Home / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 1 Menikahlah Denganku

Share

Obsesi Dingin Sang Komandan
Obsesi Dingin Sang Komandan
Author: Edelweis Jingga

Bab 1 Menikahlah Denganku

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-07 15:02:35

.

.

.

“Besok kita pengajuan nikah,” kata Ryuga. Suara beratnya mengudara penuh otoritas di telinga Dara.

Ini hari kedua Ryuga mendatangi Dara. Sejak kedatangan pertamanya hari itu, bahkan sudah mengacaukan perasaan Dara hingga tak bisa tidur nyenyak.

Jari-jari Dara saling bertautan erat di dalam saku apron. “Maaf, Pak Komandan. Saya tidak bisa, anda bisa mencari perempuan lain yang lebih pantas,” cicitnya.

Tak pernah Dara mau mengangkat wajahnya, untuk menatap pria yang tiba-tiba mengajaknya menikah beberapa hari lalu itu.

Seorang duda beranak satu yang merupakan Komandan Detasemen dalam satuan militer.

Ryuga tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Dara bisa melihat guratan tipis bekas luka di rahang Ryuga.

“Apa saya terlihat seperti sedang memberimu tawaran?” Ryuga merendahkan tubuhnya. “Saya sudah memberitahu orang tuamu, dan mereka tidak keberatan, Dara.”

Dara terhenyak. “A-anda sudah bertemu orang tua saya?” suara Dara bergetar, bukan karena takut tapi karena ada amarah yang sedang coba ia tahan dalam dirinya.

Satu buah map tebal berisi beberapa dokumen pengajuan nikah, Ryuga hempaskan di atas meja. Setelahnya ia berbalik badan, meninggalkan Dara yang masih terpaku di tempatnya.

Begitu pintu kaca florist tertutup, baru lah Dara mengembuskan napas panjangnya. Buru-buru ia melepas apron dan meletakkannya asal. Bunga-bunga segar yang belum lama ia keluarkan di teras pun terpaksa harus dibereskan lagi ke dalam.

“Dasar Om-om mesum! Ngajak nikah, kok maksa!” Dara terus mengomel selagi meraih sling bag-nya. Tak lupa ia  mengenakan sweater tebalnya yang tersampir di kursi, cuaca di sana mudah sekali hujan dan Dara alergi dingin.

Sebelum menguncinya dari luar, Dara lebih dulu membalikan papan di depan pintu menjadi tutup. Ia sudah menghubungi taksi online yang akan mengantar menuju rumah orang tuanya, yang berada cukup jauh dari toko bunga.

Sepanjang jalan, Dara hanya bisa meremas ujung sweaternya erat-erat. Bergerak gelisah di tempatnya sambil merapalkan doa. Semoga apa yang dialaminya saat ini hanya sebuah mimpi buruk saja.

Bertahun-tahun Dara menjauh dari semua hal yang berbau tentara. Semuanya terjadi sejak tunangannya yang seorang tentara gugur dalam tugasnya.

Dara menarik napas berat, setelah hampir dua puluh menit taksi yang ia tumpangi berhenti di sebuah pekarangan rumah milik orang tuanya. Seperti biasa rumah itu tampak hangat dan ramai oleh keponakan-keponakannya.

“Dara?” sapa Ibu Wulandari.

Seakan tahu apa yang akan Dara adukan, Ibu Wulandari segera memeluknya. Mengusap punggungnya beberapa kali. “Kamu sehat, Nak?”

“Bu, ayah mana?”

“Di halaman samping. Ayok, ibu antar.”

Dara mengangguk pelan, firasat buruk mulai merayapi tengkuknya.

Di depan sebuah kolam ikan kecil Ayah Dara duduk tenang. Memberi makan ikan-ikan itu sambil sesekali mengajaknya berbicara. Mendengar suara langkah kaki, ia menoleh.

“Yah,” panggil Dara dengan nada protes.

“Duduk dulu sini,” perintah Ayah Arya.

Dara melangkah ragu. “Apa benar, ayah sudah menyetujui permintaan Komandan Ryuga?” tanya Dara, mencoba menahan getaran suara yang bercampur dengan rasa benci dalam dadanya.

Tidak mendapat jawaban dari Ayahnya, Dara menyimpulkan bahwa apa yang Ryuga katakan benar adanya.

“Bu, tolong bilang ayah. Aku nggak mau nikah sama Komandan Ryuga. Ibu tahu itu, kan?” rengek Dara.

“Cukup!” hardik Ayah. “Mau sampai kapan kamu hidup dalam ketakutan begini, Dara?!”

Ibu wulandari mendekat, menggenggam tangan Dara yang dingin. Lalu, menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. “Ayahmu benar, Dara.”

