Home / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 2. Dosen Baru di Kelas.

Share

2. Dosen Baru di Kelas.

Author: Amaleo
last update Last Updated: 2025-10-13 10:32:03

Tangan Zelda membeku di atas buku catatan. Dia masih memandang wajah Noah, lekat-lekat, untuk memastikan kembali bahwa laki-laki bernama Noah Grimm itu sama dengan Noah Grimm yang sudah mengambil mahkotanya dua bulan lalu.

Namun, lamunan itu seketika pudar ketika teman akrabnya, Sarah, menyikutnya pelan. “Ya Tuhan … Apakah dia titisan Dewa Ares yang sering aku dengar di mitologi Yunani itu? Tampan sekali!”

Zelda mengerjap cepat dan tak mengindahkan ucapan Sarah yang sangat terlihat mengagumi pria di balik podium itu. Tatapan Noah menyapu kelas dan berhenti tepat di matanya. Itu cukup untuk menghancurkan seluruh tembok pertahanan yang Zelda susah payah bangun.

Ia tersenyum tipis. Senyum yang Zelda kenal. Senyum yang dulu datang bersamaan dengan aroma musk bercampur citrus, dan asap rokok di kamar hotel bintang tiga malam itu.

Zelda menunduk cepat, pura-pura menulis. Dalam kepalanya, hanya ada satu kalimat, “Dia ingat. Ya Tuhan, dia ingat!”

Kali ini, ada sedikit kilatan licik dan rasa memiliki di sudut matanya yang tajam itu.

“Mata kuliah ini …,” kata Noah, menekankan setiap kata, “menuntut disiplin, fokus, dan pemahaman yang mendalam tentang resiko dan konsekuensinya.”

“Dalam bisnis, dan dalam hidup, setiap keputusan memiliki harga yang harus dibayar. Terutama, keputusan yang diambil di saat kita berpikir kita bisa melarikan diri dari segalanya.”

Zelda membelalakkan mata, tapi tidak berani menoleh ke arah Noah.

“Keputusan dan harga yang dibayar, berpikir bisa melarikan diri, apa dia menyindirku?” Zelda bergumam dengan sendirinya, tapi tiba-tiba pandangan matanya menyapu celana levis abu yang berhenti tepat di depan mejanya. “Pro-Profesor Noah.”

Dari tatapan matanya, Noah memberi isyarat agar Zelda memperhatikannya selama perkuliahan berlangsung. Meski tidak berbincang satu sama lain, gadis itu paham bahwa Noah mengirim pesan tersirat melalui materi kuliah.

Pun ketika kelas berakhir, Zelda masih duduk di bangkunya.

Sepanjang materi tadi, keringat dingin terus mengucur dari dahi Zelda karena dia sangat ketakutan. Ingatan dua bulan lalu kembali terpampang jelas di benaknya, apalagi ketika dirinya dan Noah berada dalam satu ranjang yang sama.

“Eh, Zelda, kau nggak mau ikut tanya-tanya ke Prof. Noah?” Sarah menepuk pundak Zelda. “Di-dia tampan, bukan? Kenapa kau nggak tertarik? Ayo, cepat, sebelum kita keduluan yang lain.”

“Aku kurang enak badan,” singkat Zelda, kemudian dibalas anggukan lesu Sarah. Keduanya hanya melihat dari kejauhan saat mahasiswa lain langsung mengerubungi Noah.

Beberapa perempuan yang duduk di belakang Sarah dan Zelda, berbisik-bisik kagum. Semuanya memuji Noah, terlebih ketika ada salah satu mahasiswi teriak karena mengetahui informasi bahwa Noah masih lajang.

"Sumpah, Zelda, kamu kalau lihat Profesor Noah pasti ikutan terpikat. Dia tampan sekali, mirip model. Suaranya juga, uhh ... berat dan agak serak basah. Sejauh ini, dia adalah pria paling idaman yang pernah aku lihat!"

Zelda coba menanggapinya biasa saja dan berharap Noah tidak ingat dengan kejadian malam itu. Namun, kalimat teman dekatnya tiba-tiba membuatnya tersentak.

"Dia lajang, sumpah, dan itu infonya valid. Kamu lihat gadis tadi teriak, kan? Aku yakin, sekelas dia, pasti suka dengan perempuan pintar. Kalau aku pikir lagi, kamu kayaknya cocok dengan dia!”

Zelda tiba-tiba tersedak saat mendengar ocehan teman terdekatnya di luar dugaan. Sarah buru-buru menepuk punggung Zelda sambil cekikikan pelan.

“Sarah.” Zelda berdiri cepat. “Aku duluan, ya.”

“Dasar aneh! Ternyata masih ada gadis yang tak tertarik dengan pesona Prof. Noah.”

Zelda menoleh sambil terlihat berpikir. “Aku … ada urusan. Sebentar.”

“Oke! Sampai jumpa lagi!”

Zelda melangkah cepat keluar kelas, mencoba menenangkan napas. Istirahat ini dia habiskan untuk membeli americano terlebih dahulu, merenung, sekaligus khawatir karena Noah adalah laki-laki malam itu.

Memang, Noah adalah tipikal laki-laki idaman, bahkan semua mahasiswi di kelasnya, berebut meminta foto bareng Noah di pertemuan pertama.

Kabar Noah yang masih lajang pun dengan cepat menyebar ke kelas lain. Beberapa mahasiswi di kantin, banyak yang mengeluh, apalagi mereka yang tidak mendapat dosen seperti Noah di mata kuliah mereka.

