LOGINGairah yang tertahan di balik selendang sutra itu akhirnya mencapai titik didihnya. Kaelan melepaskan lilitan kain tipis yang membatasi kulit mereka, membiarkannya jatuh tak berdaya di atas rumput yang lembap. Ia menarik Vera agar bangkit sejenak, namun bukan untuk berdiri."Menungginglah, Sayang. Biarkan aku melihat warna malam ini di tubuhmu," bisik Kaelan dengan suara yang bergetar rendah, sarat akan otoritas yang memabukkan.Vera menuruti perintah itu tanpa ragu. Ia merangkak di atas kain putih yang kini sudah tidak lagi putih—melainkan sebuah kekacauan artistik dari noda cat biru, emas, dan merah tua yang masih basah. Vera memposisikan dirinya, menumpu berat tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang menekan kain, sementara pinggulnya terangkat tinggi, membelakangi Kaelan sepenuhnya.Kaelan berlutut di belakangnya. Matanya menggelap, menatap bagaimana lekuk tubuh Vera yang indah kini dihiasi coretan warna-warni yang mengkilap di bawah temaram lampu taman. Ia mengulur
Kain putih di bawah mereka bukan lagi hamparan kosong. Cairan cat berwarna emas, biru malam, dan merah tua telah bercampur dengan keringat, menciptakan pola abstrak yang mengotori kulit mereka. Kaelan terbaring dengan napas berat saat Vera perlahan menurunkan tubuhnya, menekan kejantanan suaminya yang sudah menuntut sejak tadi. Rasa dingin dari cat yang masih basah kontras dengan panas tubuh mereka yang membara.Vera mendesah panjang, kepalanya mendongak ke arah langit kelam saat ia merasakan kepenuhan itu kembali merenggut kesadarannya. Kaelan tidak membiarkan Vera bergerak sendirian; tangannya yang besar meraup kedua payudara Vera, meremasnya dengan presisi yang membuat Vera melengkungkan punggungnya. Kaelan menarik tubuh Vera agar lebih merunduk, lalu ia melumat salah satu puncaknya dengan haus. Lidahnya menari di sana, menyesap sisa cat emas yang sempat terpercik di kulit dada istrinya, mengubah rasa pahit kimiawi menjadi manisnya gairah murni."Kaelan... ahhh... jangan berhenti,"
Hawa malam yang mulai mendingin sama sekali tidak mampu memadamkan api yang berkobar di kursi lukis itu. Begitu langkah Alora benar-benar menghilang, Kaelan tidak lagi menahan diri. Ia meraup bibir Vera dengan lumatan yang jauh lebih menuntut, seolah ingin menghapus setiap sisa kemarahan Vera terhadap Sila dengan gairah murni.Tangan Kaelan yang besar merayap ke bawah gaun sutra Vera yang tipis, menyusuri paha istrinya yang halus hingga ia menemukan pusat kehangatan yang sudah sangat siap untuknya."Ahhh... Kaelan! Ssshh... mmmhh," desah Vera panjang, kepalanya terkulai di bahu suaminya.Vera mencengkeram kemeja hitam Kaelan, menariknya hingga beberapa kancing atasnya terlepas, memperlihatkan dada bidang suaminya yang berkilau oleh keringat tipis. Ia tidak mau kalah; Vera menggerakkan pinggulnya perlahan, bergesekan dengan kejantanan Kaelan yang menegang keras di bawah sana, menciptakan sensasi panas yang menyengat saraf mereka berdua."Kamu benar-benar ingin melakuk
Langit di atas Sterling Manor mulai menjingga, lalu perlahan menggelap menjadi ungu pekat. Di taman belakang, Vera masih mematung di depan kanvasnya. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gesekan kuas yang sesekali menggores kain. Vera tampak seperti pelukis yang sedang kerasukan; tubuhnya tegak, matanya fokus, dan gerakannya sangat presisi namun menyimpan amarah yang tertahan.Kaelan muncul dari balik pintu kaca besar. Ia melangkah tenang, tanpa suara. Tentu saja, ia sudah tahu tentang kunjungan tamu tak diundang itu dari laporan Marco. Tidak ada satu pun debu yang bergerak di Manor ini tanpa seizinnya, apalagi jika itu menyangkut Vera.Kaelan berhenti tepat di belakang istrinya. Ia tidak memanggil, tidak pula menyentuh. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan aura kehadirannya menyelimuti Vera.“Sayang, sudah malam,” bisik Kaelan pelan, suaranya halus seolah takut merusak mahakarya yang sedang dibuat istrinya.Vera tidak terkejut. Ia sudah merasakan kehadiran Kaelan sejak pria itu menap
Siang itu, Sterling Manor tampak tenang di bawah sinar matahari yang terik, hingga sebuah ketukan di pintu besar membuyarkan kesunyian. Seorang pelayan mengetuk pintu kamar utama, memberitahu Vera bahwa ada seorang tamu wanita yang bersikeras ingin menemuinya. Kaelan sedang tidak di rumah; pria itu sedang menepati janjinya membawa Alora ke pusat perbelanjaan untuk bermain.Vera melangkah keluar dari lift dengan keanggunan yang mutlak. Tatapannya datar, tanpa senyum yang menghias wajahnya yang cantik. Namun, saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk anggun di sofa ruang tamu, sudut bibir Vera terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.“Selamat siang, Nona?” sapa Vera.Ia berdiri tegak di tengah ruangan, tidak langsung duduk. Isyarat fisik yang jelas bahwa ia tidak benar-benar menyambut kedatangan tamu tak diundang ini sebagai teman.Wanita itu berdiri. Rambutnya hitam lurus, jatuh sempurna di bahunya. Pakaian yang ia kenakan memiliki potongan yang sangat mirip dengan
Kaelan tidak memberikan jeda sedikit pun. Setelah berpindah dari kamar mandi, ia langsung menarik Vera ke tengah ranjang yang luas.Ia menidurkan Vera dalam posisi menyamping, lalu ia merapatkan tubuhnya dari belakang—sebuah posisi spooning yang sangat intim dan tanpa celah. Dengan satu dorongan yang dalam, Kaelan kembali menyatu dengan Vera, membuat napas wanita itu tercekat seketika.Kaelan melingkarkan kedua lengannya yang kokoh di tubuh Vera, memeluk istrinya sangat erat dari belakang hingga dada bidangnya menempel sempurna pada punggung polos Vera. Kaki Vera melebar di atas sprei, memberikan ruang bagi Kaelan untuk terus bergerak, menekankan kejantanannya ke depan dengan sentakan-sentakan yang mantap dan berirama."Ahhh... Kaelan," desah Vera, kepalanya mendongak, merasakan bibir Kaelan mulai menghujani punggungnya dengan kecupan-kecupan panas yang basah.Kaelan terus menggenjot dengan ritme yang liar. Setiap dorongannya terasa begitu bertenaga, menyentak pusat kenikmatan Vera hi







