Share

Bab 26 Cemburu

last update Last Updated: 2025-09-28 10:38:32

Aku mengernyitkan dahi, menatap rumah yang begitu besar berhiaskan halaman yang luas, serta tanaman bunga yang sangat cantik dan terawat. Kupu-kupu banyak menghinggapi, menciptakan keindahan yang luar biasa.

Rumput hias hijau menyejukkan mata, terhampar luas begitu rapi dan enak dipandang. Menciptakan suasana menyegarkan bagi setiap mata yang memandangnya.

Tukang kebun tengah berkutat mempercantik tanaman. Seorang wanita yang aku perkirakan seumuran dengan Susan, tengah sibuk menyirami bunga-bu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 55 Sold Out

    “Uh!” Aku membeliak, kudengar suara lenguhan sepasang pria dan wanita. Aku menjadi malu sendiri. Aku memang belum menikah. Namun, aku pernah mendengar suara itu ketika memergoki ayahku dan Susan melakukannya di ruang makan. Kulihat Galang tersenyum kecil melihat reaksiku ini. Kudengar kembali apa yang terjadi setelahnya. (Ayah, aku sudah menyerahkan tubuhku untukmu. Sesuai janjimu, jadikan aku pewaris semua hartamu satu-satunya. Ibuku sudah meninggal, dan Ayah hanya bisa mengandalkanku untuk melepaskan hasrat Ayah. Jadi, timbal baliknya, Ayah harus segera menepati janjimu) Aku membeliak, kudengar suara wanita yang berbicara di rekaman itu seperti Alea. “Ehem! Kita pergi sekarang, jangan buang-buang waktu!” ajak Om Gani. Namun, aku bergeming, menunggu apa lagi yang ada di dalam rekaman tersebut. “Tunggu, Om!” cegahku. Aku mengacungkan sebelah tanganku ke udara. (Kamu tenang saja, Alea. Ayah pasti akan menjadikanmu pewarisku satu-satunya. Hanya saja kita harus bersembun

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 54 Alat Sadap

    “Apa itu?” tunjuk Hengki ke arah sudut ruangan.Aku menoleh ke arah yang ditunjuk. Hengki beranjak, membuat kami, aku, Alea dan Om Gani bingung dengan apa yang ditunjuk oleh Hengki.“Alat sadap!” seru Hengki, dia mengambil benda kecil dari bawah meja kecil tempat menaruh vas bunga. Mata Hengki benar-benar teliti, padahal kami saja tidak ada yang menyadarinya.Alea dan Om Gani seketika terhenyak, kulihat tangan Alea meremas lengan Om Gani.“Ayah, gimana ini?” ucap Alea lirih.“Siapa yang melakukannya?” tanyaku.“Ehem … sepertinya ini perbuatan Galang. Dia telah mencium keberadaan kita tanpa kita sadari. Gawat! Kita harus melakukan sesuatu sebelum dia menemukan kita!” seru Om Gani. Dia menerka-nerka.Om Gani tampak ketakutan, padahal orang yang dimaksud adalah anak kandungnya sendiri. Namun, karena Galang tidak sebaik yang dipikirkan, membuatnya menjauh seperti ini dari Galang.“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Besar kemungkinan keberadaanku sudah tercium oleh Galang. Sia-sia

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 53 Menggali Informasi

    Aku mengernyitkan dahiku, kata-kata yang keluar dari mulut pria tua itu terdengar ambigu. Lantas apa yang akan dilakukan Alea, sehingga berhasil membuatku waspada?Tak berselang lama, Alea keluar dari kamar. Dia melihatku berdiri bersama Hengki. Alea mendekatiku, memelukku singkat.“Syukur kamu sudah sampai sini. Jangan lama-lama di luar, cepat masuk! Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu!” pinta Alea.“Sebentar, siapa dia?” tunjuk Alea, ke arah Hengki.Aku menoleh ke arah Hengki.“Em … dia Hengki, cucunya Harmani, pria tua yang pernah aku ceritakan padamu,” jawabku.Alea mengangguk, memperkenalkan diri. Lanjut kami masuk ke dalam rumah. Anehnya, cepat-cepat Alea mengunci pintu, setelah sebelumnya ia melihat keadaan sekitar.“Ariana, ini ayahku, Gani! Aku sudah tidak tinggal di kontrakan itu lagi. Jadi aku memutuskan tinggal di sini, mengontrak berdua bersamanya!” seru Alea. Aku menyalami ayahnya Alea.“Jadi … kamu sudah tahu siapa Galang?” tanya Alea.Aku mengangguk pelan. Sedih ras

