Beranda / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 3 - Penyelamatan atau Jebakan

Share

Bab 3 - Penyelamatan atau Jebakan

Penulis: BabyCaca
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-07 19:35:04

"SISI! HALO! SISI!"

Lala berteriak histeris, tapi hanya suara dengung telepon yang terputus yang menjawabnya. Jantung Lala berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya.

Tanpa pikir panjang, Lala langsung berlari keluar kamar. Dia tidak peduli lagi dengan kemewahan mansion ini. Yang ada di pikirannya hanya keselamatan sahabat satu-satunya.

"Leon! Om! Tolong!" teriak Lala sambil menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

Alistair yang sedang menyesap kopi di ruang tengah menoleh dengan dahi berkerut.

"Berhenti berteriak, Mikala. Ini rumah, bukan hutan," ucap Alistair dingin.

Lala tidak peduli. Dia langsung menghambur ke depan Alistair dan mencengkeram lengan jas pria itu.

"Om, tolongin Sisi! Sisi diculik! Tadi dia telepon, dia bilang ada orang jahat yang ngikutin dia!"

Alistair melepaskan tangan Lala dari lengannya dengan perlahan, lalu menatap jam tangan barunya yang harganya pasti bisa buat beli satu kompleks perumahan.

"Itu bukan urusanku," jawab Alistair enteng.

Lala melongo. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih, melainkan karena marah.

"Kok bukan urusan Om?! Sisi diculik gara-gara kejadian kemarin! Kalau Om nggak bawa aku ke sini, aku pasti lagi sama Sisi sekarang!"

Alistair berdiri, tubuh tingginya membuat Lala harus mendongak maksimal.

"Dengar, bocah. Tugasku hanya memastikan kamu membayar hutangmu. Aku bukan pahlawan kesiangan yang mengurus penculikan anak SMA," ketus Alistair.

Lala mengepalkan tangannya. "Dasar Om-Om nggak punya hati! Oke, kalau Om nggak mau bantu, aku pergi sendiri!"

Lala berbalik dan berlari menuju pintu besar mansion. Tapi belum sempat dia menyentuh gagang pintu, tangan besar Alistair sudah lebih dulu menahan pundaknya.

"Kamu pikir bisa keluar dari sini tanpa izin saya?"

"Lepasin! Aku harus selamatin Sisi!" Lala meronta, bahkan mencoba menggigit tangan Alistair.

"Leon," panggil Alistair datar.

Leon muncul dari balik pintu samping. "Iya, Tuan?"

"Cari tahu keberadaan gadis kacamata itu sekarang. Dan suruh Kenzo berhenti bermain-main," perintah Alistair yang membuat Lala tertegun.

Lala berhenti meronta. "Kenzo? Siapa Kenzo? Om kenal sama orang yang ngikutin Sisi?!"

Alistair tidak menjawab. Dia hanya menatap ke depan dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ikut saya ke mobil. Sekarang," perintah Alistair.

Di dalam Mobil.

Suasana kali ini jauh lebih tegang dari sebelumnya. Alistair terus menatap layar tabletnya yang menampilkan titik merah yang bergerak cepat di peta digital.

"Om, Sisi baik-baik aja kan? Siapa itu Kenzo? Dia orang jahat ya?" tanya Lala bertubi-tubi.

"Kenzo adalah adik sepupuku yang kurang kerjaan. Dan jika benar dia yang membawa temanmu, maka temanmu dalam masalah besar," jawab Alistair tanpa ekspresi.

Lala merasa lemas. Masalah besar? Sisi yang polos itu mau diapain sama adik sepupu Om galak ini?!

Mobil Rolls-Royce itu berhenti mendadak di depan sebuah klub malam mewah yang masih tutup. Leon dengan sigap membukakan pintu.

"Tuan, mereka ada di dalam," lapor Leon.

Lala langsung melompat keluar mobil, tapi Alistair menahan kerah belakang seragamnya seperti menenteng anak kucing.

"Tetap di belakangku. Jangan bertindak bodoh kalau kamu nggak mau hutangmu bertambah," ancam Alistair.

