登入Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget.
Ica mengira ibu kesurupan. Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya. Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi. Untung persediaan air minum Ica masih ada. “Bismillahirrohmannirrohim….” Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya. Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu. “Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.” “Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur. Kan! Jin penganggu itu takut kalau ada orang baca ayat suci, Ica baru saja membuktikan sendiri. Ini baru ibu, bukan jin atau sejenisnya. Ica kenal betul omelan itu. Sejak kecil omelan itu sudah menjadi trade mark ibu tak salah lagi. “Kamu ini kenapa sih, Ca. kok tingkahmu aneh-aneh saja.” Ibu mengomel sambil menyeka wajahnya yang basah, untung tadi hanya ditiup airnya coba kalau dia ngikutin tutorial haji Jali, air dibuat kumur dulu baru disemprotkan ke orang yang kesurupan bisa habis dia diomeli ibu. “Ibu sejak tadi nangis terus aku kira kerasukan.” Ibu melongo sejenak, lalu tanpa ampun menjewer telinga Ica. “Kamu itu sudah mau nikah kok ya bandel begini, untung saja yang mau nikah sama kamu itu Saka bukan Adam lagi.” Ica berhenti menggosok telinganya yang sakit dijewer ibu. Gadis itu menatap penuh selidik ibunya. “Kok ibu kayaknya bersyukur banget aku nggak jadi nikah sama Adam?” tanyanya setengah heran setengah merajuk. Ibu menghela napas panjang lalu mengelus rambut Ica lembut. “Jujur saja, Ca. sejak dulu ibu agak tidak ‘sreg’ dengan Adam, sejak kamu pacaran dengannya kamu jadi sering minta uang ini itu ke ibu, alasanmu memang untuk kuliah, tapi ibu tahu itu pasti untuk Adam.” Boleh nggak sih sekarang dia nangis guling-guling saja. Dia pacaran dengan Adam lebih dari lima tahun lho dan matanya begitu buta tak bisa melihat keengganan ibu. Awal pacaran dengan Adam dulu baik bapak maupun ibu sudah bilang, prioritaskan sekolah dulu jangan pacaran. Tapi Ica yang saat itu sedang mabuk cinta mana mau mendengar saran orang tuanya. Bapak dan ibu yang membatasi jam keluar malamnya, yang sebelumnya sampai jam sembilan, jadi jam delapan sudah harus pulang ke rumah, bapak juga jadi lebih protektif dan akan mengantar jemputnya sekolah, padahal Ica sudah bilang Adam mau mengantar jemputnya, tapi bapak tak peduli. Ica sempat ngambek apalagi kalau ingat teman-temannya mengejek masih anak bawang, tapi bapak tetap kukuh. Saat Ica diam-diam kabur bersama Adam saat pulang sekolah, Ibu dengan tegas mengatakan tidak ada uang saku untuk Ica selama satu minggu. Tentu saja itu kelemahan terbesar Ica, apalagi Adam sejak dulu tak pernah mau keluar uang sedikitpun. Entah memang tidak punya atau pelit. Bahkan dia nekad berbohong pada bapak dan ibu kalau Adam anak yang pintar dan mau mengajarinya belajar, padahal kenyataannya nol besar. Adam bisa lulus test PNS juga atas kerja keras Ica yang merangkum semua kisi-kisi dari berbagai sumber dan Adam… tinggal baca dan hapalkan. Aishhh bodoh sekali memang dia mau-maunya tertipu mulut manis Adam. “Kalau ibu tidak setuju aku menikah dengan Adam, kenapa ibu dan bapak tidak menolak lamaranya dulu?” tanya Ica penuh tuntutan. “Karena kamu terlihat bahagia sama dia, Ca. sebagai orang tua kami ingin kamu bahagia.” Ica kok jadi pingin nangis dengar ucapan ibu. *** Hari ini Ica akan menikah. Lagu-lagu romantis sudah terdengar nyaring meramaikan suasana. Namun bagian paling menarik adalah bau berbagai masakan yang sudah tersaji di meja panjang di depannya. Baunya bikin lapar. Dan Ica pantang untuk mengabaikan ajakan perutnya itu. Segera saja dia ambil piring, padahal dia tadi pamit pada MUA yang akan mendandaninya ke kamar mandi bentar. Nunggu lima sampai sepuluh menit untuk makan bukan masalah pastinya, toh akad nikahnya masih tiga jam lagi. Masih lamaaa. “Kok kamu masih makan sih, Ca.” Ica terpaksa menghentikan suapannya. Bulek Parni, adik ibu yang diberi tanggung jawab mengawasi semua makanan yang dihidangkan menatap Ica bingung. “Kan lapar bulek.” “Tapi ini sudah siang, kamu harus dirias, tuh mbak periasnya sudah datang.” “Ibu saja dulu deh, bulek. Ica laper banget ini.” Ica tak menoleh dia fokus dengan makanannya, perutnya