หน้าหลัก / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 8 - Bukan sekedar pembantu

แชร์

Bab 8 - Bukan sekedar pembantu

ผู้เขียน: BabyCaca
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-09 20:00:27

Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya.

"Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur saja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon.

Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?"

"Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik seperti bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya.

"Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng.

Lala terdiam sejenak dan wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung seperti perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas sudah seperti model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau copot."

Lala menarik napas pendek sebelum melanjutkan, "TAPI! Minus-nya itu loh sejuta! Dia itu pemarah, suka ngebentak, mulutnya pedas banget kalau ngomong, hobinya nyuruh-nyuruh seperti aku ini robot, mana kaku banget lagi seperti kanebo kering! Pokoknya dia itu monster versi ganteng!"

Sisi tertawa renyah di seberang telepon. "Lucu kamu, La. Bilang saja kalau kamu sebenarnya suka."

"Nggak! Aku nggak su—" Kalimat Lala terhenti saat dia mendengar suara Sisi yang tiba-tiba diam. "Si? Halo? Sisi?"

"La, udah dulu ya. Kayaknya ada orang di depan kosan aku... motornya gede banget. Aku takut," bisik Sisi pelan sebelum mematikan sambungan teleponnya sepihak.

“Eh yaudah deh Si. Tapi kamu gapapa kan? Kalau ada masalah kabarin aku ya!” teriak Lala cemas pada layar ponselnya yang sudah gelap.

Di ruang makan Mansion Vanderwick, Alistair menatap kursi kosong di ujung meja yang biasanya ditempati Lala sambil mengoceh. Malam ini, gadis itu langsung masuk ke kamar tanpa makan malam yaitu sebuah rekor baru bagi Lala yang biasanya sanggup menghabiskan dua porsi nasi goreng. Makanannya terasa hambar.

"Leon," panggil Alistair.

"Iya, Tuan?"

"Apa dia... masih menangis?" tanya Alistair sambil berpura-pura sibuk dengan ponselnya.

Leon tersenyum tipis. "Nona Lala tidak menangis lagi, tapi dia menolak makan. Katanya dia sedang menghitung sisa umurnya untuk melunasi hutang dua miliar sebagai pembantu."

Alistair mendengus, tapi hatinya tidak nyaman. Kata pembantu yang dia ucapkan tadi pagi terus terngiang-ngiang. Dia berdiri dan berjalan menuju kamar Lala.

Tok! Tok! Tok!

"Mikaila, buka pintunya."

Tidak ada sahutan. Lala langsung melempar ponselnya dan membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, serta hanya menyisakan puncak kepalanya yang terlihat. Dia masih gengsi dan sangat sakit hati.

Karena tidak ada jawaban, Alistair akhirnya menggunakan kunci cadangan. Dia melangkah masuk dan berdiri di pinggir tempat tidur, menatap gundukan selimut yang sedikit bergetar itu.

"Besok pagi, bersiaplah. Jangan pakai baju lusuhmu itu," ucap Alistair tegas.

Lala menyembul dari balik selimut dengan mata sembab. "Mau ke mana? Mau dijual ya buat bayar hutang?"

"Berhenti bicara omong kosong. Saya akan membawa kamu ke butik. Elena benar soal satu hal yakni pakaian kamu memang berantakan. Saya ingin kamu terlihat lebih cantik darinya agar dia tidak bisa menghinamu lagi. Mengerti?"

Lala tertegun. "Maksudnya... Om mau Lala saingan sama Tante Elena?"

Alistair berbalik untuk menyembunyikan wajahnya yang mendadak canggung. "Anggap saja itu investasi. Saya tidak suka barang milik saya dihina orang lain."

“Enak aja dibilang barang! Lala bukan barang ya Om!” teriak Lala emosi.

“Lalu apa? Kamu mau dibilang keponakan saya lagi? Cuma mau dianggap seperti itu saja?” tanya Alistair sambil berbalik serta menatap Lala dengan intensitas yang berbeda.

“Tch, tidak,” kesal Lala sambil membuang muka.