Lala hanya bisa mengangguk pasrah sambil membuntuti langkah lebar Alistair masuk ke dalam gedung yang remang-remang itu.

Di sebuah ruangan VIP yang gelap dan berbau aroma cerutu mahal, Sisi duduk meringkuk di ujung sofa kulit. Tubuhnya gemetar hebat. Kacamata yang biasa bertengger manis di hidungnya kini sudah tergeletak patah di atas meja.

Di depannya, Kenzo duduk dengan kaki menyilang. Pria itu menatap Sisi dengan tatapan dingin yang tajam, khas seorang mafia yang sudah biasa melihat ketakutan di mata orang lain.

"Hutang tetap hutang, Bocah," suara Kenzo terdengar berat dan datar, sangat ketus.

"Ta-tapi... saya benar-benar nggak sengaja menjatuhkan ponsel itu, Kak," cicit Sisi sambil menunduk dalam, air matanya menetes mengenai rok seragamnya.

Kenzo mendengus remeh. Dia berdiri, berjalan perlahan mendekati Sisi yang makin menciut. Dengan kasar, Kenzo menarik dagu Sisi agar mendongak menatap matanya.

"Kak? Jangan panggil aku seolah-olah aku ini orang baik," desis Kenzo.

Kenzo kemudian mulai mengedarkan pandangannya, meneliti tubuh Sisi dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan yang sangat kurang ajar. Sisi merasa seolah kulitnya terbakar hanya karena tatapan pria itu.

"Tubuhmu... lumayan juga untuk ukuran bocah sekolah," ucap Kenzo pelan, suaranya terdengar sangat berbahaya di telinga Sisi.

"Karena ponselku mahal dan kamu nggak punya uang buat ganti rugi, gimana kalau kamu bayar pakai cara lain? Temani aku tidur malam ini, mungkin hutangmu akan berkurang sedikit."

Sisi terbelalak, wajahnya yang tadi pucat kini makin pias. "Jangan... tolong jangan, Kak... saya mau pulang..."

"Pulang?" Kenzo tertawa dingin, tangannya bergerak mengelus pipi Sisi dengan kasar.

"Kamu baru bisa pulang kalau aku sudah bosan."

Baru saja Kenzo hendak mendekatkan wajahnya ke leher Sisi, pintu ruangan itu didobrak kasar dari luar.

BRAAAK!

"SISI!" teriak Lala yang langsung masuk dengan napas terengah-engah.

Kenzo langsung melepaskan cengkeramannya pada dagu Sisi. Ekspresi wajahnya yang tadi terlihat seperti predator ganas, mendadak berubah sedikit tegang saat melihat sosok tinggi Alistair berdiri di belakang Lala.

"Wah, Kakakku datang membawa 'mainan' barunya juga rupanya," ujar Kenzo mencoba bersikap santai, meski matanya menunjukkan rasa hormat sekaligus takut pada Alistair.

Alistair berjalan maju, auranya jauh lebih menekan daripada Kenzo. Dia berdiri tepat di depan meja yang memisahkan mereka.

"Kenzo, lepaskan dia sekarang. Kamu sudah melewati batas dengan menyentuh murid dari yayasanku," ucap Alistair dengan nada suara yang sangat rendah, tanda dia sedang tidak main-main.

Kenzo mendengus, dia tahu dia tidak akan menang melawan Alistair jika sudah begini.

"Aku cuma mau minta ganti rugi, Kak. Gadis kacamata ini merusak barangku."

"Ganti ruginya biar aku yang urus. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku melaporkan bisnismu di pelabuhan pada Daddy mu," ancam Alistair telak.

Mendengar kata "Daddy", Kenzo langsung terdiam. Dia mengambil jaketnya dengan kasar, lalu menatap Sisi sekali lagi dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Berterima kasihlah pada kakak sepupuku, Bocah. Tapi ingat... urusan kita belum selesai," bisik Kenzo tepat di telinga Sisi sebelum melangkah pergi melewati Alistair begitu saja.

Setelah Kenzo pergi, Lala langsung memeluk Sisi yang menangis kencang.

"Sisi, nggak apa-apa... aku di sini..." bisik Lala menenangkan.