benar-benar lapar. Biasanya memang dia tidak makan sepagi ini, tapi energinya sudah terkuras kemarin untuk galau, jadi dia perlu nasi dan teman-temannya untuk tambahan tenaga. Apalagi sebentar lagi dia menikah, gawat kan kalau sampai dia pingsan nanti, bisa makin sibuk para biang gosip merangkai cerita. “Yang mantennya itu kamu, harusnya kamu dulu yang dandan.” “Tanggung bulek.” Ica masih asyik makan saat tiba-tiba piringnya melayang dan siapa lagi pelakunya kalau bukan ibunya yang cantik. “Ibu suapin saja biar cepet.” Ica mau protes tapi plototan mata ibu membuatnya tak berkutik, lagian nggak lucu juga dia harus datang terlambat di acara pernikahannya sendiri. “Lho, Ca. kok belum siap Saka sudah dalam perjalanan kemari,” kata bapak yang baru saja masuk ke ruang tengah. “Lho akadnya masih tiga jam lagi, pak.” “Akadnya memang masih tiga jam lagi tapi persiapannya ya harus lebih awal.” “Sudah, Ca. ayo kamu dandan dulu nanti kalau lapar ibu suapin lagi di pelaminan atau minta suamimu yang suapin.” Ibu!!! yang benar saja. Begitu Ica masuk kamar, mbak-mbak MUA sudah heboh menyambutnya. “Ini dia mantennya, sejak tadi ditungguin juga.” “Lapar mbak makan dulu.” Ica duduk di kursi riasnya dan para Mua mulai mengoleskan entah apa saja ke mukanya. “Calon suamimu katanya petani, Ca?” tanya salah satu perias. “Memangnya kenapa kalau petani?!” tanya Ica agak sebal juga, kok kesannya menyepelekan sekali profesi calon suaminya. Mending punya suami petani tapi bertanggung jawab dari pada PNS pengecut yang pelit. “Ya nggak apa-apa sih, Ca. berarti badannya terbentuk secara alami bukan hasil ngegym.” “Eh maksudnya?” Mbak MUA yang lebih tua mendekat pada Ica dan berbisik lirih. “MUA yang dandanin calonmu pada ngegosip di grup. Badannya bagus banget beruntung kamu Ca.” “Eh kok tahu badannya bagus?” “Ckkk kamu gimanasih kan mereka bantu calonmu ganti baju.” “Apa!!!” bisa-bisanya mereka sudah unboxing calon suaminya duluan, Ica saja belum pernah lihat. Eh…..“Sttt, sayang mama masih bobo bentar adek sama ayah,” suara itu terdengar lembut dan penuh kasih sayang. Mata Ica mengerjap terbuka saat mendengar itu semua, tangis bayinya tak terdengar lagi, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyum. Badannya terasa lelah. Dia ingin tidur lebih lama lagi tapi tanggung jawab barunya sebagai seorang ibu tak bisa dia abaikan begitu saja. Suaminya memang bukan orang yang romantis, tapi lihatlah, pria itu menunjukkan keromantisan dalam tindakan nyata contohnya saat ini. Saka akan dengan sigap mengurus baby Zi, putri mereka yang baru Ica lahirkan sebulan yang lalu. Oh tentu saja Saka dengan senang hati akan memberikan babysister untuk merawat putrinya, tapi dengan tegas Ica menolak. Dia tidak mau sang anak lebih dekat dengan baby sisternya dari pada dengan orang tuanya. Lagi pula, setelah hamil dan menyelesaikan wisudanya, Ica bisa dikatakan hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Bukan dia tidak mau kerja tapi kondisinya belum memungkinkan. Lagian Sa
Dulu Ica yakin kalau hanya Adam pria yang dia cintai, bersama pria itu dia yakin akan menjalani sisa hidupnya. Karena itulah dia berusaha keras untuk membantu kesuksesan Adam, baik dengan perbuatan langsung atau doa pada Tuhan, tapi ternyata Tuhan lebih menyayanginya dengan batalnya pernikahannya. Kini tiga bulan dari peristiwa itu dia sangat mensyukurinya. Apalagi dia mendapat pengganti yang lebih baik, yang menikahinya bukan hanya karena kasihan. “Jadi mas menawarkan diri waktu itu memang sudah direncanakan?” tanya Ica. Kali ini ica bertekad untuk mengorek keterangan sejelas-jelasnya dari sang suami, tak peduli apapun konsekuensinya. Ini hidupnya jadi dia harus tahu apa yang terjadi.“Mana bisa aku menebak isi hati mantanmu itu,” jawab Saka lempeng. Hati Ica yang tadinya sudah berbunga-bunga dan bersiap akan berbuah langsung layu seketika. Saka memang sangat ahli menjungkir balikkan perasaannya. “Jadi mas nggak niat waktu ngajak aku nikah?!” tanya Ica sebal. “Kalau nggak nia
