登入“Icaaa!!!”Ica melotot galak pada temannya itu. Kok bisa ya, dia punya teman suaranya mirip toa begini, mana sekarang sedang hening, persiapan mau acara ijab qobul. Ica memang tak langsung keluar, dia akan menunggu di kamar sampai kata “Sah” terucap baru dia bisa menemui suaminya. “Diam kenapa sih, Ta. Itu tenggorokan nggak sakit kamu buat teriak-teriak terus.” “Eh kok kamu sewot sih Ca. grogi ya,” godanya sambil menaik turunkan alis. Ica menunjukkan tatapan paling tajam untuk Tata, tapi yang namanya Tata mana mempan dikasih peringatan kayak gitu, itu anak malah nyerocos. “Tahu nggak, Ca.” “Nggak,” jawab Ica ketus. Tuh kan, dikira Ica peramal, tahu apa yang belum dia katakan. “Idih manten apaan mukanya manyun gitu, kalau orang lihat pasti dikira kamu belum bisa move on dari si Adam.” “Siapa tuh Adam. Nggak kenal.” “Eleh lagakmu, pasti kamu sakit hati banget ya, tapi tenang kamu dapat yang lebih baik kok aku sudah lihat fotonya.” “Hah!!! Foto apa?”Tata mengotak-atik ponse
Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget. Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin pen
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan mengutuk si pengecut itu. Tapi dasarnya setan itu memang tak tahu diri, dia malah datang mendekati Ica yang sedang berdiri di samping motor Tata, sedangkan Tatanya sendiri pamit ke kamar kecil sebentar. Ica ingin pergi menghindar, tapi buat apa coba, dia nggak salah kok lagi pula ini tempat umum bukan punya dia. Meski hatinya masih sakit tapi dia sudah coba ikhlaskan. Anggap saja hama. “Hon.” Itu memang panggilan sayang Adam untuk Ica, tapi karena sekarang Adam tidak ada lagi hubungan dengannya, Ica nggak mau kegeeran itu masih panggilan untuknya. “Ica, honey.” Ica juga belum menoleh dia masih sibuk dengan ponselnya. Baru setelah merasa seseorang memegang pundaknya dia mengangkat kepa
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada bapak juga, tapi bapak malah bilang, “Ya sudah, Ca. turuti saja ibumu. Memang pengantin harusnya dipingit dan mempercantik diri biar suamimu besok pangling.” Tanpa melakukan perawatan apapun, Ica yakin calon suaminya sudah pangling padanya, wong mereka hanya ketemu dua kali, itupun tak sengaja. Belum lagi tambahan ceramah soal menjadi istri yang baik dan penurut pada suami dari ibu. Ica memang tidak bakal menang debat dengan orang tuanya. Dengan hati dongkol Ica mengunci pintu kamarnya. Jendela kamarnya lumayan besar sih. Bisa digunakan untuk kabur kalau dia benar-benar sudah suntuk. Sekarang dia mau nonton film dulu di laptopnya. Tapi bukan kabur dari pernikahan dua hari lagi ya, Ica
Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah, Ica??Ya tentu saja ngekorlah….“Bapak mau ke kamar mandi memangnya kamu mau ikut masuk.”Ica cemberut, tapi tetap tak mau pergi dengan patuh dia berdiri di depan pintu kamar mandi. “Ca, sudah pulang? Bapak mana?” “Di dalam.” “Terus kenapa kamu berdiri di situ, kebelet juga? Kan bisa di kamar mandi dapur.”Ih ibunya nggak ngerti sih. “Mau di kamar mandi ini saja, Bu.” Ica menghela napas lega saat seseorang memanggil ibunya. Syukurlah. Dia juga tak yakin harus menjawab apa kalau ibunya bertanya lagi. “Pak, cepetan!!!”Rasanya sudah jamuran Ica menunggu di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang sedang membantu pesta pernikahannya menatapnya dengan heran. “Kamu ngapain nungguin b
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga besarnya dan juga mempersiapkan semuanya. Meski begitu baik bapak atau ibu belum juga beranjak dari duduknya. Ica yang mau permisi ke kamar untuk nangis jadi tertunda. Lima tahun hubungannya dengan Adam berakhir setragis ini. Sebenarnya apa salahnya pada Adam hingga pria itu tega berbuat begini?!“Adam butuh istri yang sederajat, bukan mahasiswi yang belum lulus.” Kalimat pembuka ibu Adam tadi menamparnya dengan telak, bahkan bapak sudah hampir emosi mendengar itu, untung ibu langsung menenangkannya. Kalau niatnya kayak gitu, ngapain juga datang melamarnya. Orang aneh.Belum lagi Adam yang hanya diam saja seolah membenarkan ucapan ibunya. Ihhh Ica gemes banget pengen menoyor kepala pr







