Beranda / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 4 - Dapur Istana atau Medan perang

Share

Bab 4 - Dapur Istana atau Medan perang

Penulis: BabyCaca
last update Tanggal publikasi: 2026-01-07 19:35:38

Sekolah

“Selamat ya teman-teman akhirnya kita lulus,” ujar Yudika kepada teman-teman sekelasnya.

“Aku mau langsung daftar ke sekolah keperawatan doain ya,” ucap Bitri yang berbicara sambil terkekeh.

“Lala kamu mau kuliah di mana? Eh lupa kamu ga kuliah ya? Kan ga ada uang haha,” tawa Bitri yang kembali terkekeh mengejek.

Sedangkan Lala di sana hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan dari temannya itu, dia hanya melihat nilainya dan menghembuskan nafasnya pelan. Sisi yang duduk di samping Lala di kelas itu menggenggam tangan sahabatnya dengan lembut.

“Lala jangan dengerin ya, kamu gimana? Masih kerja di tempat Om CEO itu?” tanya Sisi yang merasa khawatir kepada Lala.

“Ya gitu, hutangku kan dua miliar berapa ya katanya aku lupa. Tapi Si di sana enak rumahnya bagus, aku boleh nonton TV juga, tapi emang Omnya ribet sama berisik aja. Kayak orang tua aku aja yang suka nyuruh-nyuruh,” ujar Lala dengan nada kesal.

“Syukurlah Lala kalau kau baik-baik saja. Aku akan mencari pekerjaan dan membantu mu membayar hutang, nanti kita tinggal berdua ya,” senyum Sisi dengan sangat manis dan polos.

Lala yang mendengar ucapan tulus sahabatnya itu benar-benar tersentuh karena Sisi memang gadis yang sangat polos. Dia tidak menolak apapun perintah keluarga tirinya bahkan dia hanya bisa mengatakannya kepada Lala.

“Sisi sayang kau benar-benar baik. Jika aku pria maka aku akan menikahimu setelah lulus sekolah haha,” tawa Lala kepada Sisi.

“Aku akan mengabari mu tempat tinggal baru ku nanti agar kita bisa main, sepertinya tempatnya tidak jauh dari rumah OM CEO itu,” senyum Sisi.

“Baiklah!” senyum Lala.

Seminggu setelah kejadian di klub malam itu, pengumuman kelulusan akhirnya keluar. Lala dan Sisi dinyatakan lulus dengan nilai yang setidaknya tidak memalukan untuk dibawa pulang.

Sisi mulai sibuk mencari kerja di sebuah restoran di pusat kota sebagai waitress agar bisa hidup mandiri dari ibu tirinya. Sedangkan Lala resmi menjadi tahanan di Mansion Vanderwick untuk mencicil hutang dua miliarnya.

"Mikala! Sudah saya bilang berapa kali? Jangan taruh kaus kaki di atas meja kerja saya!" suara bariton Alistair menggelegar dari lantai dua.

Lala yang sedang asyik ngemil kuaci di depan TV bawah hanya berteriak tanpa merasa berdosa. "Ya elah, Om! Kan cuma kaus kaki, nggak bakal gigit meja juga kali! Tadi lepasnya di situ soalnya kaki Lala gatel!"

Alistair muncul di balkon lantai dua dengan kemeja hitam yang bagian lengannya digulung. Wajahnya terlihat sangat lelah, bukan karena pekerjaan kantor melainkan karena menghadapi pembantu pribadinya yang lebih mirip dengan bencana alam.

"Turunkan kakimu dari sofa. Dan bersihkan dapur sekarang. Saya mau makan malam yang layak dan bukan mi instan," perintah Alistair telak.

"Lala nggak bisa masak, Om! Nanti kalau masakannya nggak enak terus Om diare, hutang Lala nambah lagi nggak?" tanya Lala sambil nyengir lebar.

"Masak atau saya tambah bunga hutangmu sebanyak sepuluh persen."

Lala langsung berdiri tegak. "Siap, laksanakan, Tuan Besar!"

Di Dapur

Lala menatap kompor induksi yang tombolnya lebih banyak daripada remote TV. Dia mencoba mengingat-ingat resep nasi goreng ala anak kos yang biasa dia buat.

"Oke, bawang merah, bawang putih, cabe, eh, Om Alistair nggak suka pedas ya? Cowok kaku gitu biasanya seleranya hambar seperti hidupnya," gumam Lala sambil memotong bawang dengan gaya yang serampangan.

Satu jam kemudian, bau gosong mulai memenuhi ruangan.

"Aduh! Kok api kompornya nggak mau mati?! Ini tombol yang mana sih? Kenapa jadi seperti bom waktu begini!" teriak Lala panik saat wajannya mulai mengeluarkan asap hitam pekat.

Alistair yang baru saja hendak duduk di ruang makan langsung berlari ke dapur. Matanya terbelalak melihat pembantu pribadinya itu sedang mencoba memadamkan api menggunakan majalah bisnis mahal miliknya.

"MIKALA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!"

Alistair dengan sigap mengambil alat pemadam api kecil di pojok dapur dan menyemprotkannya ke arah wajan.

Sshhhhhhh!

Dapur mewah itu kini penuh dengan busa putih. Lala berdiri di pojok sambil memegang spatula dengan wajah penuh noda hitam gosong, tapi dia malah nyengir kaku.

"Hehe... tadi nasinya mau demo, Om. Jadi agak panas dikit suasananya."

Alistair mengatur napasnya yang memburu. Dia menatap dapur indahnya yang kini hancur lebur.

