ВойтиCahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai berat di kamar utama. Kaelan membuka matanya perlahan, merasakan denyut berat di pelipis dan matanya yang terasa membengkak. Sisa-sisa isak tangis semalam masih meninggalkan jejak di hatinya—rasa malu yang tipis bercampur dengan kelegaan luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Ia melirik ke samping. Vera masih tertidur pulas dengan wajah yang begitu tenang. Lengan kiri Kaelan terasa mati rasa karena dijadikan bantalan oleh istrinya sepanjang malam, namun ia tidak keberatan. Dengan gerakan sangat hati-hati, Kaelan menarik lengannya, memastikan tidak mengusik mimpi indah Vera. Kaelan bangkit, melangkah menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menyegarkan tubuhnya di bawah pancuran air dingin. Ia butuh kejernihan pikiran untuk menghadapi hari ini. Setelah selesai, dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Kaelan melangkah masuk ke dalam walk-in closet yang luas. Ia mencari kaos santai dan celana kain yang nyaman. Namun, saat ia sedang menggeser beberapa gantungan jas, matanya tertuju pada sebuah laci di sudut bawah yang biasanya hanya berisi barang-barang musiman. Laci itu sedikit terbuka, seolah seseorang terburu-buru menutupnya. Kaelan membungkuk untuk merapatkannya, namun ia justru melihat sebuah paper bag hitam polos yang menyembul di sana. Kaelan tertegun sejenak. Tangannya sudah berada di pinggiran tas itu, merasakan tekstur kertasnya yang tebal. Ia tahu Vera membawa tas ini kemarin saat pulang, tapi ia tidak tahu apa isinya. “Apakah ini hadiah untukku? Atau barang miliknya?” Kaelan menatap tas itu cukup lama. Ada dorongan kuat di benaknya untuk mengintip ke dalam, namun ia teringat bagaimana Vera merawatnya semalam. Ia tidak ingin merusak kepercayaan yang baru saja terbangun dengan bersikap terlalu mencampuri urusan pribadi istrinya. Kaelan akhirnya menarik tangannya kembali. Ia memilih untuk menutup laci itu dengan rapat, membiarkan rahasia di dalamnya tetap menjadi milik Vera untuk saat ini. Ia tidak tahu bahwa di dalam tas hitam yang terlihat sederhana itu, tersimpan kunci dari seluruh luka masa kecilnya yang baru saja ia tangisi. Kaelan memakai kaosnya, lalu berjalan kembali ke arah tempat tidur, duduk di tepi ranjang sambil menunggu Vera terbangun. Ia menatap wajah Vera dengan tatapan yang jauh lebih dalam dari biasanya. Kaelan duduk bersandar pada headboard ranjang dengan sebuah laptop yang masih menyala di pangkuannya. Jemarinya menari di atas keyboard, matanya fokus menatap barisan angka laporan keuangan, meski sesekali ia melirik ke arah Vera yang masih terlelap. Pagi ini ia sengaja membatalkan semua jadwal ke kantor demi tetap berada di sisi istrinya. Vera perlahan mulai menggeliat. Ia membuka matanya, mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya melihat sosok suaminya yang sudah rapi dan sibuk bekerja. "Kenapa bangun pagi banget? Mau ke kantor?" tanya Vera dengan suara khas orang baru bangun tidur. Kaelan menoleh, ia tidak langsung menyingkirkan laptopnya. Matanya menatap Vera lembut sambil sebelah tangannya terulur memperbaiki letak selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Tidak Sayang, aku hanya mengecek laporan. Kenapa? Kamu mau sesuatu?" Vera tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Kaelan lekat-lekat, wajahnya terlihat sangat serius. "Emm… mau, kamu sayang aku nggak?" Kaelan mengerutkan keningnya. Entah kenapa, sebuah perasaan tidak enak langsung merayap masuk ke dalam hatinya. Pertanyaan itu biasanya adalah pembuka dari sebuah permintaan yang sulit ditolak. "Sayang, tentu aku sayang. Kamu mau sesuatu?" jawab Kaelan, tetap mencoba bersikap tenang meski hatinya mulai waswas. "Mau daging rusa." Kaelan terdiam sesaat, jemarinya membeku di atas laptop. "Hah? Daging rusa?" Vera seketika cemberut. Wajahnya langsung berubah mendung. "Kenapa? Nggak boleh? Jahat banget kamu, padahal tadi kamu