Share

11,

Author: Fatimahnur
last update publish date: 2026-09-09 21:10:44

"Siapa dia?!" tanya Alex dengan suara yang cukup meninggi. Tatapannya tajam, seolah menembus indra penglihatan Ana. Ana diam, dan itulah yang kerap kali ia lakukan.

"Rekan kerjaku, kebetulan dia tidak datang dengan pasangan, dan aku menemaninya. Sepertinya kita harus masuk sekarang." tekan Ana tanpa banyak basa-basi dan tanpa menunggu jawaban, langkah kakinya akhirnya menuju karpet merah dan diikuti oleh seluruh keluarganya. Akan tetapi, Alex menatap punggung ana dengan sangat tajam.

Pintu te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   33, Alexander Lemos

    Alex mendengus kesal saat melihat Jack ada di sana. "Kenapa kau tidak pergi?!" gumamnya dengan kesal. "Anda mengusir saya? Tapi mohon maaf saya tak bisa pergi. Karena wanita anda juga menunggui anda, maka saya akan menunggui wanita saya," ujar Jack. "Hey! Apa maksudmu wanitaku!" ujar Alex dengan emosi. "Dia, kan wanitamu." Jack menatap ke arah Tiffany yang ada di salah satu kursi di dekat ranjang Alex. Tiffany tampak tersipu malu, sedangkan Alex mengepalkan tangannya dan tulang rahangnya tampak mengeras! "Tutup mulutmu, Bangsat! Apa maksudmu dia wanitaku?! Dia samasekali bukan wanitaku!" teriak Alex. Ana menghela nafas saat mendengar ucapan Alex. "Jack, sudahlah..., jangan mulai bertengkar lagi. Aku lelah mendengarnya, begini saja..., sebaiknya kamu kembali dulu, nanti aku akan hubungi kamu kalau aku membutuhkanmu. Lagipula sudah ada Yana," ujar Ana dengan santai. Yana yang mulai mendengar namanya disebut akhirnya menunduk sedikit. Jack tampak ragu saat hendak men

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   32, Jack memaksa.

    Alex terkejut saat melihat siapa yang menawarkan diri untuk menjaga Ana di sana, dan orang itu hanya menatapnya dengan tatapan datar saja. "Kau yang akan menjaga Aira?! Jangan bercanda!" tekan Alex. Suara Alex meninggi, meskipun tubuhnya sendiri sedang terbaring lemah di ranjang perawatan sebelah ranjang Ana. Selang infus masih terpasang di tangannya, tubuhnya masih terasa sakit semua akibat bekas pukulan yang Ana tinggalkan. Jack hanya menghela napas. Ia tidak terpancing sama sekali. Tatapannya tetap datar, tenang. Ia sudah masuk dan tetap terlihat tenang sembari menghela nafas sejenak. "Aku tidak sedang bercanda, Tuan Alex. Anda sendiri sedang dirawat. Anda butuh istirahat," jawab Jack pelan. Rere yang duduk di antara kedua ranjang itu langsung menahan tangan Alex yang mencoba bangkit. "Alex, Nak, jangan bangun dulu. Kamu masih lemas," ucap Rere dengan suara lirih. Matanya tampak sayu dan mengantuk karena semalaman tidak tidur. Ana yang terbaring di ranjang sebelah

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   31,

    Ana tersenyum kecil, bulir airmata ikut mengalir. Ada rasa sesak saat ia mengingat keluarganya, dan ada rasa bahagia saat kedua orangtua angkatnya yangbkini ternyata menerimanya. Pada saat yang sama – Jack masuk ke dalam dan sedikit menunduk pada Ana. Ana tersenyum tanpa menyadari Aldo, Aldi dan Tiffany menyadari ada anggukan dan salam dari Jack. Waktu berlalu, Ana terus mengobrol ringan dengan Rere dan Edward. Suasana di dalam kamar rawat itu kembali hening setelah Edward duduk. Ana menatap ayah angkatnya itu lama. Tatapan dinginnya perlahan luntur, berganti dengan tatapan lelah yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. "Mah, Ayah," suara Ana pelan, hampir berbisik. "Aku harus cerita." Rere segera menggenggam tangan Ana. "Cerita apa, Nak?" Ana menarik napas dalam-dalam. Napasnya masih sedikit berat karena selang oksigen yang menempel di hidungnya. "Cerita tragedi yang terjadi sebelumnya, dan mungkin kalian semua ingin mendengarnya. Aku ke parkiran bawah tanah setelah urusa

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   30, Didesak.