Zelda yang mulai risih, dia memilih keluar dari lingkungan sekitarnya terlebih dahulu. Nama “Noah” membuat perutnya mual. Namun, saat tak sengaja melewati ruang Dosen, langkahnya berhenti ketika suara itu memanggil dari belakang.

“Zelda.” Suara rendah dan serak yang belakangan ini menghantui setiap mimpinya terdengar lagi.

Zelda membeku sejenak. Ia berbalik, jantungnya berdebar kencang. Noah sudah berdiri di ambang pintu.

"Tolong tunggu sebentar. Ada yang ingin aku diskusikan denganmu, terkait materi kuliah semester ini." Noah menghentikan kalimatnya, lalu menambahkan dengan senyum kecil yang sama sekali tidak ramah.

“Oh. Bagaimana, Prof?” Zelda menjawab ketus, sengaja untuk menyembunyikan rasa takutnya.

“Masuk dan duduk dulu, tidak usah terburu-buru.” Noah mempersilakan Zelda menempati kursi di ruangan pribadinya, sedangkan dia sendiri berdiri.

“Jadi, biasanya menggunakan metode apa ketika Profesor James masih mengajar?”

“Mmm, diskusi biasa.”

Noah mencoba memecah suasana dengan pura-pura tidak ingat kejadian malam itu. Dia sebenarnya tahu kalau Zelda masih mengingatnya. Hanya saja, Noah berusaha bersikap biasa saja seperti sekarang.

“Diskusi biasa itu seperti apa? Bisa jelaskan?” Noah terkekeh singkat, berusaha berlagak profesional. “Kau mengerti, bukan, aku hanya Dosen pemula disini?”

Noah bertingkah selayaknya dosen baru, meski Zelda sendiri paham—dari nada bicaranya—Noah memiliki tujuan lain agar mereka bisa berdua di satu ruangan yang sama

“Beliau biasanya pakai sistem diskusi kelompok di minggu kedua perkuliahan,” jelas Zelda. “Kadang pula, beliau memberi studi kasus agar mahasiswa bisa latihan analisis setiap ada materi khusus.”

Noah mengangguk pelan. “Ah, aku mengerti,” gumamnya. “Dari hasil tugas hari ini, kelihatannya kalian masih terbawa gaya belajar itu.”

Zelda menoleh, bingung. “Maksudnya gimana?”

Noah tersenyum kecil. “Ya, kalian baru bisa fokus kalau dosennya mengajar atau bicara terus. Begitu dosennya diam sebentar, kelas langsung ramai.”

Zelda terkekeh pelan. “Benar juga, ya.”

Zelda tersenyum kecil, kali ini lebih rileks. “Mungkin karena Profesor James jarang mengajar secara satu arah. Beliau selalu mengatakan, ‘kalau kamu tidak berdebat, kamu tidak belajar’.”

“Sounds like him,” gumam Noah sambil memutar pena di jarinya. Ia lalu membuka map berisi daftar hadir mahasiswa. “Baik, aku akan coba mengkombinasikan metode itu. Tolong bantu aku memantau absensi mereka di kelas, bisa?”

“Bisa,” jawab Zelda singkat. “Aku keluar dulu, Prof, setelah ini ada mata kuliah lain. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini.”

Belum sempat Zelda melangkah, suara Noah kembali membuatnya tersentak. “Zelda! Aku dengar dari dosen lain, kau jarang berada di ruang dosen. Kau juga sering bolos mata kuliah dengan alasan ada kesibukan. Apa kau bekerja sambil kuliah?”

“Iya,” jawabnya. “Aku bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi dekat apartemen. Shift sore, pulang jam 10 malam.”

Noah mengerutkan dahinya. “Sebentar. Kuliahmu pagi sampai siang, lalu sore harinya, kau bekerja sampai jam 10 malam? Itu belum terhitung tugas kuliahmu. Lalu, waktu istirahatmu kapan? Bukannya uang beasiswa cukup untuk memenuhi kebutuhanmu?”

“Aku sudah terbiasa, Profesor. Lagipula, itu tidak terlalu penting diceritakan.” Zelda menghela napas berat, kemudian menarik diri dari ruangan. “Sudah setengah satu, aku pergi dulu.”

Namun ketika Zelda sudah hampir sampai di pintu, suaranya kembali terdengar. “Zelda, masih ada 10 menit lagi, kan?”

Noah berdiri dari kursinya. Pria itu melangkah pelan menuju gadis yang hendak akan menyentuh kenop pintu.

Zelda tiba-tiba merasakan firasat aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri saat Noah mendekat. Ia tak sadar kedua kakinya melangkah mundur, sementara langkah Noah terus mengikutinya hingga jarak di antara mereka nyaris lenyap.

Punggung Zelda menabrak pintu. Ia bisa mendengar degup jantungnya sendiri, terlalu keras hingga mungkin Noah pun bisa mendengarnya.

“Kumohon, jangan lagi! Oh Tuhan, jangan sampai dia kembali melakukannya di sini!” Zelda hanya bisa berharap kalau Noah tidak segila itu melakukan hal tabu di dalam kampus.

Tapi, apa Noah peduli? Tentu tidak. Mungkin.

Sang dosen sudah terlalu obsesi dengan Zelda dan terus mendekat dengan senyum penuh kemenangan. Saat jarak keduanya sudah dua jengkal, Noah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Zelda meneguk ludah, membayangkan barang apa yang akan dikeluarkan Noah dari sakunya. Ketika barang itu sudah diangkat, tatapannya terbelalak. “Prof, a-apa ini?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-173. Happy Ending. (+21)

    Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.

    Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-171. Lamaran.

    Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.

    Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.

    Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)

    Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status