Home / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 1. Malam yang Memabukkan.

Share

Obsesi Dosen Tampan
Obsesi Dosen Tampan
Author: Amaleo

1. Malam yang Memabukkan.

Author: Amaleo
last update Last Updated: 2025-10-12 12:13:27

"Kamu cantik sekali, Zelda," bisik Noah, kali ini benar-benar mendekat, suaranya nyaris hilang ditelan musik. Jari-jarinya dengan lembut menyentuh helai rambut Zelda yang jatuh ke bahu.

Zelda tidak bisa bicara, hanya menelan ludah. Kepalanya berputar karena efek alkohol. Entah bagaimana ceritanya,

Zelda tiba-tiba pusing dan gairahnya meningkat. Seolah, dia sedang dijebak oleh seseorang.

Malam ini sebenarnya perayaan ulang tahun ke-19 Zelda, malam di mana dia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis beasiswa yang selalu sempurna, baik akademis ataupun sikap.

Ini adalah kali pertama dia mengunjungi bar, tanpa tahu apa efek samping alkohol dan bagaimana dia bersikap ketika mabuk nanti.

"Aku tahu tempat yang lebih tenang dari ini," Noah melanjutkan, tatapan matanya mengunci mata Zelda.

Tanpa kata-kata, Zelda berdiri memandang Noah.

Efek alkohol membuat kesadaran Zelda mulai pudar hingga pada akhirnya, dia berjalan mengikuti Noah meninggalkan bar.

Di dalam taksi, mereka tidak bicara lagi hingga mereka tiba di sebuah hotel bintang tiga yang tersembunyi di sudut jalan elit, tampak tidak mencolok, namun mewah.

Di dalam kamar, segalanya terjadi begitu cepat. Zelda yang sudah terengah-engah, tidak bisa menahan hasratnya lagi. Pengaruh alkohol yang begitu kuat membuatnya mengikuti semua perintah Noah. Terlebih, Noah adalah sosok ideal dan sangat tampan, baginya. Dia adalah laki-laki idaman semua wanita!

Noah melumat mulut Zelda ganas dan panas dalam ciuman yang memabukkan. Hingga dalam sekejap, pertahanan Zelda runtuh saat Noah mendorong Zelda ke ranjang, dan membuka setiap pakaian yang dikenakan gadis itu.

Di bawah remang-remang lampu yang menyala, Zelda menyerahkan dirinya pada kegelapan yang Noah tawarkan. Dan kini mereka tak memakai pakaian apapun, dan mulai mendalami hasrat mereka yang sedari tadi menahan gejolak.

“Sial. Tubuhmu… sungguh menawan,” gumam pria itu meneliti dan memuja tubuh telanjang Zelda. “Aku yakin, kau baru pertama kali melakukan ini.”

Kedua kuping Zelda terasa panas mendengar ucapan pria itu yang baginya terdengar memalukan. “Ce-cepat lakukan!”

Noah membelai tubuh Zelda yang ramping dan mulai memainkan organ intim di bawah perut gadis itu, sembari menangkup salah satu buah dadanya. “Dadamu … Ya Tuhan, ini membuatku bergairah.”

Dan Zelda mulai gemetar dan mendesah kecil di ranjang. “Ah … T-Tolong … lakukanlah,”

“Kamu mau aku lakukan apa, Sayangku?”

Zelda menggigit bibirnya, “Kamu … Kamu tahu apa yang aku mau!”

Noah mendengus dan menyeringai licik, “Baik, kalau itu maumu, Sayang. Aku tidak akan membiarkanmu pulang dengan sia-sia!”

Beberapa saat kemudian, tubuh mereka terhubung. Noah yang mengontrol dan mengunci Zelda dalam cengkraman pria itu di bawahnya. Noah enggan melepaskan cumbuan Zelda. Zelda pun mulai candu bukan kepayang.

“Ngh—!”

“Bagaimana, Nona manis? Apa aku berhasil memuaskanmu?” tanya Noah, menggoda dengan suara serak beratnya.

“Lagi … Aku mau lagi. Aku ingin—Ahh!” pekik Zelda yang sudah mulai mencapai klimaks.

