LOGINSofia Stone spent six years trapped in a loveless marriage, only to be tossed aside the moment she couldn’t produce an heir. Betrayed, humiliated, and stripped of everything, she had nowhere to turn, until the ruthless Lycan King stepped in. Dane Blackwood is powerful, feared, and never takes no for an answer. He offers Sofia a deal. Marry him, bear his heir, and in return, he’ll give her the power to crush those who wronged her. But Sofia isn’t the weak woman they thought she was. She was done being a pawn. This time, she’s playing to win. They wanted her broken. Now, she’ll rise and make them all pay.
View More“Masak begini aja gak becus? Dasar gak punya otak!”
Byurr!
Semangkuk sup panas itu melayang ke arah Vanya, membuat kepala wanita itu basah dengan cairah mendidih. Perih terbakar rasanya, tapi Vanya tak bergeming. Rasa sakit seperti ini sudah terlalu sering ia rasakan untuk bisa membuatnya kaget.
“Rasa supnya asin banget, tahu nggak? Kamu sengaja ya biar aku cepet darah tinggi dan mati? Kamu mau celakain aku, ‘kan?!” teriak Vira, kakak tiri Vanya, dengan emosi menggebu.
Vanya segera membungkuk, meski bagian belakang tubuhnya masih terasa panas dan basah.
“Maaf,” bisiknya lirih. “Aku akan buat yang baru.”
“Tidak perlu! Aku sudah tidak nafsu lagi! Lebih baik kamu pergi saja! Muak aku melihat wajahmu!”
Diperintahkan demikian, Vanya lekas membersihkan lantai dan meraih mangkuk sebelum kemudian berjalan pergi meninggalkan area ruang makan menuju dapur.
Di saat Vanya melewati sejumlah pelayan, beberapa komentar bisa didengarnya.
“Lagi-lagi anak haram itu yang berulah.”
“Heran, kenapa Tuan masih bersedia mengurusnya ya?”
“Betul, kenapa tidak dibuang saja kalau hanya tahu jadi beban?”
Mendengar itu, Vanya hanya diam, tidak berniat membalas. Hinaan-hinaan itu sudah seperti makanan sehari-hari.
Lagi pula, mereka benar. Dirinya, Vanya Dirgantara, adalah putri haram keluarga besar Dirgantara yang lahir dari hubungan terlarang antara Lesmana Dirgantara dan seorang pelayan.
Awalnya, Vanya hidup di desa bersama sang ibu yang diusir dari kediaman setelah diketahui pernah berhubungan dengan Lesmana. Namun, ibu Vanya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun, yang berakhir membuat Vanya dibawa kembali oleh sang ayah ke mansion keluarga ini. Bukan untuk diurus, tapi untuk diperbudak dan diamankan dari mata publik agar tidak mencoreng reputasi keluarga Dirgantara.
Sebagai anak haram keluarga, kedudukan Vanya adalah yang paling rendah di kediaman, bahkan pelayan saja lebih dihormati dibandingkan dirinya. Dan itu semua berkat ibu tiri sekaligus istri sah sang ayah, Febiola, yang begitu membencinya.
Demikian, kejadian seperti tadi adalah hal biasa. Lagi pula, Vanya dianggap sebagai dalang kehancuran keharmonisan keluarga tersebut.
Dan sang ayah … Lesmana, hanya bisa diam karena rasa bersalah kepada istrinya.
Saat dirinya baru saja selesai mencuci piring, tiba-tiba seseorang memanggil, “Nona.”
Vanya menoleh, lalu tersenyum saat melihat siapa yang memanggilnya. “Elena.”
Elena adalah salah satu pelayan di kediaman yang sempat berteman baik dengan ibu Vanya saat dia masih bekerja. Walau masih menjaga jarak karena khawatir menyinggung Febiola dan ketiga putrinya, tapi Elena adalah satu-satunya yang bersikap ramah dan sopan kepada Vanya.
“Tuan Besar memanggilmu ke ruang keluarga.”
“Ayah?” Vanya bertanya lagi, tampak bingung.
Selama empat belas tahun tinggal di kediaman ini, tidak pernah sebelumnya sang ayah meminta kehadirannya seperti ini.
Apa yang terjadi?
Samar, perasaan gugup melingkupi Vanya. Mungkinkah karena masalah dengan Vira tadi?
Walau merasa tidak tenang, tapi Vanya akhirnya melangkah cepat menuju ruang keluarga.
