Home / Romansa / OBSESI CINTA TUAN MUDA / Bab 1 Gadis Expired

Share

OBSESI CINTA TUAN MUDA
OBSESI CINTA TUAN MUDA
Author: Yuni Masrifah

Bab 1 Gadis Expired

last update Last Updated: 2025-08-27 10:51:22

“Uh! Lebih cepat lagi, Sayang!”

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, suara itu, bayangan itu, kenapa selalu berputar di kepalaku?

Adegan panas yang dilakukan dua sejoli di ruang makan, tak sengaja kepergok olehku saat aku hendak mengambil air minum tengah malam. Yeah, siapa lagi kalau bukan ayah dan ibu tiriku? Sial, seperti tidak ada tempat lain saja.

Di bawah terik matahari, aku melangkah menyusuri jalan. Membawa uang senilai 100 ribu. Namun, lamunanku tebuyarkan oleh pemandangan yang membuat jantungku nyaris melompat dari tempatnya.

“Eh-eh, Dek! Awas!”

Aku tidak sengaja melihat seorang anak remaja laki-laki, perkiraanku anak itu masih duduk di bangku SMP. Dia berjalan sambil melamun menyeberangi jalan yang sedang ramai kendaraan.

Raut wajah yang ditunjukkan tampak kacau. Aku yakin, anak itu sedang mengalami masalah.

Aku berlari sekuat tenaga, demi menyelamatkan anak itu. Hingga akhirnya, sedetik kemudian sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, setelah aku berhasil menarik tangan anak itu ke pinggir jalan.

Bruk!

Tubuh anak itu menimpa tubuhku. Hingga aku terbaring di trotoar. Rasa sakit begitu menghentak di tubuhku. Pandanganku nyaris gelap. Apakah aku akan mati? Ah ternyata tidak, aku masih bisa menguasai kesadaran.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku, susah payah aku bangun.

Anak itu menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku,” ucapnya.

“Sama-sama, lain kali kamu hati-hati, ya. Kalau jalan jangan sambil melamun. Untung saja kamu tidak sampai tertabrak,” sahutku.

“Aku melamun karena sedang mengalami masalah. Aku membutuhkan uang, ibuku sakit, ayahku tidak peduli. Sungguh, aku sangat membutuhkan uang,” jawabnya lesu.

Aku melirik uang yang aku pegang. Aku dilema, jika aku memberikan uang ini, bagaimana dengan obat yang dipesan Maurin? Pasti dia akan sangat marah. Namun, melihat keadaan anak ini, sepertinya dia lebih membutuhkan.

“Ini ada sedikit uang buat kamu. Semoga bermanfaat, ya. Maaf cuma segini,” ucapku, akhirnya memberikan uang itu setelah melewati segala pertimbangan.

“Terima kasih … siapa namamu?” tanyanya.

“Aku Ariana!”

Anak itu mendekatiku lalu menggapai wajahku. Mengusap wajahku begitu lama, aku heran kenapa dia melakukan hal itu padaku.

Tanpa permisi anak itu tiba-tiba lari menjauh. Bahkan dia sama sekali tidak menyebutkan namanya. Yang membuatku heran, kenapa anak itu berlari ke arah tukang duplikat kunci?

Aku memutuskan pulang dengan berjalan kaki.

Terik panas matahari begitu menyengat. Kulitku yang tidak begitu putih ini, terasa terbakar di bawah paparan. Namun, itu bukan hal yang menakutkan, dibanding melihat tatapan tajam dari ayah dan adik tiriku.

Ya, kini mereka menyambutku dengan mata membesar. Entah terbuat dari apa bola mata mereka, sehingga mereka selalu betah menatapku tajam.

“Kenapa tanganmu kosong?” tanya Johan, ayahku.

Aku berdiam menunduk, bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi.

“Ta-tadi … uangnya hilang,” jawabku berdusta.

Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa mereka akan mengurungku lagi seperti waktu itu, setelah aku menolong seorang tunawisma yang tengah kelaparan.

“Jadi obatku nggak jadi kamu beli?” tanya Maurin.

Aku hanya mengangguk pasrah. Dengusan kasar terdengar dari keduanya. Ya … ya … ya … ayah dan anak tiri yang kompak. Sementara aku … seperti orang lain di rumah ini.

Plak!

Sebuah tamparan melayang di pipiku. Sudah terbiasa, tidak sakit cenderung seperti gelitikan kecil.

