Home / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 3. Hubungi Aku Malam Ini!

Share

3. Hubungi Aku Malam Ini!

Author: Amaleo
last update Last Updated: 2025-10-13 10:36:37

Zelda menatap lama selembar kartu nama yang baru saja diberikan Noah. Pandangannya kosong, seolah pikirannya masih tertinggal pada rasa takut yang baru saja ia alami.

“Aku yakin, setelah ini, kita pasti banyak menghabiskan waktu, apalagi kau jadi mahasiswaku di sini.”

Hah!?

Zelda hanya menggelengkan kepala. Jadi, dugaannya selama ini benar, Noah memiliki motif tertentu.

“Hubungi aku nanti malam. Aku ingin berkenalan lebih baik. Lagipula, kita akan sering bekerja bersama, bukan?”

Zelda terdiam beberapa detik. “Uh, aku rasa—”

“Jangan terlalu dipikirkan,” ucap Noah dengan nada sedikit memerintah, menyelipkan kartu nama itu ke telapak tangan Zelda sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. “Aku adalah laki-laki sejati. Aku pasti tanggung jawab terhadap perbuatanku dua bulan lalu, Zelda.”

Zelda tertohok.

Kata-kata itu menyambar hati kecilnya.

“Be-bertanggung jawab? A-apa maksudnya, Prof?” Zelda menggigil ketakutan ketika wajah Noah semakin dekat dengannya. “Prof, to-tolong jangan di sini!”

Zelda terus menundukkan kepalanya, coba menghindari wajah Noah yang semakin mendekat. Saat jemari mereka bersentuhan, gadis itu coba memberanikan diri dan mendorong Noah.

Momen ini langsung dimanfaatkan Zelda pergi, meninggalkan Noah seorang diri di dalam ruangan.

“A-aku tidak bermaksud, Prof, aku harus pergi sekarang!”

Noah menatapnya sebentar, lalu kembali duduk dengan ekspresi netral, seolah dorongan barusan adalah bukti bahwa Zelda benar-benar membuatnya terobsesi. Perlawanan Zelda terasa seperti angin sejuk bagi Noah.

Saat kembali ke meja, Noah membuka buku catatannya. Ternyata, selama ini dia tahu kalau Zelda kuliah di sini dan sudah mencatat jadwalnya secara keseluruhan. Itu berarti Noah menjadi dosen di sini bukan kebetulan, tapi karena dia memang terobsesi dengan Zelda, sejak pertemuan pertama mereka.

Disisi lain, Zelda akhirnya berhasil keluar dari ruang dosen Noah sembari menghembuskan napas dengan gusar.

“Pria itu …, apa dia sudah tidak waras?!” gumamnya kesal.

Beberapa detik kemudian, udara sekitar menebal. Dan entah mengapa, ia merasakan keberadaan sejumlah mahasiswa lainnya—di koridor kampus yang sama—menatap sinis pada Zelda sekaligus bisik-bisik yang sangat terlihat jelas seakan disengaja.

Tatapan mereka mengisyaratkan betapa irinya melihat dirinya yang seolah berhasil menaklukan pria incaran mereka dan sudah bergerak lebih cepat dari mereka.

“Ah, sial!” bisiknya tajam, lebih ke gumaman.

Zelda baru ingat, para mahasiswa hari ini sudah berusaha menggerubungi—bahkan mengejar Noah untuk setidaknya meminta foto bersama. Tapi Noah tidak mengindahkan permintaan para gadis se-fakultas.

“Perempuan itu … Namanya Zelda, bukan?”

“Wah, gila! Si penerima Beasiswa itu?! Hebat juga bisa menarik perhatian si dosen baru itu!”

“Dia ngapain di ruang Dosen tadi??”

“Benar juga. Apa rahasianya, ya?? Apa gadis itu berusaha menggoda Profesor Noah?”

“Kuakui dia memang manis. Tapi lihat dia—penampilannya terlalu lusuh dan kuno untuk bisa bersanding dengan Profesor Noah!”

Zelda samar-samar bisa mendengar bisikan demi bisikan para gadis yang telah menilai rendah dirinya. Zelda hanya tertawa ironi mendengar komentar pedas para gadis itu.

