LOGIN"SISI! HALO! SISI!"
Lala berteriak histeris, tapi hanya suara dengung telepon yang terputus yang menjawabnya. Jantung Lala berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya. Tanpa pikir panjang, Lala langsung berlari keluar kamar. Dia tidak peduli lagi dengan kemewahan mansion ini. Yang ada di pikirannya hanya keselamatan sahabat satu-satunya. "Leon! Om! Tolong!" teriak Lala sambil menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Alistair yang sedang menyesap kopi di ruang tengah menoleh dengan dahi berkerut. "Berhenti berteriak, Mikala. Ini rumah, bukan hutan," ucap Alistair dingin. Lala tidak peduli. Dia langsung menghambur ke depan Alistair dan mencengkeram lengan jas pria itu. "Om, tolongin Sisi! Sisi diculik! Tadi dia telepon, dia bilang ada orang jahat yang ngikutin dia!" Alistair melepaskan tangan Lala dari lengannya dengan perlahan, lalu menatap jam tangan barunya yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan. "Itu bukan urusanku," jawab Alistair enteng. Lala melongo. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih, melainkan karena marah. "Kok bukan urusan Om?! Sisi diculik gara-gara kejadian kemarin! Kalau Om nggak bawa aku ke sini, aku pasti lagi sama Sisi sekarang!" Alistair berdiri, tubuh tingginya membuat Lala harus mendongak maksimal. "Dengar, bocah. Tugasku hanya memastikan kamu membayar hutangmu. Aku bukan pahlawan kesiangan yang mengurus penculikan anak SMA," ketus Alistair. Lala mengepalkan tangannya. "Dasar Om-Om nggak punya hati! Oke, kalau Om nggak mau bantu, aku pergi sendiri!" Lala berbalik dan berlari menuju pintu besar mansion. Tapi belum sempat dia menyentuh gagang pintu, tangan besar Alistair sudah lebih dulu menahan pundaknya. "Kamu pikir bisa keluar dari sini tanpa izin saya?" "Lepasin! Aku harus selamatin Sisi!" Lala meronta, bahkan mencoba menggigit tangan Alistair. "Leon," panggil Alistair datar. Leon muncul dari balik pintu samping. "Iya, Tuan?" "Cari tahu keberadaan gadis kacamata itu sekarang. Dan suruh Kenzo berhenti bermain-main," perintah Alistair yang membuat Lala tertegun. Lala berhenti meronta. "Kenzo? Siapa Kenzo? Om kenal sama orang yang ngikutin Sisi?!" Alistair tidak menjawab. Dia hanya menatap ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ikut saya ke mobil. Sekarang," perintah Alistair. Di dalam Mobil. Suasana kali ini jauh lebih tegang dari sebelumnya. Alistair terus menatap layar tabletnya yang menampilkan titik merah yang bergerak cepat di peta digital. "Om, Sisi baik-baik aja kan? Siapa itu Kenzo? Dia orang jahat ya?" tanya Lala bertubi-tubi. "Kenzo adalah adik sepupuku yang kurang kerjaan. Dan jika benar dia yang membawa temanmu, maka temanmu dalam masalah besar," jawab Alistair tanpa ekspresi. Lala merasa lemas. Masalah besar? Sisi yang polos itu mau diapain sama adik sepupu Om galak ini?! Mobil Rolls-Royce itu berhenti mendadak di depan sebuah klub malam mewah yang masih tutup. Leon dengan sigap membukakan pintu. "Tuan, mereka ada di dalam," lapor Leon. Lala langsung melompat keluar mobil, tapi Alistair menahan kerah belakang seragamnya seperti menenteng anak kucing. "Tetap di belakangku. Jangan bertindak bodoh kalau kamu nggak mau hutangmu bertambah," ancam Alistair. Lala hanya bisa mengangguk pasrah sambil membuntuti langkah lebar Alistair masuk ke dalam gedung yang remang-remang itu. Di sebuah ruangan VIP yang gelap dan berbau aroma cerutu mahal, Sisi duduk meringkuk di ujung sofa kulit. Tubuhnya gemetar hebat. Kacamata yang biasa bertengger manis di hidungnya kini sudah tergeletak patah di atas meja. Di depannya, Kenzo duduk dengan kaki menyilang. Pria itu menatap Sisi dengan tatapan dingin yang tajam, khas seorang mafia yang sudah biasa melihat ketakutan di mata orang lain. "Hutang tetap hutang, Bocah," suara Kenzo terdengar berat dan datar, sangat ketus. "Ta-tapi... saya benar-benar nggak sengaja menjatuhkan ponsel itu, Kak," cicit Sisi sambil menunduk dalam, air matanya menetes mengenai rok seragamnya. Kenzo mendengus remeh. Dia berdiri, berjalan perlahan mendekati Sisi yang makin menciut. Dengan kasar, Kenzo menarik dagu Sisi agar mendongak menatap matanya. "Kak? Jangan panggil aku seolah-olah aku ini orang baik," desis Kenzo. Kenzo kemudian mulai mengedarkan pandangannya, meneliti tubuh Sisi dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang sangat kurang ajar. Sisi merasa seolah kulitnya terbakar hanya karena tatapan pria itu. "Tubuhmu... lumayan juga untuk ukuran bocah sekolah," ucap Kenzo pelan, suaranya terdengar sangat berbahaya di telinga Sisi. "Karena ponselku mahal dan kamu nggak punya uang buat ganti rugi, gimana kalau kamu bayar pakai cara lain? Temani aku tidur malam ini, mungkin hutangmu akan berkurang sedikit." Sisi terbelalak, wajahnya yang tadi pucat kini makin pias. "Jangan... tolong