Share

Bab 6

Author: Ajeng padmi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-12 11:49:46

Tadi malam ibu meluk Ica sambil nangis. Lamaaa banget.

Ica mengira ibu kesurupan.

Siapa tahu kan, aura negatif yang tadi dibawa Adam menarik para mahluk halus ke kamarnya hiiiii

Mana Haji Jali, kyai dan sesepuh yang biasa ngobati orang kesurupan pasti sudah tidur jam segini dan orang-orang pasti segan membangunkannya.

Pelan bangettt… Ica melepaskan pelukan ibu, dia ngeriii juga kalau ibu tiba-tiba ketawa kayak mbak kunti setelah menangis sejak tadi.

Untung persediaan air minum Ica masih ada.

“Bismillahirrohmannirrohim….”

Bandel-bandel gini sholat lima waktu Ica nggak pernah bolong, dan yang lebih penting dia hapal surat al-fatihah berserta artinya.

Ica meniup air dalam gelasnya tiga kali setelah mengucap amin, lalu mencipratkan ke wajah ibu.

“Ca?!!! kamu apa-apaan sih, lihat ini spreimu jadi basah. Ibu sudah susah-susah bawa ke londri malah kamu kotori lagi. Besok kamu mau nikah. Memangnya mau pake sprei buluk.”

“Alhamdulillah!” ucap Ica penuh syukur.

Kan! Jin penganggu itu takut kalau ada orang baca ayat suci, Ica baru saja membuktikan sendiri.

Ini baru ibu, bukan jin atau sejenisnya.

Ica kenal betul omelan itu.

Sejak kecil omelan itu sudah menjadi trade mark ibu tak salah lagi.

“Kamu ini kenapa sih, Ca. kok tingkahmu aneh-aneh saja.”

Ibu mengomel sambil menyeka wajahnya yang basah, untung tadi hanya ditiup airnya coba kalau dia ngikutin tutorial haji Jali, air dibuat kumur dulu baru disemprotkan ke orang yang kesurupan bisa habis dia diomeli ibu.

“Ibu sejak tadi nangis terus aku kira kerasukan.”

Ibu melongo sejenak, lalu tanpa ampun menjewer telinga Ica.

“Kamu itu sudah mau nikah kok ya bandel begini, untung saja yang mau nikah sama kamu itu Saka bukan Adam lagi.”

Ica berhenti menggosok telinganya yang sakit dijewer ibu.

Gadis itu menatap penuh selidik ibunya. “Kok ibu kayaknya bersyukur banget aku nggak jadi nikah sama Adam?” tanyanya setengah heran setengah merajuk.

Ibu menghela napas panjang lalu mengelus rambut Ica lembut. “Jujur saja, Ca. sejak dulu ibu agak tidak ‘sreg’ dengan Adam, sejak kamu pacaran dengannya kamu jadi sering minta uang ini itu ke ibu, alasanmu memang untuk kuliah, tapi ibu tahu itu pasti untuk Adam.”

Boleh nggak sih sekarang dia nangis guling-guling saja.

Dia pacaran dengan Adam lebih dari lima tahun lho dan matanya begitu buta tak bisa melihat keengganan ibu.

Awal pacaran dengan Adam dulu baik bapak maupun ibu sudah bilang, prioritaskan sekolah dulu jangan pacaran. Tapi Ica yang saat itu sedang mabuk cinta mana mau mendengar saran orang tuanya.

Bapak dan ibu yang membatasi jam keluar malamnya, yang sebelumnya sampai jam sembilan, jadi jam delapan sudah harus pulang ke rumah, bapak juga jadi lebih protektif dan akan mengantar jemputnya sekolah, padahal Ica sudah bilang Adam mau mengantar jemputnya, tapi bapak tak peduli.

Ica sempat ngambek apalagi kalau ingat teman-temannya mengejek masih anak bawang, tapi bapak tetap kukuh. Saat Ica diam-diam kabur bersama Adam saat pulang sekolah, Ibu dengan tegas mengatakan tidak ada uang saku untuk Ica selama satu minggu.

Tentu saja itu kelemahan terbesar Ica, apalagi Adam sejak dulu tak pernah mau keluar uang sedikitpun. Entah memang tidak punya atau pelit.

Bahkan dia nekad berbohong pada bapak dan ibu kalau Adam anak yang pintar dan mau mengajarinya belajar, padahal kenyataannya nol besar.

