LOGINSekolah…
“Selamat ya teman-teman akhirnya kita lulus,”ujar Yudika kepada teman-teman sekelas nya. “Aku mau langsung daftar ke sekolah keperawatan doain ya,”ucap Bitri terkekeh. “Lala kamu mau kuliah di mana? Eh lupa kamu ga kuliah ya? Kan ga ada uang haha,”tawa Bitri terkekeh. Sedangkan Lala di sana hanya memutar bola mata nya malas mendengar ucapan dari teman nya itu, dia hanya melihat nilai nya dan menghembuskan nafas nya pelan. Sisi yang duduk di samping Lala di kelas itu mengenggam tangan sahabatnya lembut. “Lala jangan dengerin ya, kamu gimana? Masih kerja di tempat Om CEO itu?”tanya Sisi khawatir kepada Lala. “Ya gitu hutang ku kan dua milliar berapa ya kata nya lupa. Tapi Si di sana enak rumah nya bagus, aku boleh nonton tv juga, tapi emang Om nya ribet sama berisik aja. Kayak orang tua aku aja suka nyuruh nyuruh,”ujar Lala dengan kesal. “Syukurlah Lala kalau kau baik-baik saja. Aku akan mencari pekerjaan dan membantu mu membayar hutang, nanti kita tinggal berdua ya,”senyum Sisi dengan manis dan polos. Lala yang mendengar ucapan tulus sahabatnya itu benar benar tersentuh Sisi memang gadis yang polos. Dia tidak menolak apapun perintah keluarga tiri nya bahkan dia hanya bisa mengatakan kepada Lala. “Sisi sayang kau benar-benar baik. Jika aku pria aku akan menikahi mu setelah lulus sekolah haha,”tawa Lala kepada Sisi. “Aku akan mengabari mu tempat tinggal baru ku nanti. Biar kita bisa main, sepertinya tidak jauh dari rumah OM CEO itu,”senyum Sisi. “Baiklah!”senyum Lala. Seminggu setelah kejadian di klub malam itu, pengumuman kelulusan akhirnya keluar. Lala dan Sisi dinyatakan lulus dengan nilai yang... ya, setidaknya tidak memalukan untuk dibawa pulang. Sisi mulai sibuk mencari kerja di sebuah restoran di pusat kota sebagai waitress agar bisa hidup mandiri dari ibu tirinya. Sedangkan Lala? Gadis itu resmi menjadi "tahanan" di Mansion Vanderwick untuk mencicil hutang dua miliarnya. "Mikala! Sudah saya bilang berapa kali? Jangan taruh kaus kaki di atas meja kerja saya!" suara bariton Alistair menggelegar dari lantai dua. Lala yang sedang asyik ngemil kuaci di depan TV bawah hanya berteriak tanpa dosa. "Ya elah, Om! Kan cuma kaus kaki, nggak bakal gigit meja juga kali! Tadi lepasnya di situ soalnya kaki Lala gatel!" Alistair muncul di balkon lantai dua dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Wajahnya terlihat sangat lelah, bukan karena pekerjaan kantor, tapi karena menghadapi asisten pribadinya yang lebih mirip bencana alam. "Turunkan kakimu dari sofa. Dan bersihkan dapur sekarang. Saya mau makan malam yang layak, bukan mi instan," perintah Alistair telak. "Lala nggak bisa masak, Om! Nanti kalau masakannya nggak enak terus Om diare, hutang Lala nambah lagi nggak?" tanya Lala sambil nyengir lebar. "Masak atau saya tambah bunga hutangmu sepuluh persen." Lala langsung berdiri tegak. "Siap, laksanakan, Tuan Besar!" Di Dapur. Lala menatap kompor induksi yang tombolnya lebih banyak dari remote TV. Dia mencoba mengingat-ingat resep nasi goreng ala anak kos yang biasa dia buat. "Oke, bawang merah, bawang putih, cabe... eh, Om Alistair nggak suka pedas ya? Cowok kaku gitu biasanya seleranya hambar kayak hidupnya," gumam Lala sambil memotong bawang dengan gaya serampangan. Satu jam kemudian, bau gosong mulai memenuhi ruangan. "Aduh! Kok api kompornya nggak mau mati?! Ini tombol yang mana