Home / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 2 - Harga Sebuah Ciuman

Share

Bab 2 - Harga Sebuah Ciuman

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-01-07 19:34:17

“Ganteng banget siapa nya Lala itu?”

“Om nya kali ya? Tadi kata nya Om tau,”

“Bukan deh dari mana Lala dapat keluarga kaya, orang dia anak yatim piatu kok,”

“Aneh banget,”

Lala merasa dunianya runtuh seketika. Di tengah lapangan sekolah, ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi iri, bingung, dan kasihan. Alistair, si "Om Tua" yang kemarin dia ejek, kini berdiri di depannya dengan aura penguasa yang sangat mencekam.

"Om... kok tahu sekolah Lala?" tanya Lala dengan suara yang menciut.

Alistair tidak menjawab. Pria itu hanya melirik Leon, yang dengan sigap membukakan pintu mobil mewah di belakang mereka.

"Masuk, Mikala," perintah Alistair dingin. Tidak ada bantahan.

"Nggak mau! Ini penculikan anak di bawah umur! Tolong! Lala mau diculik Om-Om!" teriak Lala mencoba mencari simpati.

Namun, Kepala Sekolah malah berdehem kaku. "Lala, Pak Alistair ini donatur terbesar yayasan kita. Beliau hanya ingin membicarakan urusan bisnis denganmu. Masuklah."

Lala melongo. Bisnis gundulmu! Ini mah penindasan namanya!

“Maaf, tapi kenapa Lala di bawa?”ucap Sisi dengan gemetar menahan tangan Lala.

“Kau juga yang kemarin? Apa kau mau ikut bertanggung jawab, bocah kacamata?”tanya Alisthair datar.

“Bu bu bukan ta tapi, jangan sakiti Lala,”ucap Sisi ketakutan melihat wajah Alistair.

Lala yang meras Alistair malah menakuti sahabatnya itu langsung menarik tangan Sisi ke belakang badan nya. Seolah Lala adalah pelindung Sisi dengan wajah kesal, Lala menaik kan jari nya menunjuk kesal Alistair.

“Jangan buat sisi takut ya! Atau aku akan tidak ikut!”teriak Lala dengan kesal kepada Alistair.

“Nona bisakah anda berhenti berteriak, tuan saya bisa pergi ke dokter THT karena anda,”datar Leon kepada Lala.

“THT? Apaan tuh, dokter kandungan? Bodoamad deh pokok nya! Ga peduli, Sisi kamu doain aku ya,”peluk Lala kepada Sisi.

“Hiks… Lala maafin aku, ini semua gara gara aku La. Karena kamu nemenin aku kemarin,”tangis Sisi memeluk Lala juga.

“Tidak apa-apa Sisi, sepertinya hidup ku sampai di sini. Sisi aku akan menunggu doa dari mu,”ujar Lala tersenyum penuh drama.

“Apa apaan dua bocah alay ini? Aku hanya meminta dia membayar ganti rugi bukan ingin mengantarkan nya ke kamboja,” batin Alistair dengan kesal melihat drama mereka yang alay.

Tanpa bisa melawan, Lala didorong pelan oleh Leon masuk ke dalam mobil. Sisi hanya bisa menatap dari jauh dengan tangan gemetar, sementara di dalam mobil lain yang terparkir agak jauh, Kenzo memperhatikan Sisi lewat kaca jendela yang gelap.

“Lalaaa jangan pergii!!!”teriak Sisi keras.

“Sisi jangan lupa sholat tahajud doain aku ya!!”senyum Lala melambaikan tangan sambil mengusap air mata nya.

Di Dalam Mobil Rolls-Royce.

Suasana di dalam mobil sangat dingin. Alistair duduk di sampingnya, sibuk dengan tablet di tangannya, seolah Lala hanyalah butiran debu yang tidak sengaja terbawa masuk.

"Om..."

"Nama saya Alistair. Bukan Om," potong pria itu tanpa menoleh.

"Ya elah, beda dikit doang. Om Al, ini kita mau ke mana? Jangan jual Lala ke luar negeri ya! Lala makannya banyak, nanti Om rugi!" cerocos Lala mulai berisik.

Alistair menghela napas panjang. Dia meletakkan tabletnya dan menyodorkan selembar kertas resmi. "Ini total kerugian jam tangan saya. Termasuk biaya perbaikan dan kerugian imaterial karena jadwal saya kacau gara-gara kamu kabur."

Lala menerima kertas itu. Matanya hampir keluar saat melihat angka di sana.

"SATU MILIAR TUJUH RATUS JUTA?! Om, jam tangannya terbuat dari tulang naga ya?!" teriak Lala histeris. "Cicilan sepuluh ribu sebulan... berarti saya lunasnya baru pas hari kiamat dong?!"

Alistair menoleh, menatap Lala dengan tatapan miring. "Tepat sekali. Karena kamu tidak punya uang, kamu harus bayar dengan tenaga. Kamu akan jadi asisten pribadi saya. Tinggal di rumah saya. Urus semua keperluan saya."

“Apa?? Apa ini kerja rodi? Om saya masih anak di bawah umur, apa om tega menghukum gadis imut lucu dan manis seperti saya?”tanya Lala membuat wajah imut yang membuat Alistair jijik.

“Hentikan itu, kau terlihat bodoh. Ini kesalahan mu, kau hanya bertanggung jawab dengan apa yang kau perbuat,”ketus Alistair.

“Susah ngomong sama om om tua,”gumam Lala.

“Kau bilang apa?”heran Alistair.

“Eh tidak,”geleng Lala cepat.