Alistair memperhatikan pemandangan itu dari jauh. Entah kenapa, melihat Lala yang begitu berani melindungi temannya meski dia sendiri ketakutan, membuat sesuatu di hati Alistair bergetar sedikit.

"Leon, antar gadis kacamata itu pulang dengan selamat," perintah Alistair.

"Terima kasih, Om... makasih banyak," ucap Lala tulus sambil menatap Alistair dengan mata berkaca-kaca.

Alistair hanya berdehem dingin. "Jangan berterima kasih. Karena hutangmu sekarang bertambah."

"LOH?! Kok tambah lagi?!" protes Lala tidak terima.

"Biaya bensin, biaya pengamanan Leon, dan biaya karena kamu sudah membuang waktuku selama dua jam. Totalnya jadi... dua miliar."

Lala rasanya ingin pingsan saat itu juga.

"DUA MILIAR?! OM, MENDING JUAL AKU KE KAMBOJA AJA SEKARANG!!!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 116 - Pelayan Vanderwick

    Senin pagi yang seharusnya menjadi hari yang sibuk bagi para pria berkuasa di Jakarta, mendadak berubah menjadi hari paling "melelahkan" dalam sejarah hidup Alistair, Kenzo, dan Elvin. Semua itu bermula saat Lala terbangun dengan raut wajah murung. Ia menolak sarapan mewah buatan koki mansion dan hanya mau duduk diam di teras belakang sambil menatap kolam renang dengan pandangan kosong. "Sayang, ada apa? Mau makan sesuatu yang lain? Atau mau beli pulau lagi hari ini?" tanya Alistair panik, berlutut di depan kursi Lala. Lala menghela napas panjang, mengusap perutnya yang sudah memasuki usia dua bulan. "Lala tidak mau pulau, Bub. Lala cuma merasa... rumah ini terlalu kaku. Lala ingin hari ini kita semua berkumpul, tapi Lala bosan dilayani pelayan berseragam." Alistair mengernyit. "Lalu?" "Lala mau Bub, Kak Kenzo, dan Dokter Elvin jadi pelayan pribadi Lala hari ini. Pakai celemek, bawa nampan, dan tidak boleh ada yang membantah. Ada Sisi dan Intan juga yang akan jadi juri," ucap Lala

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 115 - Es dawet

    Minggu pagi di Mansion Vanderwick biasanya diawali dengan aroma kopi mahal dan ketenangan yang elegan. Namun, semenjak Lala hamil dua bulan, aturan main di rumah itu berubah total. Pagi ini, udara Jakarta sedang tidak bersahabat—panas terik sudah menyengat sejak pukul sembilan pagi, membuat siapa pun ingin berendam di dalam kolam es. Lala duduk di sofa ruang tengah, terus-menerus mengipasi wajahnya dengan majalah. "Bub... panas sekali. Lala merasa seperti sedang di dalam oven," keluh Lala dengan bibir mengerucut. Alistair yang sedang memeriksa laporan keuangan di tabletnya langsung menoleh. Ia segera menaikkan suhu AC hingga maksimal. "Sudah dingin, Sayang. Masih merasa panas?" Lala menggeleng. "Bukan panas kulitnya, tapi panas dalamnya. Lala mau sesuatu yang dingin, yang manis, yang ada santannya... Oh! Lala mau es dawet ayu yang di pinggir jalan dekat gerbang komplek, Bub! Yang bapak-bapaknya pakai pikulan kayu itu!" Alistair memijat pelipisnya. Lagi-lagi permintaan yang sangat

