LOGINTujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.
Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura-pura menjadi manusia lemah. Ia harus menyembunyikan fakta bahwa setiap kali duri tanaman mengoyak tangannya, luka itu akan menutup rapat tanpa bekas dalam hitungan detik .
Kamis sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga pekat. Kukuh baru saja menyandarkan sapunya ketika Supri, sopir senior keluarga, berlari menghampirinya dengan napas memburu. Wajah pria tua itu pucat pasi.
Ia menyodorkan layar ponsel yang menampilkan sebuah titik lokasi di peta. "Kuh, temani aku sekarang. Kita harus antar barang ke titik ini," bisik Supri tegang . Lokasinya berada di pelosok hutan pedalaman Jawa Barat, sangat jauh dari peradaban.
Kukuh mengernyit bingung. "Boleh saya keluar gerbang, Pak? Di kontrak saya, melangkah ke jalan raya tanpa pengawalan bisa dihukum berat.".
Supri mendengus panik, melirik ke kiri dan kanan seolah takut bayangan pohon ikut menguping. "Kontrakmu itu cuma kertas sampah kalau Eyang Putri sudah bersabda, Le! Beliau sendiri yang menitahkan kamu ikut menemaniku malam ini!".
Gerakan tangan Kukuh terhenti. "Eyang Putri? Siapa itu?".
Supri menelan ludah, suaranya bergetar hebat. "Nyai Raras Trenggono. Sosok paling tua dan paling sakti di klan ini. Beliau memang lumpuh dan dikurung di kamar utama, tapi telinga gaibnya menempel di setiap inci dinding rumah ini! Kalau beliau bilang berangkat, Tuan Adiwangsa sekalipun hanya berani sujud dan patuh!".
Mendengar nama legendaris itu, bulu kuduk Kukuh meremang sekilas. Mengapa monster sekelas Eyang Putri tiba-tiba menaruh perhatian pada tukang sapu sepertinya?.
Tepat pukul lima sore, sebuah SUV mewah berwarna hitam meluncur keluar dari gerbang besi Aji Saka. Supri mengemudi dengan tubuh kaku, sementara Kukuh duduk tenang di kursi penumpang. Di bagasi belakang mereka, teronggok sebuah peti kayu jati kecil yang dibalut beludru hitam. Peti kiriman dari kamar Eyang Putri .
Namun, baru dua kilometer mobil mewah itu memasuki jalan tol, sebuah keanehan besar terjadi.
Supri tiba-tiba mengendurkan cengkeramannya pada kemudi. Wajahnya yang tegang berangsur-angsur digantikan oleh kebingungan yang luar biasa. Ia menginjak pedal gas, dan mesin mobil itu meluncur membelah angin dengan sangat mulus.
"Aneh tenan," gumam Supri tak percaya, melirik kaca spion berulang kali.
"Mobilnya rusak, Pak?" tanya Kukuh santai.
"Bukan rusak, Le. Malah kelewat waras!" sahut Supri dengan nada takjub.
Ini tidak masuk akal! batin Supri berteriak keheranan. Biasanya, kalau aku disuruh mengantar paket kiriman dari Eyang Putri, setir mobil ini rasanya seberat menarik batu berton-ton! Udara di dalam kabin akan bau anyir darah, membuat dada sesak, seolah ada iblis yang bernapas tepat di tengkukku!.
Supri menatap Kukuh dari sudut matanya. "Tapi sore ini... rasanya enteng sekali. Hawanya bersih dan segar.".
"Mungkin karena cuacanya cerah, Pak. Jadi bawanya lebih santai," kilah Kukuh sambil tersenyum tipis, sengaja menyembunyikan identitas aslinya.
Supri menggeleng tegas. Ia bukan orang bodoh. Puluhan tahun bekerja untuk keluarga pengguna ilmu hitam membuatnya peka.
"Bukan cuaca, Le. Ini karena kamu." Supri menelan ludah, menatap pemuda miskin di sebelahnya dengan rasa hormat yang baru tumbuh. "Kamu itu... punya tameng gaib tingkat tinggi. Entitas iblis apa pun yang ada di bagasi belakang sana... ketakutan setengah mati untuk unjuk gigi kalau ada kamu di sini!".
Kukuh hanya diam. Ia menatap lurus ke depan, ke arah jalanan yang semakin gelap. Di tangannya, kekuatan murni Rajah Getih mengalir diam-diam, menundukkan segala aura jahat tanpa perlu ia pamerkan. Perjalanan yang seharusnya menjadi rute neraka bagi Supri, kini terasa sedamai piknik keluarga.
