Beranda / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / S2-162. Tatapan yang Tak Pernah Lepas.

Share

S2-162. Tatapan yang Tak Pernah Lepas.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-14 22:42:37

Pagi itu ruang kelas belum sepenuhnya ramai. Beberapa mahasiswa sudah duduk di bangku masing-masing, sebagian lagi masih berdiri di depan sambil bercanda pelan.

Zelda duduk di bangku tengah seperti biasa. Buku catatan sudah terbuka di atas meja, pulpen berada di antara jemarinya. Ia menunduk, membaca ulang poin-poin materi minggu lalu, meski matanya sesekali berhenti terlalu lama di satu baris yang sama.

Langkah cepat terdengar mendekat.

Enya muncul di sampingnya, menjatuhkan tas ke kursi denga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-162. Tatapan yang Tak Pernah Lepas.

    Pagi itu ruang kelas belum sepenuhnya ramai. Beberapa mahasiswa sudah duduk di bangku masing-masing, sebagian lagi masih berdiri di depan sambil bercanda pelan.Zelda duduk di bangku tengah seperti biasa. Buku catatan sudah terbuka di atas meja, pulpen berada di antara jemarinya. Ia menunduk, membaca ulang poin-poin materi minggu lalu, meski matanya sesekali berhenti terlalu lama di satu baris yang sama.Langkah cepat terdengar mendekat.Enya muncul di sampingnya, menjatuhkan tas ke kursi dengan napas sedikit terengah.“Untung belum mulai,” gumamnya sambil mengeluarkan buku. “Zelda, tugas kelompok kemarin, apa kau sudah baca revisinya?”Zelda mengangguk kecil. “Sudah. Bagian kesimpulannya mungkin perlu diperjelas sedikit.”“Serius? Aduh, nanti kita bahas lagi ya.” Enya tertawa ringan.Zelda ikut tersenyum tipis. Jawabannya pendek-pendek. Gerakannya tetap rapi dan terkontrol.Pikirannya melayang ke percakapan semalam. Nada suara Noah yang berusaha terdengar tenang. Wajah ibunya yang te

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-161. Moral dan Rekaman Suara Ilegal.

    Pagi itu ruang kerja ketua yayasan masih sunyi. Tumpukan dokumen kontrak dan laporan keuangan perusahaan keluarga tersusun rapi di sisi kanan, pulpen hitam berada di antara jemarinya.Ia menandatangani lembar terakhir dengan gerakan tenang dan stabil.Lalu tiba-tiba, telepon kantor berbunyi. Noah mengangkatnya dengan nada profesional, tapi ada sesuatu dalam dadanya yang tiba-tiba menegang karena hari masih terlalu pagi.“Halo.”“Professor Noah, ini Pearce. Kita perlu berbicara. Secara pribadi.”Suara itu datar dan formal. Tidak memberi ruang untuk salah tafsir.Jari Noah yang memegang gagang telepon mengeras sedikit. “Terkait apa, Ma’am?”Sepersekian detik hening. Nama Ariana melintas di kepalanya seperti bayangan tajam.Sekejap, terdengar suara helaan napas panjang di seberang sana. “Sebuah laporan yang saya terima pagi ini,” jawab Mrs Pearce akhirnya. “Saya belum membuat catatan resmi apa pun.”Napas Noah melambat, tapi tidak benar-benar tenang.“Saya juga ingin mengundang Professo

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-160. Laporan Pagi.

