Share

Bab 5

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:58:46

Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.

Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul karung beras puluhan kilo, mengupas berkeranjang-keranjang bawang, dan mengepel lantai marmer hingga mengilap. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas, pemuda itu adalah suami sah sang pewaris tahta. Di ruangan ini, ia adalah kasta terendah.

Semua pekerjaannya diawasi ketat oleh Pak Rustam, kepala juru masak bertubuh gempal yang sombongnya selangit.

Dasar gembel bau selokan, maki Rustam dalam hati. Beraninya sampah dari kantor pusat masuk ke dapur eklsklusifku! Akan kubuat dia cacat supaya tahu diri! .

"Heh, Bocah Miskin! Matamu buta?!" bentak Rustam parau, suaranya nyaris mengalahkan desis minyak panas. "Air di kuali raksasa itu sudah mendidih! Angkat sekarang! Nyonya Dian benci teh yang diseduh dengan air yang kurang panas!" .

"Baik, Pak," jawab Kukuh sabar.

Tanpa membantah, Kukuh melilitkan kain lap tebal ke tangannya. Ia mencengkeram kuali aluminium raksasa yang airnya sedang bergejolak ganas itu. Uap panasnya langsung menyapu wajah. Dengan hati-hati, Kukuh memutar tubuh, bersiap membawa kuali itu melewati lorong sempit .

Tepat saat Kukuh melangkah, Rustam menyeringai licik. Juru masak itu mendadak memundurkan langkahnya dan dengan sengaja menabrakkan bahunya ke arah Kukuh! .

Benturan itu keras dan sangat disengaja. Keseimbangan Kukuh goyah. Berat kuali di tangannya melenceng drastis!

Dalam sekejap mata, gelombang air mendidih bersuhu seratus derajat celcius itu tumpah ruah. Air ganas itu menghantam celana seragam Kukuh, menyiram betis hingga punggung kakinya tanpa ampun! .

Kukuh menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan jeritan yang nyaris pecah. Rasanya seperti ada besi cair yang disetrikakan langsung ke tulangnya.

"Astaga! Lantainya licin sekali, dasar pembersih bodoh!" ejek Rustam dengan suara lantang yang dibuat-buat. Di balik nada simpatinya yang palsu, sudut bibir pria gempal itu berkedut menahan senyum puas melihat uap mengepul dari kaki Kukuh. Rasakan itu! Kulitmu pasti akan melepuh sampai ke tulang!

Dengan kaki diseret pincang dan napas tersengal, Kukuh berlari menerobos lorong menuju kamar mandi terdekat. Begitu pintu terkunci, ia merosot di lantai ubin. Tangannya gemetar menyalakan keran air dingin hingga maksimal, mengarahkannya langsung ke betisnya yang kemerahan dan nyaris terkelupas .

Namun, saat Kukuh menunduk untuk menahan perih, matanya terbelalak lebar. Sesuatu yang sangat mustahil sedang terjadi!

Kulit betisnya yang tadi melepuh parah itu... tiba-tiba bergerak merapat. Rasa perih yang merobek saraf tadi mendadak lenyap. Di depan mata kepalanya sendiri, Kukuh melihat rona merah di kulitnya pudar secepat kilat. Daging yang sempat rusak itu menjahit dirinya sendiri dari dalam, diatur oleh sebuah kekuatan gaib tak kasatmata yang mengalir di darahnya .

Hanya dalam hitungan detik, kulit kakinya kembali mulus. Bersih sempurna! Tidak ada bekas luka sekecil apa pun, padahal celananya masih basah kuyup oleh genangan air mendidih .

Lima menit kemudian, Kukuh membuka pintu kamar mandi dan berjalan santai kembali ke dapur. Punggungnya tegak, langkahnya tegap. Sama sekali tidak pincang.

Rustam yang sedari tadi sudah menyilangkan tangan di dada, bersiap menertawakan pemuda malang itu, mendadak kaku bak patung. Matanya nyaris robek dari kelopaknya.

