LOGIN“Ganteng banget siapa nya Lala itu?”
“Om nya kali ya? Tadi kata nya Om tau,” “Bukan deh dari mana Lala dapat keluarga kaya, orang dia anak yatim piatu kok,” “Aneh banget,” Lala merasa dunianya runtuh seketika. Di tengah lapangan sekolah, ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi iri, bingung, dan kasihan. Alistair, si "Om Tua" yang kemarin dia ejek, kini berdiri di depannya dengan aura penguasa yang sangat mencekam. "Om... kok tahu sekolah Lala?" tanya Lala dengan suara yang menciut. Alistair tidak menjawab. Pria itu hanya melirik Leon, yang dengan sigap membukakan pintu mobil mewah di belakang mereka. "Masuk, Mikala," perintah Alistair dingin. Tidak ada bantahan. "Nggak mau! Ini penculikan anak di bawah umur! Tolong! Lala mau diculik Om-Om!" teriak Lala mencoba mencari simpati. Namun, Kepala Sekolah malah berdehem kaku. "Lala, Pak Alistair ini donatur terbesar yayasan kita. Beliau hanya ingin membicarakan urusan bisnis denganmu. Masuklah." Lala melongo. Bisnis gundulmu! Ini mah penindasan namanya! “Maaf, tapi kenapa Lala di bawa?”ucap Sisi dengan gemetar menahan tangan Lala. “Kau juga yang kemarin? Apa kau mau ikut bertanggung jawab, bocah kacamata?”tanya Alisthair datar. “Bu bu bukan ta tapi, jangan sakiti Lala,”ucap Sisi ketakutan melihat wajah Alistair. Lala yang merasa Alistair malah menakuti sahabatnya itu langsung menarik tangan Sisi ke belakang badan nya. Seolah Lala adalah pelindung Sisi dengan wajah kesal, Lala menaik kan jari nya menunjuk kesal Alistair. “Jangan buat sisi takut ya! Atau aku akan tidak ikut!”teriak Lala dengan kesal kepada Alistair. “Nona bisakah anda berhenti berteriak, tuan saya bisa pergi ke dokter THT karena anda,”datar Leon kepada Lala. “THT? Apaan tuh, dokter kandungan? Bodoamad deh pokok nya! Ga peduli, Sisi kamu doain aku ya,”peluk Lala kepada Sisi. “Hiks… Lala maafin aku, ini semua gara gara aku La. Karena kamu nemenin aku kemarin,”tangis Sisi memeluk Lala juga. “Tidak apa-apa Sisi, sepertinya hidup ku sampai di sini. Sisi aku akan menunggu doa dari mu,”ujar Lala tersenyum penuh drama. “Apa apaan dua bocah alay ini? Aku hanya meminta dia membayar ganti rugi bukan ingin mengantarkan nya ke kamboja,” batin Alistair dengan kesal melihat drama mereka yang alay. Tanpa bisa melawan, Lala didorong pelan oleh Leon masuk ke dalam mobil. Sisi hanya bisa menatap dari jauh dengan tangan gemetar, sementara di dalam mobil lain yang terparkir agak jauh, Kenzo memperhatikan Sisi lewat kaca jendela yang gelap. “Lalaaa jangan pergii!!!”teriak Sisi keras. “Sisi jangan lupa doain aku ya!!”senyum Lala melambaikan tangan sambil mengusap air mata nya. Di Dalam Mobil Rolls-Royce. Suasana di dalam mobil sangat dingin. Alistair duduk di sampingnya, sibuk dengan tablet di tangannya, seolah Lala hanyalah butiran debu yang tidak sengaja terbawa masuk. "Om..." "Nama saya Alistair. Bukan Om," potong pria itu tanpa menoleh. "Ya elah, beda dikit doang. Om Al, ini kita mau ke mana? Jangan jual Lala ke luar negeri ya! Lala makannya banyak, nanti Om rugi!" cerocos Lala mulai berisik. Alistair menghela napas panjang. Dia meletakkan tabletnya dan menyodorkan selembar kertas resmi. "Ini total kerugian jam tangan saya. Termasuk biaya perbaikan dan kerugian imaterial karena jadwal saya kacau gara-gara kamu kabur." Lala menerima kertas itu. Matanya hampir keluar saat melihat angka di sana. "SATU MILIAR TUJUH RATUS JUTA?! Om, jam tangannya terbuat dari tulang naga ya?!" teriak Lala histeris. "Cicilan sepuluh ribu sebulan... berarti saya lunasnya baru pas hari kiamat dong?!" Alistair menoleh, menatap Lala dengan tatapan miring. "Tepat sekali. Karena kamu tidak punya uang, kamu harus bayar dengan tenaga. Kamu akan jadi asisten pribadi saya. Tinggal di rumah saya. Urus semua keperluan saya." “Apa?? Apa ini kerja rodi? Om saya masih anak di bawah umur, apa om tega menghukum gadis imut lucu dan manis seperti saya?”tanya Lala membuat wajah imut yang membuat Alistair jijik. “Hentikan itu, kau terlihat bodoh. Ini kesalahan mu, kau hanya bertanggung jawab dengan apa yang kau perbuat,”ketus Alistair. “Susah ngomong sama om om tua,”gumam Lala. “Kau bilang apa?”heran Alistair. “Eh tidak,”geleng Lala cepat. Lala panik. Dia mencari cara untuk negosiasi. Otaknya yang sering nonton drama Korea tiba-tiba bekerja liar. "Om... atau gini aja deh. Di novel yang Lala baca, kalau cewek nabrak CEO terus nggak bisa ganti rugi, biasanya bayarnya pakai... ciuman? Satu ciuman dipotong sejuta gitu? Gimana?" Lala asal bicara, hanya ingin melihat reaksi Alistair. Mobil mendadak mengerem mendadak karena Leon yang menyetir di depan kaget bukan main. Alistair terdiam. Dia perlahan melepas jasnya, lalu bergerak mendekat ke arah Lala. Lala merapat ke pintu mobil. "O-om... mau ngapain?" Alistair mengurung tubuh mungil Lala dengan kedua tangannya, membuat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma parfum sandalwood yang mahal langsung menusuk indra penciuman Lala. "Kamu pikir... bibir kamu itu semahal itu?" bisik Alistair dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Lala berdiri. "Bahkan kalau saya cium kamu sampai bibir kamu lecet pun, itu tidak akan mengurangi seribu rupiah dari hutangmu, Mikala." Wajah Lala memerah padam. Dia merasa sangat malu sekaligus merinding karena tatapan Alistair turun ke bibirnya. "Jadi, simpan tawaran konyolmu itu," sambung Alistair sambil menjauhkan tubuhnya kembali. "Satu ciuman kamu tidak ada harganya bagi saya. Tapi kalau kamu memanggil saya 'Om' sekali lagi... saya tidak akan segan menagih 'harga' yang lebih mahal dari sekadar ciuman." Mansion Vanderwick. Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lebih mirip istana. Lala dipaksa turun dengan kaki lemas. "Tugas pertama kamu," Alistair berjalan mendahului Lala masuk ke dalam rumah yang sangat luas itu. "Bereskan ruang kerja saya yang berantakan. Dan ingat, satu barang rusak, hutangmu bertambah seratus juta." Lala menghentakkan kakinya kesal. "Dasar Om-Om Posesif! Galak! Sombong! Wleee!" Lala meletkan lidahnya ke punggung Alistair saat pria itu tidak melihat. Alistair tiba-tiba berhenti dan berbalik cepat. Lala langsung menutup mulutnya rapat-rapat. "Dan Mikala..." Alistair menunjuk ke arah kamar di lantai dua. "Mulai malam ini, kamar kamu ada di sebelah kamar saya. Jangan coba-coba kabur, atau asisten saya, Leon, akan menjemputmu dengan borgol." Lala masuk ke kamarnya dengan perasaan campur aduk. Dia menatap kamar semewah itu, lalu teringat kosan "kandang ayamnya" yang sempit. Dia baru saja akan merebahkan diri saat ponselnya bergetar hebat. Sisi menelepon sambil terisak. "La... tolong aku... ada pria aneh berjas hitam yang terus mengikutiku sampai ke depan rumah... dia bilang... bosnya ingin bertemu denganku..." Lala terbelalak. "SISI?!"Lala masih berdiri terpaku di anak tangga teras, menatap pria asing yang penampilannya sangat jauh dari kata "rapi" menurut standar lingkungan Vanderwick. Pria itu, dengan tato yang menjalar di lengannya dan gaya rambut belah tengah yang sedikit berantakan, menatap Lala dengan binar mata yang jenaka. Ia tampak menikmati kebingungan di wajah cantik Lala. "Siapa ya? Apa kita pernah bertemu?" tanya Lala dengan ragu. Ingatannya mencoba menyisir setiap wajah yang pernah ia kenal, namun pria di depannya ini terlihat seperti berandalan jalanan yang tampan, sementara ingatan Lala hanya dipenuhi oleh anak-anak panti yang kurus dan berpakaian lusuh. Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar berat namun sangat akrab. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengabaikan Leon yang sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap menarik senjata jika pria itu berbuat macam-macam. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Lala, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat rendah. "Es kul-kul
Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya. “Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu refreshing atau ada kau Si dan Lala,”senyum Intan kepada Sisi. “Saking sering nya bergaul dengan suami ku seperti nya aku sedikit ketularan sifat mengatur nya,”jawab Sisi terkekeh kepada Intan. “Maksud mu?”tanya Intan heran. “Ya aku sering memarahi nya. Karena Lala hamil dia meminta aku segera hamil juga agar ada pewaris Moretti, tapi aku tetap memakan pil kb, aku belum siap jadi ibu aku merasa masih muda. Apa lagi Kenzo itu masih sangat labih,”ucap Sisi memutar bola mata nya dengan malas. “