“Kau anak yang ceroboh. Selalu saja membuat masalah. Lihat adikmu, dia kesakitan,” cetus ayah.

Dari dalam rumah, wanita perebut ayahku muncul. Susan, nama yang tidak aku sukai sejak kecil.

“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut? Apa Ariana bikin masalah lagi?” tanya Susan.

Yeah … aku memanggilnya Susan, tanpa embel-embel mama, ibu, atau pun mami, bagiku dia hanya wanita perebut ayahku. Ibuku meninggal waktu aku masih kecil, karena syok dan terkena serangan jantung, melihat perselingkuhan mereka di dalam kamarnya sendiri. Sakit, aku hanya bisa menjerit dalam hati. Andai ibuku masih hidup, aku ingin dia membawaku pergi jauh dari neraka ini.

“Ariana, Bu. Dia menghilangkan uang untuk obatku. Kakiku sakit, Bu. Bisa-bisa bisulku semakin membesar. Aku bisa malu sama teman-temanku kalau mereka tahu,” jawab Maurin.

Aku menahan tawa. Ingin sekali aku mengejeknya. Cantik kok bisulan, apa … karena dia selalu menghabiskan jatah telurku?

Menyadari aku menahan tawa, dengan teganya Susan menyeretku ke gudang. Ya, gudang adalah tempat tidur keduaku dari kecil.

“Kau menertawakan penderitaan putriku? Itu artinya kau tidur di gudang lagi!”

Ayah? Jangan ditanya … di saat pria lain berlomba-lomba menunjukkan cintanya kepada anak. Ironis, ayahku justru mendukung tindakan wanita perebut itu. Susan … Susan, sungguh hebat, kan? Wanita itu berhasil mencuci otak ayahku, untuk membenciku, anak kandungnya.

Beberapa tahun kemudian, hari ini aku genap berusia 30 tahun. Tak ada perayaan atau apa pun. Sementara Maurin berusia 25 tahun. Kami bekerja di perusahaan yang sama.

“Gadis expired!” seru Maurin.

Wanita menyebalkan itu selalu mengejekku dengan menyebutku gadis expired. Em … bisa dibilang perawan tua. Menyedihkan, bukan?

Aku yang sedang berjalan, menoleh.

“Tolong beliin aku ayam geprek, dong!” titah Maurin.

Aku menyilangkan kedua tanganku.

“Apa … tangan dan kakimu buntung?” tanyaku.

Pertanyaan yang nyeleneh, justru membuat Maurin merasa kesal. Sampai setua ini, aku dan adik tiriku tidak pernah akur.

“Kau … beraninya!” Tangan Maurin telah berada di udara.

“Well … well … well! Mau menamparku? Silahkan! Lihat di pojok atas!” tunjukku ke arah CCTV.

Maurin terlihat kesal, begitu pun dengan temannya.

“Gadis expired, pantas saja tidak ada yang mau denganmu. Sudah tua, menyebalkan, dan … ehem, jelek pula. Aku rasa … semua laki-laki akan berpikir ribuan kali untuk mau sama kamu,” cetus Siska, teman laknat Maurin.

Masa bodoh, Siska mau bilang apa. Yang jelas, aku tidak pernah meminta makan padanya.

“Sudah menghinanya? Sudah, ya! Aku mau makan siang dulu. Pacar aku sedang nunggu di kantin. Bye!”

Aku meninggalkan mereka yang berdiri menganga. Kenapa? Ada yang aneh? Apakah salah jika aku memiliki seorang pacar?

Di kantin, Andra, kekasihku tengah menungguku sambil melambaikan tangan.

Tidak tampan. Namun, jabatannya sebagai manajer, sudah cukup bagiku. Aku segera menghampirinya.

“Lama nunggu?” tanyaku.

“Lumayan! Em … Ariana, nanti malam aku ke rumah kamu sama orang tuaku. Aku mau–”

“Melamarku? Kau serius?” Aku menyela.

Tidak menyangka, aku akan melepas gelar gadis expired.

“Em … aku–”

“Iya, aku ngerti kok. Aku tunggu nanti malam. Ya sudah kita makan dulu. Nanti keburu jam masuk!” potongku.

Aku bahagia, bahkan beberapa kali aku salah tingkah di depan Andra. Lelaki itu hanya diam. Sepertinya dia grogi.

“Mana Andra? Kenapa jam segini belum datang?” tanya Maurin.

