Share

Bab 4

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:58:29

Kres. Kres.

Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hanyalah tukang kebun rendahan.

Klik. Suara pintu utama rumah terbuka.

Kukuh refleks menghentikan pekerjaannya. Dari balik pintu kayu jati itu, Ratih melangkah keluar ke teras . Wanita itu mengenakan piyama sutra ungu pekat. Rambut legamnya dibiarkan tergerai, membuatnya terlihat semakin angkuh dan tak tersentuh .

Kukuh buru-buru menunduk. "Selamat pagi, Non Ratih.".

Tidak ada balasan. Ratih hanya menatap pemuda miskin itu dengan sorot mata merendahkan. Gembel ini pasti berpikir dia bisa beruntung menikahi keluarga Aji Saka, batin Ratih sinis. Biar kutunjukkan di mana kasta tempatnya berada!

Tiba-tiba, udara di halaman itu berubah menjadi sangat pekat. Suhu tidak memanas, tapi atmosfer mendadak menekan kuat, seolah beban gravitasi dijatuhkan ke pundak Kukuh. Di ujung sepatu Kukuh, dua ekor lebah yang sedang terbang tiba-tiba jatuh ke tanah, mati kaku seketika!.

Lalu, bau itu menyergap penciuman.

Bukan harum biasa. Itu adalah aroma manis yang agresif dan mematikan. Campuran wangi bunga melati yang layu, getah kenanga, dan bau amis darah yang pekat . Inilah kekuatan Rajah Wangi murni milik Ratih. Aroma ini dirancang untuk melumpuhkan saraf, meruntuhkan keberanian, dan memaksa pria mana pun berlutut memohon ampun padanya.

Ratih berdiri diam sambil menyilangkan tangan. Ia tersenyum tipis, menunggu Kukuh ambruk, sesak napas, dan merangkak di tanah seperti pria-pria lain yang pernah berani menatapnya.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat senyum di wajah cantik Ratih luntur.

Kukuh menegakkan punggungnya. Ia menarik napas panjang-panjang lewat hidung, menghirup aroma mematikan itu, lalu mengembuskannya dengan wajah sangat rileks.

"Harum sekali, Non," ucap Kukuh tulus, matanya menatap Ratih tanpa rasa takut sedikit pun. "Baunya unik. Seperti campuran kenanga dan kantil. Dulu Bapak saya sering bawa bunga begini sepulang dari kebun.".

Mata kelabu Ratih terbelalak. Wajahnya yang selalu sedingin es kini memancarkan syok luar biasa.

Bagaimana mungkin?! Ratih menjerit dalam hati. Aku sudah melepaskan kekuatan Rajah Wangi secara penuh! Anjing penjaga saja akan kencing ketakutan menghirup ini! Tapi gembel ini... dia menganggap kekuatanku seperti parfum murahan?! .

"Kamu..." Rahang Ratih mengeras, harga dirinya serasa diinjak. Kilat marah dan kebingungan meledak di matanya.

"Ada yang salah, Non?" tanya Kukuh polos, tangannya masih memegang gunting rumput.

Merasa dipermalukan oleh ketahanannya sendiri, Ratih membalikkan badan dengan kasar. Jubah piyamanya berkibar saat ia melangkah masuk kembali ke dalam rumah. Ia membanting pintu jati itu hingga suaranya bergema keras ke seluruh halaman.

Kukuh menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Perasaan aku cuma muji wangi parfumnya," gumamnya pelan.

"Bukan parfum itu, Le," tegur sebuah suara serak.

Kukuh menoleh. Supri, sopir senior keluarga itu, berdiri pucat bersandar di tiang garasi. Matanya menatap Kukuh dari atas ke bawah seolah sedang melihat hantu .

"Ya ampun," gumam Supri tak percaya. "Baru kali ini aku lihat ada laki-laki diintimidasi Non Ratih malah santai mengajak mengobrol soal bunga. Orang normal sudah muntah darah atau pingsan, Le!".

Kukuh tersenyum sungkan. "Masa sih, Pak? Baunya biasa saja kok.".