Mendapat cemoohan dari Widya dan Sadewa, Kukuh sama sekali tidak terpancing emosi. Wajahnya tetap tenang, menganggap obrolan ini tak lebih dari sekadar angin lalu."Tapi kan walaupun harganya tidak seberapa, yang penting fungsinya cocok dan bisa menambah kecantikan Ratih," balas Kukuh dengan nada yang sangat rasional. "Barang yang bagus tidak selalu harus diukur dari deretan angka nol di label harganya."Widya memutar bola matanya malas, menghela napas panjang seakan sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti dunia nyata."Ya, mau gimana lagi. Memang sulit bicara dengan orang dari kelas kayak kamu, Kuh," balas Widya dengan nada merendahkan yang tak lagi ditutup-tutupi. "Kan kalau kamu belikan Ratih perhiasan yang lumayan harganya, itu bisa menambah value Ratih di mata orang lain selain mengandalkan kecantikannya saja. Dan lagi, Ratih jadi terhindar dari ejekan teman-teman sosialita kalau dia menggunakan perhiasan mewah. Di lingkungan kami, penampilan adalah segalanya."Kuk
Mendengar estimasi harga yang diucapkan Robert, Ratih sama sekali tidak bergeming. Wajah cantiknya tetap tenang, seolah angka tujuh ratus miliar itu hanyalah nominal biasa baginya."Saya rasa, kalung ini tidak akan pernah saya jual, Pak Robert," ucap Ratih dengan senyum simpul yang sopan namun final."Saya sangat memahami keputusan Nona. Pusaka sejati memang selayaknya dijaga, bukan diperjualbelikan," balas Robert penuh pengertian. Pria paruh baya itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berwarna emas hitam."Namun, jika Nona berkenan, ini adalah kartu nama pribadi saya," ucap Robert seraya menyerahkan kartu itu dengan kedua tangannya langsung kepada Ratih, benar-benar mengabaikan eksistensi Widya dan Sadewa yang masih berdiri mematung layaknya patung bernapas di sebelahnya. "Mungkin di lain waktu Nona berubah pikiran, atau Nona membutuhkan jasa kurasi untuk koleksi pribadi Nona yang lain, silakan langsung menghubungi saya kapan pun."Ratih menerima kart
(Sepertinya pria ini benar-benar tahu seberapa berharganya benda ini. Pantas saja dia bisa menduduki posisi sebagai ketua appraiser di pameran bertaraf internasional ini,) batin Ratih. Ia memandangi Robert dengan tatapan menilai, mengakui kejelian mata pria paruh baya tersebut."Bolehkah, Nona? Saya mohon, izinkan saya melihatnya walau hanya sebentar saja," pinta Robert dengan nada yang lebih mendesak. Ia bahkan mengabaikan keberadaan cincin berlian kuning yang masih terpasang di jari manis Ratih."Baiklah," ucap Ratih santai. Dengan gerakan anggun, ia mengulurkan tangan kirinya agar pria itu bisa melihat lilitan logam putih tersebut lebih jelas.Robert sedikit mencondongkan tubuhnya. Begitu matanya menangkap detail ukiran mikroskopis dan pendaran aura magis yang memancar dari kalung emas putih itu, matanya langsung terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, dan napasnya tertahan."Begitu sempurna... Indah sekali..." gumam Robert pelan, nyaris seperti orang yang sedang terhipnotis. "
Mendengar sindiran tajam dari Widya dan Sadewa, ekspresi Ratih sama sekali tidak berubah. Gadis bermata abu-abu itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang justru membuat ejekan mereka terasa tak berarti."Aku bisa beli sendiri kok, Wid," balas Ratih dengan nada tenang yang mematikan. "Lagipula, aku juga sudah diberikan kalung yang jauh lebih berharga daripada kebanyakan perhiasan yang ada di pameran ini."Sambil berkata demikian, Ratih mengangkat sedikit lengan kirinya. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah kalung emas putih berdesain kuno yang sengaja ia lilitkan agar berfungsi sebagai gelang. Itu adalah pusaka pelindung dari Eyang Bayu Manik Waja yang diberikan oleh Kukuh kepadanya beberapa waktu lalu.Sadewa memicingkan matanya, menatap lilitan logam putih di tangan Ratih dengan kening berkerut. Setelah mengamatinya selama beberapa detik, tawa meremehkan lolos dari bibir pria itu."Itu... kok kayak kalung mainan ya, Tih?" cibir Sadewa tanpa basa-basi, matanya meman
"Ayuk, Tih, kita lihat pameran kalung di sebelah sana," ajak Widya dengan antusias, tangannya menunjuk ke arah deretan etalase bercahaya di bagian tengah aula."Boleh, ayuk, Wid. Siapa tahu ada yang bagus dan cocok," balas Ratih.Sebelum melangkah pergi, Ratih menoleh ke arah Kukuh yang masih berdiri santai mengamati sekeliling. "Kuh, aku mau lihat-lihat di sebelah sana dulu, ya. Kamu terserah mau lihat-lihat di mana pun, keliling saja dulu.""Oke, siap," balas Kukuh dengan senyum simpul. Ia memang lebih suka berkeliling sendiri mencari barang antik atau batuan yang memancarkan aura khusus, daripada harus terjebak di tengah obrolan sosialita. Kukuh pun melangkah ke arah deretan jam tangan dan pusaka, berpisah arah dengan Ratih.Akhirnya, Ratih, Widya, dan Sadewa berjalan menuju area pameran perhiasan kalung high-end."Ehhh, Tih! Ini bagus banget kalungnya!" seru Widya begitu matanya tertuju pada sebuah manekin berlapis beludru hitam. "Lihat deh, liontinnya pakai sapphire warna biru be
Setelah membelah kemacetan Jakarta yang terik selama satu setengah jam, mobil MPV mewah yang dikemudikan Pak Supri akhirnya perlahan memperlambat lajunya. Mobil itu memasuki jalur khusus dan berhenti tepat di depan lobi mewah yang menjadi pintu masuk VIP pameran perhiasan mewah di JIExpo Kemayoran."Sudah sampai, Non," ucap Pak Supri seraya memutar kemudi dan menghentikan mobil dengan halus.Ratih membetulkan posisi tas tangannya, lalu menoleh ke arah Kukuh yang duduk di depan. "Ayo, Kuh, turun. Nanti di dalam aku mau lihat-lihat sendiri dulu. Kamu nggak perlu terus-terusan mengikutiku, nggak apa-apa. Kamu juga bisa bebas melihat-lihat perhiasan yang dipamerkan di sana.""Oke, Tih," jawab Kukuh santai.Mereka berdua melangkah turun dari mobil, meninggalkan Pak Supri yang langsung memarkirkan kendaraan. Kukuh berjalan di samping Ratih, penampilannya yang hanya mengenakan kemeja hitam polos dan celana chinos krem terlihat sangat kasual dan kontras di antara para tamu VIP lain yang datan