  • OM CEO, I LOVE YOU!   BAB 114 - Kencan tepi pantai

    Akhir pekan telah tiba, membawa suasana yang jauh lebih santai di Mansion Vanderwick. Usia kehamilan Lala kini telah menginjak dua bulan. Sejauh ini, kehidupan Lala benar-benar terjamin aman dan nyaman. Alistair menepati janjinya dengan sangat luar biasa; ia tidak hanya menjaga keselamatan fisik Lala, tetapi juga menjaga kestabilan emosi istrinya yang kadang naik turun karena hormon kehamilan. Pagi itu, udara Jakarta terasa sedikit lebih sejuk. Lala terbangun dengan keinginan yang sangat spesifik. Ia tidak ingin makan nasi uduk jam dua pagi, tidak juga ingin jengkol semur. Kali ini, ia merindukan aroma laut, suara ombak, dan rasa segar dari tangkapan laut yang dibakar langsung di tepi pantai. "Bub..." panggil Lala sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang Alistair yang masih terlelap. Alistair yang memang sangat peka dengan gerakan sekecil apa pun dari Lala, langsung membuka matanya. Ia mengecup kening istrinya dengan sayang. "Iya, Sayang? Ada yang sakit? Atau si 'anak kecebong'

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 113 - Konsultasi dadakan

    Siang itu, ruang tamu utama Mansion Vanderwick yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara atau kolega bisnis kelas atas, mendadak berubah fungsi menjadi ruang konsultasi medis paling tidak lazim. Elvin, yang baru saja selesai memeriksa tekanan darah Lala, masih duduk di sofa single dengan tas medis yang terbuka di atas meja marmer. Alistair duduk di sofa panjang, merangkul pinggang Lala dengan posesif seolah-olah istrinya itu akan terbang jika tidak dipegangi. Sementara itu, Kenzo dan Sisi duduk di seberang mereka, ditemani Intan yang duduk di kursi kayu antik di sudut, berusaha terlihat tidak mencolok. "Kondisi janin dan rahim Lala sangat kuat," ucap Elvin dengan suara baritonnya yang datar, memecah keheningan ruang tamu yang luas itu. "Meski ada efek kehamilan simpatik yang membuatmu mual, Al, secara fisik Lala sangat sehat." Alistair mengangguk-angguk serius. Ia memperbaiki posisi duduknya, wajahnya tampak sangat berwibawa seolah sedang memimpin rapat merger perusa

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 112 - Para pria posesif

    Suasana di ruang makan Mansion Vanderwick benar-benar berubah menjadi panggung sandiwara yang aneh. Setelah perdebatan panas yang hampir berujung baku hantam, Alistair kini duduk dengan wajah yang ditekuk, namun tangannya tidak sedetik pun lepas dari menggenggam ujung pakaian Lala. Ia tampak seperti singa yang baru saja dijinakkan paksa, namun masih mengeluarkan geraman kecil setiap kali matanya bertemu dengan Rehan. Rehan, pria bertato dengan gaya baggy jeans-nya yang santai, baru saja selesai menghabiskan hidangan penutup. Ia menatap Alistair dengan senyum mengejek. "Kau tahu, Tuan Alistair? Wajah kaku mu itu sebenarnya cukup lucu kalau sedang menahan marah. Kenapa tidak tersenyum sedikit? Adikku bisa stres kalau melihat suaminya terlihat seperti ingin menelan orang hidup-hidup." "Bicara mu jangan sok keren," desis Alistair dengan nada benci yang kental. Rehan hanya tertawa renyah, menyandarkan punggungnya ke kursi mahal itu. "Aku memang keren, kau dengan jas mu itu yang kaku, Tu

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 111 - Siapa Rehan?

    Ketegangan di ruang tamu Mansion Vanderwick mencapai titik didih. Udara seolah membeku di sekitar Alistair. Tatapannya yang tajam terkunci rapat pada Rehan, sementara tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala dengan erat—bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rehan, yang sejak tadi duduk santai, kini berdiri dengan gerakan yang tenang namun waspada. Ia tidak tampak terintimidasi oleh aura membunuh yang dipancarkan Alistair. Sebagai pria yang tumbuh di jalanan dan sering berurusan dengan sisi gelap logistik, gertakan adalah makanannya sehari-hari. Namun, ia harus mengakui bahwa pria di depannya ini memiliki jenis intimidasi yang berbeda; sebuah otoritas yang lahir dari kekuasaan tanpa batas. "Aku tanya sekali lagi," suara Alistair merendah, hampir menyerupai geraman yang keluar dari dada bidangnya. "Siapa kau, dan apa urusanmu dengan istriku?" Rehan tersenyum miring, memasukkan kedua tangannya ke saku baggy jeans-nya. "

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status