Inicio / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 68: Ngidam Daging Rusa

Compartir

Bab 68: Ngidam Daging Rusa

Autor: Sena
last update Última actualización: 2026-01-25 21:22:59

Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai berat di kamar utama. Kaelan membuka matanya perlahan, merasakan denyut berat di pelipis dan matanya yang terasa membengkak. Sisa-sisa isak tangis semalam masih meninggalkan jejak di hatinya—rasa malu yang tipis bercampur dengan kelegaan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Ia melirik ke samping. Vera masih tertidur pulas dengan wajah yang begitu tenang. Lengan kiri Kaelan terasa mati rasa karena dijadikan bantalan oleh istrinya sepanjang malam, namun ia tidak keberatan. Dengan gerakan sangat hati-hati, Kaelan menarik lengannya, memastikan tidak mengusik mimpi indah Vera.

Kaelan bangkit, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menyegarkan tubuhnya di bawah pancuran air dingin. Ia butuh kejernihan pikiran untuk menghadapi hari ini.

Setelah selesai, dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Kaelan melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luas. Ia mencari kaos santai dan celana kain yang nyaman. Namun, saat ia sedang menggeser beberapa gantungan jas, matanya tertuju pada sebuah laci di sudut bawah yang biasanya hanya berisi barang-barang musiman.

Laci itu sedikit terbuka, seolah seseorang terburu-buru menutupnya. Kaelan membungkuk untuk merapatkannya, namun ia justru melihat sebuah paper bag hitam polos yang menyembul di sana.

Kaelan tertegun sejenak. Tangannya sudah berada di pinggiran tas itu, merasakan tekstur kertasnya yang tebal. Ia tahu Vera membawa tas ini kemarin saat pulang, tapi ia tidak tahu apa isinya.

“Apakah ini hadiah untukku? Atau barang miliknya?”

Kaelan menatap tas itu cukup lama. Ada dorongan kuat di benaknya untuk mengintip ke dalam, namun ia teringat bagaimana Vera merawatnya semalam. Ia tidak ingin merusak kepercayaan yang baru saja terbangun dengan bersikap terlalu mencampuri urusan pribadi istrinya.

Kaelan akhirnya menarik tangannya kembali. Ia memilih untuk menutup laci itu dengan rapat, membiarkan rahasia di dalamnya tetap menjadi milik Vera untuk saat ini. Ia tidak tahu bahwa di dalam tas hitam yang terlihat sederhana itu, tersimpan kunci dari seluruh luka masa kecilnya yang baru saja ia tangisi.

Kaelan memakai kaosnya, lalu berjalan kembali ke arah tempat tidur, duduk di tepi ranjang sambil menunggu Vera terbangun. Ia menatap wajah Vera dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya.

Kaelan duduk bersandar pada headboard ranjang dengan sebuah laptop yang masih menyala di pangkuannya. Jemarinya menari di atas keyboard, matanya fokus menatap barisan angka laporan keuangan, meski sesekali ia melirik ke arah Vera yang masih terlelap. Pagi ini ia sengaja membatalkan semua jadwal ke kantor demi tetap berada di sisi istrinya.

Vera perlahan mulai menggeliat. Ia membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya melihat sosok suaminya yang sudah rapi dan sibuk bekerja.

"Kenapa bangun pagi banget? Mau ke kantor?" tanya Vera dengan suara khas orang baru bangun tidur.

Kaelan menoleh, ia tidak langsung menyingkirkan laptopnya. Matanya menatap Vera lembut sambil sebelah tangannya terulur memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Tidak Sayang, aku hanya mengecek laporan. Kenapa? Kamu mau sesuatu?"

Vera tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Kaelan lekat-lekat, wajahnya terlihat sangat serius. "Emm… mau, kamu sayang aku nggak?"

Kaelan mengerutkan keningnya. Entah kenapa, sebuah perasaan tidak enak langsung merayap masuk ke dalam hatinya. Pertanyaan itu biasanya adalah pembuka dari sebuah permintaan yang sulit ditolak.

"Sayang, tentu aku sayang. Kamu mau sesuatu?" jawab Kaelan, tetap mencoba bersikap tenang meski hatinya mulai waswas.

"Mau daging rusa."

Kaelan terdiam sesaat, jemarinya membeku di atas laptop. "Hah? Daging rusa?"

