Home / Romansa / OM CEO, I LOVE YOU! / Bab 96 - Romantisme

Share

Bab 96 - Romantisme

Author: BabyCaca
last update Huling Na-update: 2026-02-20 09:24:18

Pagi yang cerah di Paris menyapa melalui jendela Royal Suite yang terbuka sedikit, membiarkan aroma croissant hangat dan kopi dari kafe-kafe di bawah sana masuk ke dalam ruangan. Sinar matahari keemasan jatuh tepat di atas ranjang besar yang berantakan, tempat Alistair masih memeluk Lala dengan sangat protektif di bawah selimut tebal.

Lala terbangun lebih dulu. Ia mengerjapkan matanya, merasakan pegal yang tidak biasa di sekujur tubuhnya—buah dari keberaniannya menggoda sang Naga semalam. Ia me
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 113 - Konsultasi dadakan

    Siang itu, ruang tamu utama Mansion Vanderwick yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu-tamu negara atau kolega bisnis kelas atas, mendadak berubah fungsi menjadi ruang konsultasi medis paling tidak lazim. Elvin, yang baru saja selesai memeriksa tekanan darah Lala, masih duduk di sofa single dengan tas medis yang terbuka di atas meja marmer. Alistair duduk di sofa panjang, merangkul pinggang Lala dengan posesif seolah-olah istrinya itu akan terbang jika tidak dipegangi. Sementara itu, Kenzo dan Sisi duduk di seberang mereka, ditemani Intan yang duduk di kursi kayu antik di sudut, berusaha terlihat tidak mencolok. "Kondisi janin dan rahim Lala sangat kuat," ucap Elvin dengan suara baritonnya yang datar, memecah keheningan ruang tamu yang luas itu. "Meski ada efek kehamilan simpatik yang membuatmu mual, Al, secara fisik Lala sangat sehat." Alistair mengangguk-angguk serius. Ia memperbaiki posisi duduknya, wajahnya tampak sangat berwibawa seolah sedang memimpin rapat merger perusa

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 112 - Para pria posesif

    Suasana di ruang makan Mansion Vanderwick benar-benar berubah menjadi panggung sandiwara yang aneh. Setelah perdebatan panas yang hampir berujung baku hantam, Alistair kini duduk dengan wajah yang ditekuk, namun tangannya tidak sedetik pun lepas dari menggenggam ujung pakaian Lala. Ia tampak seperti singa yang baru saja dijinakkan paksa, namun masih mengeluarkan geraman kecil setiap kali matanya bertemu dengan Rehan. Rehan, pria bertato dengan gaya baggy jeans-nya yang santai, baru saja selesai menghabiskan hidangan penutup. Ia menatap Alistair dengan senyum mengejek. "Kau tahu, Tuan Alistair? Wajah kaku mu itu sebenarnya cukup lucu kalau sedang menahan marah. Kenapa tidak tersenyum sedikit? Adikku bisa stres kalau melihat suaminya terlihat seperti ingin menelan orang hidup-hidup." "Bicara mu jangan sok keren," desis Alistair dengan nada benci yang kental. Rehan hanya tertawa renyah, menyandarkan punggungnya ke kursi mahal itu. "Aku memang keren, kau dengan jas mu itu yang kaku, Tu

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 111 - Siapa Rehan?

    Ketegangan di ruang tamu Mansion Vanderwick mencapai titik didih. Udara seolah membeku di sekitar Alistair. Tatapannya yang tajam terkunci rapat pada Rehan, sementara tangannya mencengkeram pergelangan tangan Lala dengan erat—bukan untuk menyakiti, melainkan sebagai tanda kepemilikan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rehan, yang sejak tadi duduk santai, kini berdiri dengan gerakan yang tenang namun waspada. Ia tidak tampak terintimidasi oleh aura membunuh yang dipancarkan Alistair. Sebagai pria yang tumbuh di jalanan dan sering berurusan dengan sisi gelap logistik, gertakan adalah makanannya sehari-hari. Namun, ia harus mengakui bahwa pria di depannya ini memiliki jenis intimidasi yang berbeda; sebuah otoritas yang lahir dari kekuasaan tanpa batas. "Aku tanya sekali lagi," suara Alistair merendah, hampir menyerupai geraman yang keluar dari dada bidangnya. "Siapa kau, dan apa urusanmu dengan istriku?" Rehan tersenyum miring, memasukkan kedua tangannya ke saku baggy jeans-nya. "