Pria sombong itu terpaku menatap pergelangan kaki Kukuh yang digulung seadanya. Tidak ada kulit yang melepuh! Tidak ada luka! Bagaimana mungkin?! Logikanya berteriak bahwa manusia biasa seharusnya sudah meraung kesakitan dan dilarikan ke rumah sakit sekarang! .

"Maaf ya, Pak Rustam. Tadi saya kurang hati-hati," ucap Kukuh sangat tenang, tersenyum tipis melewati bahu sang juru masak seolah siraman air mendidih itu hanya siraman air hujan biasa.

Rustam menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya. Tangannya gemetar hebat. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan: anak baru ini jelas bukan manusia normal!.

Tanpa satu pun dari mereka sadari, jauh di ujung ruangan, di balik kaca buram pintu putar, sesosok siluet ramping berdiri mematung.

Ratih Puspa Aji Saka berdiri di sana. Sepasang mata kelabunya menajam penuh selidik. Ia telah merekam semuanya. Ia melihat dengan jelas bagaimana air mendidih mematikan itu gagal memberikan luka gores sedikit pun pada sang suami kasta rendahnya . Ratih menarik napas dingin. Siapa sebenarnya gembel ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 340

    "Kopi Dokter sudah mulai dingin," tegur Kukuh dengan nada sopan namun memecah keheningan. Ia meletakkan setumpuk kertas HVS yang penuh dengan coretan tinta di atas meja aluminium yang sedingin es."Otak saya sedang panas, jadi kopi dingin justru lebih pas, Kuh," balas Dokter Harsha tanpa menoleh. Pria berjas putih panjang itu masih menunduk, sebelah matanya fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop elektron, sementara tangannya dengan lincah memutar tombol kalibrasi. Ruangan laboratorium rahasia di Lantai 41 itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh dengung mesin penyaring udara dan bunyi bip pelan dari monitor medis.Kukuh menarik sebuah kursi besi dan duduk berseberangan dengan meja kerja sang dokter. "Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki dari buku kertas merang yang saya beli di angkot waktu itu, Dok."Mendengar itu, pergerakan tangan Dokter Harsha langsung terhenti. Ia menegakkan punggungnya, melepas kacamata pelindung, dan menatap Kukuh dengan sorot mata yang mendadak tajam. R

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 389

    "Halo, Pak Wahyu. Ini Kukuh.""T-Tuan Kukuh! Selamat pagi, Tuan! Astaga, sebuah kehormatan Anda menelepon saya langsung. Ada perintah apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda hari ini?" Suara Manajer Operasional PT Sumber Wangi itu terdengar bergetar dan sedikit terengah-engah di seberang telepon, seolah ia langsung berdiri tegap saat melihat nama Kukuh di layar ponselnya."Saya butuh bantuan dari jalur perusahaan," ucap Kukuh tenang, sambil berjalan menyusuri trotoar sibuk ibukota menuju gedung menjulang Perpustakaan Nasional. "Saya harus masuk ke Ruang Arsip Terbatas di Perpusnas siang ini. Tapi, birokrasi mereka terlalu kaku untuk mahasiswa biasa. Saya ingin Anda menggunakan nama PT Sumber Wangi sebagai dalih riset pengembangan bahan baku kosmetik tradisional untuk memberikan saya akses VIP ke sana.""S-siap, Tuan Kukuh! Saya akan hubungi direktur humas kementerian sekarang juga. Kebetulan perusahaan kita baru saja menyumbang dana CSR besar-besaran untuk pelestarian budaya. Akses And