Ketika Zelda menatap mereka satu per satu, orang-orang sekitar membuang muka dan berpura-pura fokus pada urusan masing-masing.

Jemari Zelda mencengkeram erat tas yang sedari tadi ia bawa. Tanpa menoleh ke arah siapapun, ia melangkah cepat menuju kelas berikutnya, seolah ingin segera menjauh dari tatapan-tatapan yang menusuk di belakangnya.

Langkah Zelda berbelok masuk ke kelas dan langsung menghampiri meja di spot yang biasanya ia duduki. Zelda pun duduk bersama salah satu mahasiswa berkacamata yang dikenal pendiam di kelas.

Namun tak berhenti sampai disitu, Zelda kembali mendengar sayup-sayup suara para gadis di kelasnya berada. Masih seputar rumor dirinya yang mendekati Noah hingga gosip kedekatan dirinya dan pria itu.

Zelda merasa gelisah, hingga tak sadar tangannya mengepal untuk menahan gejolak yang ia sendiri tak mengerti. Yang jelas, rasanya begitu menyiksa daripada orang lain pikir.

“Ha-Hai, Zelda.”

Suara lembut disampingnya membuat Zelda tersadar, dan ia menoleh ke gadis yang duduk disampingnya. Zelda menyunggingkan senyuman kecil yang dipaksakan.

“Kau tak apa-apa?”

Zelda mengerjap. Paham maksud gadis itu di balik pertanyaannya, “Aku … akan baik-baik saja,”

“Jangan terlalu diambil hati, ya?” ucapnya khawatir.

Zelda tersenyum singkat sembari mengangguk. “Iya. Terimakasih.”

Zelda menoleh ke depan dan menghela napas panjang. Beberapa detik kemudian, Dosen muncul di kelas untuk memulai mata kuliah berikutnya.

Berjalannya waktu yang begitu panjang, kelas telah selesai. Dan ia cepat-cepat beranjak keluar dari kelas dan berjalan terburu-buru sebelum ia terlambat masuk shift kerja sore di kedai kopi.

Tak mempedulikan setiap reaksi orang sekitarnya, ia hanya fokus pada tujuan selanjutnya: Berusaha menghindar dari sorotan banyak orang mengenai hubungannya dan Noah sejak pertemuan di ruang dosen hari ini.

Setelah ia hampir berhasil mencapai gerbang kampus untuk keluar, sebuah mobil hitam Mercedes membunyikan klakson singkat hingga ia terperanjat kaget. Zelda menoleh dengan kesal saat sebuah mobil berhenti tepat di dekatnya, sambil membuka kaca pintu.

Noah menyembulkan kepalanya dari dalam dengan seringai khas nya. “Buru-buru sekali?”

Zelda mengerjap panik sembari menatap sekitarnya, dimana masih banyak para gadis yang berjalan di area kampus.

“Ke-Kenapa berhenti disini?!” tanyanya berbisik setengah panik.

Noah terkekeh pelan dengan suara beratnya. “Aku hanya ingin mengingatkan. Jangan lupa hubungi aku malam ini,” ucapnya enteng sembari mengedipkan matanya sebelah.

“Butuh tumpangan? Aku bisa mengantarmu, kalau mau,” tawarnya.

Zelda mengerjap dan tersenyum lebar dengan paksaan, “Tidak, terimakasih atas tawaran anda, Profesor. Sekarang tolong, biarkan aku sendiri.” ucapnya dengan nada sarkastik penuh tekanan.

Noah menaikkan alis sebelah nya, kurang lebih ia paham maksud Zelda hingga ia tertawa sinis.

“Oke, kalau itu maumu. Aku duluan,”

Kepala Noah kembali masuk ke dalam sambil menutup rapat kaca pintu mobilnya. Tanpa menoleh, Noah langsung menancap gas, meninggalkan area kampus dengan cepat.

Zelda berdiri terpaku sesaat sebelum akhirnya menghela napas panjang—lega sekaligus jengah. Namun, kelegaan itu tak bertahan lama ketika ia mulai menyadari bisikan-bisikan lirih dan tatapan sinis dari beberapa orang di sekitarnya yang jelas-jelas mengarah padanya.

Rahang gadis itu mengeras, dan mulai berasumsi —lebih ke dirinya sendiri.