Begitu masuk, Vanya melihat semua anggota keluarga sudah berkumpul. Febiola, sang ibu tiri, duduk dengan anggun di sofa utama. Sementara itu, di seberangnya terduduk tiga wanita cantik yang samar memiliki sedikit gambaran wajahnya. Itu adalah Vira, Lira, dan Dira, tiga kakak tiri Vanya.
Dan di kursi tunggal yang selalu menjadi simbol kekuasaan, duduklah Lesmana Dirgantara, sosok berjas mewah dengan ekspresi dingin yang mengintimidasi, ayah Vanya.
Melihat Vanya datang, Vira langsung mendengus keras. “Kenapa anak haram itu ada di sini?” sindirnya dengan nada tajam.
Lira, putri sulung Lesmana yang bermuka dua persis sang ibu, berkata dengan nada memperingati, “Vira, jangan kasar. Ayah yang sudah mengundangnya.”
Dira, putri kedua Lesmana yang paling emosian dan tidak sabaran, memutar bola mata. Dia langsung menatap Vanya. “Apa kakimu mendadak cacat jadi tidak bisa bergerak? Mau sampai kapan berdiri seperti orang bodoh di situ? Cepat masuk!” titahnya, membuat Vanya langsung berjalan cepat ke pojokan, berdiri dalam diam selagi yang lain terduduk di sofa.
“Jadi, kenapa Ayah memanggil kami? Tolong agak cepat, aku masih ada janji setelah ini,” tanya Dira, ketus.
Lesmana menyesap tehnya perlahan sebelum membuka laci meja. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah undangan berwarna hitam dengan aksen emas di tepinya. Dari tampilannya saja sudah jelas, itu undangan yang sangat eksklusif.
"Ini undangan khusus dari The K Group.” Lesmana melanjutkan, “Mereka akan mengadakan pesta eksklusif yang wajib dihadiri putri-putri tiap keluarga kalangan atas.”
Lira menautkan alis. “Mendadak? Kenapa?”
Lesmana menatap putrinya lurus “Mereka ingin mencari calon istri untuk pimpinan mereka, Kevin Wicaksana.”
"APA?!" seruan kaget serempak datang dari Febiola, Vira, Dira, dan Lira. Wajah mereka berubah seketika. Antara terkejut dan takut.
Di sisi lain, Vanya hanya terdiam, tenang. Dia paham pikiran ibu dan ketiga saudara tirinya.
Kevin Wicaksana, pria itu adalah pemimpin perusahaan multinasional terbesar di Asia, The K Group. Seorang pria yang dibicarakan orang dengan beragam sebutan mengerikan: berdarah dingin, kejam, iblis berwajah manusia. Konon, ia bisa menghabisi nyawa seseorang semudah membunuh seekor semut, terlepas orang tersebut pria maupun wanita.
Demikian, mendatangi pesta tersebut sama saja dengan membahayakan diri sendiri kalau-kalau terpilih oleh Kevin sebagai calon istri!
Namun, Vanya tidak merasa takut. Lagi pula, acara penting seperti itu, tidak mungkin dirinya dibiarkan ikut, terutama karena Lesmana selalu menyembunyikan keberadaannya dari publik.
Di saat ini, Febiola langsung berkata dengan cepat, “Sayang, kamu tidak bermaksud untuk mengirim putri kita ke acara itu, kan?”
“Semua anakku perempuan.” Suara Lesmana tenang, tapi dingin. “Bagaimana mungkin keluarga Dirgantara tidak mengirim satu pun? Apa kita mau kehilangan muka, atau bahkan menyinggung Keluarga Wicaksana?”
Mendengar hal itu, pandangan Vanya jatuh ke lantai. Memang khas seorang Lesmana Dirgantara. Demi reputasi dan koneksi, pria itu akan mengorbankan apa pun, bahkan keselamatan putrinya sendiri.
Di saat seperti ini, Vanya bersyukur dirinya adalah putri yang tidak dianggap.
“Tapi—”
Belum sempat Febiola mengutarakan bantahannya, tiba-tiba Lesmana menatap ke satu arah.
“Jadi, Vanya.” Suaranya terdengar mantap. “Kau yang akan pergi mewakili Keluarga Dirgantara.”
Seketika mata Vanya melebar.
Ayahnya itu … bilang apa?
