Masuk...Bab 140Sedikit versi Ryuga sungguh tepat, presisi tidak sekedar omongan saja. Dara bahkan belum sempat berhenti dari kagetnya ketika Ryuga mengakhiri cerita.Ryuga berharap Dara akan merasa cukup dengan cerita singkatnya. Ia berharap tidak akan lagi membahas soal mendiang istrinya kepada siapa pun.Sebab Ryuga tidak ingin segalanya menjadi kacau. Istrinya tidak perlu mengetahui sesuatu yang tidak harus dia tahu. Dara hanya perlu hidup untuk masa depannya. Tidak boleh terus terbelenggu oleh masa lalu kelam.“Ada lagi yang mau ditanyakan?”Tentu saja ada. Dara ingin mengulik banyak hal tentang Diandra dari Ryuga, tetapi tak bisa dipungkiri kalau hatinya perih mendengar jawabannya.Dan sekarang sudah tengah malam, mood Dara bisa berubah cepat kalau mengantuk dan lapar. Ia tak mau pembicaraan mereka berujung dengan perdebatan atau salah paham.Jadi, sebaiknya Dara mengakhiri saja. “Nggak. tidur aja, yuk! Aku pengin tidur sambil peluk kamu semalaman.”“Peluk saja?”“Hm. Jangan mace
...Maap teman-teman, Authornya kalau weekend suka telat update. Ada banyak urusan di dunia nyata soalnya.Bab 139Dengan tenang Yudha menanggapi. “Itu saja?”“Saja?!” kedua alis Dealova menukik tajam. “Udah seserius ini kamu masih bisa bilang saja? Ngeliat fakta keluarga aku aja udah nyakitin dia banget, gimana kalu tahu soal—”“Sayang…sayang, hei,” potong Yudha, pelan. Kepalanya menggeleng samar. “Selama ini apa kamu pikir Komandan Ryuga nggak tahu apa-apa soal Kakak ipar?”Dealova terdiam.“Bahkan kalau ada luka ketusuk jarum di ujung jari kakak ipar, pasti Komandan Ryuga nggak bakal diam aja. Dia udah memikirkan semuanya,” lanjut Ryuga.“Tapi, nggak bakal selamanya kita bisa nutupin itu dari Dara. kenapa kita nggak jujur aja daripada ketahuan kayak aku tadi,” kesal Dealova.Yudha mencubit gemas kedua pipi tembam kekasihnya. “Nggak sesederhana itu sayang. Nantinya akan kembali membuka skandal besar keluarga.”“Lagian, Komandan Ryuga bukan kamu yang ceroboh gitu. Bisa-bisanya nar
...Bab 138Dara duduk menyugar rambutnya frustasi. Jujur saja… ia bukan marah pada Dealova atau pun benci padanya, hanya karena dia kebetulan adik dari Diandra.Tidak sama sekali. Kalau pun benar orang tua Diandra memaksa menjodohkkan Ryuga dengan Dealova, Dara sangat yakin Dealova tidak akan pernah menuruti kemauan gila tersebut.Dara justru marah pada dirinya sendiri karena tidak pernah tahu jika Dealova mengalami banyak hal sulit selama ini. Setahu Dara, keluarga Dealova memang membuangnya. Mereka hanya fokus dan peduli pada kakaknya saja.Dealova berjuang keras atas hidupnya hingga bisa sanggup berdiri di titik yang sekarang. Dia tidak kekurangan uang, hanya saja tidak ada yang benar-benar menginginkannya hidup di dunia ini tanpa syarat. Kecuali Dara.“Kita punya orang tua tapi berasa yatim piatu. Lalu, masih hidup sampai sekarang. Hebat banget, ya?” Dara terkekeh miris. Menatap langit-langit kamar dengan sudut mata yang basah.Dealova masih menangis sesenggukan di tempatnya.
...Bab 137Dengan wajah lelah serta dua kantung belanja yang penuh dengan berbagai camilan yang diboyong dari supermarket, Dealova menghempaskan tubuhnya di atas kasur.Dealova menelengkan kepalanya. Merasa ada yang janggal. Sejak tadi tidak ada tanda-tanda Dara heboh menyambut atau sekedar menyadari kepulangannya.Biasanya, Dara kalau sudah berinisiatif datang sendiri ke kosan pasti akan terus nyerocos tanpa henti. Mengadu banyak hal sampai mulutnya lelah dan berhenti sendiri.“Dara. Kesambet kamu?” goda Dealova.Dara hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman pendek. Lalu, ia bangkit dari duduknya setelah meletakan foto usang tadi di antara tumpukan kertas.“Dara?!”Pergelangan tangan Dara dicekal oleh sahabatnya.“Kamu kenapa?”“Aku? Kenapa emang?” Dara mengernyit seolah pertanyaan Dealova terdengar aneh baginya.Dealova berdecak. “Kita udah kenal berapa tahun? Hah? Aku nggak bodoh, Dar.”“Apaan, sih?!” Dara berusaha menarik pergelangan tangannya, tetapi Dealova belum mau melepas.
...Bab 136Dada Ryuga berdegup tidak karuan. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap ke arah lain. Dirga berbicara begitu santai seolah dia masih berhak membicarakan masalah pribadi Dara. Lebih dari itu, ada rasa sakit yang tak bisa disangkal, karena memang ucapan Dirga tak sepenuhnya salah.Sekuat tenaga, Ryuga menahan tangannya agar tidak mencengkeram kerah Dirga lagi. Ia datang untuk memperingatkan Dirga agar tidak lagi membayangii istrinya lagi. Bukan untuk mengaduk-aduk sesuatu yang begitu pribadi.“Jangan pernah bicara lagi seolah-olah kamu masih berhak tahu soal istriku.,” ujar Ryuga penuh penekanan. “Kamu cuma seorang bajingan yang udah ninggalin Dara setelah dia mempertaruhkan seluruh hidupnya sama kamu. Sekarang Dara bahkan tak pernah mau lagi mendengar semua hal tentang kamu. Jadi, berhenti berkeliaran di sekitar dia lagi.”Dua hari berlalu toko bunga terpaksa ditutup sementara. Ryuga mengurung Dara di rumah sampai kondisi kakinya benar-benar pulih. Sebagai kompensasi, R
...Bab 135Dirga terduduk di balkon kamarnya, memandangi bulan yang dikelilingi ribuan bintang. Malam itu langit tampak cerah tanpa awan, sebuah pemandangan yang sugguh memesona.Persis seperti malam-malam yang sering Dirga habiskan dengan Dara bertahun-tahun silam. Mereka bisa duduk berjam,-jam menghabiskan waktu bersama hanya untuk menikmati pemandangan langit malam.Walau hanya berbincang santai dan bercanda tawa, malam penuh bintang selalu menjadi kenangan manis yang melekat kuat dalam ingatan mereka.Sejak perselingkuhan terlarangnya dengan Diandra terbongkar dulu, hidup Dirga seolah berhenti di tempat.Ia masih mengingat dengan sangat jelas tatapan mata Ryuga saat itu. Tatapan seorang kakak tertua yang tidak hanya terluka dan marah, tetapi juga begitu kecewa hingga Dirga tak sanggup mendongak untuk membalasnya.Ia mengingat suara anggota keluarganya yang saling meninggi, nama baik keluarga mereka yang tercoreng, dan kalimat-kalimat yang terus menghukumnya bahkan setelah perte