Aku yang akan dilamar. Namun, Maurin yang seperti cacing kepanasan. Malam ini, aku dan keluargaku, em … lebih tepatnya keluarga Maurin, tengah menunggu kedatangan Andra. Rencananya kami akan mengajaknya untuk makan malam bersama, setelah Andra melamarku.

“Kau serius, pacar kamu seorang manajer?” tanya Susan.

Aku bergeming, sungguh, aku sangat malas menjawab pertanyaannya.

Tak berselang lama, Andra dan keluarganya datang. Aku sangat bahagia. Ayah pun mempersilahkan mereka masuk.

“Jadi … apakah benar, Andra akan melamar Ariana?” tanya ayah.

Kedua orang tua Andra saling melempar pandang. Dahinya saling mengernyit.

“Ehem … jadi begini, Om … sepertinya ada kesalahpahaman. Kedatangan kami ke sini, aku bermaksud ingin melamar Maurin!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yuni Masrifah
Halo Readers ... ini buku baruku, ya. semoga terhibur (^_^)
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 55 Sold Out

    “Uh!” Aku membeliak, kudengar suara lenguhan sepasang pria dan wanita. Aku menjadi malu sendiri. Aku memang belum menikah. Namun, aku pernah mendengar suara itu ketika memergoki ayahku dan Susan melakukannya di ruang makan. Kulihat Galang tersenyum kecil melihat reaksiku ini. Kudengar kembali apa yang terjadi setelahnya. (Ayah, aku sudah menyerahkan tubuhku untukmu. Sesuai janjimu, jadikan aku pewaris semua hartamu satu-satunya. Ibuku sudah meninggal, dan Ayah hanya bisa mengandalkanku untuk melepaskan hasrat Ayah. Jadi, timbal baliknya, Ayah harus segera menepati janjimu) Aku membeliak, kudengar suara wanita yang berbicara di rekaman itu seperti Alea. “Ehem! Kita pergi sekarang, jangan buang-buang waktu!” ajak Om Gani. Namun, aku bergeming, menunggu apa lagi yang ada di dalam rekaman tersebut. “Tunggu, Om!” cegahku. Aku mengacungkan sebelah tanganku ke udara. (Kamu tenang saja, Alea. Ayah pasti akan menjadikanmu pewarisku satu-satunya. Hanya saja kita harus bersembun

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 54 Alat Sadap

    “Apa itu?” tunjuk Hengki ke arah sudut ruangan.Aku menoleh ke arah yang ditunjuk. Hengki beranjak, membuat kami, aku, Alea dan Om Gani bingung dengan apa yang ditunjuk oleh Hengki.“Alat sadap!” seru Hengki, dia mengambil benda kecil dari bawah meja kecil tempat menaruh vas bunga. Mata Hengki benar-benar teliti, padahal kami saja tidak ada yang menyadarinya.Alea dan Om Gani seketika terhenyak, kulihat tangan Alea meremas lengan Om Gani.“Ayah, gimana ini?” ucap Alea lirih.“Siapa yang melakukannya?” tanyaku.“Ehem … sepertinya ini perbuatan Galang. Dia telah mencium keberadaan kita tanpa kita sadari. Gawat! Kita harus melakukan sesuatu sebelum dia menemukan kita!” seru Om Gani. Dia menerka-nerka.Om Gani tampak ketakutan, padahal orang yang dimaksud adalah anak kandungnya sendiri. Namun, karena Galang tidak sebaik yang dipikirkan, membuatnya menjauh seperti ini dari Galang.“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Besar kemungkinan keberadaanku sudah tercium oleh Galang. Sia-sia

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 53 Menggali Informasi

    Aku mengernyitkan dahiku, kata-kata yang keluar dari mulut pria tua itu terdengar ambigu. Lantas apa yang akan dilakukan Alea, sehingga berhasil membuatku waspada?Tak berselang lama, Alea keluar dari kamar. Dia melihatku berdiri bersama Hengki. Alea mendekatiku, memelukku singkat.“Syukur kamu sudah sampai sini. Jangan lama-lama di luar, cepat masuk! Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu!” pinta Alea.“Sebentar, siapa dia?” tunjuk Alea, ke arah Hengki.Aku menoleh ke arah Hengki.“Em … dia Hengki, cucunya Harmani, pria tua yang pernah aku ceritakan padamu,” jawabku.Alea mengangguk, memperkenalkan diri. Lanjut kami masuk ke dalam rumah. Anehnya, cepat-cepat Alea mengunci pintu, setelah sebelumnya ia melihat keadaan sekitar.“Ariana, ini ayahku, Gani! Aku sudah tidak tinggal di kontrakan itu lagi. Jadi aku memutuskan tinggal di sini, mengontrak berdua bersamanya!” seru Alea. Aku menyalami ayahnya Alea.“Jadi … kamu sudah tahu siapa Galang?” tanya Alea.Aku mengangguk pelan. Sedih ras