jangan, Kak... saya mau pulang..." "Pulang?" Kenzo tertawa dingin, tangannya bergerak mengelus pipi Sisi dengan kasar. "Kamu baru bisa pulang kalau aku sudah bosan." Baru saja Kenzo hendak mendekatkan wajahnya ke leher Sisi, pintu ruangan itu didobrak kasar dari luar. BRAAAK! "SISI!" teriak Lala yang langsung masuk dengan napas terengah-engah. Kenzo langsung melepaskan cengkeramannya pada dagu Sisi. Ekspresi wajahnya yang tadi terlihat seperti predator ganas, mendadak berubah sedikit tegang saat melihat sosok tinggi Alistair berdiri di belakang Lala. "Wah, Kakakku datang membawa 'mainan' barunya juga rupanya," ujar Kenzo mencoba bersikap santai, meski matanya menunjukkan rasa hormat sekaligus takut pada Alistair. Alistair berjalan maju, auranya jauh lebih menekan daripada Kenzo. Dia berdiri tepat di depan meja yang memisahkan mereka. "Kenzo, lepaskan dia sekarang. Kamu sudah melewati batas dengan menyentuh murid dari yayasanku," ucap Alistair dengan nada suara yang sangat rendah, tanda dia sedang tidak main-main. Kenzo mendengus, dia tahu dia tidak akan menang melawan Alistair jika sudah begini. "Aku cuma mau minta ganti rugi, Kak. Gadis kacamata ini merusak barangku." "Ganti ruginya biar aku yang urus. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku melaporkan bisnismu di pelabuhan pada Ayah," ancam Alistair telak. Mendengar kata "Ayah", Kenzo langsung terdiam. Dia mengambil jaketnya dengan kasar, lalu menatap Sisi sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Berterima kasihlah pada kakak sepupuku, Bocah. Tapi ingat... urusan kita belum selesai," bisik Kenzo tepat di telinga Sisi sebelum melangkah pergi melewati Alistair begitu saja. Setelah Kenzo pergi, Lala langsung memeluk Sisi yang menangis kencang. "Sisi, nggak apa-apa... aku di sini..." bisik Lala menenangkan. Alistair memperhatikan pemandangan itu dari jauh. Entah kenapa, melihat Lala yang begitu berani melindungi temannya meski dia sendiri ketakutan, membuat sesuatu di hati Alistair bergetar sedikit. "Leon, antar gadis kacamata itu pulang dengan selamat," perintah Alistair. "Terima kasih, Om... makasih banyak," ucap Lala tulus sambil menatap Alistair dengan mata berkaca-kaca. Alistair hanya berdehem dingin. "Jangan berterima kasih. Karena hutangmu sekarang bertambah." "LOH?! Kok tambah lagi?!" protes Lala tidak terima. "Biaya bensin, biaya pengamanan Leon, dan biaya karena kamu sudah membuang waktuku selama dua jam. Totalnya jadi... dua miliar." Lala rasanya ingin pingsan saat itu juga. "DUA MILIAR?! OM, MENDING JUAL AKU KE KAMBOJA AJA SEKARANG!!!"“Lala semoga kau berhasil,”gumam Sisi. Di meja bar restoran steak itu, Sisi menatap nanar punggung Lala yang semakin menjauh meninggalkan restoran. Bahu sahabatnya itu terlihat bergetar, dan Sisi tahu Lala sedang menahan tangis. "Apakah kau sangat khawatir dengan temanmu itu?" Suara berat Kenzo memecah lamunan Sisi. Pria itu menyesap minumannya dengan tenang, seolah drama yang baru saja terjadi hanya tontonan hiburan baginya. Sisi menoleh dengan tatapan tajam. "Tentu saja! Dia sahabatku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Om Galak itu? Kenapa dia berubah jadi menyeramkan setelah melihat foto itu?" Kenzo terkekeh tipis, matanya menatap botol alkohol di depannya. "Elena... dia adalah cinta pertama Alistair. Tidak akan pernah ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukannya di hati Alistair. Sekalipun itu temanmu, Baby." Hati Sisi mencelos mendengarnya. "Lalu kenapa Om itu terus membuat Lala terjebak di hidupnya? Lala bisa saja jatuh cinta dan menyakiti dirinya sendiri karena pera
Keesokan hari nya… “Om Lala gamau ya, kalau gara gara ini hutang Lala nambah!”kesal Lala kepada Alistair. “Apa kau setakut itu juga hutang mu bertambah?”heran Alistair kepada Lala saat ini di atas mobil. “Tentu Om! Untuk apa memperkaya orang yang sudah kaya, dunia ini benar benar tidak adil kan!”kesal Lala kepada Alistair. Pria itu tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap kembali tablet nya dengan datar tanpa mempedulikan ocehan nya Lala dari tadi. “Tuan kita sudah sampai,”ucap Leon kepada Alistair. “Ikut aku.”ajak Alistair. Alistair membawa Lala ke sebuah butik mewah. Di sana, Lala di-makeover habis-habisan. “Selamat datang tuan Vanderwick. Sudah lama tidak berkunjung ah, anda datang dengan pacar baru anda ya, sepertinya lebih muda dari nona Elana,”ujar wanita itu tersenyum ramah. “Jangan sebut nama wanita itu! Atau Lala akan gigit kakak!”teriak Lala dengan kesal tapi lucu. “Ah nona, maafkan saya. Apa anda cemburu? Maafkan atas kelancangan saya, tenang saja. Saya akan
Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c
Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan
Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko
Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s