“Kenapa, Bu? Dara masih muda, nanti juga Dara akan menikah. Tapi, nggak sama tentara juga.” Suara Dara meninggi diiringi isak tangis yang terdengar putus asa.

Ayah Arya berdiri dari duduknya. Mendekati Dara tanpa bisa menatap matanya, kalau boleh dia pun tidak sanggup menyampaikan alasan di balik keputusan ini.

“Dara, Komandan Ryuga sudah sangat baik pada kita. Kita harus membalas budi …”

“Tapi nggak harus sampai menikah juga, Yah,” potong Dara, cepat.

“Bahkan kalau ada hal yang lebih besar dari pernikahan, Ayah akan memberikannya, Dara.”

Dara menatap tidak percaya pada ayahnya. Namun, sang ayah hanya bisa tertunduk. Menyembunyikan setitik cairan pada kelopak matanya.

“Memangnya apa yang dia lakukan buat kita, Yah? Bu?” tanya Dara, sedikit menuntut.

Ia menatap wajah kedua orangtuanya bergantian, menanti jawaban yang seakan begitu berat keluar dari mulut keduanya.

“Dara.” Ayah Arya menggenggam tangan Dara, menepuk-nepuk punggungnya.

“Jantung yang berdetak di dalam dadamu saat ini, adalah … milik mendiang istri Komandan Ryuga yang meninggal setelah melahirkan. Hari itu bertepatan dengan kamu kecelakaan.”

Degh!

Dara terdiam membeku, seketika lupa caranya bernapas. Detik berikutnya ia refleks menyentuh dada sebelah kiri. Dara tahu tentang operasi transplantasi jantung itu, tapi baru sekali ini ia tahu siapa pendonornya.

Dan, hutang itu harus Dara bayar dengan menyerahkan seluruh sisa hidupnya pada lelaki yang paling ia benci.

“Kalau gitu kembalikan saja jantungnya. Dara nggak minta hidup dengan jantung dia!” seru Dara, gemetar.

Keringat dingin mengaliri pelipisnya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ang.Rose
konflik yang menarik
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 147 Skenario Dirga

    ...Bab 147“Saya hanya ingin memastikan dulu kandungannya. Tablet itu aneh, Dara—”“Iya, Dealova udah cerita semuanya.” Dara bangkit dari sofa. “Harusnya kamu bisa tanya aku aja. Kalau gini sama aja kamu curiga kalau aku sengaja mau nyakitin kamu.”“Nggak sama sekali. Saya cuma nggak mau kamu khawatir dulu. Saya bakal bilang semuanya kalau hasil tes lab udah keluar.”“Seharian aku udah khawatir, Mas. Kamu larang aku minum vitamin itu tanpa jelasin apapun. Lalu, aku liat sendiri kalian memeriksanya diam-diam.”Dara lantas memutar tubuhnya, menuju kamar dengan menghentakan kaki. Dalam situasi begini, Ryuga memilih diam, membiarkan istrinya tenang dulu.***Dara terus menekuri tab nya, meski Ryuga beberapa kali tampak meliriknya dari balik kemudi. Tak ada satu pun yang membuka percakapan. Begitu juga saat tiba di depan toko, Dara segera berpamitan, tak berniat menawari suaminya masuk lebih dulu seperti biasa..Ryuga terdiam lama memperhatikan istrinya sampai masuk ke dalam toko.Harum

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 146 Tak Semuanya Harus Dijelaskan

    ...Bab 146Selesai dengan urusannya di toilet, Dara menyelinap ke ruangan Dealova. Sebisa mungkin ia mengendap-endap agar tidak menimbulkan kecurigaan Yudha.Tanpa mengetuk lebih dulu, Dara mendorong pintu. “De.”Dokter cantik itu meringis di balik mejanya. “Kenapa, Beb? Mau konsultasi seputar apa? Ada yang tidak nyaman pada kehidupan ranjang, kah?”Dara mencebik. Menepis gurauan dari mulut beracun Dealova tanpa minat. “Jawab jujur, kenapa Yudha bawa botol vitamin tadi? Dia nyuruh kamu periksa?”Mata Dealova berkedip, polos. Dara tahu apa artinya. Puluhan tahun bersahabat dengannya dan sempat dibohongi habis-habisan, kini dia lebih mudah membaca gelagat sahabatnya itu.“Udah, deh! Nggak usah berniat bohongin aku.”“Iya, iya.” Dealova menghela napas, menyerah. “Jadi, ceritanya semalam itu Komandan mau minum vitamin itu tapi nggak sengaja kena tumpahan air terus leleh nggak kesisa, nggak ada b