Alistair mendekat dan tangan besarnya memegang pipi Lala dengan gemas. Dia menekan pipi itu sampai bibir Lala mengerucut lucu. “Coba lakukan sekali lagi lenguhan tidak sopan itu di depanku, Mikaila.”

“Tch! Tch! Tch!” tantang Lala sengaja.

“Kau benar-benar memancingku?” Tanpa peringatan, Alistair menunduk dan mencium bibir Lala sekilas namun menuntut.

“IHH OM NGAPAIN MESUM! LEON TOLONG!!” teriak Lala histeris sambil menutupi bibirnya.

“Kau mau tidak sopan lagi? Setiap umpatan atau lenguhan kasarmu itu akan dibayar dengan ciuman. Paham, Mikaila?” Alistair menyeringai tipis serta meninggalkan Lala yang masih berteriak kesal di atas tempat tidur.

Di Depan Kos-kosan Sisi

Sisi baru saja mematikan telepon dari Lala dengan tangan gemetar. Langkahnya terhenti melihat motor sport hitam besar terparkir tepat di depan gerbang. Kenzo bersandar di sana sembari mengenakan jaket kulit hitam dengan tatapan yang seolah bisa menembus jantung Sisi.

"Tuan Kenzo! Mau apa lagi? Sisi capek!" bentak Sisi frustasi.

Kenzo tidak bicara. Dia berjalan mendekat serta memaksa Sisi mundur selangkah demi selangkah sampai punggung gadis itu menempel di pagar besi kosan. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi kalung emas putih dengan liontin bunga Daisy.

"Pakai ini besok. Aku tidak suka melihat lehermu kosong," perintah Kenzo. Tanpa menunggu persetujuan, dia memasangkan kalung itu secara paksa ke leher Sisi.

"Sisi nggak bisa terima, ini terlalu mahal! Lagi pula Sisi malu kalau orang restoran lihat Tuan terus-terusan datang ke sini," tolak Sisi dengan suara bergetar.

Kenzo berhenti bergerak. Dia menumpu kedua tangannya di pagar serta mengurung tubuh Sisi di antara lengannya. Matanya menatap bibir Sisi dengan tatapan lapar.

"Malu?" Kenzo terkekeh rendah dan suaranya terdengar sangat sensual sekaligus mengancam.

"Jika kau malu memiliki aku, maka aku akan mempermalukanmu di depan semua orang dengan caraku sendiri."

Sisi menelan ludah serta matanya membulat. "Ma-maksud Tuan?"

Kenzo menyeringai miring dan jempolnya mengusap bibir bawah Sisi dengan gerakan lembut namun menuntut.

"Dengan cara menjilat dan melumat bibir sexy-mu ini di depan semua orang sampai kau kehabisan napas. Bagaimana? Mau coba?" bisik Kenzo tepat di depan bibir Sisi.

Deg!

Jantung Sisi berdetak sangat kencang. Wajahnya terasa terbakar hebat. Dia kaget bukan main mendengar godaan sevulgar itu keluar dari mulut pria dingin seperti Kenzo.

"Tu-Tuan gila!" cicit Sisi sambil menunduk dalam serta tidak berani menatap mata Kenzo yang penuh gairah itu.

Kenzo tertawa puas melihat reaksi kelincinya. Dia mengecup dahi Sisi cukup lama serta meninggalkan sensasi panas yang tertinggal di sana.

"Ingat Daisy, pakai kalungnya. Atau kau tahu apa yang akan kulakukan pada bibirmu besok," ancam Kenzo sebelum naik ke motornya dan pergi dengan raungan mesin yang memecah kesunyian malam.

Sisi memegang dadanya sembari mencoba menenangkan jantungnya yang masih maraton.

"Pria itu beneran sakit jiwa..." gumamnya, tapi tangannya tanpa sadar memegang liontin Daisy di lehernya.

