LOGINKres. Kres.
Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hanyalah tukang kebun rendahan.
Klik. Suara pintu utama rumah terbuka.
Kukuh refleks menghentikan pekerjaannya. Dari balik pintu kayu jati itu, Ratih melangkah keluar ke teras . Wanita itu mengenakan piyama sutra ungu pekat. Rambut legamnya dibiarkan tergerai, membuatnya terlihat semakin angkuh dan tak tersentuh .
Kukuh buru-buru menunduk. "Selamat pagi, Non Ratih.".
Tidak ada balasan. Ratih hanya menatap pemuda miskin itu dengan sorot mata merendahkan. Gembel ini pasti berpikir dia bisa beruntung menikahi keluarga Aji Saka, batin Ratih sinis. Biar kutunjukkan di mana kasta tempatnya berada!
Tiba-tiba, udara di halaman itu berubah menjadi sangat pekat. Suhu tidak memanas, tapi atmosfer mendadak menekan kuat, seolah beban gravitasi dijatuhkan ke pundak Kukuh. Di ujung sepatu Kukuh, dua ekor lebah yang sedang terbang tiba-tiba jatuh ke tanah, mati kaku seketika!.
Lalu, bau itu menyergap penciuman.
Bukan harum biasa. Itu adalah aroma manis yang agresif dan mematikan. Campuran wangi bunga melati yang layu, getah kenanga, dan bau amis darah yang pekat . Inilah kekuatan Rajah Wangi murni milik Ratih. Aroma ini dirancang untuk melumpuhkan saraf, meruntuhkan keberanian, dan memaksa pria mana pun berlutut memohon ampun padanya.
Ratih berdiri diam sambil menyilangkan tangan. Ia tersenyum tipis, menunggu Kukuh ambruk, sesak napas, dan merangkak di tanah seperti pria-pria lain yang pernah berani menatapnya.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat senyum di wajah cantik Ratih luntur.
Kukuh menegakkan punggungnya. Ia menarik napas panjang-panjang lewat hidung, menghirup aroma mematikan itu, lalu mengembuskannya dengan wajah sangat rileks.
"Harum sekali, Non," ucap Kukuh tulus, matanya menatap Ratih tanpa rasa takut sedikit pun. "Baunya unik. Seperti campuran kenanga dan kantil. Dulu Bapak saya sering bawa bunga begini sepulang dari kebun.".
Mata kelabu Ratih terbelalak. Wajahnya yang selalu sedingin es kini memancarkan syok luar biasa.
Bagaimana mungkin?! Ratih menjerit dalam hati. Aku sudah melepaskan kekuatan Rajah Wangi secara penuh! Anjing penjaga saja akan kencing ketakutan menghirup ini! Tapi gembel ini... dia menganggap kekuatanku seperti parfum murahan?! .
"Kamu..." Rahang Ratih mengeras, harga dirinya serasa diinjak. Kilat marah dan kebingungan meledak di matanya.
"Ada yang salah, Non?" tanya Kukuh polos, tangannya masih memegang gunting rumput.
Merasa dipermalukan oleh ketahanannya sendiri, Ratih membalikkan badan dengan kasar. Jubah piyamanya berkibar saat ia melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Ia membanting pintu jati itu hingga suaranya bergema keras ke seluruh halaman.
Kukuh menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perasaan aku cuma muji wangi parfumnya," gumamnya pelan.
"Bukan parfum itu, Le," tegur sebuah suara serak.
Kukuh menoleh. Supri, sopir senior keluarga itu, berdiri pucat bersandar di tiang garasi. Matanya menatap Kukuh dari atas ke bawah seolah sedang melihat hantu .
"Ya ampun," gumam Supri tak percaya. "Baru kali ini aku lihat ada laki-laki diintimidasi Non Ratih malah santai mengajak mengobrol soal bunga. Orang normal sudah muntah darah atau pingsan, Le!".
Kukuh tersenyum sungkan. "Masa sih, Pak? Baunya biasa saja kok.".