"Dua miliar seratus juta," ucap Alistair dengan nada lirih namun tajam.

"Hah? Kok nambah lagi?!" teriak Lala dengan sangat kaget.

"Biaya servis kompor dan ganti majalah edisi terbatas saya yang kamu jadikan kain lap tadi," Alistair mendekat ke arah Lala sehingga membuat gadis itu terpojok ke dinding.

"Kamu ini niat bekerja atau niat membunuh saya pelan-pelan?"

Lala menelan ludah. Jarak mereka sangat dekat sampai dia bisa mencium aroma kopi dan parfum mahal Alistair. "Ya... niatnya sih masak, tapi nasib berkata lain, Om."

Alistair menatap wajah cemong Lala. Entah kenapa, kemarahannya mendadak menguap saat melihat mata bulat Lala yang polos namun penuh akal bulus itu. Dia menarik napas panjang.

"Bersihkan diri kamu. Kita makan di luar. Dan jangan berani-berani menyentuh dapur saya lagi tanpa pengawasan dari Leon," ketus Alistair sambil berbalik pergi.

Lala menjulurkan lidahnya ke punggung Alistair. "Dasar Om-Om galak! Bilang aja mau ngajak dinner romantis pake alasan dapur rusak! Wleee!"

Lala segera berlari menuju kamarnya yang mewah. Sambil membersihkan noda gosong di wajahnya, dia masih sempat mengagumi pantulan dirinya di cermin. "Yah, walaupun cemong begini, tetap saja imut. Dasar si Om saja yang nggak punya selera," gumamnya dengan percaya diri.

Sepuluh menit kemudian, Lala keluar dengan kaos putih oversize dan celana jeans pendek. Penampilannya sangat kontras dengan Alistair yang sudah rapi dengan kemeja baru yang tampak sangat mahal.

Alistair yang sedang menyisir rambutnya dengan jari di depan pintu lobi menoleh ke arahnya. Matanya menyipit menatap penampilan Lala. "Kamu mau makan di restoran atau mau ke pasar kaget?"

"Dih, galak amat! Ini namanya style anak muda, Om! Lagian kan Om yang laper, kenapa jadi ngurusin baju Lala?" balas Lala sambil membetulkan letak tas kecilnya.

Alistair hanya mendengus, namun matanya tidak lepas dari sosok Lala yang kini terlihat jauh lebih bersih dan segar. Ada desir aneh di dadanya saat melihat tawa lepas gadis itu, tapi ego Alistair segera menepisnya jauh-jauh. "Masuk ke mobil. Jangan sampai kamu membuat malu saya di depan pelayan restoran nanti."

Di dalam mobil mewah yang sunyi itu, Lala mendadak teringat sesuatu. Dia merogoh ponselnya dan melihat sebuah notifikasi pesan dari Sisi. Sahabatnya itu bercerita kalau dia sudah diterima kerja di sebuah restoran steak. Lala ingin sekali membalas, tapi tatapan tajam Alistair dari arah kursi kemudi seolah melarangnya menyentuh ponsel.

"Om, kenapa sih perpustakaan di lantai atas itu dikunci rapat banget? Emang ada harta karunnya ya?" tanya Lala tiba-tiba untuk mencoba mencairkan suasana.

Alistair terdiam. Cengkeramannya pada setir mobil menguat seketika. "Bukan urusanmu. Dan jangan pernah berani mendekati ruangan itu kalau kamu tidak mau hutangmu saya lipat gandakan jadi sepuluh miliar."

Lala langsung bungkam. Aura Alistair mendadak berubah sangat mencekam yaitu jauh lebih menyeramkan daripada saat kompornya meledak tadi. Perubahan sikap itu justru membuat rasa penasaran di hati Lala semakin meledak-ledak. Ada apa sebenarnya di dalam sana? Dan kenapa Alistair terlihat sangat terluka saat membicarakan ruangan itu?

"Malam ini kamu tidur lebih awal. Besok pagi, tugasmu bukan lagi di dapur," ucap Alistair tanpa menoleh.

"Terus Lala harus ngapain, Om?"

"Membersihkan perpustakaan itu. Tapi ada syaratnya," Alistair menepi di depan sebuah restoran mewah lalu menatap Lala dalam-dalam. "Jangan menyentuh satu kertas pun di atas meja saya. Mengerti?"

Lala mengangguk cepat, namun dalam hatinya, sebuah rencana nakal mulai tersusun. Dia tidak tahu bahwa keputusan untuk memasuki ruangan itu besok pagi akan membawanya pada rahasia kelam yang selama ini Alistair sembunyikan rapat-rapat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 200 - Tamat

    Matahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 199 - Si kembar pintar

    Malam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 198 - Alistair pride

    Malam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 197 - Kunjungan Elvin dan Intan

    Mansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 196 - My brother, my bodyguard

    Kantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 195 - Mommy, my bestfriend

    Pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 3 - Penyelamatan atau Jebakan

    "SISI! HALO! SISI!" Lala berteriak histeris, tapi hanya suara dengung telepon yang terputus yang menjawabnya. Jantung Lala berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dadanya. Tanpa pikir panjang, Lala langsung berlari keluar kamar. Dia tidak peduli lagi dengan kemewahan mansion ini. Yang ada

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 7 - Sisi Luka yang menghitam

    Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang ter

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 6 - Bayang bayang masa lalu

    Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di te

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 5 - Bayangan masa lalu

    Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai Pembantu Pribadi yaitu membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status