yang nanya. Katanya tadi sayang, cuma minta sekali aja langsung kaya gitu!" Tanpa menunggu penjelasan, Vera langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Kaelan dengan gerakan kasar. Kaelan seketika panik. Ia buru-buru menyingkirkan laptopnya ke meja nakas, tidak peduli lagi pada laporan yang belum selesai ia baca. Ia segera bergeser mendekati Vera, mencoba mengelus bahu istrinya itu. "Enggak gitu, Sayang. Iya-iya aku cariin ya, jangan marah." Tapi Vera tidak mau disentuh. Ia menggeser tubuhnya menjauh dari jangkauan tangan Kaelan. "Jangan marah ya, aku minta orang buat cariin sekarang ya," bujuk Kaelan lagi, suaranya mulai terdengar cemas. "Nggak mau!" Vera kembali menggeser tubuhnya saat Kaelan berusaha menyentuh bahunya lagi. Ia benar-benar tidak mau menoleh. "Aku minta maaf ya nolak kamu tadi, nggak bermaksud nolak sayang," ucap Kaelan penuh penyesalan, suaranya melembut berharap Vera luluh. "Minta maaf, minta maaf aja, ngapain ada pembelaan!" sahut Vera ketus dari balik punggungnya. Kaelan menghela napas pasrah, ia benar-benar kalah telak. "Iya, maaf ya Sayang." Kaelan kembali menyentuh bahu Vera, berniat menarik istrinya kembali ke tengah ranjang. Tapi Vera lagi-lagi menggeser tubuhnya menjauh, hingga ia sudah berada di titik paling ujung tempat tidur. Sedikit lagi, Vera akan jatuh ke lantai. "Vera!" Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Kaelan menyambar tubuh Vera dan menariknya kuat-kuat ke arahnya. "Jangan geser-geser, nanti jatuh!" Vera akhirnya terpaksa menghadap Kaelan karena tarikan itu, tapi wajahnya masih ditekuk habis. "Bodo amat, aku mau daging rusa." "Iya, aku minta cariin sekarang." "Tapi aku mau kamu yang cari… aku mau kita yang cari, aku mau ikut, aku mau kita ke hutan buat dapetin itu!" rengek Vera sambil menarik-narik kaos yang dikenakan Kaelan. Kaelan membelalak sempurna. "Hah? Kamu mau ikut?" "Iya!" seru Vera dengan mata yang berbinar penuh tuntutan. Beberapa jam kemudian…. Rombongan kecil itu akhirnya bergerak memasuki area hutan lindung milik keluarga Sterling. Pemandangan di sana benar-benar tidak lazim. Beberapa anak buah Kaelan berjalan di depan dengan alat berburu lengkap, sementara di belakang, Kaelan berjalan dengan waspada mengiringi Vera. Vera terlihat sangat mencolok. Ia memakai gaun kuning cantik berbahan lembut yang melambai ditiup angin hutan, lengkap dengan high heels yang sebenarnya sangat berbahaya untuk tanah yang tidak rata. Di kepalanya, bertengger topi hitam milik Kaelan yang ukurannya sedikit kebesaran, membuat wajah cantiknya terlihat makin mungil. Sangat tidak cocok untuk medan hutan, tapi Kaelan sama sekali tidak memprotesnya. Selama Vera senang, Kaelan rela tutup mata meski nurani logikanya menjerit. "Ayo cari Kaelan, aku mau lihat..." rengek Vera sambil menggerak-gerakkan lengan Kaelan dengan antusias. Kaelan menggenggam jemari Vera, memastikan istrinya tidak tersandung akar pohon. "Iya, ayo mulai jalan sebelum gelap." Mereka berjalan lebih masuk ke dalam hutan. Suara burung dan gesekan daun menjadi latar belakang petualangan absurd ini. Di area yang lebih datar, sebagian anak buah Kaelan mulai berhenti untuk menyiapkan tenda dan bumbu makan malam, sementara tim inti terus bergerak maju mencari jejak rusa. Namun, baru sekitar lima belas menit berjalan, langkah Vera mulai melambat. Wajahnya yang tadi bersemangat kini tampak sedikit meringis. Ia akhirnya berhenti di depan sebuah batu besar yang cukup rata. "Capek?" tanya Kaelan lembut. Vera mengangguk pelan, lalu duduk di atas batu itu sambil memijat pergelangan kakinya. Kaelan tidak membuang waktu. Pria itu langsung berjongkok di depan Vera, mengabaikan lutut celana mahalnya yang kini kotor terkena tanah hutan. Dengan gerakan yang sangat telaten, Kaelan melepaskan high heels kuning milik Vera satu per satu. Ia kemudian merogoh tas ransel yang ia bawa sendiri sejak tadi, dan mengeluarkan sepasang sepatu putih berbahan empuk