf secara khusus kepada Tuan Hendra dan Nyonya Hendra atas insiden salah paham tempo hari. Dengan tutur kata yang tertata rapi dan penuh kesantunan, orang tua Alena berhasil melunakkan suasana. Tuan Hendra dan Nyonya Hendra yang merasa sungkan dengan keluarga besar Alena pun menyambut permohonan maaf itu dengan hangat, menganggap semua persoalan kemarin hanyalah dinamika anak muda.“Om, Tante, maafkan sikap Alena kemarin. Alena sadar sudah kelewat batas. Tapi, semua itu karena Alena terlalu mencintai Dilan. Maafkan Alena Tante, Om. Alena janji tidak akan mengulangi lagi,” uj

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 93

    Setelah pulang dari rumah Dilan, Alena mondar-mandir dengan langkah menghentak hentam di kamarnya. Wajah cantiknya masih berkerut kusut, memancarkan amarah yang belum sepenuhnya reda. Ia tidak terima dipermalukan begitu saja di depan Tuan dan Nyonya Hendra, apalagi harus kalah pamor dari seorang pembantu bernama Ela.​Harga dirinya sebagai wanita dari keluarga terpandang benar-benar diinjak-injak.​"Ini nggak bisa dibiarkan!” seru Alena pelan, menggigit kuku jarinya yang berhias manikur mewah.​Alena tahu persis, jika ia terus mengandalkan cara-cara kasar atau mengadu pada orang tua Dilan, ia justru akan semakin dijauhi oleh pria itu. Dilan terlampau keras kepala dan tidak bisa ditekan dengan ancaman. Selama Tiara masih ada di luar sana, dan selama Dilan masih dilindungi oleh sikap membangkangnya, Alena tidak akan pernah bisa mendapatkan hati sang pewaris Dirgantara Group itu. Jadi, dia harus mengubah strategi.​Sambil mendudukkan diri kembali di sofa empuk, Alena merenung cukup lama

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 92

    Pintu kamar Dilan terdorong pelan. Pak Hendra dan Nyonya Hendra melangkah masuk, mengekor tepat di belakang Alena yang masih memasang raut wajah muram.​Di dalam kamar, suasana justru terasa sangat tenang. Dilan sudah mengenakan kemeja kain santainya yang dibiarkan terbuka tiga kancing teratas. Ia duduk santai di tepi ranjang, sementara Ela berdiri di sampingnya dengan telaten merekatkan ujung isolasi medis pada kain kasa perban di dada Dilan. Tidak ada kepanikan, tidak ada tanda-tanda kecangguhan.​Melihat kedatangan kedua orang tuanya bersama Alena, Dilan melirik tipis lalu menyunggingkan senyum samar.​"Alena ngadu apa ke Mama dan Papa sampai ramai-ramai datang ke kamar Dilan begini?" tanya Dilan santai, suaranya terdengar datar tanpa beban sama sekali.​Ela pun tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Setelah merapikan perban Dilan, gadis itu dengan cekatan mengancingkan kemeja Dilan satu per satu, seolah keberadaan tiga orang di ambang pintu itu tak menggoyahkan fokusnya.​M

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 91

    ​Sambil menghentakkan kakinya keras-keras, Alena berlari turun menuju ruang keluarga. Wajah cantiknya ditekuk habis-habisan, mata diselimuti air mata buatan, dan napasnya dibikin terengah-engah seolah-olah baru saja mengalami hal yang sangat mengerikan.​Di ruang keluarga yang luas itu, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sedang duduk santai sambil menikmati cangkir teh hangat. Tak jauh dari mereka, Olivia, adik kandung Dilan yang masih duduk di bangku SMA, sedang bersandar santai di sofa empuk sambil memegang tabletnya.​"Tante... Om..." panggil Alena dengan suara gemetar yang dibuat-buat, langsung menghampiri Nyonya Hendra dan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.​Nyonya Hendra yang kaget langsung meletakkan cangkir tehnya. "Astaga, Alena! Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?"​"Dilan, Tante..." adu Alena sambil mengusap sudut matanya dengan saputangan. "Dilan benar-benar sudah keterlaluan!"​Pak Hendra melipat korannya dan mengerutkan kening. "Ada apa dengan Dilan, Ale

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 90

    ​Sejak percakapan jujur di ambang pintu waktu itu, sikap Ela berubah makin terbuka. Dia tak lagi canggung menunjukkan perhatian ekstra kepada Dilan. Dari mulai memotongkan buah menjadi potongan kecil hingga menyuapi Dilan, memastikan suhu air mandi, hingga mengusap keringat di dahi Dilan saat bekas luka operasinya mendadak nyeri. Semua dilakukan Ela dengan telaten.​Dilan sendiri sering merasa tidak enak dan canggung. Dia tahu betul bagaimana perasaan Ela padanya. Namun, Dilan juga manusia biasa. Di saat tubuhnya masih lemah, terisolasi di kamar, dan jauh dari Tiara, kehangatan serta perhatian tulus dari Ela perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya. Ada saat-saat di mana Dilan larut dan menikmati perhatian itu, walau di dalam benaknya bayangan Tiara tak pernah benar-benar hilang.​Siang itu, udara kamar terasa agak hangat. Ela sedang membantu Dilan merapikan perban di dadanya.​"Pak Dilan," panggil Ela pelan seraya memegang gulungan kasa steril. "Perbannya harus diganti sekarang ya.

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 89

    Dilan menerima mangkuk bubur yang disodorkan Ela. Sebelum menyuap makanan itu, ia menyempatkan diri menatap wajah pembantu mudanya itu cukup lama. Ada rasa penasaran yang mendalam di benak Dilan saat melihat ketulusan yang dipancarkan dari mata Ela.​"Ela," panggil Dilan lagi, menghentikan gerakan tangan Ela yang sedang menyiapkan gelas air putih.​Ela menoleh. "Iya, Pak Dilan? Ada yang kurang?"​Dilan menggeleng pelan. Lalu dia menanyakan sesuatu pada pelayannya itu. "Aku cuma mau tanya satu hal. Kenapa kamu begitu mengutamakan kesalamatanku? Bahkan waktu itu kamu nekat pasang badan menahan pisau anak buah Anton?” ​Dilan meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. Dan sebelum Ela menjawab, Dilan kembali menambahkan sebuah pertanyaan."Aku ini punya banyak pengawal dan bawahan. Tapi sejujurnya, jarang sekali ada yang setulus kamu. Apalagi kamu sempat dibayar Papaku untuk jadi mata-mata. Tapi kenapa kamu malah melindungiku sampai terluka parah?"​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status