Vera seketika cemberut. Wajahnya langsung berubah mendung. "Kenapa? Nggak boleh? Jahat banget kamu, padahal tadi kamu yang nanya. Katanya tadi sayang, cuma minta sekali aja langsung kaya gitu!"

Tanpa menunggu penjelasan, Vera langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Kaelan dengan gerakan kasar.

Kaelan seketika panik. Ia buru-buru menyingkirkan laptopnya ke meja nakas, tidak peduli lagi pada laporan yang belum selesai ia baca. Ia segera bergeser mendekati Vera, mencoba mengelus bahu istrinya itu. "Enggak gitu, Sayang. Iya-iya aku cariin ya, jangan marah."

Tapi Vera tidak mau disentuh. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan tangan Kaelan.

"Jangan marah ya, aku minta orang buat cariin sekarang ya," bujuk Kaelan lagi, suaranya mulai terdengar cemas.

"Nggak mau!" Vera kembali menggeser tubuhnya saat Kaelan berusaha menyentuh bahunya lagi. Ia benar-benar tidak mau menoleh.

"Aku minta maaf ya nolak kamu tadi, nggak bermaksud nolak sayang," ucap Kaelan penuh penyesalan, suaranya melembut berharap Vera luluh.

"Minta maaf, minta maaf aja, ngapain ada pembelaan!" sahut Vera ketus dari balik punggungnya.

Kaelan menghela napas pasrah, ia benar-benar kalah telak. "Iya, maaf ya Sayang."

Kaelan kembali menyentuh bahu Vera, berniat menarik istrinya kembali ke tengah ranjang. Tapi Vera lagi-lagi menggeser tubuhnya menjauh, hingga ia sudah berada di titik paling ujung tempat tidur. Sedikit lagi, Vera akan jatuh ke lantai.

"Vera!" Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Kaelan menyambar tubuh Vera dan menariknya kuat-kuat ke arahnya. "Jangan geser-geser, nanti jatuh!"

Vera akhirnya terpaksa menghadap Kaelan karena tarikan itu, tapi wajahnya masih ditekuk habis. "Bodo amat, aku mau daging rusa."

"Iya, aku minta cariin sekarang."

"Tapi aku mau kamu yang cari… aku mau kita yang cari, aku mau ikut, aku mau kita ke hutan buat dapetin itu!" rengek Vera sambil menarik-narik kaos yang dikenakan Kaelan.

Kaelan membelalak sempurna. "Hah? Kamu mau ikut?"

"Iya!" seru Vera dengan mata yang berbinar penuh tuntutan.

Beberapa jam kemudian….

Rombongan kecil itu akhirnya bergerak memasuki area hutan lindung milik keluarga Sterling. Pemandangan di sana benar-benar tidak lazim. Beberapa anak buah Kaelan berjalan di depan dengan alat berburu lengkap, sementara di belakang, Kaelan berjalan dengan waspada mengiringi Vera.

Vera terlihat sangat mencolok. Ia memakai gaun kuning cantik berbahan lembut yang melambai ditiup angin hutan, lengkap dengan high heels yang sebenarnya sangat berbahaya untuk tanah yang tidak rata. Di kepalanya, bertengger topi hitam milik Kaelan yang ukurannya sedikit kebesaran, membuat wajah cantiknya terlihat makin mungil. Sangat tidak cocok untuk medan hutan, tapi Kaelan sama sekali tidak memprotesnya. Selama Vera senang, Kaelan rela tutup mata meski nurani logikanya menjerit.

"Ayo cari Kaelan, aku mau lihat..." rengek Vera sambil menggerak-gerakkan lengan Kaelan dengan antusias.

Kaelan menggenggam jemari Vera, memastikan istrinya tidak tersandung akar pohon. "Iya, ayo mulai jalan sebelum gelap."

Mereka berjalan lebih masuk ke dalam hutan. Suara burung dan gesekan daun menjadi latar belakang petualangan absurd ini. Di area yang lebih datar, sebagian anak buah Kaelan mulai berhenti untuk menyiapkan tenda dan bumbu makan malam, sementara tim inti terus bergerak maju mencari jejak rusa.

Namun, baru sekitar lima belas menit berjalan, langkah Vera mulai melambat. Wajahnya yang tadi bersemangat kini tampak sedikit meringis. Ia akhirnya berhenti di depan sebuah batu besar yang cukup rata.