Supri menyipitkan mata, menatap Kukuh dengan penuh curiga. "Anak baru sepertimu tidak mungkin bisa masuk ke lingkaran dalam kalau tidak punya pegangan ilmu gaib. Siapa yang mengirimmu ke sini?" .

Kukuh menelan ludah, ingat peringatan pengacara kemarin. "Saya cuma kebetulan beruntung, Pak. Hutang nyawa katanya." .

Supri mendengus pelan. Ia menepuk bahu Kukuh dua kali, wajahnya berubah sangat serius.

"Dengar, Le. Di rumah ini, wangi bunga bisa jadi racun, dan udara kosong bisa mencekikmu sampai mati saat tidur," bisik Supri, matanya melirik waspada ke arah kamera CCTV. "Satu peringatan dariku mumpung kamu masih bernapas: Jangan pernah menyapu terlalu dekat ke arah pohon kelor tua di batas dinding belakang sana.".

Kukuh mengernyit heran. Pohon kelor?.

Sebelum Kukuh sempat bertanya lebih lanjut, Supri sudah bergegas pergi. Meninggalkan Kukuh dengan dua bangkai lebah di dekat sepatunya, dan kesadaran bahwa hidupnya di rumah ini akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 540

    "Mas, ayo duduk sini."Salah satu warga melambaikan tangan dari lingkaran. Pria paruh baya. Kaos lurik. Mulutnya masih penuh nasi. Senyumnya lebar. Ramah. Seperti mengundang tetangga ke acara hajatan biasa.Kukuh belum sempat menjawab. Karena dari belakang mereka, delapan tangan mencengkeram bahu mereka secara bersamaan. Delapan orang berpakaian hitam. Wajah tertutup kain. Tidak bicara. Hanya mendorong. Memaksa. Menyuruh duduk."Mas, duduk," bisik salah satu dari mereka di telinga Kukuh. Suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini sehingga tidak perlu lagi merasa apa-apa.Farhan memberontak. Bahunya ditarik ke belakang. Tangannya mencoba meraih lengan orang berpakaian hitam itu. "Kuh.....""Ikut," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tegas. Tidak ada ruang untuk dibantah. Matanya menatap Farhan. Lalu Bella. Lalu Bangkit. "Kita duduk. Kita lihat. Kita nggak bisa melawan satu desa kalau ini jadi buruk."Farhan menelan ludah. Rahangnya mengera

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 539

    "Kita harus bawa Sari keluar malam ini," ucap Kukuh sambil mengikat tali sepatunya. Gerakannya cepat. Tidak ada waktu yang terbuang."Kuh, ini udah jam enam sore," sahut Farhan dari tempat tidurnya. Tangannya masih memegang setengah potong roti yang sudah dingin. "Kita mau ke mana? Ke rumah neneknya?""Ke rumah neneknya. Kita jemput Sari. Kita bawa ke perbatasan. Kita—"Kukuh berhenti. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Ke arah suara yang baru saja terdengar.Gamelan.Mengalun dari arah balai desa. Pelan. Dalam. Seperti air yang mengalir dari tempat yang sangat jauh. Dan di antara alunan gamelan itu, tawa warga bercampur dengan denting piring dan gelas."Itu suara apa?" tanya Bella dari meja sudut. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Kepalanya miring ke arah jendela."Gamelan," jawab Bangkit dari sudut kamar. Kamera sudah terangkat. Lensa terarah ke jendela. "Dari balai desa."Kukuh berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap keluar.Lampu minyak menyala di sepanjang jalan utama desa. Be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 538

    "Umur saya udah lewat batas. Mereka bilang wadah harus di bawah dua puluh lima tahun. Dan saya udah dua puluh tujuh waktu itu," jelas nenek itu sambil menurunkan tangannya. Meletakkannya kembali di pangkuan. Jari-jarinya masih menyentuh bekas luka itu. "Jadi mereka berhenti. Dan mereka mengembalikan saya."Nenek itu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya. Jari-jarinya berhenti di tepi kain itu. Tidak menariknya. Hanya menyentuhnya. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama dua puluh tahun."Mereka mengembalikan saya dengan satu mata," ucap nenek itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak pecah. Tidak menangis. Hanya datar. Kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sehingga air matanya sudah habis dan yang tersisa hanya kata-kata.Kukuh mengepalkan tangannya lebih keras. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Tapi wajahnya tetap tenang. Karena ia tahu bahwa menunjukkan amarah sekarang tidak akan membantu nenek ini. Tidak akan men