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 52 Saling Kejar

    Aku terkesiap, jantungku berdetak hebat. Kuremas ujung bajuku, tubuhku kembali bergetar.Perlahan kepalaku memutar menoleh ke belakang. Mulut ini nyaris berteriak. Namun, urung ketika mata ini menangkap satu sosok yang cukup aku kenal, Hengki.Aku berdiri, berjalan mundur beberapa langkah.“Mau apa, kamu?” tanyaku.Hengki berjalan mengikuti langkah mundurku.“Aku ingin bicara denganmu, Ariana.” Aku menggelengkan kepala pelan.“Bukankah urusanku hanya dengan kakekmu? Dan kakekmu sudah meninggal. Jadi, aku rasa tidak ada lagi yang mesti dibicarakan. Soal apa yang diberikan oleh kakekmu pada ayahku dan Susan, minta balik pada mereka. Aku sama sekali tidak pernah menikmatinya barang sedikit pun!” ujarku.Tiba-tiba Hengki meraih tanganku. Aku berusaha menepis. Namun, tangannya cukup kuat menggenggam.“Tidak-tidak, bukan itu. Aku mencarimu karena ingin meminta maaf padamu atas nama kakekku. Permintaan maaf ini merupakan bagian dari wasiat mendiang kakekku di menit-menit dia akan meninggal.

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 51 Lari

    Tali yang kubuat ternyata masih kurang. Namun, jika aku sibuk mencari lagi benda yang bisa dijadikan tali, besar kemungkinan aku akan tertangkap lagi oleh Galang. Aku tidak bisa ke mana-mana dan akan terus terkurung di sini.Tidak-tidak, aku tidak bisa mengulur waktuku. Waktu yang kumiliki tidak banyak. Aku mulai memanjat pagar balkon.Walaupun kaki bergetar, aku tetap memantapkan diri untuk bisa turun ke bawah.“Aku harus bisa. Tuhan, tolong bantu aku!” Posisiku kali ini tengah bergelantung pada tali itu. Dengan kekuatan nekat, aku pun melakukannya. Namun, sial sekali, tali yang kusambung tidak cukup kuat untuk menahan tubuh ini. Tubuhku terhempas kuat.“Aaaa!”Tubuhku terhempas kasar menghantam rumput. Ya, aku masih beruntung jatuh di antara rerumputan. Memang sakit. Namun, itu tidak seberapa dibandingkan jika Galang mengetahui aku kabur. Itu lebih menakutkan.Dengan tertatih, aku berusaha berlari keluar. Kulihat pak Mono tengah berjaga di pos satpam. PR lagi bagiku, aku harus bisa

  • OBSESI CINTA TUAN MUDA   Bab 50 Ancaman

    Tubuhku terasa melayang, kakiku seakan tidak mampu lagi menopang tubuh ini.Ayah, dia memang bukan ayah yang baik untukku. Namun, dia tetap ayahku walau seburuk apa pun. Aku tidak mungkin tega membiarkan ayahku menggantikan posisi wanita yang ada di dalam foto itu.Aku memang benci ayah. Namun, aku bukan pembunuh seperti Galang.“Bagaimana, Ariana? Kau … masih ingin putus dariku? Semua keputusan ada di tangan kamu. Tinggal pilih saja salah satu, kita menikah atau nyawa ayahmu yang menjadi taruhan,” bisik Galang.Aku bergeming, rasa takut semakin menjadi. Aku menangis sesenggukan, tidak menyangka impian indahku bersama Galang, akan berujung sebuah ancaman yang begitu menakutkan.Entah apa yang akan terjadi jika aku menikah dengannya. Aku tidak bisa memastikan, nyawaku akan bertahan untuk berapa lama lagi.Aku merasa gelisah, napas pun rasanya seakan seperti bom waktu yang akan meledak kapan pun.“Jahat, kamu jahat, Galang!” rutukku.“Sssst! Jangan katakan itu, Ariana, aku tidak suka. K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status