yang sangat nyaman. "Kamu bawain aku sepatu?" tanya Vera dengan mata berbinar, terkejut melihat persiapan suaminya yang luar biasa. "Iya, ini akan lebih nyaman di kaki kamu. Hutan bukan tempat untuk hak tinggi, Sayang," jawab Kaelan tenang. Ia segera mengenakan sepatu putih itu ke kaki Vera, memastikan talinya terikat dengan pas agar tidak lepas. Kaelan kemudian memasukkan high heels Vera ke dalam tasnya, lalu setelah itu ia menatap Vera dengan tatapan yang sangat dalam. "Bisa jalan lagi? Atau mau digendong saja?" tanya Kaelan menawarkan punggungnya, membuat Vera tersipu malu di tengah hutan yang sunyi.Aiden meletakkan serbet di atas meja dengan gerakan yang sangat tenang. Ia mengelap sudut bibirnya tanpa sisa, seolah baru saja menyelesaikan tugas formal yang membosankan.“Gue ke toilet sebentar,” ucapnya pendek.Kaelan hanya mengangguk tanpa curiga, kembali larut dalam obrolan bersama Kevin dan Julian. Namun, Aiden tidak melangkah ke arah toilet di lantai bawah. Ia justru berbelok, menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan langkah kaki yang nyaris tak terdengar, seperti predator yang sudah hafal setiap jengkal wilayahnya.Tujuannya hanya satu: kamar dengan pintu kayu berukir yang tadi dimasuki oleh Alora.Aiden memutar kenop pintu dengan sangat perlahan. Keadaan di dalam kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berbentuk awan yang membiaskan cahaya kekuningan. Ia bisa melihat dua sosok kecil di sana; bayi Kevin yang terlelap di boks, dan Alora yang meringkuk tenang di atas tempat tidur besarnya.Aiden melangkah mendekat. Ia tidak duduk di kursi, melainkan langsung di
Halaman luas Sterling Manor malam itu berubah menjadi pameran otomotif dadakan. Deretan mobil mewah terparkir rapi, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di teras belakang yang luas, suasana hangat menyambut siapa pun yang datang.Kevin tampak luwes menggendong putranya yang baru berumur beberapa bulan, sementara Sela, istrinya, asyik tertawa bersama Vera dan Regina di area sofa. Di sudut lain, Julian tak henti-hentinya mengelus perut Regina yang kian membesar, seolah sedang berkomunikasi dengan calon bayi mereka.“Hahaha... memang bagus baju-baju di sana. Kapan-kapan kita harus belanja bareng,” ucap Vera menanggapi cerita Sela.“Nah, itu dia! Tolong bantuin aku belanja perlengkapan bayi dong. Aku bingung mau beli apa saja, si Julian ini nggak paham apa-apa,” keluh Regina sambil menepuk gemas lengan suaminya.“Loh, paham aku, Sayang! Aku ini dokter, ingat?” bela Julian tak mau kalah.Regina mencibir lucu. “Nggak ada hubungannya kamu dokter sama milih motif baju bayi, Jul. Co
Lampu kristal di ruangan kantor Nyonya Adeline memantulkan cahaya yang elegan, namun atmosfer di sana terasa dingin sebelum Vera meletakkan lembaran sketsa terbarunya di atas meja marmer tersebut. “Saya sudah melihat berbagai macam gambar desain dari karyawan Anda, Nyonya Vera. Dan hasilnya? Tidak ada yang menarik hati saya sedikit pun,” ucap Nyonya Adeline dingin. Ia duduk dengan punggung tegak, menatap Vera dengan tatapan yang menuntut kesempurnaan. Vera tidak gentar. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri, aura profesionalismenya terpancar kuat. “Saya mengerti, Nyonya Adeline. Karena itu, ini adalah gambar desain yang saya rancang sendiri khusus untuk Anda. Silakan dilihat.” Adeline meraih kertas tersebut dengan gerakan anggun. Begitu matanya menangkap detail gaun dengan aksen feathers dan payet yang rumit hasil goresan tangan Vera, sudut bibirnya perlahan terangkat. Keangkuhannya mencair seketika. “Ini... baru yang namanya karya seni. Ini sangat bagus,” gumam A