Seminggu telah berlalu sejak kabar kehamilan Lala mengguncang Mansion Vanderwick. Jika biasanya pagi hari di kediaman itu diisi dengan keheningan yang elegan dan aroma kopi mahal, kini suasananya berubah total. Alistair Vanderwick, pria yang bisa menjatuhkan lawan bisnis hanya dengan satu kerutan dahi, kini sedang berlutut di depan kloset dengan wajah yang sangat menyedihkan. "Huekk... huekk..." Alistair membasuh mulutnya, tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Benar kata Dokter Elvin, rasa mual itu tidak hilang begitu saja. Alistair justru seolah menjadi "perwakilan" Lala untuk merasakan semua penderitaan fisik di trimester pertama. Lala masuk ke kamar mandi dengan wajah segar bugar, kontras sekali dengan suaminya. "Bub, masih mual? Maaf ya, sepertinya bayinya lebih suka bikin Bub yang olahraga pagi di kamar mandi daripada Lala." Alistair mendongak, menatap istrinya dengan tatapan sayu namun tetap penuh cinta. "Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik aku yang merasakannya daripada
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari halaman Mansion Vanderwick yang asri. Alistair sedang duduk di teras belakang, menikmati teh chamomile yang disarankan Dokter Elvin untuk meredakan sisa-sisa mualnya. Di sampingnya, Lala sedang asyik memakan potongan buah segar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alistair. Suasana yang begitu damai itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin Lamborghini yang sengaja digeber kencang di depan lobi. "Siapa lagi kalau bukan si berisik itu," gumam Alistair sambil meletakkan cangkir tehnya dengan helaan napas panjang. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Kenzo muncul dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, diikuti oleh Sisi yang tampak membawa beberapa tas belanjaan berlogo merk bayi ternama. Namun, yang membuat Alistair mengerutkan dahi adalah apa yang dibawa oleh dua orang pengawal Kenzo di belakang mereka. Sebuah replika baju zirah abad pertengahan berukuran kecil dan sebuah motor mini b
Lobi rumah sakit pribadi itu terasa begitu sepi dan eksklusif. Di tengah ruangan yang didominasi marmer putih, Mommy Laurent berdiri dengan anggun, meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang masih cantik. Begitu melihat Alistair dan Lala keluar dari lorong area kebidanan, ia segera melangkah maju. Langkah Laurent terhenti sejenak. Ia melihat mata Alistair yang memerah—pemandangan yang sangat langka. Ia juga melihat bagaimana tangan besar putranya itu merangkul pinggang Lala dengan sangat protektif, bahkan tangan Alistair yang lain menempel secara intuitif di perut Lala. "Alistair? Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian dari area kebidanan?" tanya Laurent dengan suara yang sedikit bergetar. Alistair terdiam sejenak. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak menjabat sebagai CEO, ia memang sudah memaafkan Laurent. Mereka sering makan malam bersama dan Alistair selalu memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi. Namun, keakraban mereka masih memiliki bat
Ruang pemeriksaan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung janin yang masih terdengar dari mesin USG—sebuah irama kehidupan yang seharusnya membawa sorak-sorai kebahagiaan. Namun, pemandangan di depan mata Lala justru sebaliknya. Alistair, pria yang merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan, kini tampak hancur di kursi di samping tempat tidur. Alistair menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara isak tangisnya tertahan, namun bahunya yang lebar itu berguncang hebat. Air mata lolos melalui celah jemarinya, membasahi jas mahal yang ia kenakan. Lala yang masih berbaring di tempat tidur pemeriksaan merasa jantungnya mencelos. Kebahagiaan yang baru saja membuncah saat melihat titik kecil di layar tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menyesakkan dada. Ia segera duduk dan menyentuh lengan Alistair dengan ragu. "Bub..." suara Lala gemetar, "Kenapa menangis? Apa... apa Bub tidak suka kalau ada bayi di perut Lala?" Lala menatap Alistai