Adam bisa lulus test PNS juga atas kerja keras Ica yang merangkum semua kisi-kisi dari berbagai sumber dan Adam… tinggal baca dan hapalkan.

Aishhh bodoh sekali memang dia mau-maunya tertipu mulut manis Adam.

“Kalau ibu tidak setuju aku menikah dengan Adam, kenapa ibu dan bapak tidak menolak lamaranya dulu?” tanya Ica penuh tuntutan.

“Karena kamu terlihat bahagia sama dia, Ca. sebagai orang tua kami ingin kamu bahagia.”

Ica kok jadi pingin nangis dengar ucapan ibu.

***

Hari ini Ica akan menikah.

Lagu-lagu romantis sudah terdengar nyaring meramaikan suasana.

Namun bagian paling menarik adalah bau berbagai masakan yang sudah tersaji di meja panjang di depannya.

Baunya bikin lapar.

Dan Ica pantang untuk mengabaikan ajakan perutnya itu.

Segera saja dia ambil piring, padahal dia tadi pamit pada MUA yang akan mendandaninya ke kamar mandi bentar.

Nunggu lima sampai sepuluh menit untuk makan bukan masalah pastinya, toh akad nikahnya masih tiga jam lagi. Masih lamaaa.

“Kok kamu masih makan sih, Ca.” Ica terpaksa menghentikan suapannya.

Bulek Parni, adik ibu yang diberi tanggung jawab mengawasi semua makanan yang dihidangkan menatap Ica bingung.

“Kan lapar bulek.”

“Tapi ini sudah siang, kamu harus dirias, tuh mbak periasnya sudah datang.”

“Ibu saja dulu deh, bulek. Ica laper banget ini.”

Ica tak menoleh dia fokus dengan makanannya, perutnya benar-benar lapar.

Biasanya memang dia tidak makan sepagi ini, tapi energinya sudah terkuras kemarin untuk galau, jadi dia perlu nasi dan teman-temannya untuk tambahan tenaga.

Apalagi sebentar lagi dia menikah, gawat kan kalau sampai dia pingsan nanti, bisa makin sibuk para biang gosip merangkai cerita.

“Yang mantennya itu kamu, harusnya kamu dulu yang dandan.”

“Tanggung bulek.”

Ica masih asyik makan saat tiba-tiba piringnya melayang dan siapa lagi pelakunya kalau bukan ibunya yang cantik.

“Ibu suapin saja biar cepet.”

Ica mau protes tapi plototan mata ibu membuatnya tak berkutik, lagian nggak lucu juga dia harus datang terlambat di acara pernikahannya sendiri.

“Lho, Ca. kok belum siap Saka sudah dalam perjalanan kemari,” kata bapak yang baru saja masuk ke ruang tengah.

“Lho akadnya masih tiga jam lagi, pak.”

“Akadnya memang masih tiga jam lagi tapi persiapannya ya harus lebih awal.”

“Sudah, Ca. ayo kamu dandan dulu nanti kalau lapar ibu suapin lagi di pelaminan atau minta suamimu yang suapin.”

Ibu!!! yang benar saja.

Begitu Ica masuk kamar, mbak-mbak MUA sudah heboh menyambutnya.

“Ini dia mantennya, sejak tadi ditungguin juga.”

“Lapar mbak makan dulu.”

Ica duduk di kursi riasnya dan para Mua mulai mengoleskan entah apa saja ke mukanya.

“Calon suamimu katanya petani, Ca?” tanya salah satu perias.

“Memangnya kenapa kalau petani?!” tanya Ica agak sebal juga, kok kesannya menyepelekan sekali profesi calon suaminya.

Mending punya suami petani tapi bertanggung jawab dari pada PNS pengecut yang pelit.

“Ya nggak apa-apa sih, Ca. berarti badannya terbentuk secara alami bukan hasil ngegym.”

“Eh maksudnya?”

Mbak MUA yang lebih tua mendekat pada Ica dan berbisik lirih. “MUA yang dandanin calonmu pada ngegosip di grup. Badannya bagus banget beruntung kamu Ca.”

“Eh kok tahu badannya bagus?”

“Ckkk kamu gimanasih kan mereka bantu calonmu ganti baju.”

“Apa!!!” bisa-bisanya mereka sudah unboxing calon suaminya duluan, Ica saja belum pernah lihat.

Eh…..