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 388

    "Buku apa itu, Kuh? Baunya apek sekali, nyengat sampai ke hidung."Ratih mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk, menatap heran ke arah Kukuh yang tengah duduk bersila di atas karpet tebal kamar utama Mansion Cokro. Di pangkuan pemuda itu, tergeletak sebuah buku kuno bersampul kulit kusam yang tampak rapuh dimakan zaman."Oh, ini? Cuma buku tua, Tih," jawab Kukuh santai. Jari besarnya membelai sampul buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membuat kertasnya hancur. "Aku membelinya dari seorang kakek-kakek berpakaian lusuh waktu aku naik angkot beberapa minggu lalu. Waktu itu kakek tersebut memegang buku ini, dan entah kenapa, perasaanku sangat kuat menyuruhku untuk membelinya. Kakek itu juga bilang kalau ini bukan buku sembarangan.""Hati-hati lho, Kuh. Kejadian mengerikan di Randu Alas kemarin masih bikin aku sering merinding kalau malam," pesan Ratih sambil bergidik pelan, teringat kembali pada wajah kanibal para konglomerat itu. Gadis itu lalu naik ke atas ranjang dan

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 387

    "Lihat baik-baik, gembel. Hari ini aku akan tunjukkan pada kalian bagaimana cara orang-orang dari kasta atas bermain."Max menyeringai lebar sambil melipat kedua tangannya di dada. Pemuda berambut klimis itu sengaja berdiri menghalangi jalan Kukuh dan Farhan tepat di dekat karpet merah stan pameran PT Sumber Wangi. Di belakang Max, tiga orang temannya terkekeh meremehkan, berlagak seperti pengawal pribadi sang pangeran kampus."Bentar lagi Pak Wahyu datang untuk meninjau penutupan stan pameran ini," lanjut Max dengan suara lantang, sengaja membesarkan volumenya untuk menarik perhatian puluhan mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitar lapangan. "Aku sudah menelepon ayahku tadi malam. Hari ini, aku akan langsung meminta formulir magang jalur VIP dari Pak Wahyu. Kalian berdua cukup jadi penonton saja di pinggir sana, dan belajarlah menerima nasib sebagai orang miskin."Farhan menunduk dalam, tangannya meremas tali tas ranselnya dengan erat. Wajahnya memerah karena malu dijadikan tontonan.

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 386

    "Baiklah, saya rasa pembahasan untuk strategi kuartal ini sudah cukup jelas. Rapat hari ini resmi saya tutup."Ketukan pelan dari pena Adiwangsa pada meja mahoni raksasa itu mengakhiri sesi rapat yang telah berlangsung selama hampir dua jam. Sang CEO bangkit dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan penuh wibawa."Terima kasih atas kerja keras Bapak-Bapak sekalian. Dan sekali lagi, selamat bergabung secara resmi di keluarga besar PT Sumber Wangi, Tuan Kukuh," ucap Pak Darma, salah satu direktur senior, dengan senyum sangat ramah sambil sedikit menundukkan badan.Kukuh membalasnya dengan anggukan pelan dan senyuman yang tak kalah sopan. "Terima kasih kembali, Pak Darma. Saya yang seharusnya banyak belajar dari Anda semua di sini."Suasana ruangan berangsur cair. Para

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 385

    "Wah, kelihatannya Bapak sangat bersemangat sekali hari ini, Pak Wahyu.""Tentu saja, Pak Darma. Hari ini penentuan tender besar. Kita harus tampil maksimal dan tanpa celah di depan Tuan Adiwangsa," jawab Pak Wahyu sambil terkekeh pelan. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit ruang rapat direksi dengan gaya arogan. Tangannya sibuk membetulkan letak dasi mahalnya.Pak Darma, salah satu direktur di sebelahnya, mengangguk setuju. "Iya, dengar-dengar hari ini Tuan Adiwangsa mau membawa tamu spesial? Katanya sih anggota keluarga untuk diperkenalkan secara resmi.""Ah, paling cuma formalitas," Pak Wahyu mengibaskan tangannya meremehkan. "Yang penting operasional kita terlihat sempurna. Tadi pagi saja saya sudah harus repot turun tangan menertibkan lantai VIP ini. Masa ada OB kusam berani berkeliaran b

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 2

    Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 1

    "Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status