LOGIN...Bab 147“Saya hanya ingin memastikan dulu kandungannya. Tablet itu aneh, Dara—”“Iya, Dealova udah cerita semuanya.” Dara bangkit dari sofa. “Harusnya kamu bisa tanya aku aja. Kalau gini sama aja kamu curiga kalau aku sengaja mau nyakitin kamu.”“Nggak sama sekali. Saya cuma nggak mau kamu khawatir dulu. Saya bakal bilang semuanya kalau hasil tes lab udah keluar.”“Seharian aku udah khawatir, Mas. Kamu larang aku minum vitamin itu tanpa jelasin apapun. Lalu, aku liat sendiri kalian memeriksanya diam-diam.”Dara lantas memutar tubuhnya, menuju kamar dengan menghentakan kaki. Dalam situasi begini, Ryuga memilih diam, membiarkan istrinya tenang dulu.***Dara terus menekuri tab nya, meski Ryuga beberapa kali tampak meliriknya dari balik kemudi. Tak ada satu pun yang membuka percakapan. Begitu juga saat tiba di depan toko, Dara segera berpamitan, tak berniat menawari suaminya masuk lebih dulu seperti biasa..Ryuga terdiam lama memperhatikan istrinya sampai masuk ke dalam toko.Harum
...Bab 146Selesai dengan urusannya di toilet, Dara menyelinap ke ruangan Dealova. Sebisa mungkin ia mengendap-endap agar tidak menimbulkan kecurigaan Yudha.Tanpa mengetuk lebih dulu, Dara mendorong pintu. “De.”Dokter cantik itu meringis di balik mejanya. “Kenapa, Beb? Mau konsultasi seputar apa? Ada yang tidak nyaman pada kehidupan ranjang, kah?”Dara mencebik. Menepis gurauan dari mulut beracun Dealova tanpa minat. “Jawab jujur, kenapa Yudha bawa botol vitamin tadi? Dia nyuruh kamu periksa?”Mata Dealova berkedip, polos. Dara tahu apa artinya. Puluhan tahun bersahabat dengannya dan sempat dibohongi habis-habisan, kini dia lebih mudah membaca gelagat sahabatnya itu.“Udah, deh! Nggak usah berniat bohongin aku.”“Iya, iya.” Dealova menghela napas, menyerah. “Jadi, ceritanya semalam itu Komandan mau minum vitamin itu tapi nggak sengaja kena tumpahan air terus leleh nggak kesisa, nggak ada b
...Bab 145“Halo, sayang.” Suara Dealova terdengar serak dari seberang. “Jam berapa ini? Bisa besok aja nggak, telponnya?”Dealova segera menjawab panggilan itu meski masih sambil memejamkan matanya. Tentu saja dia baru saja tertidur setelah pulang shift karena ini sudah jam dua belas lewat.Yudha meringis, merasa kasihan pada kekasihnya. Namun, rasa penasaran membuatnnya tak sanggup menunggu sampai esok pagi.“Maaf, sayang. Darurat nih.”“Nggak usah ng-prank.” Dara menguap kecil. “Kalau nggak penting aku tutup.”“Iya, iya. Ada yang aneh sama vitamin Komandan. Tadi tablet itu tiba-tiba aja larut nggak kesisa pas kena air. Bahkan nggak bau apa-apa.”Dengan sisa-sisa kesadarannya, Dealova mencoba menganalisa. “Itu vitamin dari mana? Coba fotoin botolnya.”“Ok, nanti aku foto. Itu dari kakak ipar katanya.”“Vitamin yang biasa aku kasih ke Dara harusnya nggak cepat larut dalam air, sih.”“Makanya aku bilang aneh. Ya udah, besok aku bawa ke rumah sakit buat kamu cek.”“Eh! Tanggung jawa
...Bab 144Ryuga melirik waspada ke sekelilingnya, memastikan hanya ada Dirga dan dirinya saja di sana.Dalam sekejap, Dirga yang tengah dikuasai amarah akibat provokasi kakaknya menerjang maju dan menghantamkan pukulan secara membabi-buta.Ryuga, yang sudah mengantisipasi serangan itu, berhasil memiringkan kepalanya meski hantaman tersebut tetap mendarat telak di bahu, membuat tubuh tegapnya terdorong mundur membentur pohon.Tidak ada yang berniat menyudahi, tidak pula ada yang benar-benar kalah. Keduanya saling mendominasi serangan.“Lo cuma pecundang yang diatur negara!” cemooh Dirga. “Kapan pun bisa pergi ninggalin Dara. Sementara gue… Dara cuma butuh waktu doang buat kembali ke pelukan gue lagi.”Bugh!Dirga menangkis tendangan Ryuga yang mengarah pada ulu hatinya. Pria itu tertawa meledek meski pelipis dan sudut bibir sudah mengeluarkan darah segar.Untuk sesaat, tak
...Bab 143Sehari berlalu tanpa kabar dari Ryuga. Pria itu hanya menghubunginya sekali saat baru sampai di lokasi. Selebihnya pesan-pesan dara bahkan belum ada tanda-tanda sudah dibaca.Dara duduk di sofa sambil menyalakan televisi, walau sebenarnya ia tak berniat menonton. Dia baru saja selesai menidurkan Zio di kamarnya. Dan, butuh suara untuk menemaninya beres-beres.Sebagian rumah sudah rapi semua oleh Mbak Fitri, tetapi Dara belum bisa tidur daripada overthingking tidak jelas lebih baik waktunya digunakan untuk menata ulang ruang tengah dan kamarnya.Sambil berjalan menuju kamar, Dara melepas cardigan lalu mengikat rambutnya menjadi satu di atas. Sebelum merapikan ruang tengah, Dara mulai dulu dengan kamarnya.Ia menggeser meja rias, mendekatnya ke arah jendela agar cerminya bisa mendapat lebih banyak cahaya. Lalu beralih memindahkan sofa kecil ke ujung ruangan.Merasa pengap dengan bra, Dara melepaskannya. Di dalam kamar, ada juga satu cermin oval besar yang berdiri di sampin
...Bab 142“Dara…” panggil Dirga, lembut.Selembut tatapanya yang kini jatuh pada mata Dara. Tatapan yang selalu Dara suka dan rindukan dulu.“Aku tahu kesalahan yang buat nggak bakal bisa kamu lupain. Tapi, please biarin aku tebus semua kesalahan itu?”Diam-diam tangan Dara mengepal saat melihat kesungguhan di mata lelaki itu. Entah karena menahan sakit atau benar adanya, Dara melihat kilat keputus asaan tampak jelas di balik kalimat Dirga.“Nggak perlu. Kamu nggak usah muncul lagi di depan aku, itu aja udah cukup.”Perban dan kain kotor penuh darah tadi, sudah Dara masukan ke tempat sampah. Tak mau terlibat dengan obrolan lebih jauh lagi ia melenggang masuk ke dalam tokonya.“Dara…”Perempuan itu membalikkan badan.“Kamu keliatannya kurang tidur.” Dirga mengeluarkan botol kecil dari dalam tas tangan kecil miliknya. “Aku punya vitamin, ini herbal. Bisa bantu tubuh kamu relaks maksimal jadi tidur