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 55

    “Maaf ya, mas Saka saya tidak bisa menjaga mbak Ica dengan baik.” Pengaruh obat yang tadi diberikan bu Mirah membuat matanya lengket. Samar-samar dia mendengar pintu kamarnya terbuka dan suara Saka yang panik terdengar. Dia merasa baik-baik saja, tapi bu Mirah setelah menghubungi Saka tadi memberinya sebuah obat anti alergi dari kotak obat. Gatalnya sih sudah lumayan berkurang tapi sekarang dia ngantuk sekali bersamaan dengan ingatan ulat bulu sebesar jempol tangan orang dewasa nemplok di lengan dan kakinya. Saiking sibuknya pikiran Ica dia sam sadar ada mahluk asing yang nemplok di tubuhnya. “Bukan salah ibu, siapapun bisa kena ulat di sana.” “Iya, tapi harusnya saya larang mbak Ica untuk ikut.”“Memangnya bu Mirah bisa larang Ica untuk ikut?” Ica masih bisa mendengar ucapan Saka, dia berusaha bertahan dari rasa kantuk yang sudah mengepungnya. Beberapa kali dia mencoba membuka matanya tapi tetap tak mampu. Tak terdengar jawaban bu Mirah, tapi mungkin saja wanita itu hanya me

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 54

    “Mbak ini payungnya.” “Buat apa, bu?” tanya Ica bingung. “Kita hanya petik sayur di kebun belakang kan?” Bukan kurang kerjaan ya Ica ngintilin bu Mirah ke mana-mana. Skripsinya masih harus dia benahi lagi, meski Saka banyak membantunya tapi tetap saja Ica nggak mau dong tinggal terima beres saja. Tapi dia ingin tahu lebih banyak tentang suaminya lewat bu Mirah tanpa wanita itu sadari. Bisa saja sih dia tanya langsung ke bu Mirah tapi dia segan saja, tidak mau membuka aib hubungan mereka yang tak seharmonis kelihatannya. Saka memang tidak memukul atau melakukan perbuatan tercela yang membuatnya malu, justru pria itu sangat bertanggung jawab dan terlihat sangat protektif padanya, tapi tetap saja Ica marasa cara bicara Saka yang irit itu sangat menyebalkan. Jangan bilang dia tidak bersyukur ya, dia sangat bersyukur kok mendapat suami kayak Saka, karena itu juga dia ingin tahu lebih banyak sial suaminya. Bukankah tak kenal makanya tak sayang. Ica nggak nyangka lho kalau sua

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 53

    Hari ini bu Mirah punya usul makan pagi yang kesiangan bersama di gazebo belakang rumah, supaya tidak bosan katanya. Ica tahu sih bu Mirah mungkin terlalu peka saja dengan wajahnya yang sejak tadi pagi tertekuk kesal. Mana suami nggak notice lagi. “Mbak Ica suka perkedelnya?” tanya bu Mirah saat Ica mengambil dua buah perkedel sekalian. “Iya, bu, perkedel buatan ibu enak,” jawab Ica sambil tersenyum lebar. Keputusan bu Mirah memang tepat, semilir angin dan juga bunyi gemerisik dedaunan membuat suasana hati Ica yang tadinya suram jadi lebih baik. Mereka berlima duduk melingkar di atas gazebo besar yang biasanya digunakan untuk nobar Saka bersama para pegawainya. Memang tidak terlalu besar sih hanya cukup sekitar sepuluh orang tapi bagi Ica sudah terasa mewah banget. Iya mereka memang duduk melingkar berlima. Bu Mirah dan pak Sarmin duduk berhadapan dengan Ica dan Saka, sedangkan Adri duduk di ujung. Cowok yang sebentar lagi akan lulus SMA itu lebih memilih agak menjauh dari ya

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 52

    “Sudah pulang,” sapa Saka yang ternyata sudah pulang dari pasar. Ica hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada tamu yang sedang duduk di teras bersama Saka. “Ini istrimu, Nak Saka?” “Benar pak, namanya Ica.” Dengan ramah Ica menyodorkan tangannya, tapi pria itu tak langsung menyambut uluran tangan Ica. “Ternyata istrimu masih sangat muda.” Akhirnya tangan Ica disambut juga, tapi meski salaman pandangannya seolah enggan menatap Ica. “Iya, Ica baru dua puluh satu tahun. Belum lulus kuliah.” “Hah!! Aku kira masih SMA.” Apa wajahnya semuda itu. “Kok kelihatannya masih labil.” Astaga ternyata pria ini sejenis dengan Saka yang suka membuat orang sebal ucapannya pantas saja mereka bisa berteman. Eh mereka teman kan? masa iya bertamu ke rumah musuh. “Saya permisi dulu buat minuman di belakang,” pamit Ica sopan, yang dijawab Saka dengan anggukan kepala tapi si tamu justru nyeletuk. “Nggak usah, paling juga yang buat bu Mirah, anak muda sepertimu mana bisa pekerjaan kayak gitu.” A