SOFIA'S POV I wasn't sure what to make of Jackson. He was extremely kind and warm to me and I was starting to feel really comfortable around him.I wasn't sure I was making the right decision, though. I had grown extremely fond of my sister, Amy Stone and was the major reason I was reciprocating Jackson's warmness.There was nothing else I knew about him prior when I met him, except that he was an enemy of Dane.A knock rang suddenly on the door. I turned, wondering who it was. “Who's there? Come in!” The door turned and in walked Jackson, smiling. I kept still, wondering what he had come for.“Are you busy?” “No, I'm not. Is there something you would like me to do?”“I was wondering if we could have go out later tonight, with Amy. We can eat out instead of having dinner here in the house.”The idea wasn't entirely bad and it seemed pleasing to my ears. “Fine! I'll get ready,” I muttered, grinning.“Alright then. I'm heading out now, so I'll have one of the drivers bring you to whe
SOFIA'S POV Once I was back in my room, I sat quietly on the edge of the bed, staring at nothing in particular. But no matter how hard I tried, I couldn’t get rid of the memory of the kiss from Jackson.It wasn’t even on the lips—just a soft brush on my forehead. But the feeling of it lingered like a scent I couldn’t shake off.I kept replaying it again and again in my head. The way he leaned in, the warmth of his breath, the way his eyes softened before he did it… Why was it stuck in my mind like this?I groaned, burying my face in my hands. “Ugh, get out of my head already!” I muttered to myself.The more I tried to forget it, the more intense it became. Like it had unlocked something I didn’t want to face. Something I wasn’t ready to accept.It was frustrating. I paced the room for a while, hoping to distract myself. But his voice, his words, his gaze—everything was still so fresh.Eventually, I just slumped back on the bed and stared up at the ceiling. Maybe… maybe I should sto
SOFIA'S POV The next morning, Amy and I decided to take a walk around the pack. The air was crisp and fresh, and the morning sun peeked gently through the trees. Birds chirped above us, and for the first time in days, the world felt somewhat normal—at least on the outside.Amy skipped beside me, holding my hand tightly. She was so full of life, pointing at everything she saw—flowers, butterflies, and even a tiny lizard crawling up a tree trunk.“Sofia! Look! That flower is purple, just like my favorite dress!” she giggled.I smiled faintly, brushing her hair behind her ear. “Yes, it’s beautiful, just like you.”She beamed at me, and for a brief moment, I allowed myself to enjoy the quiet.But then, footsteps crunched on the gravel behind us.“Can I join you?” a voice asked gently.I turned around to see Jackson standing there, his arms crossed casually, a soft look in his eyes. He wasn’t smirking or forcing anything—just looking at me calmly.I hesitated, my thoughts swirling. Par
SOFIA'S POV I felt like I was going crazy.A whole week. A full, dragging, miserable week—and still no sign of Sofia. Nothing. Not even a single whisper in the wind about her whereabouts.Every second without her felt like a blade dragging slowly across my skin.I couldn't sleep. I couldn't eat. I couldn't breathe right. Every time I closed my eyes, I saw her face—her soft, warm smile, the fire in her eyes when she was angry, the way her voice used to calm the chaos in my mind.I wondered what they had done to her. Where was she? Was she locked up somewhere? Was she hurt?My chest tightened painfully, and I ran a hand down my face. “Could she even still be alive?” I thought aloud, my voice barely a whisper.But no. I couldn’t let my mind wander there.I immediately shook my head, pushing the dark thought out. No. Sofia’s strong. She has to be alive. She has to be.“Alpha,” Mark said gently from across the room, his voice almost hesitant. “We’ve searched every known rogue territory. N
SOFIA'S POV Pondering more on it, it began to make more sense to me.How Dane had suddenly approached me, out of nowhere, and then—without even properly courting me—offered to marry me right away.Back then, I had found it strange. His interest had been… intense. Too intense. But I was vulnerable
SOFIA'S POV I was flabbergasted. My lips parted slightly, but no words came out. My heart thudded loudly in my chest, louder than before, as if trying to knock some sense into me. How in the world did Alpha Jackson know all this? How did he find out about the scroll—something I hadn’t spoken to
SOFIA'S POV I remained still, my back straight and my eyes locked firmly on Jackson’s. I didn’t blink. I didn’t move. I didn’t even breathe too hard.The cold, steel barrel of the gun was pointed right at my chest. But somehow… I didn’t feel afraid. Not anymore.Maybe it was because I had already
SOFIA'S POV As I sat behind the wheels with my eyes fixed on the road ahead, I couldn't get rid of the nagging thought within me.I had to do it anyways, no matter the turnout. Someone had to teach Mike a lesson, and leaving that to Dane to handle would result in more hostility.My heart thumped a












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.