Teilen

Bab 6

last update Veröffentlichungsdatum: 08.04.2026 22:59:02

Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.

Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura-pura menjadi manusia lemah. Ia harus menyembunyikan fakta bahwa setiap kali duri tanaman mengoyak tangannya, luka itu akan menutup rapat tanpa bekas dalam hitungan detik .

Kamis sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga pekat. Kukuh baru saja menyandarkan sapunya ketika Supri, sopir senior keluarga, berlari menghampirinya dengan napas memburu. Wajah pria tua itu pucat pasi.

Ia menyodorkan layar ponsel yang menampilkan sebuah titik lokasi di peta. "Kuh, temani aku sekarang. Kita harus antar barang ke titik ini," bisik Supri tegang . Lokasinya berada di pelosok hutan pedalaman Jawa Barat, sangat jauh dari peradaban.

Kukuh mengernyit bingung. "Boleh saya keluar gerbang, Pak? Di kontrak saya, melangkah ke jalan raya tanpa pengawalan bisa dihukum berat.".

Supri mendengus panik, melirik ke kiri dan kanan seolah takut bayangan pohon ikut menguping. "Kontrakmu itu cuma kertas sampah kalau Eyang Putri sudah bersabda, Le! Beliau sendiri yang menitahkan kamu ikut menemaniku malam ini!".

Gerakan tangan Kukuh terhenti. "Eyang Putri? Siapa itu?".

Supri menelan ludah, suaranya bergetar hebat. "Nyai Raras Trenggono. Sosok paling tua dan paling sakti di klan ini. Beliau memang lumpuh dan dikurung di kamar utama, tapi telinga gaibnya menempel di setiap inci dinding rumah ini! Kalau beliau bilang berangkat, Tuan Adiwangsa sekalipun hanya berani sujud dan patuh!".

Mendengar nama legendaris itu, bulu kuduk Kukuh meremang sekilas. Mengapa monster sekelas Eyang Putri tiba-tiba menaruh perhatian pada tukang sapu sepertinya?.

Tepat pukul lima sore, sebuah SUV mewah berwarna hitam meluncur keluar dari gerbang besi Aji Saka. Supri mengemudi dengan tubuh kaku, sementara Kukuh duduk tenang di kursi penumpang. Di bagasi belakang mereka, teronggok sebuah peti kayu jati kecil yang dibalut beludru hitam. Peti kiriman dari kamar Eyang Putri .

Namun, baru dua kilometer mobil mewah itu memasuki jalan tol, sebuah keanehan besar terjadi.

Supri tiba-tiba mengendurkan cengkeramannya pada kemudi. Wajahnya yang tegang berangsur-angsur digantikan oleh kebingungan yang luar biasa. Ia menginjak pedal gas, dan mesin mobil itu meluncur membelah angin dengan sangat mulus.

"Aneh tenan," gumam Supri tak percaya, melirik kaca spion berulang kali.

"Mobilnya rusak, Pak?" tanya Kukuh santai.

"Bukan rusak, Le. Malah kelewat waras!" sahut Supri dengan nada takjub.

Ini tidak masuk akal! batin Supri berteriak keheranan. Biasanya, kalau aku disuruh mengantar paket kiriman dari Eyang Putri, setir mobil ini rasanya seberat menarik batu berton-ton! Udara di dalam kabin akan bau anyir darah, membuat dada sesak, seolah ada iblis yang bernapas tepat di tengkukku!.

Supri menatap Kukuh dari sudut matanya. "Tapi sore ini... rasanya enteng sekali. Hawanya bersih dan segar.".

"Mungkin karena cuacanya cerah, Pak. Jadi bawanya lebih santai," kilah Kukuh sambil tersenyum tipis, sengaja menyembunyikan identitas aslinya.

Supri menggeleng tegas. Ia bukan orang bodoh. Puluhan tahun bekerja untuk keluarga pengguna ilmu hitam membuatnya peka.

"Bukan cuaca, Le. Ini karena kamu." Supri menelan ludah, menatap pemuda miskin di sebelahnya dengan rasa hormat yang baru tumbuh. "Kamu itu... punya tameng gaib tingkat tinggi. Entitas iblis apa pun yang ada di bagasi belakang sana... ketakutan setengah mati untuk unjuk gigi kalau ada kamu di sini!".

Kukuh hanya diam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang semakin gelap. Di tangannya, kekuatan murni Rajah Getih mengalir diam-diam, menundukkan segala aura jahat tanpa perlu ia pamerkan. Perjalanan yang seharusnya menjadi rute neraka bagi Supri, kini terasa sedamai piknik keluarga.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 10

    Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eyang Putri mereka! .Di tengah gelimang harta para bangsawan itu, Kukuh berdiri di sudut. Ia memakai seragam pelayan hitam putih, memegang nampan perak berisi gelas kotor . Di atas kertas ia adalah suami Ratih, tapi di ruangan ini ia tak lebih dari babu yang membersihkan sisa makanan .Handoko menenggak anggurnya dengan dada membusung. Mengingat kejadian tadi siang, darah arogannya mendidih. Ia sengaja mengeraskan suara agar seisi ruangan mendengarnya."Tante Dian!" panggil Handoko licik, menunjuk lurus ke arah Kukuh. "Aku benar-benar mual! Bagaimana bisa perempuan sekelas Ratih bersanding dengan gembel ini?! Ini penghinaan kasta, Tante!" .Ruangan mendadak senyap. Semua bangsawan menatap pemu

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 9

    Sisa-sisa abu keemasan dari tubuh Prabu Anom telah lenyap ditelan udara malam, namun energi suci yang ditinggalkannya masih menggetarkan ruangan itu. Hawa busuk yang selama puluhan tahun mencekik bangunan itu telah lenyap tak berbekas.Ujang, penjaga gaib yang kesaktiannya sangat ditakuti, kini beringsut maju. Ia meraih ujung sepatu bot karet Kukuh yang kumal dan menundukkan dahinya hingga mencium lantai kayu! ."Tuan Muda," isak Ujang, suaranya bergetar oleh kesetiaan mutlak. "Sesuai titah terakhir Gusti Prabu, raga dan nyawa hamba kini adalah tameng Anda. Izinkan hamba mengikuti Anda ke ibu kota!".Kukuh buru-buru menarik kakinya. Perutnya mulas. Sepanjang hidupnya ia hanya diinjak-injak, tiba-tiba disembah oleh ahli ilmu gaib membuatnya merinding ."Berdiri, Pak Ujang!" perintah Kukuh sambil memegang bahu pria tua itu. "Bapak tidak usah ikut ke Jakarta. Saya di sana cuma kuli bersih-bersih. Kalau tiba-tiba punya pengawal, identitas saya terbongkar!" .Ujang menggeleng keras, rahang

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 8

    Air mata pria tua itu mengalir membasahi wajah keriputnya. Ia terisak penuh haru, melepaskan penderitaan tak terbayangkan yang telah menyiksanya selama puluhan tahun .Di depan ranjang, Kukuh masih bersujud kaku, terus memainkan perannya sebagai pemuda desa yang panik . Sementara itu, Supri mematung seperti orang bodoh. Mulut sopir tua itu terbuka lebar. Logikanya benar-benar hancur lebur!Bagaimana mungkin?! Darah seorang OB rendahan bisa menghancurkan kutukan tingkat tinggi keluarga Aji Saka?! Siapa sebenarnya anak ini?! batin Supri menjerit histeris .Hanya dalam hitungan menit, keajaiban gaib terjadi. Bau busuk daging mati yang selama ini mencekik ruangan itu lenyap tak berbekas! Sebagai gantinya, udara dipenuhi aroma tanah basah dan semerbak bunga kantil murni yang sangat menenangkan—ini adalah wujud dari Rajah Wangi yang sesungguhnya."Bangunlah... kalian berdua," ucap pria tua itu dengan suara jernih dan berwibawa. "Duduklah. Biar mata tuaku ini melihat siapa pahlawan yang diki

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" ."Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kab

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura-pura menjadi manusia lemah. Ia harus menyembunyikan fakta bahwa setiap kali duri tanaman mengoyak tangannya, luka itu akan menutup rapat tanpa bekas dalam hitungan detik .Kamis sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga pekat. Kukuh baru saja menyandarkan sapunya ketika Supri, sopir senior keluarga, berlari menghampirinya dengan napas memburu. Wajah pria tua itu pucat pasi.Ia menyodorkan layar ponsel yang menampilkan sebuah titik lokasi di peta. "Kuh, temani aku sekarang. Kita harus antar barang ke titik ini," bisik Supri tegang . Lokasinya berada di pelosok hutan pedalaman Jawa Barat, sangat jauh dari peradaban.Kukuh mengernyit bingung. "Boleh saya keluar gerbang, Pak? Di kontrak say

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul karung beras puluhan kilo, mengupas berkeranjang-keranjang bawang, dan mengepel lantai marmer hingga mengilap. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas, pemuda itu adalah suami sah sang pewaris tahta. Di ruangan ini, ia adalah kasta terendah.Semua pekerjaannya diawasi ketat oleh Pak Rustam, kepala juru masak bertubuh gempal yang sombongnya selangit.Dasar gembel bau selokan, maki Rustam dalam hati. Beraninya sampah dari kantor pusat masuk ke dapur eklsklusifku! Akan kubuat dia cacat supaya tahu diri! ."Heh, Bocah Miskin! Matamu buta?!" bentak Rustam parau, suaranya nyaris mengalahkan desis minyak panas. "Air di kuali raksasa itu sudah mendidih! Angkat sekarang! Nyonya Dian benci teh yang d

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status