Lala panik. Dia mencari cara untuk negosiasi. Otaknya yang sering nonton drama Korea tiba-tiba bekerja liar.

"Om... atau gini aja deh. Di novel yang Lala baca, kalau cewek nabrak CEO terus nggak bisa ganti rugi, biasanya bayarnya pakai... ciuman? Satu ciuman dipotong sejuta gitu? Gimana?" Lala asal bicara, hanya ingin melihat reaksi Alistair.

Mobil mendadak mengerem mendadak karena Leon yang menyetir di depan kaget bukan main. Alistair terdiam. Dia perlahan melepas jasnya, lalu bergerak mendekat ke arah Lala.

Lala merapat ke pintu mobil. "O-om... mau ngapain?"

Alistair mengurung tubuh mungil Lala dengan kedua tangannya, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma parfum sandalwood yang mahal langsung menusuk indra penciuman Lala.

"Kamu pikir... bibir kamu itu semahal itu?" bisik Alistair dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Lala berdiri. "Bahkan kalau saya cium kamu sampai bibir kamu lecet pun, itu tidak akan mengurangi seribu rupiah dari hutangmu, Mikala."

Wajah Lala memerah padam. Dia merasa sangat malu sekaligus merinding karena tatapan Alistair turun ke bibirnya.

"Jadi, simpan tawaran konyolmu itu," sambung Alistair sambil menjauhkan tubuhnya kembali.

"Satu ciuman kamu tidak ada harganya bagi saya. Tapi kalau kamu memanggil saya 'Om' sekali lagi... saya tidak akan segan menagih 'harga' yang lebih mahal dari sekadar ciuman."

Mansion Vanderwick.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lebih mirip istana. Lala dipaksa turun dengan kaki lemas.

"Tugas pertama kamu," Alistair berjalan mendahului Lala masuk ke dalam rumah yang sangat luas itu. "Bereskan ruang kerja saya yang berantakan. Dan ingat, satu barang rusak, hutangmu bertambah seratus juta."

Lala menghentakkan kakinya kesal. "Dasar Om-Om Posesif! Galak! Sombong! Wleee!" Lala meletkan lidahnya ke punggung Alistair saat pria itu tidak melihat.

Alistair tiba-tiba berhenti dan berbalik cepat. Lala langsung menutup mulutnya rapat-rapat.

"Dan Mikala..." Alistair menunjuk ke arah kamar di lantai dua. "Mulai malam ini, kamar kamu ada di sebelah kamar saya. Jangan coba-coba kabur, atau asisten saya, Leon, akan menjemputmu dengan borgol."

Lala masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap kamar semewah itu, lalu teringat kosan "kandang ayamnya" yang sempit. Dia baru saja akan merebahkan diri saat ponselnya bergetar hebat.

Sisi menelepon sambil terisak. "La... tolong aku... ada pria aneh berjas hitam yang terus mengikutiku sampai ke depan rumah... dia bilang... bosnya ingin bertemu denganku..."

Lala terbelalak. "SISI?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 8 - Bukan sekedar pembantu

    Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 7 - Sisi Luka yang menghitam

    Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 6 - Bayang bayang masa lalu

    Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 5 - Bayangan masa lalu

    Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 4 - Dapur Istana atau Medan perang

    Sekolah… “Selamat ya teman-teman akhirnya kita lulus,”ujar Yudika kepada teman-teman sekelas nya. “Aku mau langsung daftar ke sekolah keperawatan doain ya,”ucap Bitri terkekeh. “Lala kamu mau kuliah di mana? Eh lupa kamu ga kuliah ya? Kan ga ada uang haha,”tawa Bitri terkekeh. Sedangkan Lala di sana hanya memutar bola mata nya malas mendengar ucapan dari teman nya itu, dia hanya melihat nilai nya dan menghembuskan nafas nya pelan. Sisi yang duduk di samping Lala di kelas itu mengenggam tangan sahabatnya lembut. “Lala jangan dengerin ya, kamu gimana? Masih kerja di tempat Om CEO itu?”tanya Sisi khawatir kepada Lala. “Ya gitu hutang ku kan dua milliar berapa ya kata nya lupa. Tapi Si di sana enak rumah nya bagus, aku boleh nonton tv juga, tapi emang Om nya ribet sama berisik aja. Kayak orang tua aku aja suka nyuruh nyuruh,”ujar Lala dengan kesal. “Syukurlah Lala kalau kau baik-baik saja. Aku akan mencari pekerjaan dan membantu mu membayar hutang, nanti kita tinggal berdua ya,”sen

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 3 - Penyelamatan atau Jebakan

    "SISI! HALO! SISI!"Lala berteriak histeris, tapi hanya suara dengung telepon yang terputus yang menjawabnya. Jantung Lala berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.Tanpa pikir panjang, Lala langsung berlari keluar kamar. Dia tidak peduli lagi dengan kemewahan mansion ini. Yang ada di pikirannya hanya keselamatan sahabat satu-satunya."Leon! Om! Tolong!" teriak Lala sambil menuruni tangga dengan tergesa-gesa.Alistair yang sedang menyesap kopi di ruang tengah menoleh dengan dahi berkerut."Berhenti berteriak, Mikala. Ini rumah, bukan hutan," ucap Alistair dingin.Lala tidak peduli. Dia langsung menghambur ke depan Alistair dan mencengkeram lengan jas pria itu."Om, tolongin Sisi! Sisi diculik! Tadi dia telepon, dia bilang ada orang jahat yang ngikutin dia!"Alistair melepaskan tangan Lala dari lengannya dengan perlahan, lalu menatap jam tangan barunya yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan."Itu bukan urusanku," jawab Alistair enteng.Lala melongo.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status