"Capek?" tanya Kaelan lembut.

Vera mengangguk pelan, lalu duduk di atas batu itu sambil memijat pergelangan kakinya. Kaelan tidak membuang waktu. Pria itu langsung berjongkok di depan Vera, mengabaikan lutut celana mahalnya yang kini kotor terkena tanah hutan.

Dengan gerakan yang sangat telaten, Kaelan melepaskan high heels kuning milik Vera satu per satu. Ia kemudian merogoh tas ransel yang ia bawa sendiri sejak tadi, dan mengeluarkan sepasang sepatu putih berbahan empuk yang sangat nyaman.

"Kamu bawain aku sepatu?" tanya Vera dengan mata berbinar, terkejut melihat persiapan suaminya yang luar biasa.

"Iya, ini akan lebih nyaman di kaki kamu. Hutan bukan tempat untuk hak tinggi, Sayang," jawab Kaelan tenang.

Ia segera mengenakan sepatu putih itu ke kaki Vera, memastikan talinya terikat dengan pas agar tidak lepas. Kaelan kemudian memasukkan high heels Vera ke dalam tasnya, lalu setelah itu ia menatap Vera dengan tatapan yang sangat dalam.

"Bisa jalan lagi? Atau mau digendong saja?" tanya Kaelan menawarkan punggungnya, membuat Vera tersipu malu di tengah hutan yang sunyi.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 108: Taming the Princess

    Matahari sudah mulai condong ke barat, membiarkan semburat jingga menghiasi langit Sterling Manor. Namun, penderitaan Alora belum berakhir. Setelah "disiksa" dengan layar monitor berjam-jam, Kaelan justru memindahkan arena permainan ke taman bermain outdoor pribadi yang sangat mewah di area belakang mansion. Awalnya, Alora bersorak gembira. Ia berlarian, memakan cotton candy yang dibelikan pelayan, dan mencoba perosotan raksasa dengan antusias. Namun, seiring berjalannya waktu, kaki kecilnya mulai terasa berat. Napasnya tersengal, dan bajunya sudah mulai lembap oleh keringat. "Papa... Alora... Alora capek, mau masuk ke dalam," keluh Alora, terduduk lesu di atas rumput hijau yang terawat. Kaelan, yang sudah melepas jasnya dan hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung, justru tampak sangat bugar. Ia sedang berdiri di dekat ayunan sambil menyesap espresso dinginnya. "Lho, kenapa capek? Ini kan baru sore, Sayang. Katanya mau main seharian? We still have so many things

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 107: reverse psychology

    Sterling Manor yang biasanya tenang di pagi hari, kini mendadak gaduh oleh suara lengkingan Alora yang memenuhi ruang makan. Suasana hectic itu kontras dengan penampilan Vera yang sudah sangat stunning. Pagi ini Vera mengenakan silk robe berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhnya, dengan rambut yang tertata rapi dan riasan tipis namun terlihat sangat mahal. “Alora, makan sarapanmu dan pergi sekolah sekarang!” Vera berusaha membujuk dengan nada yang mulai meninggi. Ia berdiri dengan anggun di samping meja makan, namun wajah cantiknya tampak menegang. Pintu lift terbuka, dan Kaelan melangkah keluar dengan setelan jas custom-made berwarna abu-abu gelap yang sangat rapi. Langkah kakinya yang mantap langsung terhenti saat mendapati putrinya sedang menangis sesenggukan. “Ada apa hari ini, hm?” tanya Kaelan, suaranya bariton dan menenangkan. “PAPAAAA…!” Alora langsung berlari menghampiri Kaelan. Dengan gerakan sigap, Kaelan mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya. “Kaelan,