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 52 Saling Kejar

    Aku terkesiap, jantungku berdetak hebat. Kuremas ujung bajuku, tubuhku kembali bergetar.Perlahan kepalaku memutar menoleh ke belakang. Mulut ini nyaris berteriak. Namun, urung ketika mata ini menangkap satu sosok yang cukup aku kenal, Hengki.Aku berdiri, berjalan mundur beberapa langkah.“Mau apa, kamu?” tanyaku.Hengki berjalan mengikuti langkah mundurku.“Aku ingin bicara denganmu, Ariana.” Aku menggelengkan kepala pelan.“Bukankah urusanku hanya dengan kakekmu? Dan kakekmu sudah meninggal. Jadi, aku rasa tidak ada lagi yang mesti dibicarakan. Soal apa yang diberikan oleh kakekmu pada ayahku dan Susan, minta balik pada mereka. Aku sama sekali tidak pernah menikmatinya barang sedikit pun!” ujarku.Tiba-tiba Hengki meraih tanganku. Aku berusaha menepis. Namun, tangannya cukup kuat menggenggam.“Tidak-tidak, bukan itu. Aku mencarimu karena ingin meminta maaf padamu atas nama kakekku. Permintaan maaf ini merupakan bagian dari wasiat mendiang kakekku di menit-menit dia akan meninggal.

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 51 Lari

    Tali yang kubuat ternyata masih kurang. Namun, jika aku sibuk mencari lagi benda yang bisa dijadikan tali, besar kemungkinan aku akan tertangkap lagi oleh Galang. Aku tidak bisa ke mana-mana dan akan terus terkurung di sini.Tidak-tidak, aku tidak bisa mengulur waktuku. Waktu yang kumiliki tidak banyak. Aku mulai memanjat pagar balkon.Walaupun kaki bergetar, aku tetap memantapkan diri untuk bisa turun ke bawah.“Aku harus bisa. Tuhan, tolong bantu aku!” Posisiku kali ini tengah bergelantung pada tali itu. Dengan kekuatan nekat, aku pun melakukannya. Namun, sial sekali, tali yang kusambung tidak cukup kuat untuk menahan tubuh ini. Tubuhku terhempas kuat.“Aaaa!”Tubuhku terhempas kasar menghantam rumput. Ya, aku masih beruntung jatuh di antara rerumputan. Memang sakit. Namun, itu tidak seberapa dibandingkan jika Galang mengetahui aku kabur. Itu lebih menakutkan.Dengan tertatih, aku berusaha berlari keluar. Kulihat pak Mono tengah berjaga di pos satpam. PR lagi bagiku, aku harus bisa

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 50 Ancaman

    Tubuhku terasa melayang, kakiku seakan tidak mampu lagi menopang tubuh ini.Ayah, dia memang bukan ayah yang baik untukku. Namun, dia tetap ayahku walau seburuk apa pun. Aku tidak mungkin tega membiarkan ayahku menggantikan posisi wanita yang ada di dalam foto itu.Aku memang benci ayah. Namun, aku bukan pembunuh seperti Galang.“Bagaimana, Ariana? Kau … masih ingin putus dariku? Semua keputusan ada di tangan kamu. Tinggal pilih saja salah satu, kita menikah atau nyawa ayahmu yang menjadi taruhan,” bisik Galang.Aku bergeming, rasa takut semakin menjadi. Aku menangis sesenggukan, tidak menyangka impian indahku bersama Galang, akan berujung sebuah ancaman yang begitu menakutkan.Entah apa yang akan terjadi jika aku menikah dengannya. Aku tidak bisa memastikan, nyawaku akan bertahan untuk berapa lama lagi.Aku merasa gelisah, napas pun rasanya seakan seperti bom waktu yang akan meledak kapan pun.“Jahat, kamu jahat, Galang!” rutukku.“Sssst! Jangan katakan itu, Ariana, aku tidak suka. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status