Seperti saran ibu ica tak langsung bertanya pada Saka. Suaminya baru saja pulang kerja, dia bahkan tak tahu apa yang dihadapi sang suami ditempat kerja, jadi akan lebih bijak jika menunggu beberapa saat dulu dan membuat sang suami nyaman hingga tak segan untuk cerita. Begitulah nasehat ibu untuk Ica, saat dia tak sabar menunggu semua itu, tapi tak mampu juga dia menyembunyikan kegelisahan hatinya, buktinya suaminya yang sangat amat tidak peka saja sampai tahu. “Ada apa? kamu baik-baik saja?” “Iya,” jawab Ica.Wanita itu duduk di kursi meja riasnya, menghadap sang suami yang duduk di atas ranjang sambil menyesal the yang baru saja dia buatkan. “Apa menyenangkan jalan-jalan tadi dengan Tata?” tanya Saka lagi, kali ini dia sudah meletakkan tehnya di atas nakas dan menatap penasaran pada istrinya. “Iya,” jawab Ica singkat, jawaban yang langsug menimbulkan kerutan di kening pria itu. Ica itu cerewet, suka cerita, maunya diperhatikan dan suka cemburu tak jelas, tapi kali ini wanit
Ica buru-buru pulang, tapi setelah sampai rumah dia sama sekali tidak mendapati siapapun di sana. Dia lupa kalau bapak dan ibu pergi kondangan dan akan pulang nanti sore sedangkan suaminya, sudah berpamitan akan pergi ke perusahaan milik kakaknya dan mungkin saja akan pulang terlambat. “Memangnya mereka tidak bilang kalau tidak akan ada di rumah?” tanya Tata sambil ngemil keripik pisang buatan ibu yang memang selalu disediakan di meja teras. Gadis itu hanya mengawasi saja Ica yang mondar-mandir sejak tadi. “Kamu nggak capek? Aku sih nggak peduli kalau saja tidak ada dedek di perutmu.” Ica menoleh pada temannya yang mengatakan itu semua dengan wajah polos sambil terus ngemil keripik. “Dia pasti juga pusing di dalam sana,” lanjut Tata cuek. Ica menampilkan wajah cemberut, tapi tak lama dia ikut duduk juga. “Anakku akan baik-baik saja.” “Ya lah terserah saja.” Ica makin kesal dong dengan jawaban Tata, apalagi gadis itu sama sekali tak menghentikan kegiatan makannya. “Kamu makan t
“Siapa bilang suamimu nggak romantis, itu tadi apa?” Akhirnya Ica memang keluar sama Tata, tapiiiii… dibuntuti dari belakang sama mobil Saka, dia merasa jadi tahanan saja. Kandungannya baik-baik saja, jadi tidak seharusnya Saka sekawatir itu, tapi saat dia ulang tahun malah suruh beli kado sendiri. “Itu bukan romatis tapi kepo.” Tata menatap sahabatnya sebentar lalu menggelengkan kepala pelan. “Kita duduk di sana saja, kamu mau beli es oyen?” Ica mengangguk. Lalu duduk tenang sambil memainkan ponselnya sambil menunggu Tata memesan untuk mereka. “Nih kita jajan di kasih uang, coba kalau suamimu Adam, boro-boro dikasih uang yang ada uangmu diambil buat kebutuhan dia.” “Yeee ya jangan bandingkan dengan si pengecut itu dong, jelas suamiku lebih baik.” “Alah sekarang saja bilang gitu, dulu coba. Dikadalin Adam juga masih bucin.” Tata itu kalau ngomong memang ceplas ceplos kadang Ica juga sakit hati, tapi tak lama juga sih. Soalnya dia nggak punya teman sebaik Tata. Andai dia pun
“Sudah jadi orang kaya beneran sekarang kamu!” “Mau nggak?!” “Nggak nolak dong… tapi ini beneran. Di sana mahal lho.” “Ckkk bawel banget sih, jemput dalam sepuluh menit.” Dengan gemas Ica menutup panggilan teleponnya. Dia baru saja ulang tahun lho, nggak ada gitu keinginan suaminya bersikap manis padanya. Dikiiit saja. Ica nggak menuntut banyak kok. Makan malam mereka kemarin ya berlangsung biasa saja, habis makan. Ica ke kamar diri membersihkan diri lalu tidur dah gitu saja. Dia capek makan hati. Mana sampai sekarang Saka sama sekali tak minat untuk memberinya kado. Iya sih ica sadar kalau uang bulanannya bahkan lebih besar dari pendapatan orang tuanya saat ini, dan itu hanya untuk jajan Ica, sedangkan untuk keperluan rumah Saka langsung memberikan uang cas padanya, tapi masak iya Ica beli kado untuk dirinya sendiri, dibungkus sendiri lalu dia buka lagi bungkusnya. “Mau kemana?” Ica menghela napas, dia lupa sejak tadi suaminya juga ada di kamar ini sedang sibuk dengan pons
Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga
“Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere
Benar kata orang zaman dahulu, calon pengantin memang pamali bepergian yang tidak perlu takutnya ketemu setan. Ica baru saja membuktikannya. Harusnya dia menuruti omongan ibu buat ke salon mempercantik diri, bukannya nongkrong di café. Padahal Ica sudah mau menyingkir lho meski sambil ngomel dan
Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada