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 145 Duo Mesum

    ...Bab 145“Halo, sayang.” Suara Dealova terdengar serak dari seberang. “Jam berapa ini? Bisa besok aja nggak, telponnya?”Dealova segera menjawab panggilan itu meski masih sambil memejamkan matanya. Tentu saja dia baru saja tertidur setelah pulang shift karena ini sudah jam dua belas lewat.Yudha meringis, merasa kasihan pada kekasihnya. Namun, rasa penasaran membuatnnya tak sanggup menunggu sampai esok pagi.“Maaf, sayang. Darurat nih.”“Nggak usah ng-prank.” Dara menguap kecil. “Kalau nggak penting aku tutup.”“Iya, iya. Ada yang aneh sama vitamin Komandan. Tadi tablet itu tiba-tiba aja larut nggak kesisa pas kena air. Bahkan nggak bau apa-apa.”Dengan sisa-sisa kesadarannya, Dealova mencoba menganalisa. “Itu vitamin dari mana? Coba fotoin botolnya.”“Ok, nanti aku foto. Itu dari kakak ipar katanya.”“Vitamin yang biasa aku kasih ke Dara harusnya nggak cepat larut dalam air, sih.”“Makanya aku bilang aneh. Ya udah, besok aku bawa ke rumah sakit buat kamu cek.”“Eh! Tanggung jawa

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 144 Racun Terselubung

    ...Bab 144Ryuga melirik waspada ke sekelilingnya, memastikan hanya ada Dirga dan dirinya saja di sana.Dalam sekejap, Dirga yang tengah dikuasai amarah akibat provokasi kakaknya menerjang maju dan menghantamkan pukulan secara membabi-buta.Ryuga, yang sudah mengantisipasi serangan itu, berhasil memiringkan kepalanya meski hantaman tersebut tetap mendarat telak di bahu, membuat tubuh tegapnya terdorong mundur membentur pohon.Tidak ada yang berniat menyudahi, tidak pula ada yang benar-benar kalah. Keduanya saling mendominasi serangan.“Lo cuma pecundang yang diatur negara!” cemooh Dirga. “Kapan pun bisa pergi ninggalin Dara. Sementara gue… Dara cuma butuh waktu doang buat kembali ke pelukan gue lagi.”Bugh!Dirga menangkis tendangan Ryuga yang mengarah pada ulu hatinya. Pria itu tertawa meledek meski pelipis dan sudut bibir sudah mengeluarkan darah segar.Untuk sesaat, tak

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 143 Dara Nakal

    ...Bab 143Sehari berlalu tanpa kabar dari Ryuga. Pria itu hanya menghubunginya sekali saat baru sampai di lokasi. Selebihnya pesan-pesan dara bahkan belum ada tanda-tanda sudah dibaca.Dara duduk di sofa sambil menyalakan televisi, walau sebenarnya ia tak berniat menonton. Dia baru saja selesai menidurkan Zio di kamarnya. Dan, butuh suara untuk menemaninya beres-beres.Sebagian rumah sudah rapi semua oleh Mbak Fitri, tetapi Dara belum bisa tidur daripada overthingking tidak jelas lebih baik waktunya digunakan untuk menata ulang ruang tengah dan kamarnya.Sambil berjalan menuju kamar, Dara melepas cardigan lalu mengikat rambutnya menjadi satu di atas. Sebelum merapikan ruang tengah, Dara mulai dulu dengan kamarnya.Ia menggeser meja rias, mendekatnya ke arah jendela agar cerminya bisa mendapat lebih banyak cahaya. Lalu beralih memindahkan sofa kecil ke ujung ruangan.Merasa pengap dengan bra, Dara melepaskannya. Di dalam kamar, ada juga satu cermin oval besar yang berdiri di sampin

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 142 Taktik Licik Dirga

    ...Bab 142“Dara…” panggil Dirga, lembut.Selembut tatapanya yang kini jatuh pada mata Dara. Tatapan yang selalu Dara suka dan rindukan dulu.“Aku tahu kesalahan yang buat nggak bakal bisa kamu lupain. Tapi, please biarin aku tebus semua kesalahan itu?”Diam-diam tangan Dara mengepal saat melihat kesungguhan di mata lelaki itu. Entah karena menahan sakit atau benar adanya, Dara melihat kilat keputus asaan tampak jelas di balik kalimat Dirga.“Nggak perlu. Kamu nggak usah muncul lagi di depan aku, itu aja udah cukup.”Perban dan kain kotor penuh darah tadi, sudah Dara masukan ke tempat sampah. Tak mau terlibat dengan obrolan lebih jauh lagi ia melenggang masuk ke dalam tokonya.“Dara…”Perempuan itu membalikkan badan.“Kamu keliatannya kurang tidur.” Dirga mengeluarkan botol kecil dari dalam tas tangan kecil miliknya. “Aku punya vitamin, ini herbal. Bisa bantu tubuh kamu relaks maksimal jadi tidur

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status