sih? Kenapa jadi kayak bom waktu gini!" teriak Lala panik saat wajannya mulai mengeluarkan asap hitam pekat. Alistair yang baru saja hendak duduk di ruang makan langsung berlari ke dapur. Matanya terbelalak melihat pembantu pribadi nya itu sedang mencoba memadamkan api menggunakan... majalah bisnis mahal miliknya. "MIKALA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" Alistair dengan sigap mengambil alat pemadam api kecil di pojok dapur dan menyemprotkannya ke arah wajan. Sshhhhhhh! Dapur mewah itu kini penuh dengan busa putih. Lala berdiri di pojok sambil memegang spatula, wajahnya penuh noda hitam gosong, tapi dia malah nyengir kaku. "Hehe... tadi nasinya mau demo, Om. Jadi agak panas dikit suasananya." Alistair mengatur napasnya yang memburu. Dia menatap dapur indahnya yang kini hancur lebur. "Dua miliar seratus juta," ucap Alistair lirih namun tajam. "Hah? Kok nambah lagi?!"teriak Lala dengan kaget nya. "Biaya servis kompor dan ganti majalah edisi terbatas saya yang kamu jadikan kain lap tadi," Alistair mendekat ke arah Lala, membuat gadis itu terpojok ke dinding. "Kamu ini niat bekerja atau niat membunuh saya pelan-pelan?" Lala menelan ludah. Jarak mereka sangat dekat sampai dia bisa mencium aroma kopi dan parfum mahal Alistair. "Ya... niatnya sih masak, tapi nasib berkata lain, Om." Alistair menatap wajah cemong Lala. Entah kenapa, kemarahannya mendadak menguap saat melihat mata bulat Lala yang polos namun penuh akal bulus itu. Dia menarik napas panjang. "Bersihkan diri kamu. Kita makan di luar. Dan jangan berani-berani menyentuh dapur saya lagi tanpa pengawasan Leon," ketus Alistair sambil berbalik pergi. Lala menjulurkan lidahnya ke punggung Alistair. "Dasar Om-Om galak! Bilang aja mau ngajak dinner romantis pake alasan dapur rusak! Wleee!" Lala segera berlari menuju kamarnya yang mewah. Sambil membersihkan noda gosong di wajahnya, dia masih sempat-sempatnya mengagumi pantulan dirinya di cermin. "Yah, walaupun cemong gini, tetap aja imut. Dasar si Om aja yang nggak punya selera," gumamnya pede. Sepuluh menit kemudian, Lala keluar dengan kaos putih oversize dan celana jeans pendek. Sangat kontras dengan Alistair yang sudah rapi dengan kemeja baru yang tampak sangat mahal. Alistair yang sedang menyisir rambutnya dengan jari di depan pintu lobi, menoleh. Matanya menyipit menatap penampilan Lala. "Kamu mau makan di restoran atau mau ke pasar kaget?" "Dih, galak amat! Ini namanya style anak muda, Om! Lagian kan Om yang laper, kenapa jadi ngurusin baju Lala?" balas Lala sambil membetulkan letak tas kecilnya. Alistair hanya mendengus, namun matanya tidak lepas dari sosok Lala yang kini terlihat jauh lebih bersih dan segar. Ada desir aneh di dadanya saat melihat tawa lepas gadis itu, tapi ego Alistair segera menepisnya jauh-jauh. "Masuk ke mobil. Jangan sampai kamu membuat malu saya di depan pelayan restoran nanti." Di dalam mobil mewah yang sunyi itu, Lala mendadak teringat sesuatu. Dia merogoh ponselnya dan melihat sebuah notifikasi pesan dari Sisi. Sahabatnya itu bercerita kalau dia sudah diterima kerja di sebuah restoran steak. Lala ingin sekali membalas, tapi tatapan tajam Alistair dari arah kursi kemudi seolah melarangnya menyentuh ponsel. "Om, kenapa sih perpustakaan di lantai atas itu dikunci rapat banget? Emang ada harta karunnya ya?" tanya Lala tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana. Alistair