Share

Bab 97

Author: Millanova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-14 21:10:46

Suster senior itu mengantarkan Kukuh melewati lorong-lorong eksklusif di lantai khusus petinggi rumah sakit. Langkah mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu solid berpelitur gelap.

Tok! Tok! Tok!

"Selamat pagi, Dokter Adhi," ucap suster itu sambil mengetuk pintu dengan pelan dan sopan.

"Silakan masuk," terdengar suara berat dan tenang dari dalam ruangan.

Suster itu membuka pintu dan menunduk hormat. "Ini, Dok... Tuan Kukuh datang untuk bertemu dengan Dokter Harsha."

Dokter Adhi yang sedang m
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 543

    Kukuh tidak bergerak. Matanya masih terkunci pada sosok kecil yang minum dari dada Sari. Pada cakar-cakar yang mencengkeram kemben robek. Pada perut yang masih menganga dan cairan hitam yang masih menetes ke tanah.Dan di kepalanya, satu pikiran berputar. Pelan. Berat. Tidak bisa dihentikan.Ritual ini bukan paksaan. Bukan penculikan. Bukan kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang terhadap satu korban. Ini kesepakatan. Dua ratus warga. Tujuh generasi. Empat belas nyawa yang sudah dibayar dan empat belas kali panen yang sudah dinikmati. Mereka tahu. Mereka memilih. Dan mereka akan melakukan ini lagi. Sepuluh tahun dari sekarang. Dan sepuluh tahun setelahnya.Kukuh menatap warga yang masih bersujud. Dahi mereka di tanah. Tangan terentang. Bibir bergerak mengucapkan doa yang sama. Dan di mata mereka yang terpejam, tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. Hanya rasa syukur.Percuma. Kalau aku berdiri sekarang dan berteriak bahwa ini salah, bahwa empat belas wanita sudah mati untuk

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 542

    "Kita tunggu sampai mereka bubar. Sampai desa ini tidur. Dan baru kita....."KRAAAKKK.Suara itu memotong kalimat Kukuh di udara. Bukan suara gamelan. Bukan suara tawa. Bukan suara piring yang jatuh ke tanah.Suara daging yang robek.Dari perut Sari.Kemben batik bermotif gunung itu terbelah dari dalam. Bukan terbuka. Terbelah. Seperti kain yang tidak kuat lagi menahan sesuatu di baliknya. Dan dari celah robekan itu, cairan hitam mengalir. Kental. Lambat. Menetes ke tanah dengan bunyi yang seharusnya tidak terdengar tapi terdengar. Jelas. Di antara semua keheningan yang tiba-tiba menelan halaman balai desa.Dan dari balik robekan itu, tangan kecil muncul.Jari-jarinya kurus. Pucat. Terlalu panjang untuk tangan bayi. Dan di ujung setiap jari, cakar. Hitam. Tajam. Melengkung seperti sabit kecil. Cakar itu mencengkeram tepi robekan. Menarik. Meregangkan kulit yang sudah terlalu tipis untuk menahan apa pun.Bella muntah.Tidak menahan. Tidak memalingkan wajah. Tubuhnya membungkuk dan isi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 541

    "Yo iki seng di enteni!" teriak salah satu warga dari lingkaran. Pria tua. Suaranya pecah oleh kegembiraan. Tangannya terangkat. Air matanya mengalir. "Subure lemah deso iki kanggo sepuluh tahun maneh!"Warga lain menyambut. Berseru. Bertepuk tangan. Memukul-mukul tanah dengan telapak tangan mereka. Seperti sedang berterima kasih pada tanah yang sudah terlalu lama memberi dan kini akhirnya meminta imbalan.Farhan menatap perut Sari yang membesar. Mulutnya terbuka. Tangannya mencengkeram tikar di bawahnya. Jari-jarinya menekan terlalu keras. "Kuh... itu... itu nggak mungkin...""Diam," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tajam. Matanya tidak berkedip. Menatap perut Sari. Menatap kain kemben yang semakin menegang. Menatap sesuatu di balik kain itu yang bergerak dan menekan dan meregang.Dan kemudian kemben itu terbuka.Bukan ditarik. Bukan disobek. Terbuka sendiri. Kain itu terlepas dari tubuh Sari seperti kulit yang mengelupas dari buah yang terlalu matang. Dan di balik kain itu, perut Sari

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 540

    "Mas, ayo duduk sini."Salah satu warga melambaikan tangan dari lingkaran. Pria paruh baya. Kaos lurik. Mulutnya masih penuh nasi. Senyumnya lebar. Ramah. Seperti mengundang tetangga ke acara hajatan biasa.Kukuh belum sempat menjawab. Karena dari belakang mereka, delapan tangan mencengkeram bahu mereka secara bersamaan. Delapan orang berpakaian hitam. Wajah tertutup kain. Tidak bicara. Hanya mendorong. Memaksa. Menyuruh duduk."Mas, duduk," bisik salah satu dari mereka di telinga Kukuh. Suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini sehingga tidak perlu lagi merasa apa-apa.Farhan memberontak. Bahunya ditarik ke belakang. Tangannya mencoba meraih lengan orang berpakaian hitam itu. "Kuh.....""Ikut," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tegas. Tidak ada ruang untuk dibantah. Matanya menatap Farhan. Lalu Bella. Lalu Bangkit. "Kita duduk. Kita lihat. Kita nggak bisa melawan satu desa kalau ini jadi buruk."Farhan menelan ludah. Rahangnya mengera

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 539

    "Kita harus bawa Sari keluar malam ini," ucap Kukuh sambil mengikat tali sepatunya. Gerakannya cepat. Tidak ada waktu yang terbuang."Kuh, ini udah jam enam sore," sahut Farhan dari tempat tidurnya. Tangannya masih memegang setengah potong roti yang sudah dingin. "Kita mau ke mana? Ke rumah neneknya?""Ke rumah neneknya. Kita jemput Sari. Kita bawa ke perbatasan. Kita—"Kukuh berhenti. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Ke arah suara yang baru saja terdengar.Gamelan.Mengalun dari arah balai desa. Pelan. Dalam. Seperti air yang mengalir dari tempat yang sangat jauh. Dan di antara alunan gamelan itu, tawa warga bercampur dengan denting piring dan gelas."Itu suara apa?" tanya Bella dari meja sudut. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Kepalanya miring ke arah jendela."Gamelan," jawab Bangkit dari sudut kamar. Kamera sudah terangkat. Lensa terarah ke jendela. "Dari balai desa."Kukuh berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap keluar.Lampu minyak menyala di sepanjang jalan utama desa. Be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 538

    "Umur saya udah lewat batas. Mereka bilang wadah harus di bawah dua puluh lima tahun. Dan saya udah dua puluh tujuh waktu itu," jelas nenek itu sambil menurunkan tangannya. Meletakkannya kembali di pangkuan. Jari-jarinya masih menyentuh bekas luka itu. "Jadi mereka berhenti. Dan mereka mengembalikan saya."Nenek itu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya. Jari-jarinya berhenti di tepi kain itu. Tidak menariknya. Hanya menyentuhnya. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama dua puluh tahun."Mereka mengembalikan saya dengan satu mata," ucap nenek itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak pecah. Tidak menangis. Hanya datar. Kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sehingga air matanya sudah habis dan yang tersisa hanya kata-kata.Kukuh mengepalkan tangannya lebih keras. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Tapi wajahnya tetap tenang. Karena ia tahu bahwa menunjukkan amarah sekarang tidak akan membantu nenek ini. Tidak akan men

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status