“Apa pria itu sengaja melakukan ini padaku?” gumamnya tercekat.

Zelda mendengus dan melangkah cepat meninggalkan area kampus, berharap angin sore bisa menyapu bersih semua tekanan dan pandangan tajam yang menghantui nya sejak tadi.

Namun, semakin jauh ia berjalan, semakin terasa beban di dadanya tak juga hilang—seolah kejadian hari ini akan terus menempel di ingatannya.

***

Pukul 08:20 pagi, Zelda berjalan cepat menuju ruang kelasnya. Tiba-tiba, sebuah tangan kuat membekap mulutnya dari belakang.

“T-Tolong …!! To—”

Tiba-tiba sebuah tangan ikut membekap mulutnya dengan kasar dan tidak bisa dilepas, karena terlalu kuat. Zelda panik, mencakar lengan itu, namun ia ditarik dengan paksa ke dalam kegelapan tangga darurat yang sepi.

Punggungnya terbentur keras ke dinding beton yang dingin. Rasa sakit itu langsung tertutup oleh rasa terkejut yang mematikan. Napas Zelda terengah. Matanya yang membulat menatap lurus pada sosok yang kini mengurungnya di antara tubuhnya dan dinding.

Zelda berusaha mendorong tubuh yang lebih besar darinya sekuat tenaga namun tubuh di hadapannya tak berkutik, tak bergerak sama sekali.

Pemuda itu mendekatkan kepalanya dan mulai berbisik tepat di telinga gadis itu. Suaranya begitu dalam dan sedikit serak, hingga Zelda seketika bergeming.

“Ini aku. Kau tak perlu panik.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-159. Takut Terulang Lagi.

    Zelda menelan ludah berat, napasnya tercekat beberapa detik. Noah hanya menatap lurus pada Zara. Napasnya tersendat sepersekian detik. Zara melanjutkan dengan nada yang di tekankan perlahan. “Tidak ada lagi sentuhan kecil yang bisa disalahartikan. Kalau kalian harus bicara, lakukan lewat pesan atau telepon. Kalau harus ketemu, ketemu di luar kampus. Di tempat yang tidak ada mahasiswa.” Noah mengangguk tanpa protes. “Aku mengerti.” Zelda menatap ibunya. “Mom, aku sedang banyak ujian dan proyek riset essay. Kalau aku tiba-tiba menjauh dari Noah sepenuhnya … orang mungkin curiga juga.” Zara mengangguk. “Itu benar. Makanya kau tidak perlu menjauh sepenuhnya. Kau hanya perlu menjaga jarak fisik di lingkungan kampus. Tetap profesional. Tetap seperti mahasiswi biasa yang berinteraksi dengan Ketua Yayasan kalau memang ada urusan resmi.” Noah menambahkan pelan. “Aku akan batasi kehadiranku di area fakultas. Rapat dengan dosen atau mahasiswa bisa via online kalau memungkinkan.”

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-158. Jangan Mendekat di Kampus!

    Sore itu cahaya matahari sudah condong ke barat, menyelinap melalui jendela besar ruang Ketua Pembina Yayasan. Ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Noah duduk di balik meja kayu gelap saat ia membaca laporan terakhir hari itu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Zara masuk dengan langkah mantap, blazer hitamnya masih rapi meski hari sudah panjang. Ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Noah mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan mata Zara. “Zara,” sapanya singkat, sudah berdiri setengah jalan dari kursi. “Ada apa?” Zara tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat ke meja, tangannya menyentuh tepi kayu sejenak sebelum akhirnya menarik kursi tamu dan duduk tegak. “Aku baru saja bertemu Ariana,” katanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada dingin yang Noah langsung kenali—nada yang muncul saat Zara sedang menahan amarah atau kekhawatiran besar. Noah menegang pelan. Ia kembali duduk, tangannya terlipat di atas meja. “Dia datang ke ruanganku siang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-157. Polisi Moral.