BabyCaca

Gimana bab kali ini? Alistair sama Kenzo bener-bener nggak ada lawan kalau urusan maksa ya! Satu tukang cium, satu lagi tukang ancam. Kira-kira siapa yang bakal lebih bucin duluan? Si CEO kaku atau si abang motor sport yang hobi main ancam? Jangan lupa kasih dukungan kalian ya!😍

| 17
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 200 - Tamat

    Matahari sore menyiram taman belakang Mansion Vanderwick dengan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan siluet megah pada pilar-pilar bangunan yang tetap kokoh berdiri selama belasan tahun. Di sebuah kursi taman kayu jati yang nyaman, Alistair Julian Vanderwick duduk dengan gaya tenangnya yang legendaris. Meski ada beberapa helai uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, aura kepemimpinannya justru semakin matang dan berwibawa. Alistair merangkul bahu Lala, menarik istrinya agar bersandar erat di dada bidangnya yang selalu menjadi pelabuhan ternyaman. Lala, yang masih terlihat sangat cantik dengan kerutan halus di sudut matanya, tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia mengamati bunga-bunga melati yang dulu mereka tanam bersama, kini telah tumbuh rimbun menutupi sebagian area gazebo. "Bub, lihatlah sekeliling kita. Rasanya seperti mimpi melihat mansion ini tetap sehangat dulu," bisik Lala pelan. "Tentu saja hangat, karena duniaku ada di sini, bersamamu, Lala," s

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 199 - Si kembar pintar

    Malam di Mansion Vanderwick terasa berbeda, seolah udara dipenuhi oleh haru yang tertahan di balik kemegahannya. Lampu kristal di ruang tengah memancarkan cahaya temaram, menyinari Alistair dan Lala yang duduk berdampingan di sofa beludru. Besok adalah hari kelulusan jalur akselerasi bagi si kembar, sebuah tanda bahwa masa kanak-kanak mereka telah resmi berakhir. Alistair menatap kosong ke arah layar tabletnya, namun pikirannya melayang jauh pada memori belasan tahun lalu. Ia masih ingat sensasi menggendong Arlo yang merah dan Lyra yang menangis kencang di hari kelahiran mereka. Kini, kedua bayi itu telah berubah menjadi sosok remaja yang cerdas, tangguh, dan siap menaklukkan dunia pendidikan tinggi. "Bub, kenapa melamun? Besok kita harus bangun pagi untuk ke gedung wisuda," tegur Lala lembut sambil mengusap lengan suaminya. "Aku hanya merasa waktu benar-benar pencuri yang ulung, Lala. Rasanya baru kemarin aku membelikan mereka mobil-mobilan," gumam Alistair. "Dan sekarang mer

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 198 - Alistair pride

    Malam di Mansion Vanderwick terasa sangat tenang dengan embusan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati. Alistair Julian Vanderwick berdiri di balkon lantai dua, menyandarkan sikunya di pagar pembatas sembari menyesap kopi pahitnya. Matanya yang tajam tertuju ke bawah, ke arah taman belakang yang diterangi lampu-lampu taman artistik yang hangat Di bawah sana, Arlo dan Lyra sedang duduk di gazebo kaca. Meski waktu sudah menunjukkan jam belajar mandiri, mereka berdua tampak sangat fokus. Arlo terlihat sedang menjelaskan sesuatu pada tabletnya kepada Lyra, sementara sang adik mencatat dengan serius di buku sketsanya. Alistair menyeringai tipis, merasakan kebanggaan yang membuncah di dalam dadanya melihat pemandangan itu. "Masih betah berdiri di sini, Bub? Kopinya sudah dingin lho," suara lembut Lala terdengar dari belakang. Alistair tidak menoleh, ia hanya merentangkan tangan kirinya untuk menarik Lala agar bersandar di sampingnya. "Lihat mereka, Bub. Rasanya baru kemarin aku p

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 197 - Kunjungan Elvin dan Intan