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 110 - Aroma cemburu

    Lala masih berdiri terpaku di anak tangga teras, menatap pria asing yang penampilannya sangat jauh dari kata "rapi" menurut standar lingkungan Vanderwick. Pria itu, dengan tato yang menjalar di lengannya dan gaya rambut belah tengah yang sedikit berantakan, menatap Lala dengan binar mata yang jenaka. Ia tampak menikmati kebingungan di wajah cantik Lala. "Siapa ya? Apa kita pernah bertemu?" tanya Lala dengan ragu. Ingatannya mencoba menyisir setiap wajah yang pernah ia kenal, namun pria di depannya ini terlihat seperti berandalan jalanan yang tampan, sementara ingatan Lala hanya dipenuhi oleh anak-anak panti yang kurus dan berpakaian lusuh. Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar berat namun sangat akrab. Ia melangkah satu tahap lebih dekat, mengabaikan Leon yang sudah meletakkan tangannya di balik jas, siap menarik senjata jika pria itu berbuat macam-macam. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Lala, lalu berbisik dengan nada menggoda yang sangat rendah. "Es kul-kul

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 109 - Anak kecebong

    Pagi itu, Mansion Vanderwick tampak sedikit lebih tenang dari biasanya. Alistair terpaksa harus meninggalkan rumah karena ada rapat dewan direksi yang sangat krusial di kantor pusat—sebuah rapat yang tidak bisa ia tunda lagi meskipun hatinya masih berat meninggalkan Lala yang sedang dalam kondisi hamil muda. Sebelum berangkat, Alistair memberikan instruksi keamanan yang sangat ketat pada Leon dan para pengawal untuk menjaga setiap sudut kediamannya. “Tugas ku sangat banyak butuh sedikit waktu refreshing atau ada kau Si dan Lala,”senyum Intan kepada Sisi. “Saking sering nya bergaul dengan suami ku seperti nya aku sedikit ketularan sifat mengatur nya,”jawab Sisi terkekeh kepada Intan. “Maksud mu?”tanya Intan heran. “Ya aku sering memarahi nya. Karena Lala hamil dia meminta aku segera hamil juga agar ada pewaris Moretti, tapi aku tetap memakan pil kb, aku belum siap jadi ibu aku merasa masih muda. Apa lagi Kenzo itu masih sangat labih,”ucap Sisi memutar bola mata nya dengan malas. “

  • OM CEO, I LOVE YOU!   Bab 108 - Misi nasi uduk

    Seminggu telah berlalu sejak kabar kehamilan Lala mengguncang Mansion Vanderwick. Jika biasanya pagi hari di kediaman itu diisi dengan keheningan yang elegan dan aroma kopi mahal, kini suasananya berubah total. Alistair Vanderwick, pria yang bisa menjatuhkan lawan bisnis hanya dengan satu kerutan dahi, kini sedang berlutut di depan kloset dengan wajah yang sangat menyedihkan. "Huekk... huekk..." Alistair membasuh mulutnya, tangannya gemetar menahan tubuhnya sendiri. Benar kata Dokter Elvin, rasa mual itu tidak hilang begitu saja. Alistair justru seolah menjadi "perwakilan" Lala untuk merasakan semua penderitaan fisik di trimester pertama. Lala masuk ke kamar mandi dengan wajah segar bugar, kontras sekali dengan suaminya. "Bub, masih mual? Maaf ya, sepertinya bayinya lebih suka bikin Bub yang olahraga pagi di kamar mandi daripada Lala." Alistair mendongak, menatap istrinya dengan tatapan sayu namun tetap penuh cinta. "Tidak apa-apa, Sayang. Lebih baik aku yang merasakannya daripada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status