“Kau … ingin aku lebih dalam, Sayang? Ya, akan kukabulkan permintaan nakalmu.” Noah mulai menghentak Zelda semakin keras dan dalam hingga membuat Zelda semakin mendesah liar.

Hentakan pertama.

Kedua.

Ketiga.

Sampai hentakan terakhir yang membuat Zelda berada di puncak. “La-lanjutkan, keluarkan di dalam, cepat! Ah, jangan dicabut, ini enak sekali!”

Noah sebenarnya masih punya akal sehat, tapi hembusan napas Zelda dan desahannya membuatnya tidak berpikir dua kali lagi. Dia mempercepat tempo dan membuat Zelda mengerang semakin keras, sampai menjambak rambutnya.

“Bersiaplah, sebentar lagi!” Noah semakin mempercepat gerakannya hingga dia berada di puncak.

Pelepasan itu disambut teriakan Zelda, menggema di ruangan, dicampur deru napas yang saling beradu satu sama lain. Kini, mereka berdua terbaring bersama, kemudian kembali berciuman hingga masing-masing tertidur.

Saat bangun, Zelda merasakan kepalanya sakit dan perutnya mual. Bahkan ia merasakan perih bagaikan duri yang menghujam di bawah perutnya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah tekstur sprei katun yang dingin dan lembut di kulitnya.

Hal kedua adalah rasa malu yang menusuk hingga ke tulang, sembari mencari noda merah di tempat ia terbangun.

Dan benar, ada noda merah yang masih segar di bawah tubuhnya yang telanjang. Zelda menghela napasnya panjang, perasaan gelisah menyeruak sekaligus penyesalan, karena ini pertama kalinya ia melakukannya dengan pria acak dari semalam itu.

Saat melihat ke samping, Noah masih tertidur pulas, napasnya teratur dan tenang. Wajahnya yang damai kini tampak tidak berbahaya, tetapi Zelda tahu, ia sudah bertindak terlalu ceroboh. Ia diam-diam bangkit, mencari pakaiannya yang berserakan.

Beasiswa. Keluarga. Nilai. Semua itu tiba-tiba menyeruak kembali. Apa yang sudah ia lakukan?

Setelah berpakaian secepat mungkin, ia melirik Noah untuk terakhir kalinya. Ia harus pergi, pergi sebelum pria itu bangun, pergi sebelum ia harus menghadapi konsekuensi dari kesalahannya.

***

Hampir dua bulan berlalu semenjak liburan semester Zelda. Dia masih ingat betul kejadian malam itu dengan Noah. Selama dua bulan terakhir juga, Zelda terus menyibukkan diri dengan bekerja di kedai kopi untuk kebutuhan hidupnya.

Pagi ini adalah hari pertama kuliahnya dan dia sangat semangat, apalagi setelah libur musim panas hampir dua bulan.

Di kelas Fakultas Ekonomi, Zelda duduk di barisan kedua sudut kanan, mencatat dengan rapi, mencoba tenggelam dalam rutinitas. Temannya, Sarah baru muncul di kelas sambil tertawa.

Tepat pukul sembilan, pintu kelas terbuka. Suara sepatu kulit beradu dengan lantai marmer, tegas dan ritmis.

Zelda mendongak.

Dunia seakan berhenti berputar, hingga gadis itu membeku dan napasnya berhenti sejenak.

Itu Noah Grimm.

Pria itu berdiri di depan kelas, setelan abu-abu tua menempel sempurna di tubuhnya. Kacamata tipis membingkai matanya yang gelap, juga suaranya terdengar dalam dan tenang.

“Selamat pagi. Saya Noah Grimm. Mulai hari ini, saya akan mengambil alih mata kuliah Manajemen Strategi Lanjutan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Amaleo
wkwkwk panik paniikk bang
goodnovel comment avatar
Rizki Tavip
🫣🫣🫣 jadi gimana gimana gitu ...
goodnovel comment avatar
Amaleo
kacau sih emang kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-173. Happy Ending. (+21)

    Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.

    Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-171. Lamaran.

    Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.

    Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.

    Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)

    Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status