Supri menyipitkan mata, menatap Kukuh dengan penuh curiga. "Anak baru sepertimu tidak mungkin bisa masuk ke lingkaran dalam kalau tidak punya pegangan ilmu gaib. Siapa yang mengirimmu ke sini?" .
Kukuh menelan ludah, ingat peringatan pengacara kemarin. "Saya cuma kebetulan beruntung, Pak. Hutang nyawa katanya." .
Supri mendengus pelan. Ia menepuk bahu Kukuh dua kali, wajahnya berubah sangat serius.
"Dengar, Le. Di rumah ini, wangi bunga bisa jadi racun, dan udara kosong bisa mencekikmu sampai mati saat tidur," bisik Supri, matanya melirik waspada ke arah kamera CCTV. "Satu peringatan dariku mumpung kamu masih bernapas: Jangan pernah menyapu terlalu dekat ke arah pohon kelor tua di batas dinding belakang sana.".
Kukuh mengernyit heran. Pohon kelor?.
Sebelum Kukuh sempat bertanya lebih lanjut, Supri sudah bergegas pergi. Meninggalkan Kukuh dengan dua bangkai lebah di dekat sepatunya, dan kesadaran bahwa hidupnya di rumah ini akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
"Kopi Dokter sudah mulai dingin," tegur Kukuh dengan nada sopan namun memecah keheningan. Ia meletakkan setumpuk kertas HVS yang penuh dengan coretan tinta di atas meja aluminium yang sedingin es."Otak saya sedang panas, jadi kopi dingin justru lebih pas, Kuh," balas Dokter Harsha tanpa menoleh. Pria berjas putih panjang itu masih menunduk, sebelah matanya fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop elektron, sementara tangannya dengan lincah memutar tombol kalibrasi. Ruangan laboratorium rahasia di Lantai 41 itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh dengung mesin penyaring udara dan bunyi bip pelan dari monitor medis.Kukuh menarik sebuah kursi besi dan duduk berseberangan dengan meja kerja sang dokter. "Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki dari buku kertas merang yang saya beli di angkot waktu itu, Dok."Mendengar itu, pergerakan tangan Dokter Harsha langsung terhenti. Ia menegakkan punggungnya, melepas kacamata pelindung, dan menatap Kukuh dengan sorot mata yang mendadak tajam. R
"Halo, Pak Wahyu. Ini Kukuh.""T-Tuan Kukuh! Selamat pagi, Tuan! Astaga, sebuah kehormatan Anda menelepon saya langsung. Ada perintah apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda hari ini?" Suara Manajer Operasional PT Sumber Wangi itu terdengar bergetar dan sedikit terengah-engah di seberang telepon, seolah ia langsung berdiri tegap saat melihat nama Kukuh di layar ponselnya."Saya butuh bantuan dari jalur perusahaan," ucap Kukuh tenang, sambil berjalan menyusuri trotoar sibuk ibukota menuju gedung menjulang Perpustakaan Nasional. "Saya harus masuk ke Ruang Arsip Terbatas di Perpusnas siang ini. Tapi, birokrasi mereka terlalu kaku untuk mahasiswa biasa. Saya ingin Anda menggunakan nama PT Sumber Wangi sebagai dalih riset pengembangan bahan baku kosmetik tradisional untuk memberikan saya akses VIP ke sana.""S-siap, Tuan Kukuh! Saya akan hubungi direktur humas kementerian sekarang juga. Kebetulan perusahaan kita baru saja menyumbang dana CSR besar-besaran untuk pelestarian budaya. Akses And
