Home / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 109 - Anak kecebong

Share

Bab 109 - Anak kecebong

Author: BabyCaca
last update Last Updated: 2026-02-24 09:37:25

Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya.

“Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 110 - Aroma cemburu

    Lala masih berdiri terpaku di anak tangga teras, menatap pria asing yang penampilannya sangat jauh dari kata "rapi" menurut standar lingkungan Vanderwick. Pria itu, dengan tato yang menjalar di lengannya dan gaya rambut belah tengah yang sedikit berantakan, menatap Lala dengan binar mata yang jenaka. Ia tampak menikmati kebingungan di wajah cantik Lala. "Siapa ya? Apa kita pernah bertemu?" tanya Lala dengan ragu. Ingatannya mencoba menyisir setiap wajah yang pernah ia kenal, namun pria di depannya ini terlihat seperti berandalan jalanan yang tampan, sementara ingatan Lala hanya dipenuhi oleh anak-anak panti yang kurus dan berpakaian lusuh. Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar berat namun sangat akrab. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengabaikan Leon yang sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap menarik senjata jika pria itu berbuat macam-macam. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Lala, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat rendah. "Es kul-kul

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 109 - Anak kecebong

    Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya. “Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu refreshing atau ada kau Si dan Lala,”senyum Intan kepada Sisi. “Saking sering nya bergaul dengan suami ku seperti nya aku sedikit ketularan sifat mengatur nya,”jawab Sisi terkekeh kepada Intan. “Maksud mu?”tanya Intan heran. “Ya aku sering memarahi nya. Karena Lala hamil dia meminta aku segera hamil juga agar ada pewaris Moretti, tapi aku tetap memakan pil kb, aku belum siap jadi ibu aku merasa masih muda. Apa lagi Kenzo itu masih sangat labih,”ucap Sisi memutar bola mata nya dengan malas. “

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 108 - Misi nasi uduk

    Seminggu telah berlalu sejak kabar kehamilan Lala mengguncang Mansion Vanderwick. Jika biasanya pagi hari di kediaman itu diisi dengan keheningan yang elegan dan aroma kopi mahal, kini suasananya berubah total. Alistair Vanderwick, pria yang bisa menjatuhkan lawan bisnis hanya dengan satu kerutan dahi, kini sedang berlutut di depan kloset dengan wajah yang sangat menyedihkan. "Huekk... huekk..." Alistair membasuh mulutnya, tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Benar kata Dokter Elvin, rasa mual itu tidak hilang begitu saja. Alistair justru seolah menjadi "perwakilan" Lala untuk merasakan semua penderitaan fisik di trimester pertama. Lala masuk ke kamar mandi dengan wajah segar bugar, kontras sekali dengan suaminya. "Bub, masih mual? Maaf ya, sepertinya bayinya lebih suka bikin Bub yang olahraga pagi di kamar mandi daripada Lala." Alistair mendongak, menatap istrinya dengan tatapan sayu namun tetap penuh cinta. "Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik aku yang merasakannya daripada

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 107 - Kehebohan sang pemimpin “Black Shadow”

    Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari halaman Mansion Vanderwick yang asri. Alistair sedang duduk di teras belakang, menikmati teh chamomile yang disarankan Dokter Elvin untuk meredakan sisa-sisa mualnya. Di sampingnya, Lala sedang asyik memakan potongan buah segar sambil menyandarkan kepalanya di bahu Alistair. Suasana yang begitu damai itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin Lamborghini yang sengaja digeber kencang di depan lobi. "Siapa lagi kalau bukan si berisik itu," gumam Alistair sambil meletakkan cangkir tehnya dengan helaan napas panjang. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Kenzo muncul dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya, diikuti oleh Sisi yang tampak membawa beberapa tas belanjaan berlogo merk bayi ternama. Namun, yang membuat Alistair mengerutkan dahi adalah apa yang dibawa oleh dua orang pengawal Kenzo di belakang mereka. Sebuah replika baju zirah abad pertengahan berukuran kecil dan sebuah motor mini b

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 106 - Berita bahagia

    Lobi rumah sakit pribadi itu terasa begitu sepi dan eksklusif. Di tengah ruangan yang didominasi marmer putih, Mommy Laurent berdiri dengan anggun, meski gurat kecemasan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya yang masih cantik. Begitu melihat Alistair dan Lala keluar dari lorong area kebidanan, ia segera melangkah maju. Langkah Laurent terhenti sejenak. Ia melihat mata Alistair yang memerah—pemandangan yang sangat langka. Ia juga melihat bagaimana tangan besar putranya itu merangkul pinggang Lala dengan sangat protektif, bahkan tangan Alistair yang lain menempel secara intuitif di perut Lala. "Alistair? Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian dari area kebidanan?" tanya Laurent dengan suara yang sedikit bergetar. Alistair terdiam sejenak. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak menjabat sebagai CEO, ia memang sudah memaafkan Laurent. Mereka sering makan malam bersama dan Alistair selalu memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi. Namun, keakraban mereka masih memiliki bat

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 105 - Alistair Hamil?!

    Ruang pemeriksaan itu seketika menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung janin yang masih terdengar dari mesin USG—sebuah irama kehidupan yang seharusnya membawa sorak-sorai kebahagiaan. Namun, pemandangan di depan mata Lala justru sebaliknya. Alistair, pria yang merupakan simbol kekuatan dan kekuasaan, kini tampak hancur di kursi di samping tempat tidur. Alistair menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara isak tangisnya tertahan, namun bahunya yang lebar itu berguncang hebat. Air mata lolos melalui celah jemarinya, membasahi jas mahal yang ia kenakan. Lala yang masih berbaring di tempat tidur pemeriksaan merasa jantungnya mencelos. Kebahagiaan yang baru saja membuncah saat melihat titik kecil di layar tadi seketika menguap, digantikan oleh rasa sesak yang menyesakkan dada. Ia segera duduk dan menyentuh lengan Alistair dengan ragu. "Bub..." suara Lala gemetar, "Kenapa menangis? Apa... apa Bub tidak suka kalau ada bayi di perut Lala?" Lala menatap Alistai

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status