Setelah memastikan Alora masuk ke gedung sekolah dengan aman, Vera tidak langsung pulang. Ia mengarahkan mobilnya membelah kemacetan kota menuju gedung pencakar langit. Begitu langkah kakinya yang beralaskan heels tinggi menyentuh lobi perusahaan, suasana seketika berubah formal dan penuh hormat. "Selamat siang, Bu Vera," sapa para karyawan di sepanjang koridor. Vera hanya memberikan anggukan kecil yang elegan, namun tatapannya tajam menyapu setiap sudut. Ia langsung menuju lantai galeri seni, tempat di mana karya-karya bernilai tinggi dipamerkan dan dipesan oleh para kolektor kelas dunia. "Bagaimana dengan pemesanan bulan ini?" tanya Vera langsung kepada Head of Gallery yang segera menghampirinya dengan tablet di tangan. "Semuanya lancar, Bu. Antusiasme kolektor sangat tinggi, bahkan keuntungan kita hampir melampaui target kuartal ini," lapor manajer tersebut dengan nada bangga. Vera mengangguk puas. Ia berjalan perlahan, memperhatikan beberapa seniman yang sedang fokus menggore
Cahaya matahari pagi yang malu-malu mengintip dari balik tirai kamar utama Sterling Manor. Vera merasakan beban kecil menindih sisi ranjangnya, diikuti suara tawa renyah yang selalu menjadi alarm alaminya setiap hari. Ia membuka mata perlahan, menemukan Alora sudah duduk manis dengan mata bulatnya yang berbinar.Vera melirik tubuhnya sendiri. Baju tidur satin. Ia tersenyum tipis mengingat siapa yang dengan telaten memakaikan kain itu setelah ia lemas tak berdaya semalam."Pagi, Mama..." sapa Alora ceria."Pagi, Darling. Kamu terlihat bersemangat sekali, ada yang terjadi?" tanya Vera sambil merapikan rambut putrinya yang sedikit berantakan.Alora menggeleng cepat, namun binar di matanya tidak bisa berbohong. Vera yang sudah sangat mengenal gerak-gerik putrinya segera mengubah posisinya menjadi duduk, bersandar pada headboard ranjang."Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu, hm?"Alora menghirup napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Mama, Alora mau lanjut sekolah di Paris."Vera
Suasana kamar yang tadinya sudah panas kini berubah menjadi liar. Suara kulit yang beradu—PLOK! PLOK!—terdengar ritmis dan berat, mengiringi setiap hantaman Kaelan yang semakin dalam dan tanpa ampun.Vera mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih, tubuhnya terombang-ambing di bawah kuasa suaminya.“Ah... Kaelan, aku mohon... stop... ah!” rintih Vera, suaranya parau, matanya berair karena stimulasi yang sudah melewati batas pertahanannya.Kaelan tidak berhenti. Ia justru membungkuk, menumpu berat tubuhnya dengan lengan yang kokoh, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Vera. Ia menghisap kulit sensitif di sana, meninggalkan tanda kepemilikan yang panas.“Tidak akan, Baby,” bisik Kaelan dengan suara bass yang menggetarkan dada Vera. “Kita baru saja mulai.”“Ah... ah... ah!” Vera akhirnya memejamkan mata, melepaskan sisa-sisa perlawanannya. Tubuhnya melunak, membiarkan Kaelan melakukan apa pun yang pria itu inginkan. Namun, bukannya diam pasrah, gairah Vera justru tersulut lebih b
Tepat pukul tujuh pagi, Alora turun menapaki tangga Manor dengan langkah ringan. Wajahnya ceria, seolah mendung kemarin sore telah menguap tanpa bekas. Putri tunggal Sterling itu memang hampir tidak pernah terlihat muram. Siapa pun yang melihatnya akan maklum; dia adalah permata yang dimanjakan ole
Gairah yang tertahan di balik selendang sutra itu akhirnya mencapai titik didihnya. Kaelan melepaskan lilitan kain tipis yang membatasi kulit mereka, membiarkannya jatuh tak berdaya di atas rumput yang lembap. Ia menarik Vera agar bangkit sejenak, namun bukan untuk berdiri."Menungginglah, Sa
Hawa malam yang mulai mendingin sama sekali tidak mampu memadamkan api yang berkobar di kursi lukis itu. Begitu langkah Alora benar-benar menghilang, Kaelan tidak lagi menahan diri. Ia meraup bibir Vera dengan lumatan yang jauh lebih menuntut, seolah ingin menghapus setiap sisa kemarahan Vera ter
Langit di atas Sterling Manor mulai menjingga, lalu perlahan menggelap menjadi ungu pekat. Di taman belakang, Vera masih mematung di depan kanvasnya. Suasana sunyi, hanya terdengar suara gesekan kuas yang sesekali menggores kain. Vera tampak seperti pelukis yang sedang kerasukan; tubuhnya tegak, ma