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 51

    “Oh ini toh yang katanya nyonya besar itu, tumben belanja di sini.” “Iya katanya nyonya besar yang apa-apa tinggal perintah, masa belanja sendiri di warung.” “Halah bukan, paling juga nggak percaya sama bu Mirah, takut uang belanjanya diembat.” Ica mengerutkan kening saat mendengar nama bu Mirah di sebut-sebut. Tadi saat ibu-ibu itu bergunjing dengan yang lain, Ica sama sekali tak peduli, dia hanya tersenyum ramah dan memilih jajanan yang dia inginkan, kebetulan sekali di sebelah warung sayuran ada penjual jajanan pasar. Bu Mirah tadi memang sudah bilang warung yang akan mereka datangi cukup lengkap kalau pagi. Mereka menggunjingkan dirinya? Nyonya besar? Astaga memang kapan dia bersikap seperti nyonya besar.Ica sih tidak heran lagi dengan sikap orang-orang seperti ini yang suka sekali menuduh sembarangan tanpa tahu fakta yang sebenarnya. “Mbak Ica-“ bu Mirah berbisik lirih dia merasa tak enak hati pada Ica khawatir kalau istri majikannya itu berpikir kalau dia yang mengataka

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 50

    Bolak-balik Ica melirik bu Mirah yang sedang membuat bumbu soto. Hari ini rencananya mereka akan membuat soto ayam, makanan favorit Saka yang lain, tentu saja itu kata bu Mirah, meski dia tidak tahu benar atau salah. Kalau Ica tanya apa makanan favorit Saka, pria itu selalu menjawab aku makan apa saja asal tidak haram dan kotor. Jawaban khas orang yang tidak mau ribet. Awas saja kalau nanti tiba-tiba bilang nggak suka makanan yang dia masak. “Mbak Ica butuh sesuatu?” Ica melongo sejenak tapi kemudian memaksakan sebuah senyum. “Enggak bu, memang kenapa?” “Oh saya kira mau ngomong sesuatu sama saya, mbak Ica sejak tadi lirik-lirik saya. Atau mbak Ica mau coba halusin bumbunya?” tanya bu Mirah sambil menyodorkan cobek dan ulekan di depannya. Ica meringis. Kenapa sih nggak ibunya nggak bu Mirah suka sekali pake ulekan untuk menghaluskan bumbu padahal sudah ada alat namanya blender atau copper yang bisa digunakan untuk menghaluskan bumbu, tanpa perlu capek-capek ngulek tinggal pen

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 4

    Gara-gara insiden isi nagasari tadi siang, Ica dihukum ibu tidak boleh keluar kamar. Padahal itu bukan salah Ica. Dia hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, kalau pikiran mereka kemana-mana, Ica kan nggak bisa mencegah. Ica sih sudah berusaha membela diri di depan ibu bahkan sudah mengadu pada

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 3

    Sepanjang jalan pulang, bapak hanya bungkam. Ica makin takut saja. Ica memang tidak mau dianggap anak durhaka, tapi dia bukan anak yang nurut-nurut banget apalagi kalau sudah penasaran tingkat dewa begini. Begitu selesai memarkirkan motornya bapak langsung buru-buru turun dan masuk ke dalam rumah

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 2

    Ica sih bukan cewek yang matre-matre amat ya. Dia hanya coba realistis. “Gini lho, Ca. Soal biaya pesta, bapak tidak masalah. Ini memang sudah keinginan bapak dan ibu mengadakan pesta meriah untukmu.” Namanya Saka, begitu kata bapak setelah pria itu permisi pulang untuk mengabarkan pada keluarga

  • OM PETANI, SUAMI PENGGANTIKU   Bab 1

    “Saya tidak perlu mengantar kalian bukan? Pintu keluarnya ada di sana.”Ica berusaha setegar mungkin mengucapkan kata-kata itu. Susah payah dia menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Cewek mana sih di dunia ini yang tidak sakit hati saat pernikahannya dibatalkan, apalagi hubungan mere

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status