Home / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 6: Di sisi Raja

Share

Bab 6: Di sisi Raja

Author: Sena
last update publish date: 2025-11-24 13:06:25

Tangan pria suruhan Reynard nyaris mencapai lengan Vera.

"Nyonya Sterling yang baru. Hadiah Tuan Reynard," ujar pria itu sinis. Dalam sepersekian detik itu, naluri bertahan hidup Vera mengambil alih. Dia tidak berteriak; dia bertarung. Dia menginjak sepatu pria itu dengan tumitnya dan menyikut tulang rusuknya dengan gerakan cepat, memanfaatkan peluang untuk berlari menuju pintu belakang. Dia sadar, wanita sepertinya tidak cukup melawan secara fisik, tetapi itu memberinya waktu.

Tepat ketika dia mencapai pintu, udara terkoyak oleh suara tembakan yang keras dan terarah. Pintu itu hancur. Itu bukan tembakan musuh.

Kaelan muncul di pintu masuk, dikelilingi oleh pengawal, tetapi Kaelan sendiri yang terlihat paling brutal. Jasnya kusut, ekspresinya adalah kemarahan yang meluap-luap. Dia melihat pria Reynard hampir menyentuh Vera.

"JANGAN SENTUH DIA!" raung Kaelan, suaranya dipenuhi amarah mentah yang mengguncang seluruh kafe.

Kaelan menembak dengan presisi cepat. Dalam hitungan detik, kekacauan seketika berubah menjadi pembantaian brutal. Setelah ancaman dinetralisir, Kaelan mengabaikan semua orang dan berjalan cepat, matanya berat dan tidak teratur... ia benar-benar kehilangan kendali.

Kaelan berbisik, suaranya serak,nyaris pecah dalam histeris. "Kau... kau berani. Jangan pernah berpikir kau bisa mati tanpa izinku, Vera! Jangan pernah! Kau milikku! Hanya aku yang punya hak untuk menyentuhmu!"

Dia tidak mengancamnya dengan pukulan; dia mengancamnya dengan kehancuran emosionalnya sendiri, pengakuan bahwa nyawa Vera adalah pusat dunianya. Vera membalas pelukan itu, terkejut. Dia tidak hanya melawan seorang kriminal, dia melawan obsesi yang liar dan gila.

Perjalanan kembali ke Sterling Manor sunyi. Kaelan memegang lengan Vera erat-erat, genggamannya tidak terlepaskan. Dia tidak berbicara, tetapi cengkramannya yang sekeras besi berkata segalanya.

Sesampainya di Manor, Kaelan membawa Vera langsung ke kamar utama. Dia tidak memanggil dokter, dia melakukannya sendiri. Dia mendudukkan Vera di sofa beludru, memeriksa luka-luka kecil Vera... luka dari serpihan kaca di lengan dan memar di bahu yang Vera peroleh saat melawan.

Tangannya yang bisanya kejam kini lembut saat mengoleskan antiseptik. Kontras antara kekejaman di luar dan kelembutan yang sungguh tidak wajar ini sangat menggangu Vera. Kaelan menatap luka itu dengan fokus, seolah memperbaiki aset yang rusak.

"Kau sangat ceroboh," desis Kaelan, suaranya rendah, tetapi getaran di dalamnya menunjukkan rasa takut yang besar. "Kau hampir membuatku kehilangan sesuatu yang baru saja kudapatkan."

Vera menatapnya. Dia tahu ini adalah momennya. Dia harus menguji Kaelan.

"Anda tidak marah karena saya ceroboh, Kaelan. Anda marah karena Anda merasa kehilangan kendali. Anda takut Reynard akan menyentuh aset Anda," ucap Vera datar.

Kaelan menghentikan gerakannya. Dia menyentuh alat P3K, menarik Vera berdiri hingga tubuh mereka bersentuhan. Matanya gelap, tetapi ada kepuasan yang brutal di sana.

"Kau benar," akunya, suaranya kini dingin. "Aku takut kehilangan kendali atasmu. Tapi itu berarti kau telah memenangkan permainan ini. Kau membuatku takut,Vera. Dan sekarang, kau harus membayar harganya."

Dia menciumnya. Ciuman kali ini tidak brutal; itu adalah ciuman klaim yang dalam, dipenuhi kelegaan dan obsesi. Ciuman itu menyegel bahwa Cruel Romance mereka telah melewati batas dan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Kaelan membawa Vera ke ranjang.

"Kau adalah milikku. Disegel oleh trauma dan api. Kau selamat dari bahaya, Duri. Dan untuk keberanianmu, kau pantas mendapatkan hadiah," bisik Kaelan.

Vera membalas ciuman Kaelan, menyambut gairah kejam itu. Dia menyadari bahwa dia tidak lagi berjuang untuk lari, tetapi berjuang untuk berkuasa.

Pagi hari setelah penyegelan perjanjian yang intens, suasana di kamar utama telah berubah. Gairah telah mereda, di gantikan oleh kesepakatan diam-diam yang dingin. Kaelan berdiri di dekat jendela, wajahnya kembali ke topeng CEO yang kejam, tetapi matanya mengkhianati kewaspadaan yang baru.

"Kau telah membuktikan nilai dan keberanianmu," ujar Kaelan, tanpa menoleh. "Dan itu berarti kau terlalu berharga untuk dipertaruhkan. Mulai sekarang, tidak ada lagi misi sendirian. Kau akan berada dalam radius pandanganku. Jika kau harus keluar dari Manor, aku akan ikut, atau setidaknya salah satu second-in-command terbaikku."

Vera yang kini sudah sepenuhnya berpakaian, mengangguk. Dia tahu ini adalah konsekuensi dari obsesi Kaelan, bukan hukuman.

Sebagai imbalan, Kaelan berbalik dan memberikan sebuah tablet baru. "Aku tidak akan memberimu akses ke kantor lama yang terinfeksi Reynard. Mulai hari ini, kau akan mengambil alih manajemen operasional harian kantor pusatku di lantai atas. Semua keputusan akan melewati mejamu."

Ini adalah langkah besar. Kaelan tidak hanya memberikannya pekerjaan; dia memberikannya kekuasaan di jantung kerajaannya. Ini pertanda baik untuk Vera.

Vera mengambil tablet itu, senyum kecilnya dingin dan strategis. Dia telah mencapai tujuannya. Dia tidak lagi terperangkap di kamar tidur; dia terikat pada kekuasaan Kaelan. Dia mulai bisa mengendalikannya.

"Diterima. Batasannya telah ditetapkan, Tuan Sterling. Dan saya akan memastikan kita berdua mengikutinya."

Kaelan tersenyum puas. Vera berjalan keluar kamar utama, menyadari bahwa ia gagal melarikan diri, tetapi berhasil menggenggam kekuasaan di sisi raja yang paling berbahaya.

Kaelan tidak bergerak sampai pintu tertutup. Saat suara langkah kaki menghilang, topeng CEO yang dingin itu seketika runtuh. Mata Kaelan yang kejam melembut menjadi sesuatu yang gelap, liar, dan sangat puas. Di matanya, tidak ada lagi ketegasan; hanya kegilaan yang terkontrol.

Kaelan berjalan ke dinding di balik rak buku... dinding yang tidak pernah disadari Vera... dan menyentuh panel tersembunyi. Dinding itu bergeser terbuka, memperlihatkan Ruangan Terlarang miliknya.

Di dalamnya, ruangan itu gelap, diterangi oleh lampu spotlight yang redup. Seluruh dinding dipenuhi kolase foto Vera: Foto Vera di forum bisnis, di universitas, saat dia tertawa kecil di kafe, dan bahkan foto-foto yang diambil secara rahasia... saat dia tertidur lelap, terlihat rentan. Semuanya tertata rapi, satu dekade, dan menakutkan.

Kaelan berjalan ke tengah ruangan, menyentuh foto Vera yang sedang tertidur dengan ujung jarinya.

"Kau pikir kau memenangkan kursi kekuasaan, Vera? Kau salah. Kau hanya memasuki sangkar yang kubangun dengan tangan dan jiwaku selama sepuluh tahun," batin Kaelan.

Kaelan menatap foto Vera yang sedang berapi-api di ruang rapat, dan seringai puas muncul di wajahnya.

Kaelan berbisik. "Kau tidak mendapatkan akses ke kantor baruku. Kau adalah alasku. Setiap langkah yang kau ambil, setiap ide yang kau susun, adalah puncak dari obsesiku. Kau bukan bidak,kau adalah karya seni yang akhirnya kuperoleh."

Dia mematikan lampu. Ruangan itu kembali tersembunyi. Kaelan berjalan keluar, kembali mengenakan topeng CEO-nya, tetapi kini dia membawa beban rahasia yang jauh lebih mengerikan. Vera berpikir dia menang, tetapi Kaelan tersenyum, tahu bahwa permainan sesungguhnya baru saja dimulai, dan dia telah merencanakannya sejak lama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 144: Om Tunggu Kamu Besar, Sayang

    Aiden meletakkan serbet di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang. Ia mengelap sudut bibirnya tanpa sisa, seolah baru saja menyelesaikan tugas formal yang membosankan.“Gue ke toilet sebentar,” ucapnya pendek.Kaelan hanya mengangguk tanpa curiga, kembali larut dalam obrolan bersama Kevin dan Julian. Namun, Aiden tidak melangkah ke arah toilet di lantai bawah. Ia justru berbelok, menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, seperti predator yang sudah hafal setiap jengkal wilayahnya.Tujuannya hanya satu: kamar dengan pintu kayu berukir yang tadi dimasuki oleh Alora.Aiden memutar kenop pintu dengan sangat perlahan. Keadaan di dalam kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berbentuk awan yang membiaskan cahaya kekuningan. Ia bisa melihat dua sosok kecil di sana; bayi Kevin yang terlelap di boks, dan Alora yang meringkuk tenang di atas tempat tidur besarnya.Aiden melangkah mendekat. Ia tidak duduk di kursi, melainkan langsung di

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 143: Diner

    Halaman luas Sterling Manor malam itu berubah menjadi pameran otomotif dadakan. Deretan mobil mewah terparkir rapi, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di teras belakang yang luas, suasana hangat menyambut siapa pun yang datang.Kevin tampak luwes menggendong putranya yang baru berumur beberapa bulan, sementara Sela, istrinya, asyik tertawa bersama Vera dan Regina di area sofa. Di sudut lain, Julian tak henti-hentinya mengelus perut Regina yang kian membesar, seolah sedang berkomunikasi dengan calon bayi mereka.“Hahaha... memang bagus baju-baju di sana. Kapan-kapan kita harus belanja bareng,” ucap Vera menanggapi cerita Sela.“Nah, itu dia! Tolong bantuin aku belanja perlengkapan bayi dong. Aku bingung mau beli apa saja, si Julian ini nggak paham apa-apa,” keluh Regina sambil menepuk gemas lengan suaminya.“Loh, paham aku, Sayang! Aku ini dokter, ingat?” bela Julian tak mau kalah.Regina mencibir lucu. “Nggak ada hubungannya kamu dokter sama milih motif baju bayi, Jul. Co

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 142: The Gifted Child

    Lampu kristal di ruangan kantor Nyonya Adeline memantulkan cahaya yang elegan, namun atmosfer di sana terasa dingin sebelum Vera meletakkan lembaran sketsa terbarunya di atas meja marmer tersebut. “Saya sudah melihat berbagai macam gambar desain dari karyawan Anda, Nyonya Vera. Dan hasilnya? Tidak ada yang menarik hati saya sedikit pun,” ucap Nyonya Adeline dingin. Ia duduk dengan punggung tegak, menatap Vera dengan tatapan yang menuntut kesempurnaan. Vera tidak gentar. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri, aura profesionalismenya terpancar kuat. “Saya mengerti, Nyonya Adeline. Karena itu, ini adalah gambar desain yang saya rancang sendiri khusus untuk Anda. Silakan dilihat.” Adeline meraih kertas tersebut dengan gerakan anggun. Begitu matanya menangkap detail gaun dengan aksen feathers dan payet yang rumit hasil goresan tangan Vera, sudut bibirnya perlahan terangkat. Keangkuhannya mencair seketika. “Ini... baru yang namanya karya seni. Ini sangat bagus,” gumam A