"Buku apa itu, Kuh? Baunya apek sekali, nyengat sampai ke hidung."Ratih mengusap rambutnya yang masih basah dengan handuk, menatap heran ke arah Kukuh yang tengah duduk bersila di atas karpet tebal kamar utama Mansion Cokro. Di pangkuan pemuda itu, tergeletak sebuah buku kuno bersampul kulit kusam yang tampak rapuh dimakan zaman."Oh, ini? Cuma buku tua, Tih," jawab Kukuh santai. Jari besarnya membelai sampul buku itu dengan sangat hati-hati agar tidak membuat kertasnya hancur. "Aku membelinya dari seorang kakek-kakek berpakaian lusuh waktu aku naik angkot beberapa minggu lalu. Waktu itu kakek tersebut memegang buku ini, dan entah kenapa, perasaanku sangat kuat menyuruhku untuk membelinya. Kakek itu juga bilang kalau ini bukan buku sembarangan.""Hati-hati lho, Kuh. Kejadian mengerikan di Randu Alas kemarin masih bikin aku sering merinding kalau malam," pesan Ratih sambil bergidik pelan, teringat kembali pada wajah kanibal para konglomerat itu. Gadis itu lalu naik ke atas ranjang dan
"Lihat baik-baik, gembel. Hari ini aku akan tunjukkan pada kalian bagaimana cara orang-orang dari kasta atas bermain."Max menyeringai lebar sambil melipat kedua tangannya di dada. Pemuda berambut klimis itu sengaja berdiri menghalangi jalan Kukuh dan Farhan tepat di dekat karpet merah stan pameran PT Sumber Wangi. Di belakang Max, tiga orang temannya terkekeh meremehkan, berlagak seperti pengawal pribadi sang pangeran kampus."Bentar lagi Pak Wahyu datang untuk meninjau penutupan stan pameran ini," lanjut Max dengan suara lantang, sengaja membesarkan volumenya untuk menarik perhatian puluhan mahasiswa yang berlalu-lalang di sekitar lapangan. "Aku sudah menelepon ayahku tadi malam. Hari ini, aku akan langsung meminta formulir magang jalur VIP dari Pak Wahyu. Kalian berdua cukup jadi penonton saja di pinggir sana, dan belajarlah menerima nasib sebagai orang miskin."Farhan menunduk dalam, tangannya meremas tali tas ranselnya dengan erat. Wajahnya memerah karena malu dijadikan tontonan.
"Baiklah, saya rasa pembahasan untuk strategi kuartal ini sudah cukup jelas. Rapat hari ini resmi saya tutup."Ketukan pelan dari pena Adiwangsa pada meja mahoni raksasa itu mengakhiri sesi rapat yang telah berlangsung selama hampir dua jam. Sang CEO bangkit dari kursinya, merapikan kancing jasnya dengan penuh wibawa."Terima kasih atas kerja keras Bapak-Bapak sekalian. Dan sekali lagi, selamat bergabung secara resmi di keluarga besar PT Sumber Wangi, Tuan Kukuh," ucap Pak Darma, salah satu direktur senior, dengan senyum sangat ramah sambil sedikit menundukkan badan.Kukuh membalasnya dengan anggukan pelan dan senyuman yang tak kalah sopan. "Terima kasih kembali, Pak Darma. Saya yang seharusnya banyak belajar dari Anda semua di sini."Suasana ruangan berangsur cair. Para
"Wah, kelihatannya Bapak sangat bersemangat sekali hari ini, Pak Wahyu.""Tentu saja, Pak Darma. Hari ini penentuan tender besar. Kita harus tampil maksimal dan tanpa celah di depan Tuan Adiwangsa," jawab Pak Wahyu sambil terkekeh pelan. Pria paruh baya itu menyandarkan punggungnya ke kursi kulit ruang rapat direksi dengan gaya arogan. Tangannya sibuk membetulkan letak dasi mahalnya.Pak Darma, salah satu direktur di sebelahnya, mengangguk setuju. "Iya, dengar-dengar hari ini Tuan Adiwangsa mau membawa tamu spesial? Katanya sih anggota keluarga untuk diperkenalkan secara resmi.""Ah, paling cuma formalitas," Pak Wahyu mengibaskan tangannya meremehkan. "Yang penting operasional kita terlihat sempurna. Tadi pagi saja saya sudah harus repot turun tangan menertibkan lantai VIP ini. Masa ada OB kusam berani berkeliaran b
Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara
Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura







