Masuk
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, dua gadis SMA dengan seragam rompi pink kotak-kotak dan dasi senada tampak celingak-celinguk di depan sebuah gedung pencakar langit. Vanderwick Corp. Nama itu terpampang megah dengan huruf emas di atas lobi yang luasnya hampir selapangan bola.
"La, mending kita pulang aja yuk? Perasaanku nggak enak," rengek Sisi sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot karena keringat dingin. "Nggak bisa, Sisi! Kalau barang ini nggak nyampai ke tangan asistennya Pak Julian Vanderwick itu, Ibu tiri kamu bakal motong uang jajan kamu sebulan! Kamu mau makan promag doang di kantin?" balas Lala menggebu-gebu sambil memeluk sebuah kotak kecil. Lala menengadah, menatap gedung di depannya sampai lehernya pegal. "Gila, ini kantor apa tangga menuju surga? Tinggi amat! Pasti yang punya gedung ini sombongnya minta ampun," gumam Lala takjub sekaligus nyinyir. "Aduh, Sisi! Cepetan lari! Kalau kita telat, Ibu Tiri kamu bisa berubah jadi Maleficent!" ucap Lala menarik tangan sahabatnya paksa. Sementara itu, di dalam lobi yang dingin karena AC sentral, aroma maskulin yang mahal menguar saat pintu kaca otomatis terbuka. Alistair Julian Vanderwick berjalan dengan langkah tegap, didampingi Leon asisten setianya dan seorang pria berwajah dingin dengan aura gelap di sampingnya. “Sudah aku katakan, hentikan tabiat burukmu itu. Aku tidak berurusan dengan seorang mafia,” ketus Alistair dengan suara rendah yang berwibawa. “Tch, jangan sombong. Perusahaanmu juga memerlukan dana haramku, bukan? Jadi jangan menolak, aku butuh bantuanmu,” sahut Kenzo datar, mengabaikan tatapan tajam orang-orang di lobi. “Kenzo, lebih baik kau pergi. Mau umurmu sampai selama pohon Robin Hood pun, aku tak akan mengatakan ya,” pungkas Alistair tegas. Lala tidak melihat rombongan pria berjas itu. Dia terlalu fokus menarik Sisi menembus kerumunan karyawan. "Tenang aja, Si! Kita cuma anter barang, terus kab—" BRAAAKKK! Dunia seolah berhenti berputar. Lala menabrak sesuatu yang sekeras tembok beton. Byuurrr! Es kopi di tangan kiri Lala terlepas, muncrat dengan estetik tepat ke arah kemeja putih mahal dan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan pria di depannya. Lala mendongak. Di depannya berdiri pria jangkung dengan wajah blasteran yang sangat tampan, tapi tatapannya seolah ingin melempar Lala dari lantai paling atas gedung ini. "Aduh! Maaf, Om! Sumpah Lala nggak sengaja!" Lala panik. Tanpa pikir panjang, dia menarik ujung seragam SMA-nya untuk mengelap jam tangan pria itu. "Jam Om nanti Lala ganti deh. Tapi cicil ya? Sebulan sepuluh ribu, gimana?" Alistair Julian Vanderwick membeku. Dia menatap jam tangannya dengan rahang mengeras. "Kamu panggil saya apa? Om? Dan kamu mau ganti jam tangan seharga satu unit apartemen ini dengan sepuluh ribu sebulan?" Lala mengerjapkan mata polos. "Ya... habisnya muka Om kelihatan... dewasa banget. Galak lagi. Jadi pantesnya dipanggil Om, kan? Masa Kakak? Nggak cocok!" Alistair memejamkan mata, menahan urat lehernya agar tidak meledak. Dewasa? Gue baru dua puluh delapan tahun! Ini bocah ingusan manggil gue Om?! Alistair melirik Sisi yang bersembunyi di belakang Lala sambil gemetaran. "Kamu... temannya juga? Kamu harus ikut tanggung jawab." Melihat Sisi mau menangis, jiwa pahlawan Lala bangkit. Dia merentangkan tangan, melindungi Sisi. "Heh Om Al-apa-tadi! Urusan jam itu sama aku! Jangan nakutin temenku, dia nggak tahu apa-apa!" gertak Lala berani. "Lagian jam tangan doang, masa CEO pelit banget!" Alistair menaikkan sebelah alis. Menarik. Baru kali ini ada anak SMA yang berani membentaknya. "Oh ya? Terus kalau saya