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 141: Tawaran Honeymoon

    Setelah memastikan Alora masuk ke gedung sekolah dengan aman, Vera tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya membelah kemacetan kota menuju gedung pencakar langit. Begitu langkah kakinya yang beralaskan heels tinggi menyentuh lobi perusahaan, suasana seketika berubah formal dan penuh hormat. "Selamat siang, Bu Vera," sapa para karyawan di sepanjang koridor. Vera hanya memberikan anggukan kecil yang elegan, namun tatapannya tajam menyapu setiap sudut. Ia langsung menuju lantai galeri seni, tempat di mana karya-karya bernilai tinggi dipamerkan dan dipesan oleh para kolektor kelas dunia. "Bagaimana dengan pemesanan bulan ini?" tanya Vera langsung kepada Head of Gallery yang segera menghampirinya dengan tablet di tangan. "Semuanya lancar, Bu. Antusiasme kolektor sangat tinggi, bahkan keuntungan kita hampir melampaui target kuartal ini," lapor manajer tersebut dengan nada bangga. Vera mengangguk puas. Ia berjalan perlahan, memperhatikan beberapa seniman yang sedang fokus menggore

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 140: Pagi yang Sial dan Nikmat

    Cahaya matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik tirai kamar utama Sterling Manor. Vera merasakan beban kecil menindih sisi ranjangnya, diikuti suara tawa renyah yang selalu menjadi alarm alaminya setiap hari. Ia membuka mata perlahan, menemukan Alora sudah duduk manis dengan mata bulatnya yang berbinar.Vera melirik tubuhnya sendiri. Baju tidur satin. Ia tersenyum tipis mengingat siapa yang dengan telaten memakaikan kain itu setelah ia lemas tak berdaya semalam."Pagi, Mama..." sapa Alora ceria."Pagi, Darling. Kamu terlihat bersemangat sekali, ada yang terjadi?" tanya Vera sambil merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.Alora menggeleng cepat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Vera yang sudah sangat mengenal gerak-gerik putrinya segera mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada headboard ranjang."Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu, hm?"Alora menghirup napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Mama, Alora mau lanjut sekolah di Paris."Vera

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 139: Terlalu Berisik di Bawah

    Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 135: Boneka Masa Lalu

    Tepat pukul tujuh pagi, Alora turun menapaki tangga Manor dengan langkah ringan. Wajahnya ceria, seolah mendung kemarin sore telah menguap tanpa bekas. Putri tunggal Sterling itu memang hampir tidak pernah terlihat muram. Siapa pun yang melihatnya akan maklum; dia adalah permata yang dimanjakan ole

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 132: Dua Telur

    Gairah yang tertahan di balik selendang sutra itu akhirnya mencapai titik didihnya. Kaelan melepaskan lilitan kain tipis yang membatasi kulit mereka, membiarkannya jatuh tak berdaya di atas rumput yang lembap. Ia menarik Vera agar bangkit sejenak, namun bukan untuk berdiri."Menungginglah, Sa

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 130: Abstrak

    Hawa malam yang mulai mendingin sama sekali tidak mampu memadamkan api yang berkobar di kursi lukis itu. Begitu langkah Alora benar-benar menghilang, Kaelan tidak lagi menahan diri. Ia meraup bibir Vera dengan lumatan yang jauh lebih menuntut, seolah ingin menghapus setiap sisa kemarahan Vera ter

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 129: Di bawah Bulan

    Langit di atas Sterling Manor mulai menjingga, lalu perlahan menggelap menjadi ungu pekat. Di taman belakang, Vera masih mematung di depan kanvasnya. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gesekan kuas yang sesekali menggores kain. Vera tampak seperti pelukis yang sedang kerasukan; tubuhnya tegak, ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status