LOGINLala memang luar biasa! Meskipun sering dimarah-marahi, dia tetap jadi orang pertama yang datang saat Alistair hancur. Kira-kira apa yang bakal terjadi besok pagi pas Alistair sadar kalau dia habis nangis di pundak 'pembantunya'? Bakal makin gengsi atau malah makin luluh ya? Tulis teori kalian di kolom komentar!😌
“Lala semoga kau berhasil,”gumam Sisi. Di meja bar restoran steak itu, Sisi menatap nanar punggung Lala yang semakin menjauh meninggalkan restoran. Bahu sahabatnya itu terlihat bergetar, dan Sisi tahu Lala sedang menahan tangis. "Apakah kau sangat khawatir dengan temanmu itu?" Suara berat Kenzo memecah lamunan Sisi. Pria itu menyesap minumannya dengan tenang, seolah drama yang baru saja terjadi hanya tontonan hiburan baginya. Sisi menoleh dengan tatapan tajam. "Tentu saja! Dia sahabatku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Om Galak itu? Kenapa dia berubah jadi menyeramkan setelah melihat foto itu?" Kenzo terkekeh tipis, matanya menatap botol alkohol di depannya. "Elena... dia adalah cinta pertama Alistair. Tidak akan pernah ada siapapun yang bisa menggantikan kedudukannya di hati Alistair. Sekalipun itu temanmu, Baby." Hati Sisi mencelos mendengarnya. "Lalu kenapa Om itu terus membuat Lala terjebak di hidupnya? Lala bisa saja jatuh cinta dan menyakiti dirinya sendiri karena pera
Keesokan hari nya… “Om Lala gamau ya, kalau gara gara ini hutang Lala nambah!”kesal Lala kepada Alistair. “Apa kau setakut itu juga hutang mu bertambah?”heran Alistair kepada Lala saat ini di atas mobil. “Tentu Om! Untuk apa memperkaya orang yang sudah kaya, dunia ini benar benar tidak adil kan!”kesal Lala kepada Alistair. Pria itu tidak menjawab sama sekali dan hanya menatap kembali tablet nya dengan datar tanpa mempedulikan ocehan nya Lala dari tadi. “Tuan kita sudah sampai,”ucap Leon kepada Alistair. “Ikut aku.”ajak Alistair. Alistair membawa Lala ke sebuah butik mewah. Di sana, Lala di-makeover habis-habisan. “Selamat datang tuan Vanderwick. Sudah lama tidak berkunjung ah, anda datang dengan pacar baru anda ya, sepertinya lebih muda dari nona Elana,”ujar wanita itu tersenyum ramah. “Jangan sebut nama wanita itu! Atau Lala akan gigit kakak!”teriak Lala dengan kesal tapi lucu. “Ah nona, maafkan saya. Apa anda cemburu? Maafkan atas kelancangan saya, tenang saja. Saya akan
Malam itu, Mansion Vanderwick terasa sangat sunyi. Di dalam kamarnya, Lala sedang duduk meringkuk di atas tempat tidur sambil menempelkan ponsel ke telinganya. "Si... aku nggak tahan di sini. Aku mau kabur aja ke Kamboja!" rengek Lala di telepon. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki Sisi yang sedang berjalan pulang kerja. "Loh, kenapa lagi, La? Om CEO itu gigit kamu?" "Bukan gigit lagi, Si! Dia itu keterlaluan. Masa di depan Tante Elena yang cantik kayak bidadari itu, dia bilang aku cuma pembantu! Sakit tau, Si. Mana baju aku dibilang lusuh lagi," keluh Lala sambil mengerucutkan bibirnya. "Sabar, La. Tapi... kamu beneran nggak ada rasa sedikit pun sama Om itu?" tanya Sisi iseng. Lala terdiam sejenak, wajahnya mendadak panas. "Ya... kalau ditanya fisik sih, dia emang perfect banget, Si. Hidungnya mancung kayak perosotan TK, badannya tinggi tegap, kalau pakai jas udah kayak model majalah internasional. Matanya itu loh... kalau lagi natap dalam suka bikin jantung aku mau c
Lala berlari keluar dari restoran dengan air mata yang mulai mengaburkan pandangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah trotoar yang ia injak berubah menjadi rawa yang menghisapnya ke dalam keputusasaan. Ia ingin pergi sejauh mungkin, lari dari kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah debu yang terselip di antara kemegahan Alistair dan keanggunan Elena. Namun, baru beberapa meter menginjak trotoar yang panas, suara bariton yang sangat ia kenali menggelegar, menghentikan detak jantungnya sesaat. "Mikala! Masuk ke mobil sekarang!" bentak Alistair dari ambang pintu restoran. Suaranya tidak membentak dengan nada peduli, melainkan seperti perintah mutlak seorang tuan kepada bawahannya. Lala berhenti, bahunya bergetar hebat. Ia hendak membantah, ingin sekali ia berteriak bahwa ia bukan budak yang bisa disuruh-suruh, tapi Leon sudah sigap berdiri di sampingnya dengan wajah cemas yang tertahan. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Lala terpaksa memutar arah. Ia melangkah kembali dan
Pagi hari di Mansion Vanderwick tak pernah sepi dari ketegangan, namun kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda di udara. Lala terbangun dengan sisa-sisa aroma parfum maskulin Alistair yang seolah masih tertinggal di indra penciumannya. Ingatan semalam saat pria kaku itu menjadikannya sandaran di tengah aroma alkohol yang menyengat membuat pipi Lala memanas seketika. Lala menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia masih tidak habis pikir, pria yang biasanya sedingin es itu bisa terlihat begitu rapuh. Bayangan Alistair yang berdiri diam di depan gerbang mansion semalam, menemui seorang wanita misterius di balik hujan yang turun samar, terus menghantui pikirannya. Lala ingat bagaimana wanita itu Elena menatap Alistair dengan penuh harap, memintanya datang ke pernikahan yang akan segera digelar. Namun, semua kehangatan dan rasa penasaran itu menguap saat ia tiba di ruang makan pagi ini. Alistair sudah kembali menjadi "Monster" yang kaku di balik koran paginya. "Mikala, buatkan saya ko
Setelah kejadian dapur yang hampir meledak itu, Alistair benar-benar melarang Lala menyentuh area dapur sendirian. Pagi ini, Lala punya tugas baru sebagai "Pembantu Pribadi": Membereskan meja kerja Alistair di ruang perpustakaan pribadi yang biasanya sangat terlarang dimasuki siapapun. "Ingat Mikala, jangan pindahkan posisi satu kertas pun. Cukup bersihkan debunya saja," peringat Alistair sebelum berangkat ke kantor. "Iya, iya, Om Galak! Bawel banget sih, lagian siapa juga yang mau baca kertas tulisan cacing gitu," gerutu Lala sambil membawa kemoceng bulu ayam. “Kenapa sih apa-apa kalau nyuruh harus marah duluan. Emosional banget, apa ga takut keriput ya?”gumam Lala kesal kepada diri nya sendiri. “Tor minitor ketua, asik. Kondisi lagi gacor ketua, asik. My trip my Adventure stop sudah jangan ko atur, kau bukan lagi donatur sekarang, lupa nama tapi masih ingat rasa ahay.”goyang Lala sambil bekerja dan bernyanyi aneh.Saat sedang asyik membersihkan rak buku, mata Lala tertuju pada s