terdiam. Cengkeramannya pada setir mobil menguat seketika. "Bukan urusanmu. Dan jangan pernah berani mendekati ruangan itu kalau kamu tidak mau hutangmu saya lipat gandakan jadi sepuluh miliar." Lala langsung bungkam. Aura Alistair mendadak berubah sangat mencekam, jauh lebih menyeramkan daripada saat kompornya meledak tadi. Perubahan sikap itu justru membuat rasa penasaran di hati Lala semakin meledak-ledak. Ada apa sebenarnya di dalam sana? Dan kenapa Alistair terlihat sangat terluka saat membicarakan ruangan itu? "Malam ini kamu tidur lebih awal. Besok pagi, tugasmu bukan lagi di dapur," ucap Alistair tanpa menoleh. "Terus Lala harus ngapain, Om?" "Membersihkan perpustakaan itu. Tapi ada syaratnya," Alistair menepi di depan sebuah restoran mewah, lalu menatap Lala dalam-dalam. "Jangan menyentuh satu kertas pun di atas meja saya. Mengerti?" Lala mengangguk cepat, namun dalam hatinya, sebuah rencana nakal mulai tersusun. Dia tidak tahu bahwa keputusan untuk memasuki ruangan itu besok pagi, akan membawanya pada rahasia kelam yang selama ini Alistair sembunyikan rapat-rapat.“Lala semoga kau berhasil,”gumam Sisi. Di meja bar restoran steak itu, Sisi menatap nanar punggung Lala yang semakin menjauh meninggalkan restoran. Bahu sahabatnya itu terlihat bergetar, dan Sisi tahu Lala sedang menahan tangis. "Apakah kau sangat khawatir dengan temanmu itu?" Suara berat Kenzo memecah lamunan Sisi. Pria itu menyesap minumannya dengan tenang, seolah drama yang baru saja terjadi hanya tontonan hiburan baginya. Sisi menoleh dengan tatapan tajam. "Tentu saja! Dia sahabatku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Om Galak itu? Kenapa dia berubah jadi menyeramkan setelah melihat foto itu?" Kenzo terkekeh tipis, matanya menatap botol alkohol di depannya. "Elena... dia adalah cinta pertama Alistair. Tidak akan pernah ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukannya di hati Alistair. Sekalipun itu temanmu, Baby." Hati Sisi mencelos mendengarnya. "Lalu kenapa Om itu terus membuat Lala terjebak di hidupnya? Lala bisa saja jatuh cinta dan menyakiti dirinya sendiri karena pera
Keesokan hari nya… “Om Lala gamau ya, kalau gara gara ini hutang Lala nambah!”kesal Lala kepada Alistair. “Apa kau setakut itu juga hutang mu bertambah?”heran Alistair kepada Lala saat ini di atas mobil. “Tentu Om! Untuk apa memperkaya orang yang sudah kaya, dunia ini benar benar tidak adil kan!”kesal Lala kepada Alistair. Pria itu tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap kembali tablet nya dengan datar tanpa mempedulikan ocehan nya Lala dari tadi. “Tuan kita sudah sampai,”ucap Leon kepada Alistair. “Ikut aku.”ajak Alistair. Alistair membawa Lala ke sebuah butik mewah. Di sana, Lala di-makeover habis-habisan. “Selamat datang tuan Vanderwick. Sudah lama tidak berkunjung ah, anda datang dengan pacar baru anda ya, sepertinya lebih muda dari nona Elana,”ujar wanita itu tersenyum ramah. “Jangan sebut nama wanita itu! Atau Lala akan gigit kakak!”teriak Lala dengan kesal tapi lucu. “Ah nona, maafkan saya. Apa anda cemburu? Maafkan atas kelancangan saya, tenang saja. Saya akan
Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c
Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan
Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko
Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s