    "Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?" sebuah pertanyaan lahir begitu saja tanpa sebab yang jelas. Ana menatap orang yang ada di samping ranjangnya dengan tatapan dingin dan datar. "Ada hubungan apa kau dengan dia?!" tekannya lagi dengan suara bergetar menahan amarah. "Alex! Kamu ini kenapa?! Kamu juga sedang sakit kenapa malah tiba-tiba saja turun dari ranjang dan menuju ke sini lalu bicara aneh?!" tegur sang ibu. Rere, Ana bahkan semua orang yang ada di sana sampai menahan nafas setelah melihat Alex ada di samping ranjang Ana tanpa banyak berkata-kata dan langsung meluncurkan pertanyaan yang sedikit mengganjal di benak mereka. Ana tersenyum kecil, "Kenapa? Kamu cemburu? Ah, mas begitu sih?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti menggoda saja. Wajah Alex seketika berubah merah padam, ia kembali ke ranjang dan kembali menidurkan tubuhnya. Suasana kembali hening, dan diluar kamar Edward menatap lelaki yang ia kenal sebagai rekan kerja putrinya dengan tatapan penuh

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   29,

    Suasana ruangan seketika terasa mencekam dan terasa aneh juga. Dingin. Itu ekspresi wajah Alex setelah melihat siapa yang datang. Pintu ruang rawat terbuka tanpa ketukan. Seorang lelaki masuk tanpa permisi. Wajahnya tampan, namun senyumnya miring, penuh arti. Lelaki itu bahkan tidak menatap Edward atau Alex. Matanya langsung tertuju pada ranjang tempat Ana terbaring. Alex mengepalkan tangan di atas selimutnya. Rahangnya mengeras. Lelaki yang masuk tanpa permisi itu malah tampak tersenyum miring pada Alex. Melihat sikap itu, Edward sampai ikut kesal. "Kamu lagi," desis Edward pelan. "Sopan santunmu di mana, Jack? Ini ruang rawat, bukan kafe." Jack tidak menjawab. Ia hanya melirik Edward sekilas, lalu kembali fokus. "Jack?" gumam Ana seketika. Suaranya pelan, hampir tidak terdengar. Samar-samar ia mendengar langkah Jack dan memanggilnya. Jack segera menghampiri Ana. Ia menggeser kursi kosong yang ada di samping ranjang pasien dan duduk. Gerakannya cepat, seolah takut kehilangan

  • Obsesi, Cinta Dan Dendam   28, Rebutan.

    "Berikan saja pada kami, kami akan mengurusnya!" ujar seseorang dengan tubuh tinggi besar. Edward tentu tak memberikan anak gadisnya pada sembarang orang. "Aku tak akan memberikan anakku pada siapapun! Minggir! Jangan halangi langkahku!" tekan Edward dengan rahang yang mengeras. Suara beberapa orang terdengar, dan salah satu orang membuat Edward terpaku. "Kamu, Jack?! Sedang apa kamu ke sini?!" Jack, memang ia langsung datang saat mendapatkan kabar kalau Ana muntah darah dari salah satu anak buahnya yang menjadi mata-mata. "Saya dihubungi Nona Aira, dan mendengar beberapa ceritanya. Kebetulan saya ingin merekomendasikan dokter terbaik, karena putri anda mengalami luka yang cukup serius, maka saya persilahkan untuk menggunakan jasanya." ujar Jack. "Ruangan penuh, Pak. Kalau bapak berkenan mari kita bawa putri anda ke ruangan putra anda saja. Saya akan memanggil beberapa staf rumah sakit untuk membawakan ranjang pasien." ujar suster yang menghampiri mereka. Tanpa banyak b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status