    Pagi itu udara kampus masih bersih, belum tercemar suara mahasiswa yang berlarian menuju kelas. Ariana melangkah tenang menyusuri koridor administrasi menuju ruang Kemahasiswaan. Map tipis berada di tangannya, dijepit rapi seperti biasa.Di pintu bertuliskan Head of Student Affairs, ia mengetuk dua kali.“Masuk,” terdengar suara perempuan dewasa dari dalam.Ariana membuka pintu dan masuk dengan langkah terukur.Di balik meja kerja duduk Mrs Pearce, pengganti Mrs Harrington yang telah mengundurkan diri beberapa bulan lalu. Rambutnya disanggul rapi, kacamata tipis bertengger rendah di hidungnya.“Ariana. Pagi-pagi sekali,” ujar Mrs Pearce, sedikit heran namun tetap ramah. “Ada yang bisa saya bantu?”Ariana tersenyum sopan. “Ada hal penting yang perlu saya laporkan, Ma’am. Terkait etika akademik.”Kalimat itu membuat Mrs Pearce berhenti dari berkas yang sedang ia baca. Ia memicingkan mata sedikit.“Silakan duduk.”Ariana duduk tegak. Tidak gelisah. Tidak terburu-buru.“Saya menjadi saksi

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-159. Takut Terulang Lagi.

    Zelda menelan ludah berat, napasnya tercekat beberapa detik. Noah hanya menatap lurus pada Zara. Napasnya tersendat sepersekian detik. Zara melanjutkan dengan nada yang di tekankan perlahan. “Tidak ada lagi sentuhan kecil yang bisa disalahartikan. Kalau kalian harus bicara, lakukan lewat pesan atau telepon. Kalau harus ketemu, ketemu di luar kampus. Di tempat yang tidak ada mahasiswa.” Noah mengangguk tanpa protes. “Aku mengerti.” Zelda menatap ibunya. “Mom, aku sedang banyak ujian dan proyek riset essay. Kalau aku tiba-tiba menjauh dari Noah sepenuhnya … orang mungkin curiga juga.” Zara mengangguk. “Itu benar. Makanya kau tidak perlu menjauh sepenuhnya. Kau hanya perlu menjaga jarak fisik di lingkungan kampus. Tetap profesional. Tetap seperti mahasiswi biasa yang berinteraksi dengan Ketua Yayasan kalau memang ada urusan resmi.” Noah menambahkan pelan. “Aku akan batasi kehadiranku di area fakultas. Rapat dengan dosen atau mahasiswa bisa via online kalau memungkinkan.”

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-158. Jangan Mendekat di Kampus!

    Sore itu cahaya matahari sudah condong ke barat, menyelinap melalui jendela besar ruang Ketua Pembina Yayasan. Ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Noah duduk di balik meja kayu gelap saat ia membaca laporan terakhir hari itu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Zara masuk dengan langkah mantap, blazer hitamnya masih rapi meski hari sudah panjang. Ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Noah mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan mata Zara. “Zara,” sapanya singkat, sudah berdiri setengah jalan dari kursi. “Ada apa?” Zara tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat ke meja, tangannya menyentuh tepi kayu sejenak sebelum akhirnya menarik kursi tamu dan duduk tegak. “Aku baru saja bertemu Ariana,” katanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada dingin yang Noah langsung kenali—nada yang muncul saat Zara sedang menahan amarah atau kekhawatiran besar. Noah menegang pelan. Ia kembali duduk, tangannya terlipat di atas meja. “Dia datang ke ruanganku siang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-157. Polisi Moral.

    Siang hari di kampus terasa cukup melelahkan setelah jam mengajar selesai. Zara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang.Sejak semalam, Zara merasakan firasat aneh dan tak asing yang kembali mengetuk pelan, perasaan yang dulu sering muncul sebelum sesuatu akan terjadi.Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.“Masuk,” ucapnya tenang.Pintu terbuka perlahan. Seorang mahasiswi berdiri di ambang, rapi, berkacamata, tegak, dengan map tipis di tangan. Zara mengenalnya. Bukan karena prestasi semata, melainkan karena cara gadis itu membawa dirinya.“Ariana,” kata Zara, bukan bertanya.Ariana tersenyum sopan. “Selamat pagi, Professor Zara. Maaf mengganggu waktu Anda.”Zara menunjuk kursi di seberangnya. “Silakan duduk.”Ariana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia duduk tanpa gelisah, meletakkan map di pangkuannya. Tidak terburu-buru. Tidak gugup.Zara mengamati semuanya dalam diam.“Jadi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status