Teilen

Bab 122: Satu Atap

last update Veröffentlichungsdatum: 19.03.2026 06:00:37

PLOK!

Suara kulit yang beradu keras terdengar saat Kaelan mendorong pinggulnya dengan kuat, menghujam dalam-dalam kehangatan Vera yang sudah sangat basah dan ketat.

“Ahhh… Kaelan!” Vera berteriak kecil, tangannya mencengkeram sprei sutra hingga urat-uratnya menonjol, sementara kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam erat, menikmati setiap inci kenikmatan yang diberikan suaminya.

“Tahan sebentar lagi, Baby. Jangan dulu…” bisik Kaelan serak, hembusan napasnya yang panas menerpa telin
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 125: Hunjam

    Hawa dingin dari pendingin ruangan di kamar utama Sterling Manor seolah tak berdaya melawan panas yang terpancar dari dua tubuh di atas ranjang. Vera tidak membiarkan Kaelan mengambil alih terlalu cepat. Setelah percikan gairah di depan meja rias tadi, ia menarik suaminya ke tengah tempat tidur, mengurung pria itu dalam pesonanya yang tak terbantah.Vera meraih sebuah dasi sutra hitam milik Kaelan yang tergeletak di ujung kasur—sisa dari pakaian kerja yang belum sempat dirapikan. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia melingkarkan kain halus itu di kedua pergelangan tangan Kaelan, lalu mengikatnya pada kepala ranjang yang kokoh.“Vera… apa yang kamu lakukan?” geram Kaelan, suaranya parau, matanya menatap tajam namun ada binar pemujaan di sana.Vera tidak menjawab. Ia hanya memberikan senyum tipis yang penuh rahasia. Ia naik ke atas tubuh Kaelan, menduduki perut pria itu yang keras dan berotot. Rambut panjangnya yang berantakan menjuntai, menyentuh dada Kaelan, menciptakan sensasi gat

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 124: Noda

    Malam di Sterling Manor selalu terasa tenang, namun ketenangan itu mendadak terusik oleh getaran halus di atas nakas kayu mahoni. Vera baru saja menepuk-nepuk pelan essence ke wajahnya saat layar ponsel Kaelan menyala, membelah temaram kamar dengan cahaya biru yang dingin. Satu nama muncul di sana, singkat namun cukup untuk membuat gerakan tangan Vera terhenti di udara.Sila.“Kaelan, aku sudah kembali.”Vera menyipitkan mata. Ia bukan wanita naif yang tidak tahu cara membaca situasi. Kata-kata itu tidak mengandung formalitas bisnis, tidak ada sapaan sopan, hanya sebuah pernyataan akrab yang menyiratkan sejarah panjang. Vera tahu siapa saja mantan kekasih Kaelan, dan setahunya yang paling berkesan sudah tiada. Lalu, siapa wanita ini?Vera tidak menyentuh ponsel itu. Ia hanya menatap pantulan dirinya di cermin besar meja rias. Jemarinya yang lentik kembali bergerak, mengoleskan krim malam dengan tenang, seolah tidak ada badai yang baru saja mengetuk pintu hatinya. Namun, di balik keten

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 123: Utuh

    Langkah kaki Kaelan dan Alora menggema pelan di lorong museum yang luas dan sunyi. Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar, menerangi deretan etalase kaca yang menyimpan ribuan cerita dari masa lalu. Alora menggenggam erat tangan Papanya, matanya berbinar menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu yang besar. Ini adalah pengalaman pertamanya mengunjungi museum.Kaelan tersenyum melihat antusiasme putrinya. Ia mengingat pesan Vera untuk membuka pikiran Alora, dan ia bertekad membuat kunjungan ini menyenangkan.Mereka berhenti di depan sebuah etalase besar yang berisi replika kerangka dinosaurus raksasa.“Papa, apa itu? Besar sekali!” tanya Alora, menunjuk kerangka itu dengan jari mungilnya.“Itu T-Rex, Sayang. Raja dinosaurus,” jawab Kaelan, mencoba membuat suaranya terdengar dramatis. “Dulu sekali, sebelum ada manusia, mereka menguasai bumi.”Alora mendongak, menatap kerangka yang menjulang tinggi itu dengan takjub. “Wah, hebat! Apa mereka makan es krim juga

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 122: Satu Atap

    PLOK!Suara kulit yang beradu keras terdengar saat Kaelan mendorong pinggulnya dengan kuat, menghujam dalam-dalam kehangatan Vera yang sudah sangat basah dan ketat.“Ahhh… Kaelan!” Vera berteriak kecil, tangannya mencengkeram sprei sutra hingga urat-uratnya menonjol, sementara kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam erat, menikmati setiap inci kenikmatan yang diberikan suaminya.“Tahan sebentar lagi, Baby. Jangan dulu…” bisik Kaelan serak, hembusan napasnya yang panas menerpa telinga Vera, membuat tubuh wanita itu meremang seketika.“Ah Kaelan, emm… engh,” desah Vera tak putus. Suaranya serak, sarat akan gairah yang sudah di ubun-ubun.Kaelan tidak membiarkannya bernapas. Ia mempercepat temponya, membuat suara kulit beradu semakin keras dan cepat.“Hhh… Vera, sempit sekali… akh!” Kaelan mengerang rendah, tangannya meremas buah dada Vera dengan gemas, meninggalkan jejak merah yang panas di sana.Vera tidak tinggal diam. Ia mencengkeram bahu Kaelan yang berotot, menarik pri

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 121: Candu

    Pintu kamar utama terbuka sangat perlahan, hampir tanpa suara. Alora melangkah masuk dengan menjinjit, jari telunjuknya menempel di bibir mungilnya sendiri. Di belakangnya, Kaelan menyusul dengan langkah santai sambil membawa nampan berisi sarapan hangat untuk Vera.“Mama sedang tidur?” bisik Alora sambil mendongak, menatap Papanya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.Kaelan mengangguk pelan sebagai jawaban. Melihat itu, Alora semakin berusaha berjalan tanpa suara, meski sesekali ia hampir kehilangan keseimbangan karena baju tidur oversize-nya yang menyapu lantai. Begitu sampai di sisi ranjang, Alora berhenti. Ia mencoba memanjat kasur yang empuk itu, namun tingginya ranjang Sterling Manor menjadi tantangan besar baginya.“Papa, bantuin Alora ini lo... tinggi amat,” keluh Alora dengan suara tertahan, wajahnya memerah karena usaha yang gagal.Kaelan menahan tawanya agar tidak meledak. Ia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan satu tangan mengangkat Alora dan

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 120: Dua

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu dari celah tirai sutra, menciptakan garis-garis emas di atas sprei yang masih berantakan. Kamar itu terasa sangat tenang, hanya ada suara napas teratur yang memenuhi ruangan. Vera perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah lengan kokoh Kaelan yang masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah tidak membiarkannya pergi meski dalam tidur.Sebuah senyum kecil terukir di sudut bibir Vera. Sisa-sisa kelelahan semalam masih ada, namun hatinya terasa jauh lebih ringan. Ia memiringkan tubuh, menatap wajah suaminya yang tampak begitu damai saat terlelap. Jemari Vera terangkat, dengan sangat perlahan menelusuri garis rahang tegas Kaelan, seolah sedang memetakan satu-satunya tempat ia pulang.Kaelan mengerang rendah. Merasakan sentuhan lembut itu, ia perlahan membuka matanya. Matanya yang biasanya tajam dan dingin, kini tampak sayu dan hangat khas pria yang baru bangun tidur."Sakit?" tanya Kaelan, suaranya parau dan dalam.Bukannya

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status