    Siang hari di kampus terasa cukup melelahkan setelah jam mengajar selesai. Zara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang.Sejak semalam, Zara merasakan firasat aneh dan tak asing yang kembali mengetuk pelan, perasaan yang dulu sering muncul sebelum sesuatu akan terjadi.Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.“Masuk,” ucapnya tenang.Pintu terbuka perlahan. Seorang mahasiswi berdiri di ambang, rapi, berkacamata, tegak, dengan map tipis di tangan. Zara mengenalnya. Bukan karena prestasi semata, melainkan karena cara gadis itu membawa dirinya.“Ariana,” kata Zara, bukan bertanya.Ariana tersenyum sopan. “Selamat pagi, Professor Zara. Maaf mengganggu waktu Anda.”Zara menunjuk kursi di seberangnya. “Silakan duduk.”Ariana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia duduk tanpa gelisah, meletakkan map di pangkuannya. Tidak terburu-buru. Tidak gugup.Zara mengamati semuanya dalam diam.“Jadi

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-156. Hanya Sekadar Usapan Kepala.

    Zelda menarik napas pelan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin mundur satu langkah, menghindar. Tapi suara Zara tadi pagi terlintas begitu jelas di kepalanya. Jangan takut. Ia mengangkat wajahnya kembali. Bahunya yang sempat menegang kini diturunkan perlahan, seolah ia sedang mengingat cara berdiri yang benar. “Iya,” jawab Zelda akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Dari pacar.” Untuk pertama kalinya sejak duduk di hadapannya, Ariana tampak sedikit terkejut. “Oh ….” Nada itu keluar terlalu singkat, nyaris lolos begitu saja. Senyum tipis yang tadi bertahan di sudut bibirnya meredup sepersekian detik. Matanya bergerak cepat, seperti seseorang yang sedang menimbang ulang langkah berikutnya. Zelda menangkap keraguan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa dingin, tapi ia tidak mundur. Justru kali ini, ia yang bergerak lebih dulu. “Ada apa?” Ariana mendongak. Zelda menyambung, suaranya tetap terkontrol, meski ada nada ujung yang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-155. Pedang Bermata Dua.

    Esok harinya. Diperjalanan menuju kampus, Zelda duduk di kursi penumpang belakang bersama Zara. Mereka seperti biasa diantar oleh pengawal Noah yang selalu siap siaga. Namun, Zelda tak banyak bicara sejak pembicaraannya semalam dengan Noah. Belum lagi dengan isi pesan singkat dari Sarah yang masih mengganggu pikirannya, hingga ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ia merasakan firasat yang tak enak, tapi ia terus menahannya hingga Zara menyadari raut wajah anaknya yang tidak ada rona cahaya sama sekali. Wajah Zelda terus muram, tegang, dan kedua alis sedikit mengerut. Zara akhirnya bertanya di sampingnya. Nadanya datar, tapi ada kekhawatiran disana. “Kau kenapa, Zelda?” Zelda tersentak kecil dan menoleh ke Zara. Bibirnya dipaksakan untuk tersenyum. “Tak apa, Mom. Hanya sedikit masalah yang mungkin … sejak awal aku sadari resikonya.” Zara seketika menunduk sambil tersenyum kecil. “Resiko karena menjalin hubungan dengan Noah?” Zelda terdiam sebelum akhirnya mengangguk, denga

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-154. Ariana Kepo.

    Sarah tidak langsung menjawab. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pikirannya sudah berlari terlalu jauh. Suara Ariana di seberang sana terdengar terlalu tenang untuk sekadar pertanyaan iseng. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” Sarah akhirnya balik bertanya, berusaha terdengar santai. Di seberang, Ariana terkekeh kecil. “Aku cuma penasaran.” “Kampus penuh gosip,” lanjutnya ringan, seolah membicarakan cuaca. “Dan Zelda … sejak awal sering jadi pusat perhatian. Aku khawatir.” Sarah menghela napas pendek. “Dia memang dikenal karena prestasinya. Dia juga penerima beasiswa. Kalau soal keterlibatannya dengan Prof Noah—” “Kau sudah keceplosan dua kali dengan wajah sumringah itu, Sarah,” potong Ariana cepat. “Aku hanya ingin tahu hubungan mereka. Itu saja.” Sarah menelan ludah berat, jantungnya berdegup cepat dari biasanya. Dalam benaknya, ia merasa ceroboh dan bodoh pada dirinya sendiri. Di waktu bersamaan pula, ia merasa semakin tak enak hati pada Zelda. Sarah akhirnya bertanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status