    Mansion Vanderwick sore itu tampak lebih ramai dari biasanya. Gerbang emas terbuka lebar menyambut mobil SUV mewah yang sangat dikenal oleh seluruh penjaga. Alistair berdiri di teras dengan gaya angkuhnya, sementara Arlo berdiri di sampingnya dengan tangan masuk ke saku celana, menunjukkan aura dingin yang identik dengan sang ayah Elvin Fisher turun dari mobil dengan setelan kasual namun tetap rapi, diikuti Intan yang kini terlihat sangat anggun sebagai Nyonya Fisher. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berusia sekitar tujuh tahun bernama Leo tampak berlari ceria sambil membawa bola plastik. Pemandangan itu kontras dengan Arlo yang hanya menatap kedatangan mereka dengan pandangan datar dan penuh analisa. "Wah, si Kulkas akhirnya ingat jalan pulang ke mansion ini," ejek Alistair sambil menyeringai lebar. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak stres karena menghadapi Arlo yang sepertinya sudah mulai menguasai meja kerjamu, Al," balas Elvin tajam. "Mas Elvin, Tuan Alistair, b

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 196 - My brother, my bodyguard

    Kantin sekolah menengah internasional itu mendadak sunyi saat seorang siswa kelas dua belas berdiri menghadang jalan Lyra. Pria bernama Rangga itu tampak membawa beberapa lembar kertas dan menatap Lyra dengan senyum meremehkan. Para siswa lain mulai berbisik, menyadari bahwa ada seseorang yang cukup nekat untuk mengusik ketenangan sang ratu sekolah. Lyra berhenti melangkah, ia menatap Rangga dengan pandangan tenang namun tajam yang sangat mematikan. Ia melipat tangan di depan dada, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski tubuh Rangga jauh lebih besar darinya. Baginya, gertakan semacam ini hanyalah hiburan murahan di tengah jam istirahat yang membosankan. "Ada apa, Kak? Sepertinya Kakak sedang butuh perhatian sampai harus menghalangi jalanku," ucap Lyra dengan nada santai. "Lo pikir karena lo cantik dan kaya, lo bisa seenaknya menolak undangan acara angkatan kami?" tanya Rangga dengan nada menantang. "Aku menolak karena acaranya tidak menarik, sesederhana itu. Kenapa Kak

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 195 - Mommy, my bestfriend

    Pusat perbelanjaan paling mewah di Jakarta tampak berkilau di bawah lampu kristal yang menggantung tinggi. Lala melangkah anggun sambil menggandeng lengan Lyra yang kini sudah hampir setinggi dirinya. Di belakang mereka, lima pengawal berpakaian safari hitam menjaga jarak sepuluh meter dengan sangat ketat. Lyra menyesuaikan letak kacamata hitam di atas kepalanya dengan gaya yang sangat modis. Ia melirik tumpukan kantong belanjaan bermerek yang dibawa oleh dua pengawal di belakang mereka. Senyum tipis terukir di bibirnya yang kemerahan, mewarisi kecantikan Lala namun dengan aura yang jauh lebih berani. "Mom, apa Daddy tidak akan marah kita menghabiskan limit kartu kreditnya dalam dua jam?" tanya Lyra sambil terkekeh. "Kartu itu diberikan memang untuk dihabiskan, Lyra. Kalau tidak habis, Daddy-mu justru akan curiga kita tidak bahagia," jawab Lala santai. "Daddy memang aneh. Dia mencintai kita dengan cara membuang uang seolah itu hanya tumpukan kertas," gumam Lyra sambil menarik

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 2 - Harga Sebuah Ciuman

    “Ganteng banget siapanya Lala itu?” “Omnya kali ya? Tadi katanya Om tau,” “Bukan deh, dari mana Lala dapat keluarga kaya, orang dia anak yatim piatu kok,” “Aneh banget,” Lala merasa dunianya runtuh seketika. Di tengah lapangan sekolah, ratusan pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi iri,

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 1 - Wleeee! Kejar saja kalau bisa, Om

    Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, dua gadis SMA dengan seragam rompi pink kotak-kotak dan dasi senada tampak celingak-celinguk di depan sebuah gedung pencakar langit. Vanderwick Corp. Nama itu terpampang megah dengan huruf emas di atas lobi yang luasnya hampir selapangan bola. "La, mending kita pulan

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 7 - Sisi Luka yang menghitam

    Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang ter

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 6 - Bayang bayang masa lalu

    Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di te

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status