LOGINSetelah memastikan Alora masuk ke gedung sekolah dengan aman, Vera tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya membelah kemacetan kota menuju gedung pencakar langit. Begitu langkah kakinya yang beralaskan heels tinggi menyentuh lobi perusahaan, suasana seketika berubah formal dan penuh hormat. "Selamat siang, Bu Vera," sapa para karyawan di sepanjang koridor. Vera hanya memberikan anggukan kecil yang elegan, namun tatapannya tajam menyapu setiap sudut. Ia langsung menuju lantai galeri seni, tempat di mana karya-karya bernilai tinggi dipamerkan dan dipesan oleh para kolektor kelas dunia. "Bagaimana dengan pemesanan bulan ini?" tanya Vera langsung kepada Head of Gallery yang segera menghampirinya dengan tablet di tangan. "Semuanya lancar, Bu. Antusiasme kolektor sangat tinggi, bahkan keuntungan kita hampir melampaui target kuartal ini," lapor manajer tersebut dengan nada bangga. Vera mengangguk puas. Ia berjalan perlahan, memperhatikan beberapa seniman yang sedang fokus menggore
Cahaya matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik tirai kamar utama Sterling Manor. Vera merasakan beban kecil menindih sisi ranjangnya, diikuti suara tawa renyah yang selalu menjadi alarm alaminya setiap hari. Ia membuka mata perlahan, menemukan Alora sudah duduk manis dengan mata bulatnya yang berbinar.Vera melirik tubuhnya sendiri. Baju tidur satin. Ia tersenyum tipis mengingat siapa yang dengan telaten memakaikan kain itu setelah ia lemas tak berdaya semalam."Pagi, Mama..." sapa Alora ceria."Pagi, Darling. Kamu terlihat bersemangat sekali, ada yang terjadi?" tanya Vera sambil merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.Alora menggeleng cepat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Vera yang sudah sangat mengenal gerak-gerik putrinya segera mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada headboard ranjang."Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu, hm?"Alora menghirup napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Mama, Alora mau lanjut sekolah di Paris."Vera
Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b
Kaelan tidak lagi menunda. Dengan satu tangan mencengkeram kuat panggul Vera dan tangan lainnya menekan punggung istrinya ke matras, ia memajukan tubuhnya. Dalam satu dorongan yang dalam dan mantap, ia mengisi kekosongan yang sejak tadi menyiksa Vera. "Nghhh—Aah! Kaelan!" Vera memekik, kepalanya mendongak dengan mata terpejam rapat. Sensasi penuh yang tiba-tiba itu terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh sarafnya. Rasanya begitu padat, panas, dan menuntut. Kaelan tidak langsung bergerak. Ia membiarkan tubuh Vera beradaptasi dengan ukurannya, sementara ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera, menghirup aroma keringat dan gairah yang menguar dari kulit istrinya. "Sempit sekali... kamu menjepitku terlalu kuat, Sayang," geram Kaelan, suaranya parau dan bergetar tepat di telinga Vera. Vera tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa merintih, jemarinya mencengkeram sprei hingga kuku-kukunya memutih. Tubuhnya bergetar hebat. "Lebih... Kaelan... jangan berhenti di
Mata Vera terbuka perlahan. Kamar itu hanya diterangi cahaya lampu tidur yang redup, menciptakan bayangan panjang di dinding. Ia mengangkat tangannya ke udara, memainkan jemarinya seolah sedang merajut kegelapan, sebelum akhirnya pikirannya beralih pada pria yang mendengkur halus di sampingnya. Vera menyibakkan selimut sutra itu tanpa suara. Di bawah remang lampu, tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun terlihat berkilau. Ia menoleh pada Kaelan yang hanya mengenakan boxer hitam, tampak begitu tenang dalam tidurnya. "Malam, Sayang," bisik Vera parau. Ia bergerak lincah, naik ke atas perut Kaelan yang keras. Jemarinya yang lentur menyelinap masuk ke balik karet celana suaminya, langsung menemukan kejantanan Kaelan yang masih terlelap. "Emm... aku mau kamu bangun sekarang," bisiknya lagi, menatap wajah tampan Kaelan yang masih menutup mata. Vera membalikkan tubuhnya, membelakangi wajah Kaelan hingga posisinya kini berlawanan. Dengan gerakan berani, ia menarik milik suaminy
Keheningan di taman belakang terasa begitu canggung. Vera menyesap kopinya perlahan, sementara ujung sepatu hak tingginya mengetuk-ngetuk ujung sepatunya yang lain dengan irama yang konstan—sebuah tanda bahwa dia sedang tidak nyaman. Thomas hanya diam, lidahnya terasa kelu. Dia tahu ini adalah momen langka, tapi dia terlalu bodoh untuk menemukan kata-kata yang tepat."Vera, bagaimana kalau Ayah membelikanmu beberapa baju di mal? Kamu bisa memilihnya sendiri nanti," tawar Thomas hati-hati.Vera mengulum bibir bawahnya. Ada keraguan sejenak, namun akhirnya dia mengangguk pelan. Setuju.Senyum Thomas merekah lebar, sesuatu yang jarang terlihat di wajah tuanya. "Kalau begitu, Ayah akan berganti baju dulu. Kamu tunggu di dalam, ya?"Vera mengangguk lagi, membiarkan ayahnya melangkah masuk ke dalam rumah. Sendiri di taman, Vera meraih kaleng pakan ikan di dekatnya. Dia menabur butiran-butiran itu ke kolam, memperhatikan ikan-ikan yang berebut makanan dengan rakus."Aku tunggu di dalam saja,