tetap mau lapor polisi, kamu mau apa?" Lala melirik Leon, lalu melirik pintu keluar. Satu... dua... tiga! "Aku mau... KABUR! SEKARANG! SISI, LARI!!!" Lala menarik paksa Sisi. Alistair yang tidak siap hampir tersungkur karena didorong. Sebelum hilang di balik pintu, Lala berbalik sebentar, menarik bawah matanya dan memeletkan lidahnya lebar-lebar. "WLEEEEEEE! Kejar aja kalau bisa, Om Tuaaaa! Jangan kangen yaaa!" Suasana lobi mendadak hening. Alistair mematung, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Di sampingnya, Kenzo Alessandro Moretti justru terkekeh pelan. Mata elangnya menatap punggung gadis culun yang ditarik Lala tadi. "Menarik," gumam Kenzo. "Alistair, sepertinya kita punya mainan baru." Alistair meremas kartu namanya sendiri sampai hancur. "Leon!" "Ya, Sir?" Leon sigap mendekat, mati-matian menahan tawa. "Cari identitas bocah itu sekarang. Saya mau dia berlutut dan minta maaf sebelum matahari terbenam besok!" Lala dan Sisi terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Mereka menerjang trotoar, menyalip pejalan kaki, bahkan hampir menabrak tukang siomay di depan gedung. Jantung Lala serasa mau melompat keluar, bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut dipolisikan oleh pria yang dia panggil "Om Tua" tadi. "La... hosh... hosh... berhenti dulu, La! Kakiku mau lepas!" Sisi ambruk di sebuah halte bus yang cukup jauh dari gedung Vanderwick Corp. Wajahnya sudah sepucat kertas HVS. Lala ikut berhenti, membungkuk sambil memegangi lututnya yang gemetar. Napasnya memburu. "Gila... hosh... itu tadi hampir saja! Sisi, kamu lihat nggak muka Om-Om tadi? Merah banget kayak kepiting rebus! Hahaha!" "Kamu malah ketawa!" Sisi memukul lengan Lala pelan, air mata hampir jatuh dari balik kacamatanya. "Gimana kalau dia beneran lapor polisi? Itu jam tangan mahal, Lala! Harganya bisa buat beli seisi sekolah kita!" Lala menyeka keringat di dahinya, lalu menyengir lebar, berusaha menutupi rasa takutnya sendiri. "Tenang aja, Si. Dia itu CEO sibuk. Mana mungkin dia punya waktu buat nyari dua anak SMA kayak kita. Dunia ini luas, Sisi! Besok juga dia udah lupa sama muka imut kita." Lala kembali merogoh tasnya, memastikan barang titipan Ibu Tiri Sisi masih aman. "Lagian, kita kan nggak sebutin nama. Dia nggak tahu kita siapa, sekolah di mana. Anggap aja tadi itu olahraga jantung gratis." "Tapi La—" "Sssttt! Udah, sekarang kita pulang, mandi, terus tidur. Besok adalah hari baru. Lupakan Om Galak itu, oke?" Lala merangkul Sisi, mencoba meyakinkan sahabatnya meskipun dalam hati dia juga sedikit was-was. Malam itu, Lala tidur dengan sangat nyenyak, sama sekali tidak menyadari bahwa di sebuah kantor penthouse mewah, berlembar-lembar data pribadinya sudah tersaji di atas meja kerja Alistair Julian Vanderwick. Keesokan Harinya di SMA Bakti Bangsa. Lala berjalan menyusuri koridor sekolah dengan santai sambil mengunyah permen karet. Dia merasa menang. Kejadian kemarin sudah dia kubur dalam-dalam. Baginya, Alistair hanyalah "Bos Sombong" yang lewat dalam hidupnya. "Pagi, Sisi! Masih hidup, kan?" sapa Lala ceria saat melihat Sisi duduk gemetaran di bangku kelas. "La... kamu belum lihat di depan gerbang?" tanya Sisi dengan suara bergetar. "Lihat apa? Ada tukang seblak baru?" "Bukan... itu..." Tiba-tiba, suara pengeras suara sekolah berbunyi, memecah suasana pagi yang tenang. "Panggilan kepada siswi bernama Mikala Laluna Putri dari kelas 12-IPA 1. Segera menuju ke lapangan utama sekarang juga. Sekali lagi, Mikala Laluna Putri..." Lala mengernyit. "Dih, perasaan aku nggak telat. Ngapain dipanggil?" Dengan langkah santai dan rasa penasaran, Lala berjalan menuju lapangan. Namun, langkahnya mendadak terkunci saat melihat pemandangan di depannya. Di tengah lapangan, terparkir sebuah mobil Rolls-Roycehitam mengkilap yang sangat kontras dengan lingkungan sekolah. Kepala Sekolah berdiri dengan sikap sangat sopan nyaris membungkuk di samping seorang pria jangkung yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap dan kacamata hitam. Aura pria itu begitu kuat, membuat seluruh siswi yang mengintip dari jendela kelas menjerit histeris. Pria itu perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap tajam ke arah Lala yang mematung di pinggir lapangan. Lala ingin berbalik dan lari, tapi kakinya serasa terpaku ke aspal saat pria itu mulai melangkah mendekat. Setiap ketukan sepatunya di lantai semen lapangan terdengar seperti lonceng kematian bagi Lala. Pria itu berhenti tepat di depan Lala, membuat bayangannya yang tinggi menutupi tubuh mungil gadis itu. Dia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Lala yang mendadak pucat pasi. Senyum miring yang sangat tipis muncul di bibir pria itu. Senyum yang tidak terlihat ramah sama sekali. "Mau kabur ke mana lagi, bocah?" bisik Alistair dengan suara rendah yang sangat seksi sekaligus mengerikan. Lala menelan ludah susah payah. "O-om... kok tahu sekolah Lala?" Alistair meraih sejumput rambut Lala, lalu menyentil kening gadis itu pelan dengan kartu nama mahalnya. "Ketemu kau, Biang Kerok."“Lala semoga kau berhasil,”gumam Sisi. Di meja bar restoran steak itu, Sisi menatap nanar punggung Lala yang semakin menjauh meninggalkan restoran. Bahu sahabatnya itu terlihat bergetar, dan Sisi tahu Lala sedang menahan tangis. "Apakah kau sangat khawatir dengan temanmu itu?" Suara berat Kenzo memecah lamunan Sisi. Pria itu menyesap minumannya dengan tenang, seolah drama yang baru saja terjadi hanya tontonan hiburan baginya. Sisi menoleh dengan tatapan tajam. "Tentu saja! Dia sahabatku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Om Galak itu? Kenapa dia berubah jadi menyeramkan setelah melihat foto itu?" Kenzo terkekeh tipis, matanya menatap botol alkohol di depannya. "Elena... dia adalah cinta pertama Alistair. Tidak akan pernah ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukannya di hati Alistair. Sekalipun itu temanmu, Baby." Hati Sisi mencelos mendengarnya. "Lalu kenapa Om itu terus membuat Lala terjebak di hidupnya? Lala bisa saja jatuh cinta dan menyakiti dirinya sendiri karena pera
Keesokan hari nya… “Om Lala gamau ya, kalau gara gara ini hutang Lala nambah!”kesal Lala kepada Alistair. “Apa kau setakut itu juga hutang mu bertambah?”heran Alistair kepada Lala saat ini di atas mobil. “Tentu Om! Untuk apa memperkaya orang yang sudah kaya, dunia ini benar benar tidak adil kan!”kesal Lala kepada Alistair. Pria itu tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap kembali tablet nya dengan datar tanpa mempedulikan ocehan nya Lala dari tadi. “Tuan kita sudah sampai,”ucap Leon kepada Alistair. “Ikut aku.”ajak Alistair. Alistair membawa Lala ke sebuah butik mewah. Di sana, Lala di-makeover habis-habisan. “Selamat datang tuan Vanderwick. Sudah lama tidak berkunjung ah, anda datang dengan pacar baru anda ya, sepertinya lebih muda dari nona Elana,”ujar wanita itu tersenyum ramah. “Jangan sebut nama wanita itu! Atau Lala akan gigit kakak!”teriak Lala dengan kesal tapi lucu. “Ah nona, maafkan saya. Apa anda cemburu? Maafkan atas kelancangan saya, tenang saja. Saya akan
Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c
Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan
Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko
Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s