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 537

    "Nek," panggil Kukuh dari pagar. Suaranya pelan. Tidak mau mengagetkan.Nenek itu tidak menoleh. Tidak bergerak. Hanya bibirnya yang bergerak."Masuk, Mas. Pintu nggak dikunci," sahut nenek itu tanpa mengalihkan tatapannya dari hutan. Suaranya kering. Seperti daun yang digesek angin.Kukuh mendorong pintu pagar. Berjalan melewati halaman kecil yang ditumbuhi kunyit dan jahe. Naik ke teras. Dan berdiri di depan nenek itu."Nek, saya Kukuh. Dokter magang di Puskesdes," ucap Kukuh sambil menarik kursi plastik dari sudut teras. Duduk. Jaraknya satu meter dari nenek itu."Iya. Aku tahu," balas nenek itu tanpa menatap Kukuh. Kepalanya sedikit bergerak. Seperti ranting kering yang tersenggol angin. "Kau yang kemarin ngomong sama Sari di pasar. Aku denger dari Mbak Sumi. Mbak Sumi denger dari Pak Darmo. Pak Darmo denger dari istrinya. Di desa ini, kabar jalan lebih cepet dari kaki."Kukuh tersenyum. Kecil. Tidak memaksakan percakapan. Hanya menunggu. Karena ia tahu bahwa ada beberapa orang ya

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 536

    "Jamu kunyit asamnya berapa, Mbak?"Sari Wulan mengangkat wajahnya dari tumbukan jamu. Menatap pembeli yang baru saja bertanya. Pria paruh baya. Kaos lurik. Tangan kasar."Lima ribu, Pak.""Boleh tiga?""Boleh."Sari Wulan mengambil tiga botol jamu dari rak. Menyerahkannya pada pria itu. Menerima uang. Mengangguk. Dan kembali menumbuk kunyit di lesung batu. Pelan. Berirama. Seperti sesuatu yang sudah ia lakukan setiap hari selama dua puluh satu tahun.Kukuh berdiri di depan lapak itu. Tidak langsung bicara. Hanya berdiri. Menatap.Sari Wulan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang mengerikan. Tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tidak ada gemetar di tangannya. Tidak ada kegelisahan di cara ia duduk atau berdiri atau menumbuk kunyit.Hanya ketenangan.Ketenangan yang berbeda. Bukan ketenangan seseorang yang tidak tahu. Bukan ketenangan seseorang yang tidak peduli. Ketenangan seseorang yang sudah tahu dan sudah memutuskan untuk tidak melawan."Mas dokte

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 535

    "Kuh, kau lihat ini."Bella berdiri di depan lemari arsip Puskesdes. Pintu lemari terbuka. Tangannya memegang sebuah buku besar. Sampulnya sudah pudar. Jilidnya sudah longgar. Seperti buku yang sudah terlalu sering dibuka dan ditutup oleh terlalu banyak tangan selama terlalu banyak tahun.Kukuh berjalan mendekat. "Apa?""Buku catatan kelahiran." Bella menggeser buku itu ke meja. Membuka halaman pertama. "Aku lagi nyari data pasien lama. Dan aku nemu ini di rak paling belakang. Di belakang buku register yang kosong."Kukuh menatap buku itu. Menatap halaman yang terbuka. Dan mengernyit.Catatan kelahiran. Normal. Nama bayi. Tanggal lahir. Jenis kelamin. Berat badan. Nama ibu. Nama ayah. Semua standar. Semua biasa.Tapi ada satu kolom tambahan.Kolom yang tidak ada di catatan kelahiran mana pun yang pernah Kukuh lihat. Kolom yang tidak ada di buku kedokteran mana pun. Kolom yang tidak seharusnya ada di fasilitas kesehatan modern.Neptu."Apa itu?" tanya Kukuh. Meskipun ia sudah tahu. Mes

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 3

    "Bagaimana keputusanmu?"Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status