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 106: Morning Addiction

    Cahaya matahari pagi mulai mengintip dari balik tirai sutra yang sedikit terbuka, namun suasana di dalam kamar utama Sterling Manor masih terasa begitu sunyi dan hangat. Vera masih tertidur sangat nyenyak, tenggelam sepenuhnya dalam dekapan protektif Kaelan. Wajahnya tampak begitu tenang dan damai, kontras dengan badai gairah yang mereka lalui semalam.Kaelan, yang rupanya sudah terbangun lebih dulu, hanya diam memerhatikan pahatan indah di depannya. Ia menarik selimut tebal mereka ke atas, membungkus tubuh polos istrinya agar semakin rapat menempel pada dadanya. Meskipun semalam mereka sempat mandi bersama untuk membersihkan sisa cairan pelumas yang licin itu, Kaelan tetap tidak mengizinkan Vera mengenakan sehelai benang pun. Setiap kali Vera mencoba meraih piyama, tangan Kaelan selalu berhasil menariknya kembali hingga kain itu terlepas lagi ke lantai."Tidurlah, my wife. Aku selalu mencintaimu... sangat," bisik Kaelan dengan suara bariton yang masih serak khas bangun tidur.Cup!Ka

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 105: My Naughty Girl

    Kaelan tidak lagi bisa menahan geraman rendah yang tertahan di tenggorokannya. Dengan satu sentakan yang swift and unpredictable, ia membalikkan posisi mereka dalam sekejap. Vera, yang baru saja menikmati kemenangannya di posisi atas, kini justru terperangkap di bawah kungkungan tubuh kokoh Kaelan. Kulit mereka yang licin karena cairan pelumas itu menciptakan gesekan yang terasa begitu seamless—halus, intim, dan membakar saraf.Kaelan menumpu berat tubuhnya pada kedua siku, mengunci pergerakan Vera sepenuhnya. Ia menatap wajah istrinya yang tampak berantakan namun sangat menggoda di atas bantal. Sambil mengecup pipi Vera dengan tekanan yang dalam, ia berbisik tepat di depan bibir wanita itu.“You are being so naughty tonight, aren’t you, Mrs. Sterling?” Suara Kaelan rendah, serak, dan membawa ancaman yang justru terdengar seksi.Vera mengerjipkan matanya, mencoba mengatur napasnya yang mulai kacau. Ia menyunggingkan senyum menantang, sembari mengalungkan tangannya di leher Kaelan yang

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 104: Minta pijatan

    Kaelan tidak membuang waktu. Begitu kakinya menginjak karpet bulu di dalam kamar, ia langsung menyentak kaos hitamnya hingga terlepas, lalu melemparkannya dengan asal tepat ke arah wajah Vera yang baru saja menutup pintu balkon."KAELANNNN!" Vera berseru kaget, menarik kaos itu dari wajahnya dengan mata melotot. Aroma parfum maskulin yang bercampur keringat tipis dari kaos itu menyerbu indranya, membuat jantungnya sedikit berdesir meski ia sedang kesal.Tanpa merasa bersalah, Kaelan menjatuhkan tubuh kokohnya ke atas ranjang king size mereka. Ia berbaring tengkurap, menyembunyikan wajahnya di bantal sembari merentangkan tangan. "Ayo pijit, Sayang. Punggungku rasanya mau rontok," gumamnya dengan suara yang teredam bantal, namun masih menyisakan senyum tipis yang penuh harap.Vera melempar kaos Kaelan ke sofa dengan ekspresi datar yang dibuat-buat. Ia memicingkan matanya, menatap punggung lebar dengan otot-otot yang tampak tegang itu. Seketika, sebuah ide jahil melintas di benaknya. Bib

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 103: Siluit tanpa Celah

    Angin sore berembus pelan, memainkan anak rambut Vera yang terlepas dari ikatannya. Pelukan Kaelan di pinggangnya masih terasa hangat, namun ada beban yang mendadak menghimpit dada Vera. Ia tahu, ketenangan ini bisa hancur kapan saja jika rahasia kecil dari gerbang sekolah tadi tetap ia simpan sendiri."Kaelan..." panggil Vera lagi, suaranya hampir menyerupai bisikan."Hmm?" Kaelan menyahut rendah, hidungnya masih asyik menyesap aroma lavender dari ceruk leher Vera.Vera menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk merusak momen manis ini. "Tadi di sekolah Alora... Rico datang."Tubuh Kaelan tidak menegang secara dramatis, namun Vera bisa merasakan otot lengan yang melingkari perutnya mengeras seketika. Keheningan yang mencekam mendadak jatuh di antara mereka, menelan suara kicauan burung di kejauhan."Dia menghalangi mobilku. Menanyakan hal-hal konyol tentang masa lalu dan... tentang Alora," lanjut Vera cepat, ingin segera menuntaskan pengakuannya. "Aku menegaskan padanya bah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status